Share

A44. Mobil Baru

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2025-10-23 22:05:55

Selama kurang lebih delapan tahun dalam masa persembunyiannya ah ralat bukan bersembunyi ataupun melarikan diri, akan tetapi mengasingkan diri. Alex memang tidak pernah membeli barang apapun kecuali ponsel, karena bagaimana pun juga benda yang satu itu sangat penting.

Tadinya Alex hanya punya sebuah laptop usang yang tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek, tapi masih layak untuk dipergunakan. Lewat benda itulah Alex kembali bertemu dengan Alan.

Karena Alan juga, Alex dihasut untuk membeli sebuah ponsel. Sebelumnya Alex menolak, tapi akhirnya Alex menerima pemberian dari Alan. Alex berpikir jika benda itu tidak penting baginya. Namun, zaman sudah maju tidak mungkin orang tidak butuh sebuah ponsel.

Alex menatap mobil yang sudah terlihat mengkilap di depan apartemennya. Pria itu harus mengeluarkan uang tidak sedikit untuk membelinya dan itupun semua gara-gara Alan.

"Kau mau taruh di mana mobil itu?" dengus seorang wanita dengan nada jutek. "Apartemen ini tidak punya garansi untuk me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A105. keputusan Alex

    Sehari setelahnya. Alex berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menyesapnya. Pikirannya terlalu bising—lebih bising dari dentuman senjata atau teriakan perintah di medan tempur. Kembali ke pasukan elite. Kalimat itu terus berputar, menabrak dinding kepalanya. Sebagian dirinya yang terlatih, disiplin, dan tahu arti komando ingin mengangguk dan berkata ya. Namun bagian lain, yang lebih sunyi dan lelah, mengingatkan satu hal yang tidak pernah tercatat di laporan misi—harga dari sebuah keputusan. Ia menoleh ke ruang tamu. Zea tertidur di sofa, memeluk bantal, cat kuku warna-warni masih menempel di jemarinya—jejak kecil dari permainan yang tidak berbahaya. Pemandangan itu menahan Alex di tempatnya. Jika ia kembali, dunia yang ia tinggalkan tidak akan menunggunya tetap utuh. Teleponnya bergetar. Pesan dari Jo

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A104. Memanggil Alex

    Ledakan pertama terdengar seperti guntur yang tersesat. Di markas pasukan elite, getaran itu merambat lewat lantai beton, membuat gelas kopi bergetar tipis. Monitor-monitor taktis menyala, menampilkan gelombang aktivitas tidak wajar di wilayah pelabuhan. Suara tembakan ... terpotong, teredam jarak tapi tetap cukup jelas bagi telinga yang terlatih. TJ berdiri di tengah ruang komando, rahangnya mengeras. Rambutnya yang tersisir rapi tidak menyembunyikan ketajaman tatapannya. Ia tidak perlu laporan lengkap untuk tahu apa yang sedang terjadi. "Perang mafia," gumamnya. "Dan bukan perang kecil.' Seorang operator mendekat. "Sumber suara konsisten dengan senjata otomatis. Intensitas menurun ... lalu naik lagi. Sepertinya salah satu pihak terdesak." TJ menatap peta digital. Dua nama berkelip di kepalanya. Nama lama yang tidak pernah benar-benar mati-Benigno ... Rolland. Ia menghela napas pelan, lalu berbalik. "Panggil

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A103. Hari Penentuan

    Malam yang menentukan. Malam pecah sebelum tembakan pertama dilepaskan. Gudang di pinggir pelabuhan tampak tenang dari kejauhan—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan dua raja kotoran. Lampu-lampu kapal berkelip, memantul di air hitam. Di balik kontainer baja, orang-orang Benigno sudah mengambil posisi. Mereka tidak banyak bicara. Benigno berdiri di tengah, mantel gelapnya jatuh lurus, wajahnya tanpa emosi. Ia tidak membawa senjata. Kepercayaan diri adalah pelindung terbaiknya. Ya, karena dijaga oleh para anak buahnya. "Biarkan mereka masuk," katanya singkat. "Dan tutup pintu belakang." Di sisi lain, Rolland datang dengan senyum tipis yang dipaksakan. Anak buahnya menyebar, mata waspada, jari dekat pelatuk. Ia tahu Benigno berbahaya, tapi ia juga tahu mundur terlalu cepat berarti mati perlahan "Kita bisa bicara," kata Rolland keras, melangkah ke dalam gudang. "Tidak perlu ada per

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A102. Hari Tenang

    Antara senang dan sedih. Itu yang ada di pikiran Zea saat berada di rumah Alex. Namun, Zea ternyata justru malah larut dalam kesenangan karena bagi Zea, Alex bisa menjadi figur seorang ayah.Untuk sesaat Zea lupa akan ibunya yang di mana ibunya sedang kesakitan, tapi justru lebih sakit Zea yang harus melihat ibunya berguling-guling menahan rasa sakit.Zea tidur di kamar Alex dan Alex memilih tidur di sofa. Tidak ada yang bisa membuat dua orang ini pisah.Sebelumnya Zea bercerita bahwa ia suka mewarnai kuku bahkan Zea menunjukan hasil karya terbaiknya pada kukunya yang lentik."Paman, bagus tidak?" "Bagus!" jawab Alex singkat. Zea sudah terbiasa dengan ucapan singkat dari Alex bahkan ia tidak lagi protes."Aku akan membuat seni di kuku paman, tapi aku tidak membawa alatku. Aku akan melukis dengan alat seadanya," celotehnya. Alex tersenyum tipis dan mengusap rambut Zea.Alex menatap langit-langit ruang tengah. P

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A101. Di Antara Dua Rumah

    Yang Tidak Seharusnya Diketahui Anak-Anak ... Rahasia yang terbongkar dan itu sangat menyakitkan. Zea tahu ada yang salah bahkan sebelum ia melihat apa pun. Rumah terasa terlalu sunyi—sunyi yang bukan tidur, melainkan menyembunyikan sesuatu. Udara berbau pahit, bukan seperti masakan ibunya atau sabun cuci. Zea berdiri di lorong, memegang ujung baju tidurnya, menimbang apakah ia harus melangkah atau kembali ke kamar. Ia mendengar suara dari ruang belakang. Bukan percakapan. Lebih seperti napas yang dipaksa pelan. "Ibu ...?' panggilnya. Tidak ada jawaban. Zea melangkah. Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya, seperti lantai menarik telapak kakinya ke bawah. Pintu gudang kecil terbuka setengah. Cahaya remang jatuh miring, menyingkap bayangan ibunya yang duduk di lantai. Zea berhenti. Dunia menyempit menjadi satu gambar yang tidak ingin ia pahami. Ibunya tampak lel

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A100. Psikotropika

    Keinginan itu datang seperti gelombang kedua, lebih rendah dari yang pertama, namun lebih licik. Yura duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menggenggam kain seprai yang sudah kusut. Matanya menatap pintu kamar yang tertutup. Tidak ada suara langkah, tidak ada kata perpisahan. Hanya keheningan yang menyisakan gema penolakan. Ia menelan ludah. Tenggorokannya kering, seperti dilapisi pasir. Tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak lagi ada di jangkauan ... hening palsu yang pernah membungkus pikirannya, membuat dunia terasa bisa ditoleransi. Obat itu. "Aku cuma perlu sedikit," bisiknya pada ruangan kosong. "Biar bisa tidur." Itu kebohongan kecil yang terdengar masuk akal, bahkan bagi dirinya sendiri. Tubuh Yura mulai bereaksi sebelum pikirannya selesai membantah. Jari-jarinya bergetar halus. Bahunya menegang. Ada rasa panas yang naik ke tengkuk, disusul dingin yang merayap ke tulang punggung. Ia berdiri, langkahnya goy

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status