MasukSequel 'Ganteng-ganteng Anak Pembantu." Setelah kematian sang ibu dan ayahnya menikah lagi, kehidupan Awan berubah total dari yang dulunya seorang 'pangeran' berubah menjadi anak yang malang. Setiap harinya, Awan diperlakukan bak pembantu oleh ibu tirinya. Di sekolah, Awan dirundung karena memiliki latar belakang keluarga yang berantakan. Itu karena seseorang dengan sengaja menyebar fitnah tentang dirinya dengan mengatakan kalau Awan adalah seorang anak haram. Karena ayah Awan saat ini, bukanlah ayah kandungnya. Ibu Awan sudah hamil dirinya saat menikah dengan Cipta Mahendra. Tidak berhenti sampai di situ, ibu tiri Awan mengusir Awan dari rumahnya demi bisa mendapatkan rumah peninggalan ibu Awan untuk dirinya. Kehidupan Awan berubah, ketika seorang wanita dari IT terbesar dunia, Sky Light datang dalam kehidupannya dan memberinya tawaran yang tidak mungkin bisa ditolaknya. Sejak itu, kehidupan Awan berubah total. Perlahan, semua kemalangan Awan berubah menjadi keberuntungan. Namun, kehidupan tidak berhenti sampai di sini. Karena ia harus mencari keberadaan ayah kandungnya yang tidak pernah ia ketahui. Perjalanan Awan selanjutnya penuh dengan misteri dan ia mengemban takdir 'gelap' yang penuh dengan misteri.
Lihat lebih banyakSuara itu terdengar lagi.Kali ini lebih jelas dari sebelumnya.Bukan suara langkah kaki. Bukan pula suara hembusan angin yang menyelinap di sela bangunan tua. Suara itu seperti gesekan, seperti bisikan yang terlalu banyak untuk disebut kebetulan, seolah mereka sedang berada di tempat ramai namun tidak ada satupun orang selain mereka berdua.“Suara apa itu?”Nada suara Dian rendah, tapi sarat dengan kewaspadaan. Matanya menyipit, menatap ke arah kegelapan di dalam bangunan setengah jadi yang menjulang suram di hadapan mereka.Bangunan itu dulunya mungkin dirancang sebagai kompleks elit. Pilar-pilar beton berdiri tanpa dinding, tangga setengah jadi menggantung ke lantai dua yang tak pernah selesai. Lampu tak ada. Hanya cahaya bulan yang masuk dari sela-sela struktur bangunan, menciptakan bayangan aneh yang seolah bergerak sendiri.Dian melangkah maju satu langkah, refleks seorang aparat yang terbiasa mengamankan lokasi berbahaya.
“Wow, Z1000 Special Edition? Gaji kapten polisi sekarang gede juga, ya?”Awan mengangkat alisnya tinggi, nada suaranya campuran antara kagum dan menggoda.Motor sport besar berwarna hijau hitam itu berdiri gagah di bawah cahaya lampu jalan. Knalpotnya masih beruap, suara mesin yang baru dimatikan terdengar seperti dengusan hewan buas yang belum sepenuhnya jinak. Di atasnya, berdiri seorang wanita berambut hitam yang diikat tinggi, mengenakan jaket kulit dan celana jeans ketat. Dian Saka, selalu dengan gaya tangguhnya.Sejujurnya, Awan cukup terkejut melihat Dian mengedarai motor sport tersebut. Waktu pertama kali datang ke kota Samarda, ia cuma pernah lihat model motor itu di iklan. Belum sempat rilis, tapi di depan matanya sekarang, sudah ada satu dan itupun dikendarai oleh seorang wanita.Dian hanya tersenyum tipis, tidak bangga, tidak pula pamer. Ia menepuk sadel belakang motornya,“Bukan dari gaji polisi. Ini hadiah ulang tahun dari ayahku. Aku bahkan sempat nolak, tapi ya... mere
Langit malam tampak berat. Awan pekat menutupi rembulan, dan hanya sesekali kilat menyambar di kejauhan, menerangi reruntuhan bangunan tempat dua sosok itu berdiri saling berhadapan. Bau darah samar masih tercium di udara, sisa dari pertempuran yang baru saja berakhir.Awan menatap lelaki berpakaian serba hitam di depannya, seorang pria berusia 40an dan tubuhnya setengah berlutut, nafasnya terengah, tapi matanya masih menyimpan perlawanan. Lelaki itu, dikenal di dunia bawah tanah dengan nama 'Spectre', salah satu pembunuh bayaran paling berbahaya yang pernah dikirim untuk menumbangkan siapa pun yang menjadi targetnya. Tapi malam ini, dia gagal.Bukan karena ia lebih lemah dari lawannya, tapi karena lawannya sudah mengetahui semua jurus andalannya dan bahkan lebih baik darinya.Dan lebih dari sekadar gagal, dia terpukul oleh sesuatu yang tidak mampu ia jelaskan dengan logika manusia biasa.“Sekarang, kamu bisa jelaskan darimana kamu mempelajari teknik itu?” tanya Awan pelan, suaranya da
“Berhenti di sini, Pak.”“Hah? Di sini, Mas? Beneran?” sopir taksi itu menatap lewat kaca spion dengan dahi berkerut. Jalan yang mereka lalui sudah sepi sejak sepuluh menit lalu, hanya ada deru angin malam dan bayangan pepohonan di pinggir jalan. Tak ada rumah, tak ada lampu jalan. Tempat ini benar-benar gelap dan sunyi.Awan hanya tersenyum tipis, “Iya, berhenti di sini saja, pak.”Nada suaranya datar tapi mantap. Tak memberi ruang untuk ditawar.Sopir itu masih ragu, “Tapi, Mas... di sini bahkan nggak ada rumah. Mas yakin ini tempatnya?”Sopir taksi sempat mengira jika Awan sedang bercanda dan bertanya untuk memastikan.“Saya yakin.”Awan menatap keluar jendela. Hanya ada jalan kecil yang bercabang menuju gang sempit. Dari kejauhan, tampak seperti jalur mati. Tapi di mata Awan, tempat itu ideal. Tak ada kamera, tak ada saksi, tak ada suara selain jangkrik dan desir dedaunan. Tempat sempurna untuk untuk sebuah pertarungan, dan yang terpenting, tidak membahayakan keselamatan orang lain
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak