เข้าสู่ระบบIn a world where different creatures mingled with humans, despite struggling with the world's hardships, fighting for survival, and attempting to escape the clutches of the night creatures, humans, no matter what they did, always ended up as a tool for survival. On their quest to acquire power, freedom, and wealth, this dark power's only source of survival was through one soul; the soul of a freeborn. This soul, being an embodiment of power, could change anything and everything. Kate Warren was this soul. She was a young, spirited woman whose soul was purer than a dove and was sought by different creatures who would do anything to take everything from her. Her soul was a power treasure for the demons and a great source of energy for the witches, while her blood was the life-sustaining elixir for the night creatures. All these things they sought were the keys to unlocking power. Kate was the only survivor in her town when a massacre took place that caused the deaths of her family. Unknown to her, she was the motive behind the massacre. Her bad days changed for the worst when she got abducted by a demon. Facing the chaos surrounding her and building a strong shield around herself Kate found solace in the arms of the night whisper. The whispers of the night had a certain attraction for her. It always drew her to Clarence Roosevelt, whose name shook her very soul and core, and was also death and life to her. Having discovered that the only person who can lead her into and also away from destruction is herself, will she save herself and others from destruction, or will she be the destruction itself? “All she needed to do was listen to the Night Whispers”.
ดูเพิ่มเติมSeorang gadis cantik nan seksi yang bersiap di kamar mandi sebelum memasuki ruangan sakral di mana pria pujaannya berada. Gadis itu benar-benar memastikan penampilannya secantik dan se-seksi mungkin agar pria impiannya luluh.
"Lihatlah, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun dia tidak tergoda dengan semua ini. Bahkan jika di luar aku sering digoda," ucapnya seorang diri dengan menepuk pelan dada serta bokong montoknya.Tak ingin lebih lama, ia segera keluar dari kamar mandi dan memasuki ruangan Presdir berada. Terlihat pemilik ruangan ini tengah berkutat dengan segala pekerjaan. Di saat serius seperti ini, kadar ketampanan pria pujaannya bertambah berkali-kali lipat. Ia bahkan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya melihat menampakkan yang sangat sulit dilewatkan."Tuan, ini laporan keuangan yang Tuan minta 30 menit yang lalu," ucap gadis seksi itu dengan suara dibuat lembut dan mendayu.Sayang sekali, pria pujaannya itu tidak menoleh atau membuka suara sedikit pun. Hanya mengangguk singkat dan mengibaskan satu tangannya seolah menyuruh gadis itu keluar.Sakit hati? Tentu saja. Sudah berdandan sejak 2 dekade yang lalu, dilirik saya tidak.'Sial! Seharusnya aku langsung saja perkosa dia,' kesalnya dalam hati. Bisa mati di tempat jika diucapkan secara langsung.***Sedangkan di belahan dunia lain, seorang gadis tengah dihadapkan suatu keputusan yang sangat sulit.Nina—perempuan paruh baya Ibunda dari sosok Niana menatap nyalang anaknya. Begitupun dengan Jendra—ayah Niana. Namun, Niana tetap acuh atas pendiriannya. Ia tidak peduli pada kedua manusia itu yang sedari tadi mengomel dan membentak Niana."Tanpa persetujuan darimu, saya akan tetap menikahkan kau dengan Jacob!" pungkas Jendra yang akhirnya pergi meninggalkan istri dan anaknya.Jacob yang terus mengintai perdebatan itu melalui alat penyadap suara pada ponsel milik Jendra, ia senang bukan kepalang ketika membayangkan gadis mungil nan cantik itu menjadi miliknya. Beberapa hari ke depan, burung perkututnya akan masuk sarang yang lebih fresh dan tersegel. Membayangkannya saja membuat ia tak tahan untuk tidak tersenyum cabul.Kembali pada Niana, gadis itu termenung seorang diri di kamarnya. Ternyata, usahanya untuk menolak sangat tidak berarti apa-apa. Pria itu tetap menjadikannya tumbal agar semua harta gelap ini kekal abadi."Tidak ada pilihan lain selain mengatakan iya, Niana." Begitu pula dengan Nina, ia tidak peduli terhadap perasaan Niana.Selepas kepergian ayah dan ibunya, Niana mejambak rambut panjang miliknya sambil berteriak hebat. Kaki mungil nan putih itu berjalan cepat ke segala arah untuk menghancurkan semuanya.Tubuhnya berhenti di depan cermin besar, menatap kasihan pada dirinya yang cantik."Kau memang cantik, Niana. Sayang sekali jika nanti anak turunmu ikut pada si ayah, mereka terlihat jelek dan berhati busuk," lirih Niana.Tangannya terulur untuk mengusap wajahnya di pantulan cermin, namun setelahnya, ia menghancurkan cermin itu menggunakan tangan kosong. Sama sekali tidak peduli pada tangannya yang sudah compang camping penuh darah.Bibi Yur—salah satu asisten di rumah Niana yang sangat dekat dengannya, ia segera masuk ke dalam kamar Niana ketika mendengar keributan yang sangat kacau di sana.Perempuan bertubuh gempal nan tua itu segera menghampiri Niana sambil menangis tersedu-sedu. Tanpa peduli Niana yang sudah berlumuran darah, ia segera memeluknya penuh hangat."Anak manis, tenang sedikit ya, sayang? Hati bibi sakit melihatnya, nak," ucap Bibi Yur tanpa melepaskan pelukan hangat itu."Nak, tidak mungkin Tuhan memberikan cobaan di atas kemampuan hambanya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini nak. Semua orang bisa meninggalkanmu, tapi tidak dengan Tuhan." Suara Bibi Yur terdengar sangat lembut di telinga Niana, suara yang selalu ia dengar seumur hidupnya."Bibi, aku tidak mau," lirih Niana setelah lama terdiam di pelukan Bibi Yur.Keduanya sedikit mengendurkan pelukan itu, diusapnya air mata Niana menggunakan kedua tangan Bibi Yur yan tak lagi kencang."Bibi akan selalu bersama Niana, ke manapun Niana pergi, Bibi akan selalu ada. Tidak usah takut ya, nak? Kita hadapi semuanya bersama-sama," balas Bibi Yur dengan senyum manisnya. Senyuman paksa agar Niana menjadi lebih tenang.Niana tak membalas, kembali menumpahkan tangisnya di sana.Detik, menit, jam, semuanya telah terlewati. Niana menangis tiada henti di pelukan Bibi Yur. Sampai akhirnya, gadis itu terpejam dengan sendirinya.Bibi yur tersenyum kecil melihat wajah damai Niana yang sudah dibanjiri air mata.Salah satu tangan Bibi Yur menggapai bantal yang ada di atas ranjang Naina. Perlahan ia merebahkan tubuhnya dengan tubuh gadis cantik yang masih terlelap di dekapannya."Tidurlah yang nyenyak, sayang, Bibi tidak akan meninggalkanmu," lirih Bibi yur sambil mengusap pelan rambut Niana.Kini, posisi keduanya tidur di lantai berdua, Niana menggunakan salah satu tangan Bibi Yur sebagai bantalnya.Meskipun dingin, Bibi Yur tidak peduli. Ia tidak bisa mengangkat tubuh Niana ke atas ranjang, ia juga tidak mau membangunkan Niana. Biarkan saja lantai kamar yang dingin ini menjadi saksi kesedihan keduanya.***Sudah satu minggu lamanya Niana tidak keluar dari kamar, Bibi Yur-lah yang selalu setia bolak-balik ke kamar Niana untuk memberinya makan.Setelah memberi Niana sarapan, Bibi Yur kembali keluar dan menutup pintu kamar Niana.Namun setelahnya, pintu itu kembali terbuka menampakkan wajah seorang wanita yang sangat dibenci oleh Niana."Jam 10 nanti, kau akan bertemu dengan calon suamimu. Berdandanlah secantik mungkin, kali ini kau harus menjadi anak yang berguna." Setelah mengucapkan tujuannya, wanita itu kembali pergi meninggalkan Niana yang kembali terdiam.Sarapan yang sudah ada di tangan, Niana simpan di atas nakas kecil samping tempat tidurnya."Tuhan, kau adalah zat yang paling adil, kan? Aku memohon keadilanmu, aku mohon ...," rintihnya sambil menatap kosong ke depan.Niana bangkit, masuk ke dalam kamar mandi lantas berendam di sana. Cukup lama, bahkan sangat lama.Lagi-lagi, Bibi Yur kembali menyelamatkan Niana. Perempuan itu teriak sekencang-kencangnya ketika melihat Niana yang tak sadarkan diri sedang berendam di bathtub, entah sejak kapan gadis itu ada di sana.Pelayan yang lain berlarian menghampiri Bibi Yur, berusaha sebisa mereka mengangkat tubuh Niana dan memakaikan beberapa pakaian agar Niana tidak terlalu telanjang.Nina, wanita itu berdecak kesal ketika melihat anaknya kembali tak sadarkan diri. Bukan hanya sekali, Niana sangat sering seperti ini."Nyonya, saya meminta izin untuk membawa Niana ke rumah sakit—""Bawa pergi sekarang, anak itu memang sangat tidak berguna. Penyakitan dan menyusahkan," ujar Nina memotong perkataan Bibi Yur yang belum selesai.Hati Bibi Yur berteriak ingin menangis, bagaimana bisa seorang ibu bersikap seperti itu pada anak kandungnya sendiri?Tanpa mengatakan apapun lagi, Bibi Yur segera keluar menyusul pelayan yang lain untuk membawa Niana ke rumah sakit.Di dalam perjalanan, Bibi Yur tidak melepaskan Niana sedetik pun dari pelukannya. Diciumnya kening Niana yang dingin dengan penuh kasih sayang.Sesampainya di rumah sakit yang sudah tak asing bagi Bibi Yur maupun Niana, dokter segera menangani gadis rapuh itu.Pria berjas putih itu dengan cekatan menangani Niana, ia sudah hafal tentang kondisi Niana. 5 tahun ia menangani gadis malang ini.Setelah memastikan semuanya selesai, dokter dan suster yang semula berada di dalam ruangan Niana, keluar secara bersamaan membuat Bibi Yur serta sopir yang mengantar mereka berdiri dari duduknya."Dokter, bagaimana keadaan Niana?" tanya Bibi Yur, wajahnya dihiasi kepanikan yang luar biasa."Seperti biasa, Niana telat datang kemari. Harusnya sejak 3 hari yang lalu Niana datang ke sini untuk Check up. Dan satu lagi, Niana pasti mengabaikan obatnya," jawab dokter itu panjang lebar membuat Bibi Yur menghela napas panjang.Setelah mengucapkan terima kasih pada dokter dan suster, Bibi Yur segera masuk ke dalam ruangan Niana. Netranya menangkap sosok gadis cantik tengah tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit."Yur, kapan gadis ini memiliki kehidupan yang baik? Kapan Tuhan memberikannya kebahagiaan?" pertanyaan Pak Andes—sopir pribadi Niana, memecah keheningan di dalam ruangan dingin itu.Bibi Yur masih belum menjawab, telapak tangannya menangkup hangat pipi Niana."Aku yakin, suatu saat nanti Niana bisa tersenyum dan tertawa bebas seperti manusia pada umumnya. Entah di kehidupan sekarang, atau pun kehidupan kedua yang entah ada atau tidak."***Clarence directly teleported himself to the forest near the council building. He walked the remaining distance before entering the building through the huge black gate that was heavily guarded inside. The guards bowed when they saw him walk in. Reaching the entrance of the building, he was met by a scrawny-looking man with pale white skin and red eyes. He was no doubt a vampire but a low-ranked Vampire. "Master Clarence" The man greeted opening the door for Clarence "You came early today," He said as they made their way inside the building. "You were not expecting to see me?" Clarence asked in a bored tone while walking with his chin raised in confidence and his step firm on the hard floor. "N…no master Clarence. It's just that…" The man stuttered as he tried to keep up with Clarence's long strides. "It's understandable Markus" Clarence cut him off "There are a lot who wouldn't like my presence today" Markus did not say anything to this. The council meeting was
Kate looked down at her folded palms. What was her decision? She hasn't made up her mind yet and she didn't know what to say. She was not sure if she can stay here, but she was also sure those demons will kill her if she went back to her town. She was confused about what to do. It made her feel soberer to realize that she didn't have anyone to ask guidance from. She couldn't ask Madam Rosie, she will tell her to follow her heart. But what is her heart saying? Her heart was cold and her mind was fuzzy, she couldn't think straight anymore. "I can give you all the time to think about it but…" He drawled "They wouldn't also have time to think about it when they're killing you" Was that an encouraging word or a threat to something? Will they really kill her? Of course, they will, she had seen how the last one was about to kill her. Kate looked up at Clarence whose gaze never left her. She couldn't figure out what the man was thinking. Can she live with a man who can disappe
"What do you mean?" Kate looked the man in the eye. "I think you should finish your meal before we talk about this" Clarence said resting his back on his chair. Kate decided to eat since she was hungry. She didn't have the strength to argue with this man but one thing she knew was that she was not going to stay with him.Taking everything she could find on the table she ate as she had never eaten before. Forget table manners, hunger will make you behave like a woman without ethics. Clarence watched the woman in front of him stuffing food into her mouth. Who knew she was this hungry, perhaps she has not eaten since morning. He silently watched her as she ate while thinking of how to convince her to stay. She looked like the stubborn type who wouldn't listen to him. But he will make sure she stayed.When kate was done eating, James came in and cleared the table. She turned to Clarence "What were you saying, that I'm going to stay here?" "Yes," Clarence answered
In an old cave where no human has ever gone, maybe the fear of what they will find or the fear of meeting the night creatures, or probably both made them not step into the deep forest. The ones who claimed to be brave went and never come back again. But no one knew this was where some of the demons resided. Not everyone knew about the existence of demons. They only knew about the night creatures and the witches. Even when the demons killed humans, the blame was always put on the night creatures. The council has done everything they could to keep everything gentle where both the demons, the night creatures, the humans, and the rumored witches will stay without causing chaos. That was the agenda they have been working on for decades which has been unfruitful, especially the massacre that took place a decade ago that involved Kate's town. Inside the cave, it was blazing hot, and different types of demons were everywhere. Some had the shape of a deformed human with blac
Kate and Madam Rosie went back to the shop after bidding goodbye to Borrel. "Now Kate lass, tell me what happened there. You got me so worried" Madam Rosie said as they sat down on one of the benches inside the shop. Kate took in deep breaths as she started narrating "I don't know Mada
"I see you're awake" All the nerves on Kate's body turned alert. She slowly turned to face the monster that kidnapped her, but what she saw was a different person. The man standing in front of her is beautifully handsome. His eyes had the darkest shade of red, his pointed nose wa
The demon continued fighting with the man, not backing down. He kept on throwing more knives and balls of fire but before they got to the man, they disappeared. Confused with what was happening "What are you?" The demon voice sounded more croaky now he was fighting. "What I am?" T
Kate walked into the mansion, fascinated with everything she saw. The beautiful large fountain at the center of the compound, and the smaller one in the garden added to the beauty of the mansion. The beautiful flowers and the well_trimmed fields that surrounded the fountain gave it a peace
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.