Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku

Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku

last updateLast Updated : 2026-09-06
By:  Azeela DanastriOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
30Chapters
265views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Operasi yang seharusnya menyelamatkan satu nyawa justru mengubah seluruh hidup Clarissa. Kini ia diburu, kehilangan rasa aman, dan mulai mengingat masa lalu yang seharusnya tidak pernah kembali. Di tengah konspirasi dan bahaya, hanya satu pertanyaan yang terus menghantuinya: siapa sebenarnya dirinya?

View More

Chapter 1

MALAM YANG MENGUBAH TAKDIR

BAB 1: Malam yang Mengubah Takdir

Hujan mengguyur Jakarta tanpa belas kasihan. Langit malam itu seolah tumpah, mengubah jalanan menjadi cermin raksasa yang memantulkan lampu kendaraan yang melintas samar. Angin malam bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon yang berderit pelan di sepanjang jalan yang mulai lengang. Di sudut kawasan yang tersembunyi dari kebisingan kota, sebuah bangunan tiga lantai berdiri tegak dengan papan nama sederhana: Adelyn Medical Clinic.

Meski jarum jam telah menunjuk pukul sebelas malam, lampu di lantai dasar masih menyala terang.

Di ruang tindakan yang bernuansa putih pucat, Clarissa Adelyn masih terjaga. Jas dokter putihnya kini tampak kusut dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangannya yang ramping namun terlihat lelah. Rambut hitam panjangnya diikat rendah, memberikan kesan profesional sekaligus menunjukkan kelelahan yang nyata. Fokusnya terkunci pada layar monitor komputer yang menampilkan grafik rekam medis pasien yang baru saja ia periksa.

"Dokter, laporan pasien terakhir sudah saya letakkan di meja," suara lembut Siska memecah keheningan.

Clarissa mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. "Terima kasih, Siska. Kamu bisa pulang sekarang."

Perawat muda itu mengembuskan napas panjang sembari melepas masker medisnya. "Dokter juga sebaiknya pulang. Besok pagi masih ada jadwal operasi besar di St. Raphael. Saya tahu Dokter belum tidur lebih dari empat jam dalam dua hari ini."

Clarissa melirik jam dinding di atas pintu. 22.58.

"Sebentar lagi, Siska. Aku hanya perlu memastikan semua data ini terarsip dengan rapi. Administrasi klinik ini adalah kelemahanku," jawab Clarissa berusaha bercanda.

Siska hanya menggelengkan kepala dengan nada pasrah. Ia sudah bekerja bersama Clarissa selama tiga tahun dan ia hafal betul sifat atasannya itu. Jika menyangkut pasien, Clarissa hampir tidak pernah mengenal kata menyerah atau lelah. Padahal, pagi tadi perempuan itu baru saja memimpin operasi besar selama hampir lima jam di rumah sakit pusat, dan ia langsung meluncur ke klinik ini setelah jam praktik selesai.

Banyak dokter lain mungkin sudah beristirahat atau menikmati waktu luang mereka setelah jadwal rumah sakit selesai. Namun, Clarissa berbeda. Ia mendirikan klinik kecil ini bukan sekadar untuk mencari keuntungan materi, melainkan sebagai bentuk dedikasinya. Ia ingin memastikan masyarakat yang kesulitan biaya—yang sering tertolak oleh sistem rumah sakit yang birokratis—tetap memiliki tempat untuk mendapatkan perawatan yang layak.

Seringkali, pasien yang datang hanya mampu membayar dengan hasil kebun, sekotak makanan rumahan, atau sekadar doa yang tulus. Bagi Clarissa, itu lebih dari cukup. Baginya, prinsip dasar seorang dokter adalah melayani tanpa memandang siapa yang terbaring di depannya. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan hidup, tidak peduli dari mana mereka berasal atau apa status sosial mereka.

"Aku duluan ya, Dok," ucap Siska sembari menyampirkan tasnya di bahu.

"Hati-hati di jalan, Siska. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah," balas Clarissa tulus.

Sepeninggal Siska, suasana klinik mendadak sunyi. Hanya ada suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela dan dentingan detak jam dinding yang terdengar ritmis. Clarissa menyesap kopi yang sudah dingin di samping komputernya. Ia baru saja hendak mematikan perangkat ketika ponselnya berdering. Nama "Mama" tertera di layar dengan foto perempuan paruh baya yang tersenyum hangat.

"Belum pulang lagi?" suara di seberang terdengar cemas.

"Sebentar lagi, Ma. Hanya ada sedikit administrasi yang harus diselesaikan," jawab Clarissa dengan nada ceria yang dibuat-buat.

"Kamu sudah makan malam?"

"Sudah, Ma," bohongnya. Lagi pula sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menyembunyikan rasa lelah dan kondisi sebenarnya agar ibunya tidak perlu khawatir.

"Jangan terlalu memaksakan diri, Clarissa. Besok mampirlah ke rumah. Mama masak sop kesukaanmu."

"Siap, Ma. Aku pasti mampir."

Setelah sambungan terputus, Clarissa menatap layar ponselnya cukup lama. Rumah ibunya hanya berjarak dua puluh menit dari sini, namun dalam sebulan terakhir, ia bahkan tidak sempat berkunjung. Pekerjaan seolah telah menelan seluruh hidupnya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut.

'Aku benar-benar butuh libur', batinnya, meski ia tahu itu hanyalah sebuah angan-angan.

Ia berdiri, meraih tas, dan mulai mematikan lampu ruangan satu per satu. Ia sudah berada satu langkah menuju pintu keluar ketika sebuah suara memekakkan telinga merobek kesunyian malam.

CIIITTTT!

Suara rem mobil yang berdecit keras di atas aspal basah membuat jantung Clarissa berpacu kencang. Ia segera menoleh ke arah jendela depan. Sorot lampu SUV hitam yang menyilaukan menerobos kegelapan halaman klinik. Mesin mobil itu meraung, seolah pengemudinya tidak peduli jika mesinnya akan rusak.

Alis Clarissa berkerut. Pasien darurat?

Belum sempat ia meraih gagang pintu, pintu klinik didorong dengan paksa dari luar hingga berdentum keras menghantam dinding.

BRAAAKKK!

Empat pria bertubuh kekar, dengan setelan jas hitam yang basah kuyup, masuk dengan langkah tergesa-gesa. Namun, fokus Clarissa tidak tertuju pada mereka, melainkan pada sosok pria kelima yang mereka gotong di antara mereka. Tubuh pria itu lemas, kemeja putih yang dikenakannya hampir tidak lagi terlihat warnanya karena terendam darah yang terus merembes keluar.

"Dokter!" salah satu dari pria itu meraung, suaranya sarat dengan kepanikan yang tertahan. "Tolong selamatkan Bos kami!"

Insting medis Clarissa mengambil alih. Ia tidak lagi memikirkan rasa takut atau keanehan situasi ini. "Taruh dia di ruang tindakan! Cepat!"

Mereka segera bergerak sesuai instruksi Clarissa. Begitu tubuh pria itu dibaringkan di ranjang, Clarissa segera melakukan pemeriksaan cepat. Denyut nadinya lemah, pupil matanya dilatasi, dan kulitnya tampak pucat pasi. Tanpa ragu, ia menggunting sisa kemeja pasien untuk melihat tingkat keparahan lukanya.

Clarissa terkesiap. Tiga luka tembak. Satu di bahu kiri, satu di sisi perut, dan satu lagi tepat di dekat rongga dada. Jika peluru terakhir itu bergeser beberapa milimeter saja, jantung pria itu pasti sudah berhenti berdetak saat ini juga.

"Kapan ini terjadi?" tanya Clarissa sambil mempersiapkan peralatan operasi.

"Tiga puluh menit lalu," jawab pria yang tampak seperti pemimpin rombongan.

"Mengapa tidak dibawa ke rumah sakit? Kondisinya kritis!"

Keempat pria itu saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab, namun ketegangan di antara mereka sudah cukup menjelaskan segalanya.

"Aku tanya sekali lagi! Mengapa tidak dibawa ke rumah sakit?"

Pria yang memimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Gavin, melangkah maju dengan kepala tertunduk namun sorot matanya tajam. "Kami tidak bisa. Kalau beliau masuk ke rumah sakit, terlalu banyak orang yang akan mengetahui keberadaannya. Ini adalah masalah keamanan tingkat tinggi."

Tatapan Clarissa berubah dingin. "Ini adalah luka tembak, dan menurut hukum, aku wajib melaporkan ini ke polisi."

"Kami tahu, Dokter. Tapi kalau Dokter memanggil polisi, Bos kami akan mati sebelum sempat diinterogasi siapa pun. Kami hanya punya waktu sedikit. Tolong, lakukan tugas Anda sebagai dokter."

Clarissa menatap pria yang terbaring itu.

Siapa sebenarnya dia?

Mengapa empat pria bersenjata rela mempertaruhkan nyawa untuk menyembunyikannya?

Namun, di tengah pertanyaan yang berdesakan di kepalanya, nurani sebagai dokter menang. Pria ini hanyalah seorang pasien di meja operasi.

"Semua keluar!" perintah Clarissa tegas.

Mereka membeku.

"Kalau kalian ingin dia hidup, biarkan aku bekerja. Kehadiran kalian hanya akan menghambat sterilitas dan konsentrasiku."

Setelah perdebatan singkat, Gavin akhirnya mengangguk. "Kalian semua keluar. Itu perintah."

Setelah ruangan dikosongkan, Clarissa segera menghubungi Siska dan memintanya kembali untuk membantu. Siska datang dengan napas terengah-engah dan wajah pucat melihat pemandangan di ruang tindakan.

"Fokus, Siska. Anestesi!" perintah Clarissa.

Operasi pun dimulai. Tangan Clarissa bergerak dengan presisi yang luar biasa. Meski ruang tindakan kliniknya tidak selengkap rumah sakit besar, ia memanfaatkan setiap alat yang ada dengan efisiensi tinggi. Suasana ruangan mencekam. Suara monitor jantung yang terus berbunyi bip-bip-bip menjadi satu-satunya irama di tengah badai hujan di luar.

Peluh membasahi dahi Clarissa. Ia harus mengambil peluru itu satu per satu tanpa melukai pembuluh darah utama. Ketika ia berhasil mengeluarkan peluru pertama, napasnya sedikit lega, namun saat ia mendekati peluru kedua, monitor jantung tiba-tiba mengeluarkan bunyi panjang yang menakutkan.

Biiiiip!

"Nadi melemah, Dok!" seru Siska panik.

"Tambahkan cairan! Jangan biarkan dia menyerah sekarang!" suara Clarissa tetap tenang, meskipun di dalam hatinya ia berteriak.

Tangan Clarissa tidak bergetar sedikit pun. Ia menjepit logam panas itu dengan forceps dan menariknya keluar dengan gerakan yang sangat halus.

Ting.

Peluru itu jatuh ke wadah logam. Detik demi detik berlalu seolah menjadi berjam-jam. Dengan fokus yang tak tergoyahkan, Clarissa akhirnya berhasil mengambil peluru ketiga. Setelah jahitan terakhir diselesaikan, ia melepas masker dan sarung tangannya, menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan perasaan lelah yang luar biasa.

"Operasi selesai," ucapnya singkat.

Gavin dan rekan-rekannya masuk kembali. "Bagaimana keadaannya?"

"Dia selamat, tapi dua puluh empat jam ke depan adalah masa kritis. Jangan biarkan dia bergerak terlalu banyak," jawab Clarissa datar.

Gavin mendekat, memberikan sebuah kartu hitam elegan dengan aksen emas. "Jika Dokter membutuhkan apa pun, hubungi nomor ini."

Clarissa menerima kartu itu tanpa banyak bertanya, ia hanya ingin mereka segera pergi. Saat ia hendak melangkah keluar, perhatiannya teralihkan oleh sesuatu di pergelangan tangan pria itu. Sebuah bekas luka memanjang yang terlihat sangat tua. Sesuatu di dalam ingatannya bergejolak, sebuah memori samar dari masa lalu yang terkubur dalam.

'Kenapa bekas luka ini terasa begitu familiar?'

Namun, sebelum ia bisa memikirkannya, pria di ranjang itu sedikit bergerak. Bibirnya yang pucat bergetar samar, membisikkan satu kata yang sangat lirih: "...Cla...."

Clarissa tidak mendengar. Pikirannya sudah tertuju pada hal lain.

Sementara itu, di ujung jalan yang gelap, dua mobil hitam tanpa lampu berhenti dalam senyap. Seorang pria di dalam mobil menurunkan teropongnya, tersenyum sinis.

"Bos," ucap pria itu ke alat komunikasinya. "Kami menemukan lokasi dokter yang mengoperasi target."

Suara dingin terdengar dari ujung sana: "Habisi semua saksi."

"Termasuk dokternya?"

"Terutama dokternya."

Mobil-mobil itu perlahan bergerak membelah hujan, membawa maut yang perlahan mendekati klinik. Clarissa tidak tahu bahwa ia baru saja menyelamatkan pria yang justru akan membawa badai terbesar dalam hidupnya, dan bahwa malam ini, pintu menuju masa lalunya telah terbuka lebar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Azeela Danastri
Azeela Danastri
bagus banget dan seru jangan lupa baca sampai tamat ya teman-teman
2026-08-06 11:41:39
0
0
30 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status