INICIAR SESIÓNElla despertó un día siendo la prometida de un magnate italiano al que no conoce, pero su boda es solo un acuerdo que la mantendrá viva, mientras encuentra la manera de escapar de su jaula de oro.
Ver másSuara bentakan nyaring memecah kesunyian pagi, menggema dari dalam dapur, yang berada di ujung rumah. Seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh amarah sedang berdiri di depan kran air. Kedua tangannya mengepal, matanya menatap tajam orang yang ada di hadapannya.
"Bisa nggak sih? Kalau buka kran air, itu jangan bolak-balik terus?! Ini keran air punyaku, aku yang bayar! Jadi, jangan terlalu boros!" katanya dengan suara yang menggelegar, membuat suasana pagi yang tadinya tenang, seketika berubah menjadi tegang. Di depannya, seorang wanita yang jauh lebih muda, dengan apron yang masih basah karena baru saja mencuci sayuran. Wanita itu membalas dengan nada datar. Namun, terdengar jelas kalau nada yang dikeluarkan oleh kakak iparnya sangat melukai hatinya. "Aku cuma cuci sayuran, mba! Bukan buang-buang air! Kamu juga sering mandi di kamar mandi itu, tapi aku nggak pernah mempermasalahkannya! Sekarang aku pakai air dari kran ini, kamu malah marah?" Wanita yang menjadi kakak iparnya, atau Tante dari anaknya. Ia sedang mengerutkan kening, matanya menyipit tajam menatap adik iparnya yang sudah berani melawannya. Kedua tangannya yang awalnya mengepal, kini disilangkan di depan dada. Dagunya sedikit terangkat, wajahnya menunjukkan amarah dan arogan yang sengaja ia tunjukkan. "Oh, jadi kamu mulai ungkit-ungkit soal kamar mandi itu?" katanya senyumannya menyeringai, menatap nyalang adik iparnya. "Dengar baik-baik, wahai adik ipar! Ini rumah milik orang tuaku! Aku sudah tinggal di sini dari kecil! Wajar saja kalau aku gunakan kamar mandi itu! Seharusnya kamu yang tahu diri! Kamu cuma numpang, cuma beban di keluarga ini!" bentaknya sambil sedikit berteriak. Dengan kesadaran penuh, dan emosi yang begitu memuncak, ia pun mendorong tubuh adik iparnya ke belakang. Tubuh Fatim terhuyung mundur, hampir saja terjatuh. Namun beruntungnya, ada seorang gadis remaja dengan rambut panjang yang tergerai, gadis itu segera melangkah cepat dan menangkap tubuh ibunya. Nafas gadis itu memburu saat melihat sang ibu diperlakukan semena-mena oleh Tantenya sendiri. "Ibu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir. Suaranya sedikit gemetar, bukan cuma cemas, tetapi ada kemarahan yang begitu membara di dalam hatinya. Fatim, wanita yang menjadi ibunya, kini menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan dirinya sendiri dan menyakinkan sang anak, kalau dirinya baik-baik saja. "Ibu nggak apa-apa kok, Nak," jawabnya lirih, sambil berusaha menyembunyikan rasa ketakutannya. Zahra, gadis itu kini berdiri tegak menatap Tantenya dengan tatapan tajam. Wajahnya berubah menjadi tegang, sorot matanya begitu dingin dan menusuk. Ia berusaha untuk menahan gejolak amarahnya yang bisa saja meledak. "Ada masalah apa Tante sama ibu? Sampai-sampai Tante dorong-dorong ibu?" Sinta, Tantenya Zahra hanya mengendus kesal. Matanya menatap Zahra dengan tatapan tajam, seakan tak terima dengan pertanyaan yang keluar dari mulut keponakannya sendiri. "Ibumu itu orangnya boros! Masa iya dia buka tutup kran air terus? Ya saya kesal lah sama sikap ibumu itu!" katanya dengan nada ketus. Zahra menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk bersikap lebih tenang. Meskipun darahnya begitu mendidih. Zahra tahu, kalau wanita yang ada di hadapannya itu lebih tua darinya. Namun, tak dapat dipungkiri kalau kesabarannya semakin menipis. "Kalau ibu salah, coba bicarakan baik-baik. Pakai hati, bukan pakai kekerasan gini! Apalagi sampai dorong-dorong orang!" ujarnya sambil berusaha menjaga nada suaranya, supaya tidak meninggi. "Dibicarakan baik-baik? Nggak bisa, Ra! Nanti malah ngelunjak! Ibumu juga keterlaluan. Kran air ini milik Tante! Saya yang bayar, jadi kalau mau pakai, yang hemat! Cari uang itu susah!" Zahra tersenyum tipis. Berusaha untuk tersenyum dibalik hatinya yang bergemuruh. Ia tahu betul, kalau sang Tante juga sering menggunakan fasilitas ibunya, tanpa izin. Termasuk kamar mandi yang setiap hari selalu mereka pakai. "Apa Tante lupa?" tanyanya, menatap Sinta tajam. "Tante sering pakai kamar mandi itu? Tante tahu kan kalau air itu ibu yang bayar! Sekarang ibu cuma pakai air ini saja, Tante marah sampai segitunya?" Sang Tante menggeleng pelan, ia tertawa getir. "Kamar mandi itu punya orang tuaku, Zahra! Bukan bukan milik ibumu! Memang kamar mandi itu sudah jadi milik kalian, tapi tetap aja. Yang bayar air itu ya, adik ku sendiri, Faisal!" ucapnya. Sebelum pergi, ia menyenggol lengan Zahra dengan kasar. Lalu berjalan pergi meninggalkan dapur, membiarkan mereka menatap punggungnya yang mulai menjauh. Zahra hanya diam sambil menatap punggung wanita itu dengan tatapan getir. Di sampingnya, sang ibu masih berdiri sambil menenangkan dirinya. Sementara bola mata Zahra mulai berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi karena kecewa. Kecewa karena harus ribut dengan keluarganya sendiri. Kenapa malah sang Tante bisa meributkan hal sekecil ini? Dan membuat keluarganya menjadi berantakan, hanya karena masalah air saja.Una vez más, Bethany se despertaba en una ínsipda y fría cama de hospital, pero esta vez no era en Florencia, y tampoco se llamaba Bethany, sino Anne. En cuanto arribó a tierras norteamericanas sintió un inmenso alivio, por fin dejaría de pelear por su vida. Fue trasladada a un hospital que ofrecía servicios exclusivos a agentes de la ley, veteranos y sus familiares. La sometieron a diferentes pruebas, desde sanguíneas hasta un estudio psicológico. Finalmente estaba sola, tumbada sobre su espalda mirando a través de la ventana una luna que estaba a un par de noches en llenarse, era igual de bonita que en Italia. Pensaba en Brahim, si había llegado a tiempo a un hospital o se habría muerto en el helicóptero. Y pensaba también en Ciro, en esa última promesa que le había hecho. No quería obsesionarse, pero era casi imposible. Si algo había aprendido de Ciro Tona
La inmensidad del bosque quedaba reducida a los pies de Ciro, lo conocía como la palma de su mano, y no era para exagerar. Él había crecido allí, había jugado numerosas veces a las escondidas con Brahim, también lo había caminado con su padre buscando fauna que cazar. Nunca habría imaginado que en un futuro cazaría a su esposa. Fue cuando entendió que él no era dueño de su destino, lo que más miedo le causaba.-¿A dónde me llevas? –preguntó Anne calmando el llanto por fin. Caminaba por delante de Ciro, sujetada por una de sus manos que se aferraban a su delgado cuello, mientras que en la mano libre sujetaba el arma en la zona de su espalda baja.-Brahim nos está esperando. –fue todo lo que dijo. Sentía su corazón estrujándose, oponiéndose a
Anne se encontró de frente a una zona boscosa de más de catorce mil doscientas hectáreas, ya las había recorrido por propio pie, aunque esta vez era diferente, porque tenía a un par de hermanos criminales siguiéndola. No podía recorrer la vía principal, el único camino desprovisto de maleza y hojarasca, por donde se desplazaban los vehículos, sería demasiado obvia. Avanzó por el surco derecho, despejando su camino de ramas y hojas, mirando con atención el suelo para saltar charcos o piedras con las que pudiera tropezar. No estaba segura si entre la maleza se escondían víboras o arañas, no tenía margen para pensar en ello, el verdadero peligro eran los hermanos Tonali. Su corazón salto dentro de su pecho cuando se percató de unos resonantes pasos que seguían los de el
Eran las dos con trece minutos en Italia. Los desvelos de Ciro ya se habían convertido en costumbre, asimismo, su gusto por el licor. Estaba en la bodega de su casa bebiendo del anís siciliano cuyo sabor amargo llegaba acompañado de recuerdos igualmente amargos que revivían el momento en el que su propio hermano, sangre de su sangre, le manifestaba que había embarazó a su esposa, la mujer de su vida. Si se embriagaba no era para olvidar, nunca entendió a las personas que bebían para olvidar sus penas, él las mantenía frescas en su mente, lo hacía para poder conciliar el sueño. Utilizaba el licor como sustancia soporífera. El silencio de su soledad fue rasgado por el timbre de llamadas de su celular. Tomó el aparato con su manos libre, sin soltar la copa de anís, ojeó el identificador notando una llam












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.