LOGINš«21+ Cerita ini banyak mengandung adegan Gore, mohon bijaksana dalam membaca. Dia menutup jati dirinya selama delapan tahun, karena sebuah insiden dan dianggap telah mengkhianati rekan satu tim-nya. Shin Alex mengasingkan diri di sebuah kota kecil di Emerland City. Seorang pria misterius, pendiam, dan sedikit angker, akan tetapi di sisi lain dia akan terlihat sangat brutal. Tanpa disengaja Alex masuk ke dalam dunia gelap yang sangat berbahaya bahkan mengancam nyawanya sendiri. Amukan berdarah dimulai, ketika satu-satunya orang yang memahaminya dan menjadi teman telah diculik dan memaksa dia terseret dalam kasus pencurian paket narkoba yang dilakukan tetangganya yang baru saja pindah. Alex pun dihadapkan dengan mafia, polisi, dan bayangan masa lalunya. Bagaimana jadinya jika mafia salah memilih lawan? Mampukah Alex menyelamatkan Zea?
View MoreAlex berteriak mengeluarkan beban pikiran yang ada. Alex seperti menyesali dengan nasib yang tengah menimpa dirinya. Rasanya hidupnya tidak berarti lagi tanpa sosok seorang Reyna, tapi bagaimana pun juga Alex harus tetep melanjutkan hidupnya dengan atau tanpa Reyna. Jalan hidup Alex masih panjang. Namun, ada kalanya manusia punya rasa jenuh yang menghinggapi setelah mengalami kejadian yang membuatnya trauma.
"Bodohnya aku telah menghilangkan dua nyawa yang tidak berdosa," ujarnya terlihat menyesalinya. Penyesalan yang mungkin tidak bisa dia tembus sampai kapan pun bahkan dia sampai tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Orang yang dia sayangi telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Sosok menakutkan yang ada dalam diri Alex saat itu sirna. Dia menjadi pria cengeng yang setiap waktu selalu menitihkan air mata saat teringat akan kejadian itu. Terpukul berat? Ya. Mungkin itu yang sedang Alex rasakan. Yang pasti tentunya dia bisa melindungi mereka, tapi ternyata Alex sendiri juga harus merasakan tiga buah peluru panas yang harus bersarang di tubuhnya. Akibat dari tiga peluru itu membuat Alex harus menjadi pasien di rumah sakit selama dua minggu. Tentunya ini bukan hal biasa bagi para rekan kerjanya, karena Alex adalah orang yang kuat dan tidak mudah tumbang. *** Sebulan setelah masa pemulihan Alex kembali untuk bertugas. Ada yang sedikit berbeda dari pria itu, dia terlihat lebih banyak melamun dan tidak fokus. Pastinya membuat rekan yang lainnya merasa bahwa Alex menjadi beban dalam tim mereka. Dalam sesi latihan pun Alex sering membuat kesalahan dan tentunya membuat yang lainnya kesal. 'Alex!" panggil John sambil berlari menghampiri Alex. "Aku rasa mungkin kau masih membutuhkan istirahat," lanjutnya. Alex hanya diam menatap John tanpa ekspresi apapun. Alex pun bangkit dan meraih senapannya. Pria itu hendak melanjutkan latihannya. Melihat hal tersebut, John menarik napas dan berkacak pinggang. Kedua netra itu terus memperhatikan ke mana Alex pergi. John menggelengkan kepalanya dan menyusul Alex. Pria itu sudah berdiri di posisinya dan memegang senapan dengan tipe SS1. Mengarahkan pada metal shooting target. Satu dua kali tembakan telah dilepaskan oleh Alex. Mengganti senjatanya dengan laras pendek berjenis Colt M1911A1, lalu berlari ke depan sambil menembak dan menggulingkan tubuhnya di atas rumput. Terakhir dia menembak dengan posisi kaki kiri menekuk di atas rumput. "Clear!" teriak pelatih. "Alex, pemenangnya. Dia menembak tepat sasaran dan tidak melukai sandera!" lanjutnya berteriak. Alex melirik John. Lirikan Alex memberi isyarat pada John bahwa dirinya masih berguna dalam Tim A. "Aku tidak ingin banyak bicara, John. Aku tahu jika aku ini mungkin menjadi beban dalam tim untuk saat ini. Aku tidak ingin berdebat masalah yang tidak penting." Alex berlalu dari sana. "Alex tunggu!" John meraih tangan kanan Alex. "Masalah tidak penting yang seperti apa maksudmu? Tentu saja hal itu penting bagi kita," papar John. Alex menatap John, lalu beralih ke bawah memperhatikan genggaman tangan John pada tangannya. "Lepaskan!" kata Alex tanpa beralih dari sana tatapannya. Namun, John belum juga melepaskan tangan Alex. "Lepaskan!" Sambil tatapannya beralih menatap John. Alex menatap tajam John. Tatapan yang bisa langsung diartikan oleh John. "Okeāāoke!" John melepaskan tangan Alex, lalu kedua tangan Alex diangkat ke atas. *** "Alex, kau tahu 'kan bahwa kau adalah prajurit terbaik dalam tim A. Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan kejadian ini?" John terlihat emosi. Fatalāāāmemang fatal. Sekali membuat kesalahan dan berakibat fatal. Tentunya ada resiko atau hukuman tersendiri bagi seorang prajurit yang melakukan sebuah kesalahan. Hukuman pun tidak memandang pada seorang prajurit yang berprestasi ataupun prajurit terbaik. Rumor buruk pun beredar begitu cepat. Dari mulut ke mulut hingga satu batalyon mendengarnya. Banyak yang tidak percaya akan rumor tersebut, tapi ada sebagian yang percaya dan mengkaitkan dengan tragedi yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Hingga waktu itu tiba .... "Apa kau serius, Lex!" John tampak tidak percaya dengan pernyataan Alex pada saat itu. Alex pun tidak akan mengulangi kalimat itu sekali lagi dan memang begitulah karakternya. "Tapi, Lexāāāā" John tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Dia sudah paham jika Alex sudah mengatakan A akan tetap A sampai akhir dan tidak akan pernah berubah. Justru di sini, John-lah yang terlihat frustrasi. Sedangkan Alex tampak tenang. Saat itu Alex tidak banyak bicara atau menanggapi atasannya, karena dinilai nanti apa yang dikatakan olehnya akan berbeda lagi. John berulang kali memegang kepalanya, lalu menatap Alex karena masih ada misi tugas penting yang harus mereka selesaikan. John tidak bisa berbuat banyak. Hal itu memang bukan kapasitas John untuk ikut campur, karena itu sudah menjadi urusan Alex dengan kesatuan dan kantor pusat. "Jika itu keputusanmu, tim kita akan kehilangan personil yang paling tangguh dan paling brutal," tegas John. Alex berhenti dari tim A pasukan elite yang telah membesarkan namanya. Tentunya hal itu membuat rekan satu tim-nya kaget. Mereka bukan menginginkan Alex keluar dari tim, hanya saja mereka ingin Alex mengambil cuti guna menstabilkan diri atau menenangkan dirinya. Alex adalah satu-satunya prajurit pilihan terbaik yang telah menorehkan banyak prestasi dalam kesatuannya. Memang tidak bisa dipungkiri dunia militer atau tempatnya pasukan elite akan kehilangan sosok anggota terbaiknya. Lalu apakah Alex berhenti sendiri atau diberhentikan dari kesatuan atau alias dipecat?"Dari mana dia mendapatkan senjata? Apa dia polisi?" Benigno memasukkan semua uangnya ke dalam tas. "Cepat bergerak, bodoh! Jangan sampai orang itu menemukan kita. Kita harus cepat melarikan diri." Benigno mengumpat pada anak buahnya karena lelet bahkan hampir memukul. "Maaf, tadi aku tertembak." "Kau tidak akan mati." Menendangnya. "Cepat!" "Baik." Kembali ke ruangan berdarah. Scott meletakkan senjatanya dan melepaskan jas. Ia melangkah ke tengah mendekati Alex. Pun, Alex mengikuti Scott. Deja Vu terjadi. Hal itu mengingatkan mereka saat di bar. Mereka tidak jadi bertarung karena polisi datang. Scott mengeluarkan pisau andalannya dan menyerang Alex. Duel antara pisau beda versi dan bentuk terjadi. Keduanya sama-sama cepat dan lihai. Alex berhasil melumpuhkan Scott dengan mematahkan jempol tangan dan menekan dengan pisau serta mendorong mundur. Pisau menancap pada dada kiri Scott.
Tim yang diketuai oleh Teo terus menyisiri daerah xx. Sedangkan Alex yang turun tangan sendiri untuk melawan sang mafia. Mereka seperti berbagi tugas. Teo menggeledah sebuah tempat. Tempat di mana anak-anak disekap, tapi di sana sudah tidak ada anak-anak itu. "Tanda pengenal." "Periksa orang-orang ini," seru Teo. Teo mendekati seorang wanita yang sedang makan mie. "Kami sudah tahu semuanya. Di mana anak-anak itu?" Wanita itu hanya sekali menatap Teo tanpa berekspresi seolah wanita itu tiba-tiba menjadi linglung. "Di mana mereka?" kata Teo sekali lagi. Suara meninggi. Detektif Teo. "Aku menemukan anak-anak di loteng." Teo langsung menuju ke loteng dan menyuruh anak-anak keluar dari sana. Teo disibukkan dengan mengeksekusi anak-anak. Sedangkan Danny setelah mendengarkan ledakan, ia langsung menuju ke lokasi. "Apa yang
"Si tukang gadai? Bagaimana kau bisa sampai di sana?" Benigno mengalihkan pembicaraan. Alex merasa geram. Ia menembak Yoris dengan menggunakan alat untuk menancapkan paku tanpa dipukul oleh palu dan sudah ada empat paku yang tertancap di paha Yoris. Paku menatap tepat di paha Yoris yang dalam keadaan terikat di kursi. Yoris menjerit keras. "Aaagh ... kaak!" teriakan Yoris sungguh menyayat hati. Benigno yang mendengarkan suara rintihan itu penasaran. "Siapa itu?" "Ini kesempatanmu yang terakhir. Bawa Zea dalam waktu satu jam," jelas Alex tanpa menjawab pertanyaan Benigno "Aku tanya itu siapa, keparat!" Benigno berteriak keras sambil mengumpat. Benigno menarik napas dan menenangkan diri. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi? Menyentuh sehelai rambut saja dari tubuh adikku, maka akan aku cungkil mata dan mengeluarkan isi perutnya-" SLAPT! Alex menembak lagi dan Y
Alex belok kanan sambil menarik topi yang ia kenakan, tapi sialnya polisi curiga dan justru mengejar Alex. Namun, Alex tidak berlari, ia berjalan tenang dan dua polisi membuntuti Alex. Tiba-tiba Alex berlari saat polisi itu memanggilnya. "Jangan lari!" Alex lari menaiki anak tangga di sebuah rumah susun. Alex masuk ke dalam sebuah rumah yang pintunya terbuka. Ia melangkah dan membuka tirai jendela. Di sana Alex melihat sebuah mobil van berhenti dan anak yang diikuti Alex naik mobil itu. Alex kembali keluar dan hendak turun, tapi justru Alex bertemu dua polisi tadi. "Angkat tangan!" Polisi itu mengeluarkan senjatanya dan Alex mengangkat kedua tangannya. Dengan cepat dan sigap Alex melumpuhkan dua polisi itu. Saat akan turun ternyata beberapa polisi datang menaiki anak tangga. Alex berlari di lorong dan menerobos kaca, meloncat dari lanta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore