"Sialan!"Matthias melempar gelas miliknya ke lantai. Bunyi pecahan kaca memekakkan telinga dan sisa wine berceceran di mana-mana.Sementara itu, otak Raline mengirimkan sinyal bahaya. Dia langsung mundur menjauh dari sang direktur yang mulai kehilangan akalnya. "Tuan... Saya harus pulang."Raline buru-buru mengambil barang-barangnya. Dia bukan orang bodoh. Tahu dengan pasti apa yang telah ia minum. Sebelum obat itu semakin meracuni pikirannya, Raline memilih kabur.Namun, saat ia hendak pergi, Matthias mencekal tangannya. Sungguh kesalahan yang fatal karena sekarang, rasa panas itu bahkan menjalar hingga ujung jarinya."Lepaskan saya!" Raline panik berusaha menyentak genggamannya. "Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi sendiri. Hubungi suamimu, suruh dia menjemputmu."Membiarkan wanita yang tengah diliputi nafsu pulang sendirian sama saja menjerumuskan pada malapetaka. Meski kepalanya pusing, Matthias masih bisa berpikir rasional. Namun, berkali-kali dihubungi, Bima tak kunjung meng
Last Updated : 2026-08-04 Read more