LOGINWhile I was bleeding heavily from my miscarriage, the hospital needed a family member to sign some documents urgently. The nurse frantically called my husband on my phone. After more than ten rejected calls, he finally answered, his voice a frustrated yell, "I'm busy! Don't bother me with these little things!" When we tried calling again, I realized he had blocked my number. Despite the pain, I forced myself to sit up and sign the papers. Tragically, our baby couldn't be saved. Later, I saw a viral video of my husband kissing his childhood sweetheart under fireworks. "It was just a silly joke," she said, "but he surprised me by lighting up the whole city with fireworks as a present!" Seeing their matching wedding rings, I wordlessly slipped off the simple ring I'd worn for five years and threw it in the bin. After coming so close to death, he was now insignificant to me.
View More"Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"
Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebakan. Orang tuaku bilang dia cantik, wanita karier yang sukses di luar negeri. Nyatanya? Dia hanya perawan tua yang kesepian karena tidak laku-laku. Adik teman ayahku yang ternyata sudah keriput. Aku tidak sudi menyentuhnya, apalagi berbagi ranjang." "Lalu kenapa kau mau menikahinya, bodoh?" Ucup menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat masa kecilnya itu. "Tekanan bisnis, Cup. Kau tahu posisiku sebagai CEO tidak semulus kelihatannya di koran. Ada saham keluarga yang dipertaruhkan," jawab Arif dengan nada getir. Ia kemudian memajukan tubuhnya, menatap Ucup dengan tatapan yang sangat intens. "Ucup, dengar. Aku tahu hidupmu sedang sulit. Proyek bangunan di pinggiran kota itu tidak akan memberimu masa depan. Belum lagi biaya sekolah anak-anakmu... bukankah si sulung mau masuk SMP? Dan si bungsu butuh biaya pengobatan?" Ucup terdiam. Kalimat Arif menghantam tepat di ulu hatinya. Bayangan wajah anak-anaknya yang tertidur di kamar sempit yang bocor setiap kali hujan turun mendadak melintas. "50 juta, Cup," bisik Arif. "Tunai. Ditambah jaminan pendidikan anak-anakmu sampai sarjana. Kau hanya perlu menjadi 'Arif' untuk satu malam—mungkin selama sebulan sampai aku menemukan cara untuk menceraikannya tanpa kehilangan aset perusahaan." "Tapi Rif... ini penipuan. Bagaimana kalau dia tahu? Dia wanita berpendidikan, pasti dia tidak bodoh," sanggah Ucup retoris, meski hatinya mulai goyah. "Dan lagipula, lihat aku. Kulitku hitam legam karena matahari, tanganku kasar penuh kapalan karena mengaduk semen. Aku bau keringat, Rif! Bagaimana mungkin kuli bangunan sepertiku bisa memerankan seorang CEO?" Arif tersenyum tipis, seolah sudah memprediksi argumen itu. "Itu masalah teknis. Aku punya waktu besok sebelum dia mendarat di sini. Kau akan cuti dari proyek itu. Aku akan membawamu ke salon pria terbaik, memberimu perawatan kulit, membelikanmu parfum yang harganya lebih mahal dari upahmu sebulan, dan membelikan jas khusus untukmu. Besok tidak akan ada yang percaya kalau kau pernah memegang cangkul." "Tapi dia belum pernah melihatmu sama sekali?" tanya Ucup memastikan. "Sama sekali tidak. Kami hanya dijodohkan lewat telepon dan dokumen. Ijab kabul dilakukan tanpa mempelai wanita karena dia masih terikat kontrak kerja di luar negeri. Besok adalah kali pertama dia menginjakkan kaki di rumah mewah yang sudah kupersiapkan. Baginya, kau adalah Arif. CEO sukses yang dingin dan misterius." Ucup menatap tangannya yang kasar, lalu beralih menatap cek kosong yang diletakkan Arif di atas meja. Jemarinya gemetar. Di satu sisi, nuraninya menjerit bahwa ini adalah kesalahan besar. Namun di sisi lain, tumpukan tagihan dan masa depan anak-anaknya seolah melambai di depan mata. "Kenapa harus aku, Rif?" "Karena aku percaya padamu. Kita besar di kampung yang sama. Kau jujur, dan kau butuh uang ini. Lebih baik aku memberikan uang ini padamu daripada menyewa aktor yang bisa saja memeras aku di kemudian hari," Arif mengulurkan tangannya. "Jadi, bagaimana? Apakah kau mau menyelamatkan masa depan anak-anakmu, atau tetap membiarkan mereka hidup susah demi sebuah harga diri yang tidak bisa memberi mereka makan?" Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya terdengar denting sendok dari meja seberang. Ucup menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa sangat berat, seolah ia sedang mengangkat beban semen terakhir di penghujung hari yang melelahkan. "Jadi... satu bulan," gumam Ucup lirih. "Aku punya satu bulan untuk berperan menjadi seorang raja." Arif menyeringai puas. Ia tahu, kemiskinan seringkali menjadi alasan paling logis untuk mengubur moralitas. "Sepakat. Besok pagi, sopirku akan menjemputmu. Persiapkan dirimu, Ucup." --- Keesokan harinya, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan rumah kontrakan Ucup yang terbuat dari triplek dan sempit. Sang sopir, yang mengenakan seragam rapi, membukakan pintu untuk Ucup dengan hormat. Ucup, yang masih mengenakan mekeja cream yang lucuh dan celana jins belel, merasa canggung. Ia melangkah masuk ke dalam mobil, menghirup aroma kulit yang mahal dan wangi parfum mobil yang menyegarkan. Perjalanan terasa singkat. Mobil itu berhenti di depan sebuah salon pria yang terlihat sangat eksklusif. Papan namanya bertuliskan "The Gent's Grooming Lounge" dengan huruf-huruf emas yang elegan. Ucup merasa seperti masuk ke dunia yang berbeda. Di dalam salon, interiornya sangat maskulin dengan dominasi warna cokelat tua dan hitam. Cermin-cermin besar berbingkai kayu memenuhi dinding, dan kursi-kursi barber berlapis kulit yang nyaman tertata rapi. Arif sudah menunggu di sana, duduk di salah satu kursi sambil menyesap kopi. "Ah, kau datang juga, Cup," sapa Arif sambil tersenyum tipis. "Mari kita mulai transformasinya." Seorang barber pria yang tampan dengan potongan rambut yang rapi dan janggut yang terawat mendekati Ucup. "Halo, Tuan. Saya Leo, barber Anda hari ini," katanya dengan ramah. "Silakan duduk." Ucup duduk di kursi barber dengan ragu-ragu. Leo mulai mengerjakannya. Pertama, ia mencuci rambut Ucup dengan sampo yang harum. Kemudian, ia mulai memotong rambut Ucup. Guntingnya bergerak dengan lincah, memotong helai demi helai rambut Ucup yang agak panjang. Setelah selesai memotong rambut, Leo beralih ke janggut Ucup. Ia menggunakan pisau cukur yang tajam untuk menipiskan janggut Ucup yang sangat brewok. Ucup merasa ngeri melihat pisau itu mendekati wajahnya, tapi Leo melakukannya dengan sangat hati-hati. Setelah beberapa saat, Leo selesai. Ia membersihkan sisa-sisa rambut di wajah Ucup dengan handuk hangat yang wangi. "Silakan lihat ke cermin, Tuan," katanya. Ucup menatap cermin di depannya. Ia benar-benar pangling. Rambutnya yang tadinya agak panjang sekarang dipotong rapi dengan model regulation cut, menunjukkan garis rahangnya yang tegas. Janggutnya yang tadinya sangat brewok sekarang ditipiskan, memberikan kesan maskulin dan dewasa. Kulit wajahnya yang tadinya kusam sekarang terlihat lebih cerah dan bersih. Arif yang duduk di belakang Ucup ikut terkejut. "Luar biasa, Cup!" serunya. "Kau benar-benar terlihat berbeda. Kalau kau kayak begini, tante-tante perawan tua itu pasti tidak akan sadar kalau kamu seorang kuli bangunan." Arif lalu terkekeh. Ucup menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa senang melihat perubahan dirinya, tapi di sisi lain, ia juga merasa tidak percaya diri. Apakah ia bisa memerankan seorang CEO dengan penampilannya yang baru ini? "Ayo, Cup. Kita masih punya banyak hal yang harus dilakukan," kata Arif sambil bangkit dari kursinya. "Kita akan ke butik untuk membeli setelan jas mahal." Mereka meninggalkan salon dan menuju ke sebuah butik jas mewah di pusat kota. Di dalam butik, barisan jas dengan berbagai warna dan model tertata rapi di gantungan. Seorang pelayan pria yang mengenakan setelan jas hitam mendekati mereka. "Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah. "Kami mencari setelan jas untuk teman saya ini," kata Arif sambil menunjuk ke arah Ucup. "Kami ingin jas yang terlihat elegan dan profesional." Pelayan itu mengangguk. Ia mulai mengukur tubuh Ucup dengan pita ukur. Setelah selesai, ia mengambil beberapa setelan jas dari gantungan dan membawanya ke ruang ganti. Ucup mencoba satu per satu jas itu. Ia merasa sangat tidak nyaman mengenakan jas yang ketat dan kaku. Tapi Arif bersikap sangat perfeksionis. Ia memeriksa setiap detail jas, mulai dari potongan bahu hingga panjang lengan. Akhirnya, mereka menemukan setelan jas yang sempurna untuk Ucup. Jas itu berwarna biru tua dengan potongan yang pas di tubuh Ucup. Ucup menatap pantulan dirinya di cermin besar di butik. Ia terlihat sangat berbeda, seperti seorang pria yang sukses dan berwibawa. "Bagus sekali, Cup," puji Arif. "Kau terlihat sangat tampan dengan jas ini." Meskipun penampilannya sudah berubah, Ucup tetap merasa tidak percaya diri. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai keraguan dan ketakutan. Bagaimana kalau istrinya Arif mengetahui yang sebenarnya? Bagaimana kalau ia tidak bisa memerankan seorang CEO dengan baik? "Ucup... malam ini kita harus ke hotel. Si tante-tante galau itu sudah ada di hotel untuk malam pertama kalian." "Apa?" Seru Ucup kaget tak menyangka, "malam ini juga?" "Ya... keluargaku sudah menyiapkannya untuk malam ini. Ayo, kita harus segera ke hotel." Arif tidak memberinya waktu untuk berpikir panjang. Malam itu, ia membawa Ucup ke sebuah hotel mewah untuk bertemu dengan istrinya. Ucup merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.After I moved to Felton City, I rented a small apartment and threw myself into work. Even though I'd been out of the game for five years, and it was hard to keep up at first, I gradually found my rhythm again.A year later, I was promoted to department lead and was sent back to my old city to negotiate a deal on behalf of the company.After dinner with the clients, I stepped out of the restaurant and into a downpour. I hadn’t brought an umbrella, so after seeing the clients off, I stayed under the awning, waiting for the rain to ease up before heading back to my hotel.I was aimlessly glancing around when I noticed a figure in the shadows that looked oddly familiar. I stepped closer and froze.Zachary.If it weren’t for five years of knowing him inside and out, I might not have recognized him at all.He was a far cry from the polished, powerful man he once was. His clothes were torn and filthy, his beard overgrown and matted. He reeked of alcohol and was passed out in the mud, co
After the livestream and video of the press conference spread online, public backlash against Luna exploded.People had already disliked her, but now a new wave of online outrage erupted. Videos started popping up all over the internet. There were clips of random people running into Luna on the street, cursing her out, and shunning her.She had become a pariah, like a rat everyone wanted to stomp out. Every time she left her home, she was covered head to toe, terrified that someone might recognize her.Nevertheless, I didn’t pay much attention. My focus was on finding a new job.Before I married Zachary, I was a fairly well-known designer in the industry. Once word got out that I was making a comeback, former colleagues started reaching out with offers.I eventually chose a position in Felton City. The conditions were great, and there was plenty of room to grow. More importantly, it was far from this city; I didn’t want to be entangled with Zachary or either of our families anymor
The press conference descended into chaos.The reporters Zachary had bought off stood frozen, slowly lowering their cameras, unsure of what to do. All of them looked to him for direction.However, Zachary just stood there, stunned. His eyes widened in disbelief, and his hands trembled.Sensing something was wrong, Luna immediately grabbed his sleeve, her eyes brimming with tears. "That’s not true! Zachary, she’s lying! She faked everything. She’s just trying to drive us apart!"I let out a cold laugh and pulled out my phone.At the top of the screen were explicit photos that she’d sent me—her tangled up with Zachary in ways that made my stomach turn. Scrolling down, I tapped play on one of her voice messages. Her voice came through, breathy and smug as she said, "Zachary told me you’re boring in bed. He doesn’t even want to touch you. He just wants to be with me for the rest of his life."The second her voice echoed through the room, both of them went pale."That message was wha
After packing up my things at home, I sent the finalized divorce agreement to Zachary.The moment I hit send, my phone rang. I thought he was finally going to talk about the divorce, but the second I picked up, he exploded."Autumn, I can’t believe how vile you are! You actually posted that video online just to ruin Luna’s reputation? She’s being harassed nonstop. She almost slit her wrists last night! You'd better show up at the press conference and publicly clear her name. Apologize. Now."His yelling made my head spin. I opened my phone and saw the trending topic."Mistress publicly provokes wife at wedding—shameless and scandalous!"Clicking on it, I saw that the footage from the wedding had gone viral. Thousands of comments were dragging Luna through the mud."I didn’t post this," I said flatly.He sneered on the other end. "If it wasn’t you, then who else could it be?"Then, as though he was doing me some huge favor, he added, "If you just show up, explain that it was all






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.