Short
Mafia Princess Gone Rogue

Mafia Princess Gone Rogue

By:  Baked Strawberry BunCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
10Chapters
6.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

When my boyfriend, Sebastian Passini, comes to me in tears, claiming his famiglia has been crippled and backed into a corner, I put everything my famiglia has at stake to pave the way for him. I withstand immense pressure from my famiglia, divert four million dollars, deploy our most elite soldati, and even fall out with my Madre, all to protect him. Yet, on the eve of his "counterattack," I stumble upon his true colors in my famiglia's underground chamber. Angelina Aureli chuckles beside him. "To swallow the Valerini famiglia whole, you put on a fine performance. Are you really going to sit back and watch Isabella hand over her famiglia's foundation to you?" Sebastian sneers, "Why else would I call her a fool? Her trust—and the Valerinis' resources—are nothing but stepping stones for me to rise to the top. Once I have everything in my hands, she and that old hag are dead!" I fish out my phone and revoke the final tranche of resources I had reserved for Sebastian. I should have known from the very beginning. He and I have never been on the same path. He wants plunder and destruction, and I'll make him pay for his greed in blood.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Suasana di rumah mertua Kartini begitu ramai. Meja makan besar dikelilingi oleh kerabat, teman-teman, dan kolega orang tua suaminya. Kartini duduk di sudut, mencoba menyembunyikan diri di balik secangkir teh hangat, meski ia tahu, matanya sudah sering dijadikan objek perbincangan.

Sang mertua, Ibu Sulastri, berdiri di depan, wajahnya cerah dengan senyum yang tampak terlalu dipaksakan. Dia sedang memperkenalkan calon menantunya satu per satu dengan antusias, menunjukkan betapa bangganya dia memiliki anak-anak yang "sukses" dalam hidup.

"Ini Dita, menantu pertama kita, seorang dokter yang luar biasa," kata Ibu Sulastri dengan nada bangga, menunjukkan wanita berbaju putih yang sedang mengatur rambutnya. Dita tersenyum manis, menerima tepuk tangan dari kerabat yang hadir.

"Dan ini Dini, ipar kedua kita, pegawai negeri sipil yang bekerja keras di pemerintah," lanjut Ibu Sulastri, mengenalkan wanita muda dengan jas formal yang terlihat rapi dan penuh percaya diri.

Tangan Kartini terjatuh perlahan ke meja, merasa sedikit terpinggirkan. Semua mata tertuju pada Dita dan Dini, tapi tidak pada dirinya. Tidak ada satu pun yang menyebut namanya. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mertuanya untuk mengenalkan Kartini.

Kartini, meski dengan senyum tipis, merasakan ketidakadilan yang sudah sering ia terima. Ia tahu apa yang ada di pikiran Ibu Sulastri. Wanita yang lebih memilih berbicara tentang pekerjaan dan pencapaian materi daripada melihat kebahagiaan yang ada dalam rumah tangga.

Setelah acara selesai, suasana mulai mereda. Orang-orang mulai bergerak untuk pulang, saling berpelukan dan bersalaman. Namun, Ibu Sulastri mendekati Kartini dengan langkah tegap. Wajahnya langsung berubah menjadi serius.

"Kenapa kamu jadi ibu rumah tangga, sih? Bukankah seharusnya kamu bisa membantu ekonomi keluarga? Lihat saja Dita dan Dini, mereka bisa bekerja di luar, punya karier, dan ekonomi rumah tangga bisa maju cepat. Kenapa kamu justru menumpang hidup dengan suami?" Ibu Sulastri melontarkan kata-kata yang membuat Kartini terkejut.

Kartini menatap mertuanya dengan tenang, meski hatinya sedikit terganggu. Ia menarik napas panjang dan berkata pelan, "Ibu, hakikatnya suami adalah tulang punggung keluarga. Kalau saya memilih untuk di rumah, itu keputusan kami berdua. Saya merasa bahagia dengan peran saya di rumah, menjaga anak-anak, dan mendukung suami."

"Tapi kamu bukan lagi anak muda yang bisa terus bergantung pada suami! Apa salahnya kalau kamu bekerja?" ujar Ibu Sulastri, nada suaranya mulai meninggi. "Kamu itu hanya malas, tak mau berusaha."

Kartini menatap sang mertua dengan mata yang tegas. "Ibu, jika saya memilih untuk membantu suami, itu adalah pilihan saya. Saya tahu ada banyak wanita yang bekerja di luar sana, dan itu bagus. Tapi bukan kewajiban wanita untuk bekerja di luar rumah hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain." Kartini merasa ada sedikit api dalam dirinya yang mulai membakar, meski ia berusaha untuk tetap menjaga kontrol.

"Tapi kamu tidak melihat kenyataan! Saat kamu tinggal di rumah, ekonomi keluarga malah terhambat!" Ibu Sulastri mulai tidak sabar. "Kalau kamu bekerja, semuanya akan lebih mudah. Kalau saja kamu bisa seperti Dita dan Dini, pasti keluarga ini akan lebih sejahtera!"

"Saya tidak perlu jadi orang lain untuk merasa sukses," jawab Kartini, suaranya tetap tenang namun penuh keyakinan. "Saya percaya bahwa kebahagiaan keluarga itu bukan hanya tentang uang. Saya memilih peran saya sebagai ibu rumah tangga karena itu yang membuat saya bahagia. Dan soal ekonomi, kita bisa mengelolanya dengan cara kita sendiri."

Suasana semakin tegang. Beberapa orang yang masih ada di ruang tamu mulai memperhatikan, meski mereka berusaha untuk tidak terlalu mendengarkan.

"Jadi, kamu merasa bahwa peran wanita di rumah hanya untuk mengurus anak dan suami?" Ibu Sulastri bertanya, nada suaranya penuh sinisme.

"Tak ada yang salah dengan itu, Bu," jawab Kartini, kini sedikit lebih berani. "Setiap orang memiliki pilihan masing-masing dalam hidup. Saya memilih untuk mendampingi suami dan mengurus rumah tangga. Itu bukan berarti saya pemalas. Kadang, kebahagiaan datang dari pilihan yang sederhana."

Ibu Sulastri terdiam, matanya menatap tajam ke arah Kartini, namun tak bisa membalas kata-kata tersebut. Suasana hening sesaat. Kartini menatapnya dengan tegar, merasa tak perlu menjelaskan lebih lanjut. Ia tahu, apapun yang dikatakan, tak akan mengubah pandangan sang mertua.

Setelah beberapa detik yang terasa lama, Ibu Sulastri akhirnya mengalihkan pandangannya dan berbalik. "Kalau begitu, ya, itu pilihanmu. Tapi jangan salahkan siapa-siapa kalau keadaan ekonomi tidak berjalan seperti yang kamu harapkan," katanya, dengan suara yang sedikit lebih rendah, hampir seperti sebuah ancaman.

Kartini hanya mengangguk, dan meski hatinya sedikit terluka, ia tahu bahwa ia sudah membuat pilihan yang tepat untuk dirinya dan keluarganya. Terkadang, tak semua orang mengerti keputusan kita, tapi itu bukan masalah. Yang penting, ia bahagia dengan kehidupannya.

Ia berdiri dan pergi menuju ruang belakang, membiarkan suasana di ruang tamu kembali tenang, meskipun ia tahu perdebatan itu tidak akan berhenti begitu saja.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Angela
Angela
This is very confusing.
2026-01-05 04:01:47
0
0
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status