LOGINTak lama kemudian, Nathan menyadari dinding batu yang semula kering mulai lembap, sementara tanah di bawah kaki terasa basah dan lengket. Mereka berhenti di depan sebuah pintu batu besar.Lucan menatap pintu itu lama, ragu tampak jelas di wajahnya. Namun karena Nathan sudah berdiri tepat di belakangnya, ia akhirnya mendorong pintu tersebut dengan kasar dan melangkah masuk.Nathan menyusul tanpa ragu. Di balik pintu, terbentang sebuah aula raksasa. Di tengahnya berdiri altar bundar, dan di atas altar itu seekor Raja Kepompong tengah memintal benang sutra tanpa henti. Di sekeliling makhluk itu, terbentuk sebuah sangkar cahaya yang mengurungnya rapat.Lebih mengejutkan lagi, dinding aula dipenuhi benda-benda menyerupai kepompong, menempel di batu dan terbungkus lapisan sutra tebal.Tatapan Nathan mengeras, ia tak menyangka akan menemukan monster siluman di tempat seperti ini. Dari ukuran dan aura yang dipancarkan, monster itu jelas bukan makhluk biasa, setidaknya berada di tingkat Villai
Nathan menyipitkan mata. “Menarik, bahkan dalam posisi aman, kau tetap tak berani menyebut nama tuanmu.” Nada suaranya berubah menghina. “Seiji sudah memperingatimu, bukan?”Lucan tak menjawab, dan dari keheningan itu, Nathan sudah mendapat satu konfirmasi yang ia butuhkan.“Hm… lalu kenapa kalau kuberitahu?” Nada Lucan terdengar santai, bahkan cenderung meremehkan. “Gadis itu ditangkap langsung oleh Seiji. Sepertinya ada sesuatu di tubuhnya yang sangat berharga.”Baginya, Nathan dan Bonang sudah berada di ambang kematian. Mengungkap sedikit kebenaran tidak akan membawa konsekuensi apa pun.“Kukira begitu,” gumam Nathan pelan. Matanya menyipit, kilatan dingin melintas di sana. “Orang yang bisa menundukkan Elara dan membawanya ke sini memang hanya dia.”Beberapa detik berlalu sebelum Nathan kembali membuka suara. “Lalu apa tujuan kalian membangun markas rahasia di wilayah Northern?”Keberadaan pasukan Negara Solara di tempat ini jelas bukan kebetulan. Mereka tidak mungkin bersusah paya
Gerakannya bersih, sunyi dan nyaris sempurna. Masih menyamar sebagai rekan mereka, Bonang mengulang metode yang sama. Satu demi satu, samurai jatuh tanpa pernah menyadari apa yang terjadi.Dari kejauhan, Nathan yang mengamati hanya bisa menahan senyum geli.Tak lama kemudian, hanya pemimpin kelompok itu yang masih berjalan di depan, tangan kanannya menggenggam katana dengan penuh kewaspadaan.Ia berhenti, mengernyitkan kening. “Tidak ada jejak penyusup… Kalian, berpencar—”Ia menoleh ke belakang.Kosong~Hanya satu orang berdiri di sana.“Apa?” napasnya tertahan. “Ke mana mereka semua?”Bonang mengangkat bahu ringan. “Aku juga tidak tahu.”Tatapan pemimpin itu berubah tajam. Ia mundur selangkah, instingnya berteriak bahaya.“Siapa sebenarnya kamu?”Bonang tertawa kecil ketika penyamarannya terbongkar. Tubuhnya bergetar sesaat sebelum kembali ke wujud aslinya.Di saat yang sama, Nathan melompat keluar dari balik pepohonan. Tatapannya tertuju pada Bonang, disertai nada evaluatif.“Tekni
Pendekar Bayangan itu tidak sempat menghindar. Api menelan tubuhnya, dan jeritan memilukan menggema di hutan. Ia berguling-guling di tanah, berusaha memadamkan kobaran tersebut, tetapi api itu nyata dab tidak bisa dipadamkan dengan cara biasa.Tak lama kemudian, tubuhnya menghitam dan runtuh menjadi abu.Pemandangan itu membuat Pendekar Bayangan terakhir gemetar hebat. Ia berusaha memberontak, tetapi baru sadar seluruh energinya telah terkunci, seolah aliran kekuatannya diputus paksa.“Siapa kalian sebenarnya?” tanya Nathan dingin. “Dan apakah kalian melihat seorang gadis yang ditawan di sekitar sini?”“A-aku tidak tahu!” teriak Pendekar Bayangan itu panik. “Kami hanya tersesat!”PLAK!Tamparan keras mendarat di wajahnya.“Jangan mempermainkan kami,” ucap Nathan tajam.Pendekar Bayangan itu terdiam, bibirnya terkatup rapat.Bonang melangkah maju, mengeluarkan selembar Sigil berwarna kuning pucat. “Kalau begitu, kita pakai cara lain. Sigil ini akan membuat kematian terasa seperti kemew
“Apa?!” Bonang terkejut. “Bukankah roh di dalam dirinya berasal dari ribuan tahun lalu? Dunia sekarang sudah berbeda, mungkin dia hanya tersesat—”“Tidak,” potong Nathan. “Aku bisa merasakan koneksi itu. Dia ditahan dan auranya menunjukkan bahaya.”Nada suaranya membuat Bonang mengernyit serius.“Kalau begitu orang yang menangkapnya pasti bukan sembarang figur. Kau membawa sesuatu yang menyimpan auranya?” tanya Bonang.Nathan mengangguk. “Ada.”Ia mengeluarkan sepotong pakaian milik Elara.Bonang membeku sesaat, lalu menelan ludah. “Sial! Benda seperti ini memiliki resonansi aura yang terlalu kuat. Bagaimana aku bisa berkonsentrasi?”“Aku hanya berpikir ini menyimpan jejak auranya paling murni.” jawab Nathan jujur.Bonang menghela napas panjang. “Berikan.”Ia meletakkan pakaian itu di atas meja, mengeluarkan selembar Sigil, lalu mulai merangkai Teknik Sigil Rune. Cahaya hijau redup muncul, disusul nyala api tipis.Dalam sekejap, Sigil dan pakaian itu terbakar bersamaan, menghasilkan
Pria tua itu menatap Nathan dengan sorot mata penuh keheranan. “Eldric,” katanya pelan, “Siapa pemuda ini? Mengapa kau memperlakukannya dengan hormat sedemikian rupa?”“Beliau adalah Tuan Nathan,” jawab Eldric singkat, lalu menoleh. “Tuan Nathan, izinkan aku memperkenalkan, ini Rotgam Pluin, penguasa Menara Surgawi.”Nathan mengangguk sopan. “Salam, Tuan Rotgam.”Namun, Rotgam justru memandang Nathan dengan tatapan tajam bercampur keterkejutan. “Jadi kau inilah orang yang mendirikan Klan Draken Ascalon, menentang Martial Shrine, dan membunuh anggota Keluarga Ryodan dari Negara Solara?”Nathan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka reputasinya telah menyebar sejauh ini, terlebih ke wilayah Sektor Bayangan.Pada saat itu, Nalan melangkah maju. “Perlu diketahui, Tuan Nathan. Perwakilan Menara Surgawi di dunia fana adalah Keluarga Mordren. Dan Raze Mordren merupakan anggota mereka.”Barulah Nathan memahami semuanya. Tak heran sejak pertemuan pertama, Raze tidak menunjukkan permusuhan sepert







