MasukEver heard of a “wife for hire”? Absurd, right? Well, it was a brand-new concept to me too. As I stared at the billionaire sitting across from me, one thought rang loud and clear in my mind.“This man has lost it.“ How did I go from interviewing for a cleaner’s position to this? An offer to “marry” a billionaire? The words had barely left his lips before I scoffed, unable to help myself. “Is this some kind of joke?” I asked, narrowing my eyes at him, skepticism dripping from every word. He tilted his head to the side, his expression oddly calm. His brows lifted slightly as his sharp gaze locked onto mine. “Is something wrong?” he asked, his voice steady yet tinged with what seemed like guilt—or maybe embarrassment. “Did I offend you? If I have…” “I mean, no offense, but… look at you. You’re tall, handsome, rich,” I continued, gesturing toward him as if to underline my point. “Any woman out there would swarm around you, dying for the chance to be with you. So, why me? Unless there’s more to it. Unless there’s… a motive.” … After being handed divorce papers at the hospital—mere moments after losing her baby,Amber refuses to fall apart. She is not weak. She is not pathetic. She won’t waste tears on the heavens or wait for Karma to settle the score. Instead, she vows to become Karma herself. However, fate leads her to an encounter with him, a wealthy, enigmatic billionaire with a haunting past and a son who longs for a mother. Drawn to her striking resemblance to someone from his past, he makes her an audacious offer. One that could change both of their lives forever.
Lihat lebih banyak"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
“No… I don't,” I answered, trying not to let my curiosity show. Expectant, I watched him, waiting for his response.But it never came. He just nodded, stretching lightly as he yawned. “Well, I should get some rest. My body isn't as agile as you youngsters.” And then he just left, leaving me blinking in shock.That old man was really something. Getting some rest when he just woke up? How gullible did he think I was to fall for that, and the clearly fake yawn.I scoffed, a scowl on my face. If he wasn't going to tell me, why did he ask? “How annoying.” Perhaps that's why he wasn't liked. He was annoying, and he knew it.“Focus, Amber. Don't let him get to you,” I muttered to myself as I gently patted my cheeks. This time, I paid attention to my surroundings so no one would sneak up on me again.About twenty minutes later, Lilith walked into the kitchen, rubbing her eyes. She straightened up when she saw me, her expression one of shock. “Marcella, why are you cooking?” Her voice was lace
AMBER I was starting to desire what I shouldn't. As I sat at the edge of Dustin's bed, watching his chest rise and fall in a peaceful rhythm, I wished we were back at Curtis' mansion, a place I'd come to see as my home.I wished we could be away from this house, this family, the endless cycle of deception and hidden knives. I let out a tired sigh as I brushed a strand of hair from his face. “I wish this was real.” I wished we could start over somewhere far away, somewhere I wasn’t just a replacement. My wishes and desires didn't matter. I knew that much, but…Till it's time to leave, let me dream.Dustin shifted slightly in his sleep, his tiny fingers curling around the edge of the blanket, and my lips curled into a smile as I watched him, my baby. His presence in my life is one of the main reasons I didn't lose myself after losing my baby.It had been a while since I made him a meal. The chefs always handled everything, but I wanted to cook for him again. Slowly and quietly, I lift
CLINT The sun had risen hours ago, but I barely noticed. My office at home was a mess, with papers scattered across the desk and littering every available surface. I’d spent the entire night going through all the documents related to the project. I exhaled sharply, shutting my eyes which were burning from lack of sleep. “Calm down, Clint.” Although I said that, I just couldn't. Something wasn’t right. My eyes snapped open as I sat up straight, massaging my temples. The numbers didn’t lie. Funds were slow, suppliers were pulling out, and investors were now hesitant. It was supposed to be just the usual delays, and minor issues the project usually experienced, especially for one as big as this. That was what I thought. That it was just bad timing, a rough patch in a solid plan. But not anymore. It was starting to look like sabotage, but I was desperately hoping it wasn't because if it was, there was only one person who could be responsible. “Please, be a mistake,” I muttered
Lilith let out a chuckle. “You should’ve seen your face,” she said, her laughing fading into a smile. “Why were you just standing there alone?”I exhaled slowly, relieved she didn’t catch me eavesdropping on Genevieve, not that it mattered. Then again, I couldn't trust anyone in this house but Curtis. My lips parted to speak, but I stopped, realizing the opportunity before me. Letting out a tired sigh, I pressed a hand to my head, and said, “I was on my way to the kitchen, but then…” I paused, shaking my head slightly. “I’m not sure, but I think I remembered something from my past… I-I might be getting my memories back.”This was easier and more natural than a full-blown family conference. Now that she knew, it was only a matter of time before everyone else did. Her hands flew to her mouth, eyes glistening with unshed tears. “Really? Your memories are back?” She sniffled before rushing forward, pulling me into a tight hug. As though she'd touched hot iron, she immediately pulled away
Silence hung in the air, thick, suffocating, and I could almost touch the tension in the air. His eyes scanned the room, stopping when they landed on me. Relief flashed through his eyes, but there was something else that made me feel as though he could see through my facade, and I instantly broke e
CLINT The knock on my office door was soft and hesitant. I didn’t look up from my screen. “What?” Sophie stepped inside, carefully shutting the door behind her. “Sir, I…” She said, her voice trembling. I glanced up, a frown on
CURTIS Aidbe was the kind of restaurant where only the right people got in. No reservations, no waiting lists. If you had to ask how to get a table, you weren’t important enough. It thrived on exclusivity, where privacy was a given and silence was the real price of entry
AMBER Could I have misheard him? I wondered as I headed for my room, exhaustion setting deep in my bones. Each step felt heavier than the last, and all I wanted was to collapse onto my bed. A sigh left my lips as I pushed open the door. My eyes flickered around the room, my mood dampening when I












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan