ANMELDEN"Ah, nggak usah. Ibu bisa telepon Bima nanti."Tidak hanya Ibu yang terlihat canggung, tapi Gita pun ikut menundukkan kepala. Sebenarnya ada apa dengan semua orang? "Mas, kamu nggak suka kita main sama Gita?" tanyaku langsung. Aku yakin sumber kecanggungan ini adalah perempuan itu. "Kenapa bicara begitu sayang?" jawab Bima cepat. "Mas nggak masalah kamu mau main sama siapapun. Mas sedikit kaget saja.""Oh, barangkali emang nggak boleh. Soalnya kalian semua aneh.""Aneh gimana?" tanya Bima lagi. "Ya, aneh aja." Aku tidak bisa bilang kalau situasi ini membuatku tidak nyaman. Bagaimanapun ini adalah pertemuan pertamaku dengan Gita. Tidak baik terlalu mencurigai orang tanpa alasan yang jelas. "Kalau gitu, sudah dulu ya, aku mau pulang.""Iya, Sayang. Hati-hati di jalan yah."Panggilan pun lantas terputus. Setelah itu, suasana sedikit mencair dengan sendirinya. Tidak seperti saat makan, kali ini Ibu bersikukuh membayar seluruh pakaian bayi yang Gita beli. Totalnya lumayan banyak. Leb
Romi. Mendengar nama itu, aku sontak menoleh lalu menginterupsi percakapan seru mereka. "Romi? Tunggu... Siapa dia untukmu, Gita?"Meskipun sesaat, aku melihat wajah tegang baik dari Ibu ataupun Gita. "A, ah, dia suamiku.""Suami?""Iya. Raline kenal Mas Romi?"Alisku tertekuk sedikit. "Ya. Dia orang yang selalu menelepon suamiku hampir setiap hari setiap kali kandungan istrinya bermasalah."Apa karena ini aku tidak nyaman dengan keberadaan Gita? Karena suaminya terus menganggu Bima tanpa kenal waktu? Tapi apa benar hanya karena itu? Lalu kenapa Gita dan Ibu tampak terkejut ketika aku mengatakan nama itu. Ekspresi Gita langsung tidak enak. Aku bisa merasakan rasa rendah dirinya terhadapku, tapi itu terlalu berlebihan. Di pertemuan pertama kami, kenapa dia harus merasa begitu. Memangnya dia punya salah apa denganku. "Nggak. Aku nggak sedang negur kamu, Gita. Aku cuma bertanya karena penasaran. Mas Bima cukup sering cerita tentang Romi padaku."Sebelum wanita itu mengatakan sesu
Perjalanan menuju rumah terasa lebih cepat daripada yang aku kira. Sepanjang jalan, Ibu terus menggenggam tanganku. Tangannya semakin keriput dan kecil. Aku dan Bima sudah berusaha semaksimal mungkin memberi pengobatan terbaik untuk Ibu meskipun belum juga ada kemajuan. Bahkan kami sudah beberapa kali melakukan pengobatan ke luar negeri. Sekarang, yang bisa kami lakukan selanjutnya hanyalah bersiap jikalau kondisi Ibu tiba-tiba drop lagi. Rumah yang kami tempati masih terasa sama, nyaman dan hangat. Aku membantu mendekorasi beberapa ruangan atas permintaan Ibu. Syukurlah, rumah ini selalu menjadi tempatku untuk pulang. Aku sekarang punya rumah yang benar-benar rumah. "Sayang... Kamu istirahat dulu, nanti ibu panggil lagi kalau makan malam udah siap.""Iya, Ibu."Tanpa berlama-lama, aku naik ke kamarku dan langsung merebahkan diri di atas kasur. Ranjangnya dingin. Sudah lama sekali rasanya aku tidak tidur di sini.Sebelum tidur, aku mandi terlebih dahulu dan berganti pakaian, ta
Keheningan melanda cukup lama. Di antara kami, suara dari luar pun terasa semakin menjauh. Aku dan Matthias seolah mendalami perasaan kami masing-masing dengan cara yang berbeda. Aku tidak tahu apa yang merasuki diriku sehingga berbicara mengenai hal ini. Mungkin, aku hanya ingin pria itu mengerti bahwa Bima begitu penting bagi hidupku. Dia sama sekali tidak punya celah untuk masuk di antara hubungan kami. "Bagiku yang beruntung itu Bima karena dia bisa membuat seseorang sepertimu merasa berhutang budi."Jawaban Matthias benar-benar di luar prediksi. Aku sampai kebingungan harus menjawab apa, tapi melihat wajahnya yang tetap tenang dan elegant, aku tahu dia mengatakan ini bukan tanpa pertimbangan. "Jika aku tidak bertemu Bima, aku tidak akan berada di posisi ini. Itulah yang perlu kamu pahami, Matthias.""Benarkah?" Dia menyeruput kopinya lalu kembali berkata. "Kau terlalu mengecilkan dirimu, Raline Dara. Bima memang memberimu jalan, tapi kalau kau tidak punya kemampuan, jalan it
Kami memilih makan di sofer cafe yang ada di luar bandara. Aku memesan ayam goreng ketumbar dan kopi susu, sedangkan Matthias memesan espresso dengan beberapa cemilan ringan seperti pisang goreng. Aku cukup terkejut melihatnya mau memakan pisang goreng. Setahuku dia sangat menjaga makanannya dan tidak terlalu suka makanan berminyak. "Enak?" tanyaku.Aku tidak tahan untuk bertanya. Matthias yang saat itu sedang melihat iPadnya menoleh menatapku. "Enak. Mau mencobanya?" Dia menyodorkan sepotong pisang goreng yang paling banyak toping ke depan mulutku. Tampak menggiurkan. Apalagi di atasnya ditaburi SKM dan meses. "Aku bisa sendiri," ucapku berniat mengambil pisang goreng itu dari tangan Matthias, tapi dia malah menjauhkannya. "Raline, cukup buka mulutmu.""Aku tidak mau disuapi.""Tanganku terlanjur lengket. Cepat buka mulutmu."Pada akhirnya aku membuka mulutku, menerima suapan Matthias dengan sedikit tidak rela. Yah, rasanya enak seperti yang dia katakan. "Enak, kan?"Aku menga
Nina menyampaikan permintaan maaf padaku sambil menangis, bahkan hampir bersujud kalau saja aku tidak berteriak untuk berhenti. Syukurlah wanita itu baik-baik saja. Bagaimanapun, ini bukan salah Nina. Wanita itu telah menjadi titik balik dari kasus ini. Dia tidak sepenuhnya salah. Pada akhirnya, kami berempat mengobrol sebentar. Katanya Nina sudah resmi tinggal di desa Nando karena sebenarnya dia tak punya tempat tinggal. Nina bekerja bersama keluarga Nando di ladang. Sekarang sorot matanya dipenuhi oleh kehidupan dan tampilannya lebih manusiawi. Aku bangga melihatnya. "Sebelum menjenguk, kami mendapat sudah mendapat izin dari suami Nyonya," kata Nando. Pantas saja mereka bisa masuk ke sini. Ternyata mereka bertemu dengan Bima. "Jadi pria bule berwajah tampan berambut pirang tadi suaminya Nyonya Raline?"Wajah bule? Rambut pirang? Tunggu... Apa maksud Nina? Sejak kapan tampilan Bima berubah. "Iya. Ganteng, kan?" Nandi berseru riang. "Meski wajahnya dingin begitu, aslinya di







