เข้าสู่ระบบnahhh tau kau sekarang Rex 🗿🗿🗿
Tiga Tahun Kemudian ….….Rintik gerimis berganti menjadi hujan yang panjang, seakan sisa musim di Luinz akan dihabiskan dengan melewati jalan yang basah dan kubangan kecil yang memantulkan kelamnya langit.Tapi, bukankah selalu ada kilat putih di setiap awan gelap?Hujan pada akhirnya berhenti, mendatangkan semi, gugur, salju silih berganti.Dari taman yang ditumbuhi oleh wanginya calla Lily pada semi yang indah ini, Eveline memetik beberapa, memasukkannya ke dalam keranjang rotan yang juga terisi oleh beberapa tangkai mawar dan hortensia biru yang indah yang diletakkan oleh Lim beberapa saat yang lalu.“Apakah sudah cukup, Nona?” tanya Lim, kepala pelayan itu tampak mendekat seraya membawakan daun hijau pesanan Eveline.“Sepertinya sudah, Bu Lim.”“Tuan Sean pasti akan senang kalau lihat dari atas sana.”Eveline mengangguk, membenarkan Lim. “Tolong bawa masuk, aku akan merangkainya sambil menunggu Rex dan anak-anak datang.”“Baik, Nona.”Lim membawa keranjang itu, mengekori Eveline
Sean terpaku. Sisa waktu hidupnya yang tinggal dua bulan ini mendadak disuguhi oleh secercah kehangatan yang tak pernah ia duga. Ia mengangguk, menyetujuinya. “Oke, Uncle mau. Kita pergi sekarang.” Akhirnya, di sinilah mereka. Di bawah langit cerah Fantasy World yang riuh oleh gelak tawa pengunjung. Seluruh rasa sakit yang memeluk tubuhnya itu seperti mendadak hilang kala ia memandu langkah kaki kecil Mario. Mereka menghabiskan waktu dengan menaiki berbagai wahana. Dimulai dari komidi putar yang penuh warna, di mana Mario tertawa lepas sembari melambaikan tangan ke arah Eveline yang mengawasi dari balik pagar pembatas. Hingga puncaknya, saat mereka menaiki Giant Wheel, bianglala raksasa yang bergerak lambat seolah-olah akan membelah awan. Di dalam kabin bianglala yang bergerak tinggi, Sean duduk berdampingan dengan Mario. Pemandangan seluruh kota dari ketinggian terpampang luas di depan mata mereka. Mario menempelkan wajahnya ke kaca kabin dengan decak kagum yang tidak henti-hen
Sean telah lama meninggalkan ruangan, namun Rex masih bergeming di tempat duduknya.Ia berdiam diri cukup lama dalam kesunyian yang mengusik. Ia menatap kosong ke arah cangkir kopi yang telah mendingin, sementara terus memutar ulang setiap jengkal permohonan terakhir adik angkatnya.‘Tolong jaga Mario.’Terus saja berulang, bergema bagai lonceng, mendatangkan rasa sesak yang lambat laun menghimpit dada.Suara derit pintu yang terbuka perlahan akhirnya memecah keheningan.Eveline melangkah masuk ke dalam ruangan. Di belakangnya, tampak Mario yang masih menggendong tas ransel kecilnya setelah Eveline menjemputnya dari tempat les piano sore ini.Eveline mengisyaratkan Lim agar membawa bocah itu untuk keluar setelah ia menyapa Rex dan memperlihatkan stiker yang ia tempel di pipi gembilnya.Sementara Eveline lalu melangkah mendekati Rex dan duduk di sebelah prianya itu.Menatap wajah Rex yang tampak memukul beban, Eveline akhirnya bertanya, "Bagaimana pertemuannya dengan Sean? Apa saja yan
Setelah melalui masa pemulihan yang cukup panjang di rumah sakit, akhirnya Rex diperbolehkan untuk pulang ke mansion.Namun, langkah pertamanya kembali ke dunia luar hari ini bukan semata karena ia ingin pergi dari sakitnya infus atau jadwal kontrol berulang yamhntiada habisnya.Ada hal lain yang ingin ia lakukan.Sebuah kabar dari Marvin membawa Rex duduk di ruang kerjanya Yang ada di mansion untuk bertemu dengan seseorang.Sean.Rex terpaku menatap Sean yang duduk di hadapannya.Pemuda yang sama yang beberapa waktu lalu tampil layaknya berandalan dan memicu keributan.Setelah diberitahu oleh Eveline, barulah Rex dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Sean benarlah sedang layu.Dada Rex bergemuruh hebat, sesak mendadak merayap hingga seakan mencekik leher.“Senang karena Kak Rex udah pulih,” kata Sean. “Semoga membaik secepatnya.”Alih-alih menanggapi itu, Rex menarik dalam napasnya dan bertanya, "Kenapa, Sean?" suara Rex pecah, ada perih dan sesal yang mendalam dari car
Perjalanan kembali ke rumah sakit terasa lebih sunyi di dalam mobil.Eveline bersandar pada kursi penumpang belakang, menatap butiran air hujan yang mulai membasahi kaca jendela. Di balik kemudi, Zain duduk dengan tenang seperti biasa, namun sepasang matanya tidak jarang melirik melalui spion tengah untuk memastikan kondisi Eveline."Nona Eveline," panggil Zain pelan, memecah keheningan di antara mereka sejak meninggalkan parkir di pengadilan. “Apakah Nona baik-baik saja?”Eveline menoleh sedikit, memberikan anggukan kecil. "Saya baik-baik saja, Pak Zain. Jauh lebih baik dari sebelumnya."Leila yang duduk di sampingnya serta Jade yang di sebelah Zain sekilas menoleh, seakan ikut memastikannya.Leila tampak mengusap punggung tangan Eveline sebelum berujar, “Yang tadi itu bagus sekali, Eve … Sarah langsung tidak bisa menjawab lagi.”"Benar," sahut Jade, menimpali. "Kalimat Nona tadi sangat … mengena. Sepertinya itu berhasil mengenai sisa nuraninya Sarah. Saya rasa, selain hukuman seumu
Sebuah helaan napas panjang meluncur dari bibir Eveline, perlahan rasa lega itu hadir. Beban berat yang selama ini menekan pundaknya seolah runtuh bersamaan dengan gema ketukan palu hakim. Di kehidupan kedua ini, ia tidak lagi menjadi wanita yang pasrah. Akhirnya …. Ia berhasil membalikkan keadaan dan membalas tragisnya akhir kehidupan pertamanya dulu, yang telah merenggut napasnya dan juga Noah, putra kecilnya yang tewas tragis bersamanya di bawah hantaman truk maut milik suruhan Sarah. Kematian sia-sia itu tidak akan pernah terulang lagi. Masa depan kelam itu telah ia hancurkan berkeping-keping hari ini. Eveline memejamkan mata sejenak, meresapi setiap detak jantungnya yang kini terasa bebas, sebelum akhirnya ia beranjak bangun dari kursi pengunjung. Ia membalikkan badan, berniat melangkah keluar dari ruangan itu bersama Zain, Leila, dan Jade. Namun, baru beberapa langkah Eveline mengikis jarak menuju pintu ganda, sebuah suara lantang dari arah barisan belakang meng
Rex terpancang di sana, tak bergerak seinci pun selagi Eveline menatapnya dengan menahan nyeri yang belum sepenuhnya hilang dari leher. “Aku tahu kamu membenciku, Rex. Dan kamu tidak perlu memperjelasnya dengan cara seperti ini!” tekan Eveline. “Mengemis perhatian kamu bilang? Sekalipun aku mati d
‘Aku tahu kamu akan melakukan ini, Sarah Anna ....’ Eveline menatap senyum masam Sarah yang berdiri di samping Rex. Setelah menerima panggilan dari Rex beberapa saat yang lalu, kepala pelayan mengatakan bahwa Mario sempat berada di sekitar kamarnya bersama dengan Sarah. Itu sudah cukup baginya u
“Ini—” Rex mengangkat tangannya di hadapan Eveline.Menunjukkan surat penagihan utang atas nama Eveline yang lalu ia lempar ke wajahnya.“Berhenti menggunakan rumah ini sebagai alamat penagihan utang-utangmu yang menjijikkan ini!” katanya. “Masih kurang kamu dan keluargamu menumpang hidup dan meman
“Omong … kosong?” Rex mengernyit, dalam tertegunnya pria itu tampak keras berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Melihat mata birunya yang tajam, Eveline tahu harga dirinya terluka. Tapi di saat seperti ini, Rex masih bersikap angkuh. “Berhenti berpura-pura, Eveline!” katanya. “Siapapun tahu kal







