LOGINMy girlfriend, Selena Jenkins, and I are committed to a strict 50-50 relationship. We are three years into our relationship, and we split everything down to a single bottle of water. Then, out of nowhere, I get a call from a kidnapper. "We have your girlfriend. Have 150 thousand dollars ready, or she dies!" I calmly launch our app, SplitMate. According to the algorithm, this unexpected incident falls under "shared risk", meaning she is responsible for 50% of the cost. However, after factoring in the personal insurance policy I took out on her behalf, she only needs to pay 35,550 dollars. I send the calculation results to the kidnapper. "This is her share. Please contact her family for the payment. I'm only responsible for my own portion." The line goes silent. A few minutes later, I receive a livestream link. The livestream shows Selena tied to a chair, smiling at her phone. The live chat in front of her is blowing up. "Holy shit! This guy's a monster. This is the craziest livestream I've seen all year!" Later on, she follows the 50-50 rule to a T, but I'm no longer on board with it.
View More"Akhhh... Apa yang terjadi pada tubuhku...?"
Chloe menggeliat resah. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Seluruh tubuhnya berdenyut-denyut penuh gairah.
Di hadapannya, seorang pria tampan nan kekar tengah berada di atas tubuhnya.
Sebelumnya, Chloe tengah berada di pesta lajang yang diadakan untuknya sebab seminggu lagi ia akan melangsungkan pernikahan.
Dalam keadaan sedikit mabuk, Chloe yang tengah menikmati pesta itu tanpa sadar mengambil sebuah minuman yang disodorkan oleh salah satu temannya.
Namun, justru minuman itu semakin membuat kepalanya pusing serta tubuhnya menjadi terasa panas. Sampai akhirnya, ia meminta salah satu temannya untuk mengantarnya ke kamar untuk beristirahat.
Tetapi, bukan kamarnya, ia justru masuk ke sebuah kamar lain yang mengantarkannya pada keadaannya sekarang.
Saat ini, ditatapnya pria asing yang tengah menindih tubuhnya dengan kasar.
“S-siapa kamu?” bisiknya lirih. Dia mencoba untuk mengontrol gairah yang ada dalam tubuhnya, tapi terasa sia-sia.
Pria itu tidak menjawab, tapi dengan agresif, dia melumat bibir Chloe.
Chloe tertegun. Tubuhnya menegang dan menginginkan hal itu, tapi pikirannya jelas menolak dengan tegas.
“Tolong lepaskan aku.”
“Maaf, Nona! Aku tak bisa lagi menahannya!” lenguhnya dengan suara serak. Suaranya berat dan ada aksen British di sana.
Tubuh Chloe menegang.
‘Jelas-jelas, pria ini sudah salah sasaran.’
“Please, aku bukan kekasihmu. Aku mohon, berhentilah!”
“Maaf Nona, aku tak bisa menahan gejolak ini!”
Chloe meronta-ronta dan berusaha membebaskan dirinya dari pelukan pria itu.
“Aku tidak akan melukaimu..."
Dari cara berbicaranya, Chloe tahu pria di hadapannya ini benar-benar berusaha keras menjaga kesadarannya.
“Dengarkan baik-baik. Aku sudah punya seorang kekasih dan kami sudah bertunangan.”
Chloe berusaha menjelaskan, tetapi dia sendiri pun dalam keadaan terangsang karena pengaruh obat perangsang yang telah dicampurkan ke dalam minumannya oleh seseorang.
Gadis itu mendorong tubuh pria tak dikenalnya itu dengan sekuat tenaga, tapi kekuatannya tidak sebanding dengan pria yang bertubuh kekar itu.
“Diam, Nona! Aku akan melakukannya dengan cepat!”
Chloe mengerjap-ngerjapkan matanya di bawah tindihan tubuh berotot pria itu.
“Hmmppt, l-lepas! Kau mungkin telah salah masuk kamar, dan aku bukan kekasihmu.”
Chloe memukuli lengan kekar pria itu, tetapi alih-alih terlepas, malah pria itu menangkup kedua tangan Chloe, meletakkan-nya ke atas kepalanya dan mengunci pergerakan gadis itu.
Pria itu mulai menciumi leher dan dadanya, meninggalkan jejak kemerahan di sana.
Chloe mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia berusaha mengumpulkan potongan puzzle ingatannya yang berceceran di mana-mana. Namun, semakin dia berusaha untuk mengingat semua itu, dia semakin pusing.
“Aaakkhh,” jerit Chloe dengan keras di kala pria itu meremas dadanya, serta merobek paksa dress yang dikenakannya dan melemparnya ke sembarang tempat.
Air matanya berderai tanpa bisa dibendung. Dia tidak pernah menginginkan semua ini terjadi.
Rasa takut seakan menggerogoti tulang-tulang Chloe. Dia ingin melepaskan diri, tapi apa pun usahanya, semuanya sia-sia belaka.
Suara tangisan dari Chloe dan lenguhan dari pria itu memenuhi kamar hotel yang bercahaya redup itu.
Gadis itu menangis ketika merasakan sesuatu telah terkoyak dalam dirinya. Tubuhnya bergetar. Bukan hanya tubuhnya sakit, tapi untuk bernapas saja dia perlu kekuatan ekstra.
Rasa takut, sakit, perih dan nikmat bercampur menjadi satu.
Chloe terus terisak dalam diam. Dia tidak berani menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Hatinya hancur dan masa depan di hadapannya, buram dan kelam.
*
Chloe sempat jatuh tertidur karena lelah yang mendera tubuhnya. Tapi tidurnya sangat tidak nyaman, karena mimpi buruk yang datang silih berganti dalam tidurnya.
Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan kenangan akan kejadian semalam berputar-putar di otaknya.
Air mata Chloe tumpah ruah. Dia sekarat, kesakitan dan merasa malu pada dirinya sendiri. Entah perbuatan terkutuk siapa, sehingga dia harus mengalami semua ini.
Pernikahannya yang sudah menantinya di depan pintu gerbang, kini seperti berlari menjauh dari hadapannya.
Ditatapnya jam dinding yang terus berdetak tanpa lelah.
‘Rupanya sudah jam tujuh pagi. Aku harus pergi dari sini sebelum pria ini terbangun.’
Chloe menahan napas ketika mendengar suara dengkuran halus dari pria yang telah merenggut mahkotanya dengan paksa itu.
‘Mungkin aku bisa menelpon Albert untuk menjemputku.’
Memikirkan Albert saja, membuat dia menggigil kedinginan. Kekasih dan tunangannya yang sangat mencintainya.
Chloe menyentuh tangan pria itu untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar tertidur pulas.
Setelah yakin, dengan perlahan Chloe berusaha melepaskan diri dari dekapan pria itu. Diangkatnya lengan pria itu agar dia bisa berguling ke samping.
Seluruh tubuhnya terasa remuk. Chloe mencoba untuk bangkit, tapi rasa sakit menyerang bagian intimnya.
Rasanya dia ingin berbaring saja di sana dan menunggu ajal menjemputnya.
'Apa yang akan aku katakan pada Albert? Apakah dia mau memaafkanku dan menerimaku apa adanya?'
Chloe kembali terisak. Sambil menggigit bibirnya menahan perih di pangkal pahanya, dia mendorong tubuhnya dengan perlahan.
Dia hampir memekik kaget ketika melihat darah yang mengalir dengan pelan dari belahan pahanya. Bercak merah di bed cover seakan mengingatkan dia bahwa bagian terbaik dari dirinya telah tiada.
Hatinya hancur berkeping-keping. Sesuatu yang berharga telah direnggut dengan paksa oleh seorang pria yang mana bukanlah suami atau pun kekasihnya.
Gadis itu memijat pelipisnya karena sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya. Dia duduk di pinggiran tempat tidur dan mencoba menenangkan dirinya.
‘Semalam, aku sedang bersama teman-temanku merayakan pesta malam lajang-ku. Tetapi kenapa aku bisa berakhir di dalam kamar hotel ini bersama pria asing ini?’
Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kalut. Dia mengedarkan pandangannya dan menyisiri setiap sudut dari kamar hotel itu, lalu pandangannya terhenti pada pakaian mereka yang berhamburan di atas lantai.
Dia melihat dressnya yang berwarna merah tua tergeletak begitu saja di atas lantai. Tali punggung dress itu terlihat sudah putus, dan bagian dada dari dress itu sudah robek.
Bagi Chloe, sangat mustahil untuk mengenakan dress itu lagi, kecuali kalau dia sudah putus urat malunya, dan keluar dari kamar ini dengan pakaian compang-camping.
‘Biar bagaimana pun, aku harus bisa keluar dari tempat ini’ pikir Chloe sambil memutar otak untuk mencari jalan keluar. Lalu matanya tertuju pada jaket pria itu.
Dengan langkah tertatih-tatih, dia memungut pakaian dalam dan dressnya. Dikenakannya pakaian yang dimiliki, lalu ia meraih jaket pria itu.
‘Maaf, aku terpaksa harus meminjam jaket-mu.’
Dia menoleh ke arah samping di mana terdapat toilet di sana.
Diseretnya langkah kakinya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan darah di pangkal pahanya dengan beberapa lembar tisu.
Setelah merasa cukup bersih, Chloe segera membilas wajahnya dengan air dingin. Dia butuh kesegaran saat ini. Air dingin menyentuh wajahnya dan memberikan rasa sejuk yang dia butuhkan.
Diambilnya selembar tisu dan mengeringkan wajahnya.
Chloe membuka pelan pintu kamar mandi dan memantapkan langkah kakinya menuju pintu keluar.
Dia berjanji, begitu dia menutup pintu itu, maka semua kenangan dan peristiwa yang telah terjadi, akan dia tutup selamanya.
Bersambung...
I had no idea how I had left Rivergate 18. The words "fiance" and "Novis Smith" looped in my head. Like two jagged steel needles, they stabbed repeatedly into my nerves. It turned out that I wasn't even qualified to be the antagonist in her story. From the very beginning, I was nothing more than an insignificant NPC in the script of her life, existing solely to advance the plot. I was a background prop, a joke. I returned to the shoebox apartment I was renting, where the air was thick with a damp, musty smell. I booted up my computer and logged into the backend of that already abandoned SplitMate app. It was the last backdoor I had left for myself as the developer. I wanted to delete it. I wanted to erase all the quantified fragments of my past with Selena. Yet, when I clicked the delete button, the system popped up a window I had never seen before. "Project 'Love' is about to be terminated. Would you like to trigger the final retrospective report?" As if guided by some uns
I returned to the apartment that had already been cleared out. Using the last bit of access I still had, I logged into SplitMate's backend. There, I exported a bill of all the financial transactions between Vivian and me. Yes, I'd created this ledger ages ago. In my perfectly logical universe, everything could be tracked and calculated. Every time I had helped Vivian, I had quietly logged it."May 2022. Provided data support for Vivian's graduation thesis. Time spent: 12 hours. Market value: Six thousand dollars. Note: Personal favor; waived for now.""January 2023. Advanced one thousand dollars for Vivian's apartment deposit. Note: Verbally agreed to pay me back next month. Later, the other party used the excuse that 'money is tight' and did not return it.""September 2023. Vivian went through a breakup. Provided 72 hours of emotional support. Valued at professional counseling rates…"Looking at these entries, I found it absurd. I used to believe this ledger was proof of my in
By the time I found Vivian, she was trapped inside a cafe by two men in suits and leather shoes. I recognized them. They were Mr. Smith's assistants. "Mr. Newman," they greeted me politely when they saw me. Vivian spotted me and, as if she had seen her savior, rushed over to hide behind me. "They're trying to arrest me, Ollie! They claim I slandered Sel, and now they're going to put me behind bars."The lead assistant adjusted his glasses with a blank expression. "Mind your language, Ms. Murray. We are merely here to serve you with a cease-and-desist letter and inform you that your actions have caused serious damage to Ms. Jenkins' reputation. We reserve all rights to pursue full legal action against you." "I did not. Everything I said was the truth!" she shrieked from behind me. "Selena's a gold digger. She's the one who wronged Oliver! I was just exposing her!" I looked at her face, which was distorted with anger, and for the first time, felt a sudden pang of alienation and
I began to look for Selena like a man possessed. I didn't want to defend myself or confront her; I merely wanted to see her face-to-face and ask a single question. Why? Why did she put up with me for three long years? I showed up at Novis Capital, only for the receptionist to politely inform me, "Ms. Jenkins doesn't accept visitors without an appointment." I went to her hotel, only to be told, "Ms. Jenkins has already checked out." I camped outside her family's company building for three days and three nights. Yet, all I got to see was her Maserati pulling in and out. Its windows were heavily tinted, so I couldn't see who was inside.I was like a bug discarded by the system. I was completely erased from her world.In my despair, I thought of Jace. I dialed his number, and he picked up with his trademark mockery. "Well, well, well, if it isn't the great actuary, Oliver. What's the matter? Did you hit a liquidity crisis and need a loan? "Mind you, interest is 0.5% a day. Ta












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.