LOGINDemi menyelamatkan nyawa adiknya, Sena nekad menjadi istri kedua dari suami wanita yang sekarat akibat kanker. Namun, pernikahan ini justru menjadi neraka baginya. Aldi, sang suami yang dikenal hangat pada keluarga berubah menjadi sangat membenci Sena. Terjebak antara kebencian suami, penolakan ketiga anak tiri dan waktu istri pertama yang kian menipis, Sena harus bertahan dalam kepura-puraan yang entah sampai kapan.
View More“Menikahlah dengan suami saya.”
Pernyataan barusan membuat Sena yang baru saja keluar dari ruangan informasi menoleh cepat. Tak jauh dari tempatnya berdiri seorang wanita duduk begitu tenang dengan senyum ramah seperti biasa.
“Bu.. Ka-rina?” ucap Sena hampir tak terdengar. Rasa terkejutnya menelan suara yang menyangkut di tenggorokan.
Wanita tadi mengangguk. Lantas memberi kode lewat gerakan mata agar Sena segera mendekat padanya.
Namun, Sena hanya bergeming. Hingga kemudian wanita yang dikenalnya itu bangkit dan menghampiri.
“Saya sudah dengar semuanya, Sena,” kata Karina dengan nada tenang yang justru malah terasa menyudutkan gadis itu. “Adik kamu kecelakaan, ‘kan? Dia tidak bawa surat kendaraan lengkap.”
“Sebagai tenaga medis kamu pasti tahu bahwa kasus itu tidak ditanggung BPJS. Untuk asuransi pun tidak bisa cair hari ini karena prosedurnya lama.” Karina bersuara lagi.
“Maksud Ibu apa bicara begitu?” tanya Sena. Tangannya meremas kuat secarik kertas berisi rincian perkiraan dana pengobatan yang didapat dari ruangan tadi.
Karina tak langsung menjawab. Dia maju beberapa langkah hingga mengikis jarak mereka. Matanya melirik ke arah genggaman tangan Sena.
“Saya tahu kamu orang baik. Pertemuan kita memang hanya beberapa kali saja, tetapi kamu tulus merawat saya saat ada di ruangan kemo waktu itu. Jadi, saya bersedia untuk bantu kamu.”
Kelopak mata Sena berkedip pelan usai mendengar pernyataan barusan. Namun, ucapan berikutnya membuat gadis itu terpaku.
“Pikirkan permintaan saya yang tadi. Kamu pasti belum lupa.”
“Bu…”
“Adikmu harus ditangani dengan cepat karena cedera parah di bagian kepalanya. Kamu baru bekerja satu bulan di sini. Gajimu tidak akan cukup untuk semua biayanya. Jangan membuang waktu,” potong Karina. Suaranya pelan, tetapi cukup membuat Sena tertekan.
Sena terdiam. Penuturan Karina barusan berhasil membuat dadanya bergemuruh hebat. Belum sempat dia berpikir dengan kepala dingin, salah satu perawat IGD yang menghubunginya tadi muncul.
“Sen, kamu dicariin loh dari tadi. Udah siap melapor ke bagian pendaftaran?”
Sena mendongak lemah. Pandangannya kabur lantaran air mata yang mulai mengganggu penglihatan gadis itu.
“Ya ampun, Sen. Cepetan gih! Jangan sampai Arya kenapa-napa,” tegur temannya itu lagi.
Alhasil tubuh Sena ditarik paksa menuju ruangan IGD. Jantungnya berdegup kencang saat brankar sang adik dipenuhi oleh dokter jaga dan beberapa rekan perawat yang lain.
“Bukan saya yang punya rumah sakit ini, Sen. Saya tidak bisa berbuat apa-apa.”
“I-iya, Dok. Saya akan usahakan untuk cari solusinya,” cicit Sena dengan suara yang sudah bergetar.
“Nyawa itu sangat berharga. Jangan sampai ada penyesalan,” pesan dokter jaga yang kemudian meninggalkan Sena.
“Arya, sabar sebentar ya. Mbak akan usahakan buat kamu,” bisik Sena serak.
Tiba-tiba saja Sena teringat satu orang. Senyuman tipis muncul di wajahnya. Gegas gadis malang itu melipir ke samping ruangan IGD lalu buru-buru mengupingi gawainya.
Lima panggilan tak terjawab. Bahu Sena merosot kalah. Tahu bahwa harapannya sirna dalam sekejap.
“Masih keras kepala kamu?”
“Bu Karin?” Kali ini tangis Sena pecah. Gadis itu menurut saat lengannya ditarik lembut ke lorong rumah sakit yang tak jauh dari sana. “Tolong, Bu. Saya butuh penjamin untuk adik saya. Saya akan lunasi biaya secepat mungkin. Tolongin saya ya, Bu.”
Karina mengangguk dengan tatapan iba pada Sena. Namun, ternyata penawarannya masih tak berubah. “Saya tidak butuh uang kamu, Sena.”
“Bu, maksudnya apa?”
Dengan tenangnya Karina berucap, “Saya ingin kamu menikah dengan suami saya.”
“Enggak mungkin, Bu,” tolak Sena dengan gelengan kepala berulang-ulang. “Saya tidak mau merebut suami orang. Saya..”
Kalimat Sena barusan terjeda saat ponsel Karina berdering. Perempuan itu melirik Sena lalu kemudian menjawab sang penelepon.
“Pastikan pasien yang bernama Arya Prayuda tadi mendapatkan perawatan terbaik.”
“Bu?” Sena menganga tak percaya atas apa yang ia dengar barusan.
Sementara Karina tersenyum lalu meremas lembut tangan Sena yang terasa dingin. Dia lantas berkata, “Kamu tidak merebut suami saya, Sena. Kamu justru diminta untuk menjadi istri kedua suami saya. Jadi tidak salah ‘kan?”
“Ini tidak masuk akal,” bantah Sena. Logikanya jelas-jelas menolak permintaan tadi.
Namun, Karina malah menggeleng tegas. Tanpa melepaskan genggaman lembutnya, wanita itu kembali dengan suara gemetar.
“Selama satu bulan ini, kita sudah tiga kali bertemu di ruang kemo,” Karina tersenyum tipis, lalu menghela napas pendek. “Kanker serviks yang saya derita sudah masuk stadium lanjut. Umur saya tidak akan lama lagi, sementara saya punya tiga orang anak yang masih butuh kasih sayang seorang ibu. Tolonglah saya, Sena.”
“Tapi enggak harus begini, Bu.”
“Terus bagaimana, hmm?” Suara Karina mulai terdengar lirih. “Saya ingin pergi dengan tenang setelah tahu siapa perempuan yang bisa menggantikan saya. Orang itu kamu, Sena.”
Sena hendak membantah, tetapi urung ketika Karina membuka mulutnya lagi.
“Tidak ada yang namanya kebetulan, Sena. Tuhan menakdirkan kita berkenalan. Saya yakin ini jawaban atas do’a-do’a saya.”
“Suami Anda pasti tidak setuju.” Barulah suara Sena melunak.
Tepat setelah kalimat itu, ponsel Karina kembali berdering.
“Halo, Mas. Iya. Sudah selesai operasinya?”
Percakapan sepihak barusan membuat Sena mengerutkan dahi. Dia hanya diam sembari memperhatikan wajah Karina yang tampak ceria.
“Oke. Kita ketemuan di parkiran aja ya,” ucap Karina kemudian. Dia melirik Sena lalu kembali berbicara pada orang di seberang telepon sana, “Perempuan yang aku cari udah ketemu. Dia ada di sini. Sama aku sekarang.”
Sebelum Sena kembali bersuara, Karina menurunkan ponselnya dengan senyum yang terlihat penuh kelegaan.
“Dia juga kerja di sini, Sena. Sama kayak kamu.”
Karina kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah koridor yang terhubung langsung dengan area pakiran khusus tenaga medis. “Ayo. Saya akan kenalkan kalian.”
Sumpah demi apapun. Sena heran bukan main dengan wanita di sebelahnya ini. bagaimana bisa ada seorang istri yang rela berbagi suami apapun kondisinya?
Hingga kemudian…
“Nah, itu dia!!”
Sena mengikuti arah tunjuk Karina. Dari kejauhan, seorang pria bertubuh tinggi sedang berjalan ke arah mereka.
“Dok-dokter …Aldian??” pekik Sena tertahan.
Seketika wajah Sena langsung memucat.
"Tadinya aku pikir kamu tidak akan pernah membawa istrimu ke sini lagi, apalagi sampai memamerkannya," sindir suara tajam yang mendadak memecah keheningan di ambang pintu ruang fisioterapi. Sena yang berdiri di sisi brankar kontan menoleh. Rahangnya mengeras sesaat ketika ia melihat sosok wanita berblazer modis dengan tas branded tersampir di lengan. Sementara Aldi tidak membuang waktu sedetik pun. Dalam satu gerakan refleks, pria beralis tebal itu melangkah setengah langkah ke depan, menempatkan tubuh tegapnya tepat di antara Sena dan wanita tadi. Bahu bidangnya melebar, menutup pandangan lurus dari pintu."Memangnya kenapa?" tanya Aldi. Suara baritonnya meluncur datar, rendah, namun mengandalkan nada menantang yang membuat udara di sekitar mereka mendadak tegang. Rahang Aldi mengetat, menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat atas kehadiran tamu tak diundang tersebut. Wanita itu mendengkus pelan. Sudut bibirn
"Mas, enggak asyik ah kamu.” Aldi masih diam. Tatapan pria itu sengaja dipertahankan sedingin es, menguji seberapa jauh istrinya akan berusaha. Namun, melihat bahu Sena yang sedikit turun karena putus asa, pertahanan dingin Aldi akhirnya runtuh. Bibirnya berkedut tipis, menahan senyum kemenangan yang hampir lepas.Pria itu mendekatkan wajahnya tepat di dekat telinga Sena, lalu berbisik dengan suara bariton yang serak menggoda. "Kalau begitu... kamu harus jalani hukumannya sekarang."Sena mendongak kaget. "Hukuman? Hukumannya apa?" Tanpa aba-aba, tangan kokoh Aldi semakin mempererat rengkuhannya pada pinggang ramping Sena, lalu membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan cepat hingga punggung Sena membentur empuknya matras ranjang. Aldi kini mengurung tubuh istrinya di bawah kurungan lengan bidangnya, menatap lekat ma
“Marah?” Sena yang tubuh polosnya masih bergelung di bawah selimut menggeleng lemah. Bibirnya mengerucut samar dengan tatapan tak rela. Pemandangan tersebut membuat Aldi jadi merasa bersalah. Pria yang sudah berpakaian lengkap itu pun merunduk untuk mengecup puncak kepala istrinya sebentar.“Maaf ya,” ucap Aldi kemudian.“Iya, Mas. Namanya juga jadi istri dokter. Gak pa-pa kok. ‘Kan emang jadwal kamu yang stand bye,” kata Sena yang akhirnya bisa merelakan kemesraan mereka yang baru saja terenggut.“Kamu tidur duluan ya. Jangan tungguin saya.” Aldi tersenyum tipis seraya bangkit dari posisinya semula.“Good luck ya, Sayang. I love you.” Aldi yang baru saja hendak berbalik badan terkejut begitu Sena sudah memeluk tubuhnya dari belakang.“Kok diem sih? Balas dong,” rengek Sena manja. Kepalanya sengaja dimiringkan demi bisa menatap Aldi yang mematung karena aksi dadakannya itu. “Jangan balik badan. Entar kamu gak jadi pergi.”“Oke. See you, Baby. I love you more,”
Alih-alih memutar kemudi kembali ke rumah kediamannya, Aldi memutuskan untuk mengambil jalur lingkar kota menuju kawasan komersial elit yang dikelilingi lampu-lampu kota berpendar keemasan.Sena yang napasnya masih memburu akibat ciuman intens di dalam mobil kontan menoleh, menatap sang suami dengan kening berkerut bingung. "Loh, Mas? Kita mau ke mana? Ini 'kan bukan arah jalan pulang ke rumah."Aldi melirik sekilas, senyum tipis penuh rahasia tersungging di sudut bibirnya yang masih kemerahan akibat sambal. "Kita staycation sebentar malam ini. Anggap saja ini bagian dari hukuman dan tanggung jawab atas kejahilan kamu soal jebakan kuah bakso yang tadi."Protes kecil langsung meluncur dari bibir Sena. "Mana bisa gitu? Kita gak bawa persiapan, Mas. Kamu curang ih." Aldi terkekeh pelan, tawa rendah yang terdengar begitu seksi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews