LOGINMy mate Alpha Rowan's childhood friend got pregnant by a rogue. To save her from burning at the stake by the Elders, Rowan claimed the pup was his. I asked him in disbelief what would happen to me and our pup. Rowan just hugged me tight, his eyes full of pain. "They'll kill Tessa, Gwen! Pack law only lets an Alpha pardon his own blood. I'm doing this to save her! You're my only mate. Why can't you understand?" Rowan had no clue. My Omega body simply couldn't handle his powerful Alpha blood. The pup inside me was draining me dry, eating me alive. My wolf was dying. Without my mate's scent and soothing day and night, I wouldn't survive the pregnancy. And I had no one else in this pack. Later, my bloodline-obsessed mother-in-law sneered at me. She said my wolf was weak because I was carrying a rogue's bastard. And Rowan? He was still playing house with his childhood friend. Through my tears, the truth finally hit me. He chose her over me. He chose duty over his mate. So I went to the Head Healer. I lay on the cold operating table and let them remove the pup that was killing me. Since my Alpha couldn't give me the protection I needed to survive, I had to save myself. Even if it meant losing our flesh and blood. But when he finally arrived and saw the blood-soaked surgical tray, he completely lost his mind.
View More[Baru bangun langsung makan. Makasih ya, Bebeb akoh] tulis sebuah akun bernama Inayah di wall f******k miliknya, entah kapan kami berteman dan aku tak mengenalnya.
Aku tidak terbiasa meng-add akun yang tidak kukenal. Tapi terkadang aku mengkonfirmasi semuanya saat senggang karena beberapa orang temanku ada yang chat kalau mereka menggunakan akun dengan nama samaran ataupun anak sendiri. Mungkin akun Inayah ini yang add aku duluan. Dan entah kenapa, aku suka melihat semua postingannya. Lumayan mengobati rindu pada suamiku yang telah meninggal dunia. Lelaki yang mencintaiku meskipun ia tahu hatiku masih memikirkan seseorang dari masa lalu.
Aku memutar video yang memperlihatkan seorang lelaki sedang memasak nasi goreng dan menyajikannya di atas piring.
Maskulin sekali. Seorang lelaki yang memperlakukan istrinya dengan lembut bagiku sangat mempesona.Aku mulai tertarik.
Memang ada stiker menutupi wajahnya lelaki yang merupakan suami dari Inayah itu, tapi tetap saja banjir pujian dari warganet.
[Udah macho, rajin bantuin istri pula. Duh, suami idaman banget] tulisku, ikut meramaikan komentar. Ini komentar pertamaku setelah sekian lama. Rasanya gatal saja jemari ini kalau tidak ikut menanggapi.
[Kalau masih ada suami seperti ini, sisakan satu untukku] tulis yang lain.
[Duh, iri deh ngelihatnya. Suamiku boro-boro mau masakin istri, muji msakanakunaka gak pernah]
[Suamiku kalau lagi libur malah main-main sama temannya]
Berbagai pujian sejenisnya dan ada juga yang menegur pemilik akun itu karena dianggap terlalu pamer suami. Bukan sekali dua kali dia memperlihatkan kebaikan suami, hampir setiap hari. Ya, meskipun dengan kata-kata manis atau sekedar foto dan selalu ramai dengan tanggapan dari akun yang didominasi para wanita.
Dari sekian banyak komentar, satu yang mencuri perhatianku. Dia memberikan tanggapan emoticon tertawa di akunku yang bernama Carisa. Aku sampai menelusuri komentar akun yang lain dan memang cuma aku. Apakah dia mengenalku? Atau dia temanku yang sudah melakukan operasi plastik hingga tak kukenali?
Ah, mungkin saja komentarku baginya terlalu lucu.
Aku menutup ponsel dan kembali berkutat dengan laptop, menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang kukerjakan dari rumah. Sengaja tak ke kantor karena anakku, Boy, sedang tak enak badan.
Balita berusia empat tahun itu sesekali mengingau, lalu kembali tidur saat aku mengusap-usap rambutnya.
*
[Aku memang tak mengenal suami kamu, tapi dari semua postinganmu, aku yakin kalau dia tampan, pekerja keras, sayang istri dan setia. Apa Mbak ini sebenarnya mau cari adik madu?]komentarku ditambah emot tertawa di postingan Inayah yang memperlihatkan seorang lelaki yang tidur di atas ranjang memakai celana panjang dan singlet. Seperti biasa stiker menutupi wajah itu.
Seperti sebelumnya, sekarang pun ia memberikan react tertawa.
[Silakan goda suamiku, Ca. Jika dia mau menjadikanmu yang kedua, tak masalah. Namun, jika kamu dapat penolakan dari suamiku, pasti harga dirimu akan terluka] balas Inayah dengan sombongnya.
Lima menit berlalu. Aku masih mematung membaca tulisan akun ini.
Silakan goda suamiku?
Astaga, apa wanita ini sudah tak war@s? Ketika seorang istri takut kalau suaminya berpaling, dia malah begitu yakin kalau pria yang menikahinya itu tak akan pernah tergoda dengan wanita manapun.
Apa aku harus meladeninya?
Seperti ada yang mendorong dari dalam, ingin tahu seperti apa sih setianya suami dari Inayah itu. Apalagi aku seperti mengenal bentuk badannya. Terkadang orang yang suka pamer itu hanya untuk menutupi betapa tak bahagianya hidupnya sehingga butuh pujian dari dunia luar, meskipun tak saling kenal.
Aku memilih mengirim pesan secara pribadi.
[Mbak, apakah serius dengan komentarnya tadi? Kalau iya, kebetulan saya sedang cari suami]
[Oh, tentu saja. Tapi saya takut kalau kamu akan kecewa]
Aku menelan saliva membaca balasannya.
[Saya terbiasa kecewa. Kalau pemilik rumah sudah mengizinkan bertamu, share lock saja, nanti sore aku akan datang] balasku, tak lupa dengan emot tertawa seperti biasanya.
Aku yakin kalau nyalinya akan ciut. Namun tak menunggu lama, sebuah alamat lengkap sudah ia kirimkan. Tidak terlalu jauh dari sini.
Baiklah, mungkin tidak salah kalau aku datang ke sana. Hitung-hitung hiburan untuk mengobati kejenuhan akan rutinitas yang monoton.
Pukul tiga sore, aku melajukan kenderaan roda empatku ke alamat rumah yang dikirimkan Inayah. Tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu 30 menit perjalanan. Sebuah rumah permanen minimalis sesuai dengan nomor rumah yang ia kirim.
Ini seperti model rumah impianku dengan seseorang yang pernah mengisi ruang hati ini. Ah, perih bila mengingatnya.
Aku melangkahkan kaki dengan gamang. Tujuanku hanya iseng dan juga penasaran. Bisa juga Inayah hanya iseng memberikanku alamat palsu. Ah, bod*hnya aku bisa datang ke sini.
Aku melihat tirai jendela tersingkap, lalu pintu terbuka dengan lebar.
"Mbak Carisa, ya?" tanyanya.
Aku mengangguk ragu. Ternyata akun Inayah itu memang berwujud manusia, bukan sejenis kuntilanak atupun wewe gombel. Dia memang manis, sesuai dengan fotonya.
"Mari masuk, Mbak. Kebetulan suami saya di dalam," ajaknya setelah kami berjabat tangan.
Kegilaan macam apa ini? Sudah kepalang basah, ya sudah mandi saja sekalian. Aku melangkahkan kaki mengikuti wanita itu dan duduk di sofa.
"Siapa, Yang?" Suara lelaki terdengar dari kamar. Suara itu seperti …. Ah, tidak mungkin.
Aku menatap fokus ke pintu kamar yang mulai terbuka. Mataku membola dan napas rasanya tercekat. Aku langsung berdiri dan hendak pulang. Aku yakin kalau Inayah ini mengetahui kisah masa lalu kami dan sekarang sengaja memanas-manasi.
"Caca?" gumam lelaki itu.
Aku menahan langkah. Ya, aku pasti tidak salah orang.Hanya mantan tunanganku, pria bernama Bian itu dan keluarganya yang memanggilku Caca.Mungkin ia pun tak menyangka kalau aku bisa bertamu ke rumahnya.
Suasana mendadak hening melihat pria yang pernah kucintai kini ada di hadapanku. Aku telah menghilang cukup lama, tapi kenapa takdir seolah ingin mempertemukan kami melalui sosial media istrinya.
Aku melirik sekilas ke arah Inayah. Bibir mungil wanita itu menyunggingkan senyuman mengejek. Aku jadi curiga kalau setiap postingannya di medsos hanya untuk memancingku. Aku belum tahu motif aslinya. Tapi besar dugaanku kalau Inayah ingin memamerkan kalau dia telah mendapatkan seseorang yang sering hadir di mimpiku.
"Ngapain kamu kesini? Bagaimana bisa kamu tahu rumah ini? Setelah aku mampu mengobati sayatan yang kamu torehkan dan sudah mencintai istriku, kamu mau menyiram lukaku lagi?" bentak lelaki itu.
"A-ku sampai ke sini karena undangan dari Inayah. Kami berteman di f******k," balasku, berusaha tenang.
Sekarang dia sudah berumah tangga, jangan sampai dia merasa terusik atau tidak enak hati atas kehadiranku. Aku memang tidak pernah mencarinya setelah tragedi beberapa tahun lalu, di saat hari pernikahan kami tinggal seminggu lagi. Aku tiba-tiba hilang karena sesuatu hal yang tidak bisa kujelaskan, tapi pasti meningalkan luka mendalam bagi Bian dan keluarganya.
The next day, I accepted a summons from the Lycan High Council.The only transfer available was to the remote Northern Headquarters.It was perfect.The farther away from this city, the better.On the third day, with the Council’s help, I was on a private jet, leaving it all behind.Five years passed in a blur.I threw myself into my work, burying all my feelings in strategies for the great wolf alliances.Sometimes I’d see names I recognized in the files.I never paid them any mind.Time washed away the sharp edges of the pain, and I began to forget.My hard work paid off.I climbed the ranks, eventually becoming the Chief Strategist for the Lycan High Council.As winter approached, I was sent south for the High Summit.I’d just stepped off the jet and into the private lounge at the venue when I saw a familiar figure.Bad luck. We were alone in the room.The backlash from the broken bond had left him withered and haggard. That powerful Alpha aura he used to have was completely gone.R
I’d lost too much blood. I moved into a hidden cabin at the edge of the territory to recover.For days, Rowan showed up outside my door like clockwork.He always brought the best healing herbs and tonics.I never saw him.Every night, he stood vigil on my porch, a ghost of despair swallowed by the dawn.The day I left, a storm was raging.I figured Rowan would hear I was leaving, so I planned to go early.The sky was barely light when I finished packing.I didn’t expect to see him leaning against the gate when I walked out.I don’t know how long he’d been waiting there.He was soaked to the bone, a complete wreck. His hair was plastered to his head, his jacket caked in mud.The moment he saw me, he stood up straight, his eyes full of fear.“Gwen. I’m here to take you home.”I frowned and took a step back, instinctively calling on the power of my wolf.“I, Gwen, hereby formally reject you, Rowan, as my Alpha mate.”As the ancient words fell from my lips, the bond between us snapped. Row
“You just love Tessa more.”He’d been stammering ‘I just’ for ages, unable to find an excuse.So I helped him. I ripped the truth out into the open.Rowan froze for a second. Then he started slamming his head against the wall. Thump. Thump. Thump.Just then, the door burst open. The former Luna—Rowan’s mother—and Tessa rushed in, drawn by his agonized cries.The first thing they saw was me, covered in blood, standing over a broken Rowan.Tessa lunged, shoving me with all her strength. Weak from the procedure, I had no balance. I crashed to the floor.A long, scarlet smear trailed behind me.Rowan’s pupils shrank to pinpricks. He scrambled toward me, but his mother’s claws dug into his arm, holding him back.The former Luna’s face was twisted in disgust.“Rowan, leave her! She deserves it! How dare she hurt you!”Tessa was like a feral animal guarding her meal. She shielded Rowan, her eyes fixed on me. Vicious."Touch him again, Gwen," she snarled, "and I'll tear your throat out."A sha
I watched the fear wash over his face. Pure, desperate disbelief.And I felt a wave of relief.I knew he’d guessed the truth. He just couldn't accept it.I raised an eyebrow, a small smile playing on my lips. I couldn't resist twisting the knife.“As you can see,” I said, my voice light. “What use do I have for a pup whose own father won't even acknowledge him?”I let the words hang in the air, a poisonous cloud between us. Then, I twisted the knife. My next words were venom, squeezed from between my teeth.“Of course I got rid of it.”Rowan froze, looking like he’d been struck by lightning.The muscles in his face twitched. His eyes were wide with terror.His voice was raw and raspy, like he hadn’t used it in ages.“Gwen… that was our child. How could you? Our own bloodline!”“Have you forgotten? We talked about our future under the moon! We were both so excited for this pup!”“Why would you get rid of him? Why didn't you even tell me?”Seven years with Rowan. Over two thousand days a












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.