LOGIN"Dad, Mom, I've decided—I'll go through with the marriage arrangement with the Kingston family. I'll be back by the end of the month." Daphne Wharton made the decision in the middle of a camping trip with Luke Hardy. She curled into herself, pulling her scarf higher against the chill. For a moment, there was only silence on the other end of the line. Then, her mother's voice came through, thick with tears. "Daphne, we know this isn't fair to you. Our company is struggling, and the Kingston family is willing to help—but only if you marry their son. We've failed you as parents…" Her father let out a heavy sigh beside her mother. Daphne listened, her gaze unfocused. A faint, bitter smile tugged at her lips. "It's okay, Mom, Dad. This is what I should do. I'll be back in fifteen days—when their son returns to the country."
View More“Ita! Eh ... eh, apaan ini! Main pakai barang orang sembarangan!” bentak Mbak Lili, seketika aku mengangkat bayi mungilku. Dia membuang air hangat yang ada di bak mandi.
“Maaf Mbak, tadi Kia nangis terus gerah jadi aku mandikan, aku pinjam sebentar saja kok, Mbak,” jawabku terbata, Kia bayiku nangis lagi.
“Enak, aja pinjam! Hidup itu modal, beli sana kalau mau pakai bak buat mandi! Rusak juga kamu enggak bisa ganti!” Mbak Lili membawa masuk bak mandinya ke dalam kamarnya.
Kupakaikan Kia handuk lalu kugendong pakai kain jarik dan kususui. Aku mengambil lagi kayu bakar di belakang rumah untuk memanaskan air lagi. Bayiku harus mandi kalau tidak dia akan rewel sepanjang malam.
Kuhidupkan tungku dengan susah payah karena harus menggendong bayiku. Setelah air hangat-hangat kuku baru kuberi air dingin. Akhirnya aku memandikan Kia dengan menggunakan priuk tempat penanak nasi.
Kupangku Kia lalu kuambil airnya sedikit demi sedikit menggunakan cangkir plastik.
Setelah mandi Kia, langsung tidur. Bayiku ini sungguh pengertian dia belum akan bangun kalau mamanya belum beres mengerjakan pekerjaan dapur.
“Ita, Ibu mau makan oseng kangkung sama sambal ikan asin, kalau aku sama Mas Eko mau makan sop ayam sama sambal kecap. Jangan salah ya!” titah Mbak Lili. Aku mengiyakan saja malas ribut.
Dengan cepat aku selesaikan masakanku karena sebentar lagi juga Maghrib kasihan Kia dia tidak akan ada yang menggendongnya meski azan Maghrib berkumandang. Nenek dan budenya sama sekali tidak peduli.
Selesai memasak perutku keroncongan minta diisi karena aku menyusui maka aku gampang sekali lapar. Kuambil nasi pakai baskom kecil beserta lauknya lalu kubawa masuk ke dalam kamarku.
Kukunci dan aku makan dengan cepat. Hanya dengan cara beginilah aku bisa makan dengan layak. Karena mertua dan iparku pasti hanya akan memberiku sedikit saja makanan mereka bilang aku harus pandai jaga badan setelah melahirkan agar tidak gendut.
Sejak pengantin baru aku memang tinggal bersama mertua dan juga iparku. Mas Danu, suamiku kerja di luar kota akan pulang seminggu sekali. Jika ada suamiku mereka semua baik padaku, tapi jika tidak maka aku akan dijadikan babu oleh mereka.
“Ita! Kami sudah selesai makannya kamu segera bereskan sebentar lagi mertuaku akan ke sini pokoknya aku tidak mau tahu dapur itu harus bersih!” teriak Mbak Lili dari luar. Aku yang di dalam kamar hanya bisa beristighfar dan menangis. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan mereka.
Pernah aku izin pada suamiku untuk pulang saja ke rumah orang tuaku, tapi dilarang dengan alasan terlalu jauh dari tempat kerja Mas Danu. Mau ikut suami pun tidak diperbolehkan alasannya Mas Danu masih numpang di kosan teman.
Rumah orang tuaku jauh dari sini, beda kabupaten meski masih sama saja tinggal di kampung.
“Kia, salihanya Mama, yang nyenyak ya, tidurnya Mama mau bantu Nenek dulu,” ucapku pada bayiku, hanya dialah pelipur laraku. Kia seperti mengerti ucapan mamanya dia menggeliat lucu sekali.
Bugh!
Aku meringis kesakitan. Mbak Lili memukulku menggunakan centong nasi tepat di kepalaku.
“Bagus ya, sudah mulai jadi pencuri kamu!” Dia melemparkan baskom plastik kecil yang tadi kupakai untuk makan. Ya Allah, kenapa aku sampai bisa lupa dan kecolongan Mbak Lili masuk ke kamarku.
“Apa ini ribut-ribut! Itu mertuamu sudah sampai Li!” teriak ibu.
“Awas ya, kalau diulangi lagi! Bakalan aku pukul lebih dari ini!” Ancam Mbak Lili. Dia gegas pergi ke depan menyambut mertuanya.
“Jadi mantu enggak becus setiap hari kerjaannya ngajak ribu ipar terus!” cerca ibu. Aku bukan tidak berani melawan ibu mertuaku, tapi aku masih menghormati beliau. Aku ingat pesan orang tuaku untuk tidak melawan mertua jika sudah tidak tahan tinggalkan.
“Buatin kopi sama teh jangan manis-manis buruan!” Kini Mbak Lili sudah ada di dapur lagi, dia membawa oleh-oleh dari mertuanya.
“Senangnya Ibu punya besan seperti mertuamu itu, Li, baik hati, kaya, dan kalau ke sini selalu membawa buah tangan enak-enak dan mahal-mahal,” ucap ibu sambil mencebik diriku. Sudah kutahu maksudnya, beliau hanya ingin membanding-bandingkan mertua Mba Lili dengan ibuku.
“Ini ... Mbak, sudah selesai mau dibawa ke depan atau tidak?”
“Enggak usah biar aku saja!” Mbak Lili merebut teh dan kopi yang ada di nampan yang kubawa.
“Kamu siapkan saja makan malam untuk mertuanya Lili. Ingat ya, cepetan! Jangan lelet keburu lapar,” titah ibu.
“Tapi, Bu ... Aku takut Kia bangun.”
“Kalau bangun ya, digendong. Alasan saja sudah buruan sana!” Ibu mendorongku hingga aku sedikit terjungkal.
Aku memasak oleh-oleh yang dibawa mertuanya Mbak Lili. Sambal sarden, goreng tempe. Kalau di desa menu seperti ini sudah sangat mewah.
Sudah kudengar suara tangisan Kia, dia pasti sudah haus karena sudah tiga jam lebih tidur.
Tergopoh-gopoh aku mengambil Kia dari gendongan ibu, dari tatapannya beliau sangat tidak suka.
Mereka sekeluarga makan bersama, aku ditawari pun tidak. Kutelan kepahitan ini sendiri berharap kelak anak cucuku tidak akan memiliki mertua seperti mertuaku.
HP-ku berdering Mas Danu meneleponku, seperti biasa dia katanya sudah mentransfer sejumlah uang untuk keperluanku juga Kia ke rekening Mbak Lili. Kalau sudah begini aku hanya bisa menangis karena uang itu sudah tentu lenyap diambil mereka.
“Kamu sakitkah, Dik? Suaramu serak begitu,” tanya Mas Danu.
“Iya, Mas, aku sakit. Pulanglah jika masih sayang padaku juga Kia,” jawabku terisak.
“Kenapa bilangnya begitu, Dik? Mas tentu sayang padamu juga anak kita, baiklah Mas akan minta izin jika diizinkan lusa Mas akan pulang,” ujar Mas Danu. Suaranya terdengar sangat khawatir.
“Mas, jangan bilang ke Ibu ataupun Mbak Lili, ya, kalau mau pulang.”
“Loh, kenapa?” tanyanya heran.
“Biar kejutan untuk mereka Mas, sekali-kali enggak apa-apa kan kasih kejutan sama Ibu?” jawabku berbohong. Sebenarnya aku khawatir jika Mas Danu bilang tentu saja mereka akan melarang Mas Danu pulang.
“Oh, kamu Dik, bikin Mas penasaran saja. Ya, Sudah Mas tidak akan bilang,” jawab Mas Danu.
Aku senang semoga dengan Mas Danu pulang diam-diam ibu dan Mbak Lili tidak bermain drama bersikap baik padaku.
“Nduk, boleh Ibu masuk?” Itu suara mertuanya Mbak Lili, gegas kubuka pintu kamarku yang sudah reot ini.
“Silakan, Bu. Mari!" ajakku.
“Ibu ingin melihat anakmu. Syukurlah kalau anakmu sudah enggak nangis lagi?” ucap beliau.
“Alhamdulillah Bu, Kia memang tidak rewel. Kalau nangis pasti karena haus atau buang hajat,” jawabku antusias.
“Bukan itu masalahnya, Nduk. Tadi Ibu enggak sengaja lihat sewaktu anakmu nangis dia dicubit sama Lili, makanya Ibu khawatir,” terangnya.
Aku beristighfar. Tega sekali Mba Lili nyubit Kia yang masih umur 5 bulan. Tadi dia sudah memukulku pakai centong nasi, lalu mencubit Kia yang tidak tahu apa-apa.
Jika begini terus bisakah aku bertahan mengarungi bahtera rumah tangga bersama Mas Danu?
Luke disappeared for two days.When Daphne saw him again, she was out shopping with her best friend, Carrie Mendell.At around three o'clock, under the neon glow of a bar's flashing sign, Daphne saw Luke standing motionless, his eyes locked onto her. His gaze was red-rimmed, his lips trembling. They faced each other across the restless sea of city lights.He took a step forward.Carrie immediately stretched out her arms, blocking Daphne from view."It's okay." Daphne gently pulled her aside.Luke stopped a meter away. He didn't blink, didn't look away. His lips parted, but no words came out. In his eyes, there was something raw—something like longing, something like grief."I'm sorry."The words spilled out, and with them, his tears."I'm sorry, Daphne. I wasn't in my right mind when I said those things that night. I was wrong. Please, I'm begging you—please forgive me."His voice cracked with desperation."I'll give you everything. All the money, everything I have—just take
When he heard Daphne call out Harvey's name, Luke's anger intensified. Whatever guilt he'd felt toward Daphne dissolved completely."I'm telling you, she's nothing but a s—"He never got to finish.Harvey was faster. His fist landed hard against Luke's stomach, knocking the breath out of him. Before Luke could react, Harvey grabbed his tie and yanked it upward, forcing Luke's head back.Harvey's hand, tense and precise, showed the stark lines of bone and tendon under the skin. His voice was cold. "Watch your mouth."Luke let out a low grunt, his body folding as he slid against the wall. His hand clutched his abdomen, struggling to steady himself.Then Harvey's foot pressed down on his shoulder.Not too hard—yet. Just enough to make a point.Luke's brows twisted in pain. There was no rage, no wild aggression in Harvey's expression. Only a quiet, razor-sharp authority.And that made it worse.Soft-spoken people were the most terrifying when they were truly angry.Harvey looked
The night breeze swept through, tangling Daphne's hair. She raised a hand, tucking the loose strands behind her ear. A faint, distant smile played on her lips."You see," she said, "even now, you still don't understand me. We're not meant to be together anymore."She stepped back, intending to leave."Don't show up in front of me again."Luke reached for her wrist instinctively, but she moved with practiced ease, slipping from his grasp.He wasn't willing to let her go—not this easily. Deep down, he knew that if he let her walk away now, the chances of ever seeing her again would be close to none.His chest tightened with desperation. Then, in one swift motion, he grabbed her again, harder this time.The next second, she was pressed against the cold surface of the wall, her wrists pinned in his grip."Running away again?" His voice was low, rough around the edges, a dangerous amusement laced beneath it. He leaned in closer, his breath hot against her skin. "Do you really think
As soon as the words escaped Daphne's lips, she understood immediately.At a gathering like this, it wouldn't be difficult for Luke to gain entry. The Hardy family held considerable influence in Cavern City's business world and had a respectable standing in Bayshore City as well. Though they weren't on the Kingston family's level, they were not to be underestimated.She had no interest in speaking with him. Turning to leave, she felt his hand close around her wrist."Daphne," his voice was low, almost pleading. "Can't you give me a chance to explain? Let's talk."She turned back, meeting his gaze. "What's left to talk about?"The night breeze brushed against her skin, clearing her thoughts. The sight of him only deepened her irritation.His expression was pained. "I swear, I didn't know about Seraphine's IG posts. It was my fault for not setting boundaries. Daphne, just give me another chance."She exhaled, pressing her fingers to her temple. Her face remained unreadable."You
Daphne toured the villa with her parents before heading home.The three of them sat together in the small courtyard, enjoying the quiet moment, when a crisp male voice broke the silence."Benson, Georgina, Daphne, sorry for being late."The warmth between them shifted slightly as they turned towa
Luke had no idea.He thought of the café Daphne often visited and rushed over, barely pausing to catch his breath before asking the barista, "Have you seen Daphne? Has she been here today?"The barista only shook his head.Next, he ran to the bookstores she loved, asking anyone he saw. But the an
That night, Luke didn't come home.Daphne's phone was flooded with messages from him. Not a single one showed concern—only blame.[Daphne, Seraphine was admitted to the hospital with angina because of you. Get a gift and apologize now!][Daphne, you're not an unreasonable or selfish girl. Don't m
Daphne sat frozen, as if her soul had drifted out of her body, watching the perfect couple across from her.Yes, a perfect couple.How ridiculous. Her boyfriend was confessing his love to another woman, and somehow, she—the one being framed—was expected to apologize."What?" Luke didn't seem to












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews