Se connecterBagi Mentari, memiliki ayah tiri kaya raya dan baik hati seperti Bramantyo merupakan sebuah keberuntungan. Bahkan sampai saat ibunya sudah tiada, lelaki itu tetap memperhatikannya layaknya anak kandung. Sayangnya Mentari tidak pernah bisa benar-benar menikmati semua fasilitas yang diberikan oleh Bramantyo karena anak kandung lelaki itu membencinya, dan menganggapnya tak lebih dari anak wanita pelakor. Situasi itu membuat Mentari sebisa mungkin menjaga jarak dengan Bramantyo. Hingga suatu malam Bramantyo pulang dalam keadaan mabuk, dan menciumnya tanpa sengaja. Meskipun ciuman itu tidak sengaja dilakukan, Mentari terus saja terbayang-bayang. Sentuhan itu juga mengubah perasaannya perlahan menjadi kekaguman. Sanggupkah Mentari menepis rasa yang mulai tumbuh di hatinya?
Voir plusPintu kamar tidur Natasha dibanting dengan sangat keras. Gadis itu melempar tas ranselnya ke atas kasur dengan penuh emosi. Wajahnya merah padam, napasnya memburu tidak beraturan, dan air mata kekesalan terus mengalir membasahi pipinya. Tangannya gemetar hebat saat ia merogoh ponsel di dalam saku celananya.Ia sudah tidak tahan lagi. Perlakuan Bramantyo tadi benar-benar membuat harga dirinya hancur berkeping-keping. Selama ini, papanya tidak pernah membentaknya separah itu demi orang lain, apalagi demi Mentari, anak dari wanita yang sangat dibencinya.Tanpa berpikir panjang, Natasha langsung menekan tombol cepat untuk menghubungi satu-satunya orang yang ia harapkan bisa membantunya saat ini, mamanya, Eva.Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara di seberang sana."Halo, Natasha? Ada apa telepon siang-siang begini, nggak jalan keluar? Bukannya kamu libur kuliah hari ini?" Suara Eva terdengar tenang di ujung telepon.Begitu mendengar suara mamanya, pertahan
"Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam
"Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap
Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.