Se connecterDalam empat tahun pernikahanku dengan Rexander Rolland, hanya aku yang mencintainya seorang diri sementara dia tak sehari pun melupakan kekasihnya. Saat memutuskan pergi dari sisinya, sebuah kecelakaan tragis justru mengantarku pada kematian. Tapi, takdir berbaik hati dengan memberiku kesempatan kedua. Aku membuka mata pada malam sebelum keterpurukan itu bermula. Kali ini, aku pastikan akan membalik keadaan. Namun ternyata, semua tak sesederhana itu. Setiap langkah yang kuambil seolah malah membawaku kembali ke titik yang paling ingin kuhindari: di bawah cengkeramannya. IG @almiftiafay
Voir plusâHanya aku yang boleh menentukan kapan pernikahan ini berakhir, Eveline!â
Tingginya nada bicara pria yang sedang duduk di balik meja itu membuat Eveline mengambil jarak. Rex, suaminya itu terlihat sangat muak karena Eveline baru saja menyerahkan berkas gugatan perceraian padanya. âPa-pa,â panggil suara anak lelaki Eveline yang berusia tiga tahun yang ada di sofa tak jauh dari ia berdiri. Noah, sepasang matanya berbinar menatap Rex, mengarahkan kedua tangannya ke depan seolah tengah meminta agar Rex menggendongnya. âPa-pa.â Rex mendengus, meletakkan bendelan kertas dari Eveline dengan kasar ke atas meja. âSuruh anak cacat itu diam!â ujarnya penuh kebencian. âHarus berapa kali aku bilang kalau aku bukan papanya!â Eveline segera menggendong Noah yang memang tidak sempurna sejak lahir, ia mengalami gangguan yang membuatnya tidak bisa berjalan dan kesulitan bicara. âKontrak pernikahannya akan berakhir dalam dua hari lagi, Rex. Tidak ada bedanya bercerai sekarang atau lusa,â ucap Eveline seraya menepuk lembut punggung Noah. âKakek mengatakan di wasiat itu kalau kita cerai kamu berhak mendapatkan setengah bagianku. Kamu mau itu, âkan?â âTidak. Akan akuââ âBerapa kali kamu bilang mau cerai tapi akhirnya kembali lagi?â sela Rex. Tawa lirihnya terdengar meremehkan, menggema di penjuru ruang kerjanya di dalam mansion petang hari ini. âKamu tidak bisa bertahan tanpaku, Eve! Semua orang tahu kamu mencintaiku, lagi pula anakmu selalu merengek meminta perhatian, sama sepertimu.â Rex lalu melemparkan berkas perceraian itu ke lantai, jatuh di dekat kaki Eveline. âAmbil itu! Bersikaplah lebih terhormat, kamu terlihat sangat licik dan gila harta.â Eveline menggigit bibirnya, frustrasi menghadapi dinginnya perlakuan Rex. âPapaaa, belum selesai kerjanya?â Wanita itu menoleh saat mendengar suara datang dari belakangnya. Seorang bocah lelaki berusia lima tahun menerobos masuk dan langsung duduk di pangkuan Rex. Namanya Mario, anak hasil hubungan selama Rex di luar negeri bersama pacarnya. âSudah,â jawab Rex. Matanya yang semula tajam pada Noah lenyap saat berhadapan dengan Mario. Eveline mendapati hangatnya perlakuan Rex saat mendengar Mario berujar, âPapa sudah janji untuk pergi makan malam dengan Mama di hari valentine, âkan? Apa Papa lupa?â âMamaâ yang disebutkan oleh Mario itu adalah Sarah, cinta pertama Rex yang gagal dinikahinya karena empat tahun lalu ia diminta sang Kakek untuk menikah dengan Eveline sebagai syarat menjadi pewarisnya. Jika dulu ada Kakek yang membuat Sarah tak bisa mendekati Rex, sekarang situasinya berbeda. Sejak beliau meninggal, Rex membawa Sarah pindah ke mansion ini. Wanita itu bisa disebut sebagai simpanan, tapi dialah yang menjadi Nyonya dan menempatkan Eveline sebagai bayangan. âTidak kok! Papa ingat. Sebentar lagi kita pergi.â Rex menjawab seraya mengusap lembut puncak kepala Mario yang bersandar nyaman padanya. Dada Eveline seperti digores pisau tumpul saat menyadari bahwa di gendongannya Noah menyaksikan semua itu dan mulai menangis, menggumam memanggil Rex yang tak sudi meliriknya. âTapi aku tidak mau kalau Tante Eveline dan anaknya ikut!â kata Mario. Dengus napasnya terdengar kesal, ia menarik dirinya dan bersedekap saat melanjutkan, âItu sangat mengganggu!â Bukankah semua itu telah menjawab alasan Eveline meminta cerai pada Rex? Selain karena pernikahan mereka hanyalah sebatas kontrak, tak ada secebis pun cinta Rex untuknya dan Noah. Eveline mendekap Noah, memutuskan untuk pergi dari sana. âPergi saja kalau mau,â kata Rex yang membuat Eveline berhenti di ambang pintu. âKita lihat berapa lama kamu bertahan lalu akhirnya pulang lagi seperti sebelumnya karena kamu dan anak haram itu kelaparan.â âA-anak haram itu a-apa, Mama?â tanya Noah, meratap nelangsa menunjuk Rex, seolah ingin melihatnya lebih lama. âSepertinya kali ini kamu serius meminta cerai dari Rex,â ucap seorang wanita yang tengah berdiri menyandarkan punggungnya ke pilar besar mansion seolah memang sengaja menunggu Eveline keluar. Sarah, wanita itu tertawa saat menarik tubuhnya dan berjalan mendekat. âSudah menyerah untuk mengambil hati Rex? Bertahun-tahun berusaha sampai mengorbankan harga dirimu tapi tidak pernah dianggap. Baguslah kalau akhirnya kamu tahu diri.â Eveline mengencangkan rahang saat tatapan Sarah naik turun menilainya. Wanita itu lantas berjalan melewati Eveline saat Noah meletakkan kepala di bahunya. Eveline pun berlalu tanpa menoleh ke belakang. Ia keluar dengan tak membawa barang selain hanya tas yang berisi beberapa pakaian dan mainan milik anaknya. Ia akan pergi ke sebuah rumah yang telah disewanya tak jauh dari tempatnya bekerja. Hujan mengguyur deras saat taksi yang dipesannya tak kunjung datang. Eveline berlari menuju halte terdekat, menggendong Noah yang sudah menggigil kedinginan. Di bawah kanopi halte yang tak sepenuhnya melindungi dari tempias hujan itu, Eveline duduk dan merapatkan pakaian Noah. Hatinya mengetat mengingat ucapan Rex yang menyebutnya sebagai anak cacat, anak haram. âMa-maâŠ?â Panggilan itu membuat Eveline menunduk, memandang bocah kecil di pangkuannya ini. âIya, Sayang?â Mata Noah berair, bibirnya tertekuk sedih. Ia terbata bicara mengucapkan, âM-Mama ... Noah j-juga mau d-dipeluk dan d-disayang Papa ... s-seperti Kakak Mario ... ke-kenapa Papa membenci Noah, Ma-Mama...?â Eveline tak kuasa menjawab, air matanya luruh saat ia memeluk Noah erat-erat. âDia bukan anak haram, Rex menutup mata dan tidak mau tahu kebenarannya.â âTidak apa-apa. Ada Mama yang akan selalu menyayangi Noah.â âCa-cat itu apa, Ma?â Noah terlihat bingung dengan kata-kata yang didengarnya dari Rex. âP-Papa me-marahi Ma-ma karena Noah ca-cat ya?â Retak hati Eveline hingga berkeping-keping saat tangan kecil Noah menyentuh pipinya yang basah, kembali ia berujar, âMa-maaf, Ma-ma .âŠâ âTidak, Sayang. Noah tidak bersalah. Mama yang minta maaf karena membuat baju Noah basah. Nanti setelah sampai rumah kita ganti ya?â Tapi sepertinya, keinginan Eveline untuk hidup damai bersama anaknya hanya akan menjadi angan. Dari arah barat, sebuah truk melaju kencang, kehilangan kendali. Eveline belum sempat berlari saat suara decit ban dan dua benda yang bertumbuk terjadi begitu cepat. Truk itu menerjang halte tempatnya bernaung, membuat ia dan Noah terlempar sekian meter jauhnya. Kepalanya berdengung saat menghantam aspal. Dunia seakan berhenti saat ia melihat mainan Noah yang berserakan sementara bocah kecil itu tak bergerak di sampingnya. Dengan lemah Eveline menyeret tubuhnya untuk mendekat, berusaha memanggilnya. âNoah?â â....â âNoahâŠ!â Berulang kali, tapi tak membuahkan hasil. Saat Eveline menyentuh tangannya ⊠Noah tergolek lunglai seakan tulang tak lagi menyangganya. Mata Eveline terasa berat, darah keluar dari bibir, tergenang di sekitarnya berbaur dengan air hujan. Dalam pandangan temaram itu, ia melihat ponselnya. Ia menggapainya dan berusaha menghubungi Rex. Tapi, Rex tak menjawab. Pria itu mungkin sedang bahagia dengan anak dan cinta pertamanya, sibuk merayakan hari valentine saat Eveline sekarat. âApa mencintai seseorang harus dibayar semahal ini?â Eveline terisak pasrah, ia menggenggam tangan mungil Noah yang berlumuran darah. Meringkuk, dan memeluknya. âMaafkan Mama, Noah âŠ.â Maniknya terasa perih, seluruh tubuhnya remuk. Bisingnya suara hujan yang tadi mencemari telinga telah menghilang teriring matanya yang tertutup. ** âKorban tewas pada kecelakaan di Jalan Kota Tua sudah berhasil diidentifikasi sebagai Nona Eveline dan anak Anda, Tuan Rex.â Kalimat itu terus saja berdengung di telinga Rex sejak ia lari dari restoran tempat ia harusnya menghabiskan malam valentine bersama Sarah dan Mario setelah mendapat panggilan dari polisi. Di dalam ruang mayat, tangan Rex gemetar kala membuka kain yang menutupi dua jasad yang dibaringkan berdampingan itu. Benar .... Wanita yang terbujur kaku di brankar bersama seorang anak laki-laki yang pucat pasi itu adalah Eveline dan Noah. âBagaimana bisa seperti ini?â Rex mengabaikan telepon Eveline tanpa tahu itu adalah panggilan terakhirnya? Rex selangkah mundur, mengusap wajahnya yang panas saat ponselnya berdenting. Ada sebuah email dari rumah sakit yang mengirim hasil tes DNA Noah yang pernah ia ajukan. Perih menyayat mata saat Rex membacanya. [Probabilitas Rexander Rolland sebagai ayah biologis dari Noah Leander adalah 99,99%.] Barisan huruf itu mengabur di matanya, beruraian lalu menjelma menjadi sembilu yang menusuk ulu hati. Perasaannya tak bisa dijelaskan. Napas mencekik leher, sesak menggelegak merobek dadanya. âNoah yang selalu aku sebut sebagai anak haram dan cacat itu adalah ⊠anak kandungku?!âRyan tidak bergerak satu milimeter pun.âKalau Anda kembali mencoba melakukan kekerasan fisik kepada Nona Eveline, saya akan langsung menghubungi polisi.âWajah Gia pucat pasi.Dan untuk pertama kalinya sejak menapakkan kaki di rumah ini, wanita tersebut akhirnya sadar. Eveline bukan lagi gadis kecil yang dulu bisa ia bentak dan ia peras sesuka hati.âAkhâ!â Ia menarik tangannya dari cengkraman Ryan. Selangkah mundur, mengamati pemuda berjas hitam itu lebih lama.Pandangannya turun pada name tag yang tergantung di lehernya.Sebuah logo âMGGâ yang tak asing yang jika ia tak salah ingat ⊠itu berarti âMG Group.âPemuda itu ⊠salah satu pekerja MG group?âTunggu apa lagi? Pergi dari sini!âRyan menunjuk ke arah lain, mengusir Gia sebelum membuat keributan yang lebih jauh.Gia mendengus, berjalan cepat dan sesekali menghentakkan kakinya dengan kasar di sepanjang pedestrian perumahan yang sepi.Wajahnya panas, merah padam karena malu dan dongkol, napasnya memburu. Sumpah serapah terus melu
âMama membesarkanku?â ulang Eveline. Untuk sesaat, ia benar-benar bingung.Membesarkan?Bukankah selama ini yang dibesarkan itu Leslie?Eveline hanya kebetulan tumbuh di rumah yang sama. Bahkan kalau waktu itu ia tinggal di tempat lain, rasanya tidak akan ada yang berubah.Selama Gia butuh sesuatu, wanita itu pasti akan mencarinya dan memperalatnya.âKalau bukan karena Mama, kamu tidak akan bisa jadi seperti sekarang!â tuding Gia.Eveline menghela napas. âAku bisa seperti ini bukan karena Mama membesarkanku dengan baik.âWajah Gia langsung menegang. âApa maksudmu?ââMaksudku, aku hidup sampai sekarang karena aku bertahan sendiri.âKeheningan turun sesaat.Dari rautnya Gia jelas membenci jawaban itu.Wanita ini âŠ.Tidak berubah!Ia tidak pernah merasa bersalah atau sudi mengucap seutas terima kasih. Yang sejak tadi dilontarkannya hanya untuk menyudutkan Eveline.âLihat?â desis Gia, matanya menyipit gusar. âBegitu punya uang, kamu langsung lupa daratan. Lupa siapa yang memberi kamu maka
Gia duduk di dalam mobil yang dikendarai oleh wanita yang tadi berhenti di depan halte.Sarah.Wanita bermata amber yang tadi menyapanya itu adalah Sarah. Ia mengajak Gia masuk ke sedan miliknya karena ia bilang ada hal yang ia katakan.Menjauh dari jalan raya, mereka berhenti di dekat kawasan pertokoan yang mulai tutup sore hari ini.âAda apa?â tanya Gia, menyandarkan punggungnya dan memandang Sarah yang mengeluarkan sebungkus rokok, mengisyaratkan agar Gia mengambil satu batang.Sarah tertawa saat memindai Gia yang menutupi kepalanya dengan topi.âTidak usah menertawakanku!â desis Gia dengan kesal, dicengkeramnya sebatang rokok dari Sarah untuk meredam rasa malu. âKamu senang melihat penderitaan orang lain?ââKenapa rambutmu bisa sampai habis begitu?ââDavid yang melakukannya.âSarah kembali tertawa setelah menyesap rokoknya.âJangan bilang kamu masih suka berjudi,â sindir Sarah.âDa-dari mana kamu tahu?ââWaktu tinggal di mansion milik Rex, aku lihat ada banyak surat tagihan. Untuk
Eveline terdiam, setelah mendengar soal sekte itu, pikirannya seketika melayang pada benda yang pernah diceritakan Mario.Hari di mana Lim, kepala pelayan di mansion milik Rex mengatakan bahwa ia tak sengaja menjatuhkan benda itu dari dalam laci jam tangannya.Medalion. Batu obsidian hitam yang dikatakan Mario selalu dibawa Sarah ke mana-mana seolah itu adalah nyawa keduanya.Kalau memang tempat itu mempercayai jimat dan benda-benda semacam itu ....Maka mungkinkahââJadi medalion itu berasal dari sana?âSuara Rex membuat Eveline mengangkat kepala.Pria itu sedang menatapnya, seolah tahu persis ke mana arah pikiran Eveline sejak tadi.âApa, Pak Rex?â tanya Leila yang belum mengerti.Rex menyandarkan tubuhnya ke kursi.âMedalion obsidian hitam milik Sarah.âJade mengernyit. âAhâAnda pernah menceritakan soal itu, âkan?ââYa.âRex tertawa lirih.Tawa pendek yang terdengar lebih seperti ejekan pada dirinya sendiri.âSarah menyembunyikannya di kamarku sejak lama. Memiliki efek atau tidak,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus