LOGINthis is a story about a young architect that wanted to build her dad's company but in the process have to marry but not by love. however life has its own plans.
View More***
"Akh … Ganesh, tolong, ini salah!" Sekali lagi, Dayana kembali mendorong pria berkaos hitam yang saat ini mengungkung tubuhnya. Namun, pria di atas tubuh Dayana itu justru semakin menggila. Sambil meracau, pria tersebut bahkan tanpa ragu mendaratkan hidung bangirnya di ceruk leher Dayana—membuat perempuan itu tak kuasa menahan geliatan karena gelenyar aneh yang tercipta. “H-hentikan … ah—!” Lenguhan itu lolos dari bibir Dayana saat Ganesh menggigit ujung daun telinganya dengan sensual. Tangannya juga sibuk menjelajahi tubuh Dayana yang mulai bergetar di bawahnya. Dia adalah Adiasta Ganesh, seorang selebgram sekaligus model di sebuah agensi yang Dayana manajeri. Malam ini, Ganesh mendapat undangan birthday party dari salah satu teman satu profesi di sebuah kelab malam. Pesta berjalan dengan semestinya hingga orang-orang yang hadir di sebuah ruangan VIP mulai menggila dan kehilangan kendali. Hampir semua orang mabuk setelah menegak alkohol dalam dosis yang tak sedikit, dan Ganesh menjadi salah satu orang yang cukup teler. Karena tak bisa membawa pulang pria itu dalam keadaan yang mabuk, Dayana memutuskan untuk menyewa kamar agar Ganesh bisa beristirahat. Namun, alih-alih terlelap, Ganesh justru mendadak kehilangan kewarasan. Ia menarik tubuh Dayana persis ketika dia hendak pergi, dan tanpa ragu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tak cukup sampai di situ, pria itu menyentuhnya dengan cara yang tak pernah diduga. "Nikmati aja, Sayang," kata Ganesh sambil menyeringai—membuat tubuh Dayana rasanya semakin merinding. “Malam ini, kamu adalah milikku.” "Ganesh, enggak! Tolong jangan apa-apain aku. Le-lepasin!" ujarnya sambil terus berusaha mendorong dengan sisa tenaga yang masih ada. Namun, Ganesh justru tersenyum sambil mengusap wajah Dayana lembut. Memberikan belaian di sana yang membuat Dayana hampir terlena sebelum ia menepisnya. "Ganesh, tolong ...." Lagi, dengan kedua tangan yang terus melakukan perlawanan, Dayana mendesah. Rasa takut semakin menjalar, tubuhnya menegang sementara keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Ganesh lalu mencekal dua lengan Dayana dengan telapak tangannya yang besar. Dia mulai menyusuri area sensitif tubuh sang manajer—membuat tubuh Dayana kembali menggeliat saking asingnya sentuhan yang dia rasakan. Dengan gerakan yang sangat cepat, kemejanya sudah berhasil terbuka. Dayana menangis tertahan, merasa tidak berdaya. Ia bak mangsa yang siap disantap. Hatinya sakit membayangkan dirinya yang akan dirusak secara paksa. Meskipun bekerja di dunia hiburan, Dayana selalu menjaga dirinya sebaik mungkin. Jauh dari orang tua, dia mematuhi segala peringatan yang selalu disampaikan padanya, sehingga jangankan tidur bersama laki-laki, memiliki hubungan dengan lawan jenis pun tak dia lakukan. "Ganesh ...," desah Dayana di sisa tenaga yang masih tersedia. “Kumohon….” Ia masih berharap keajaiban datang. Namun, semesta tidak mendengar doanya. Ganesh tak membiarkan Dayana melawan bahkan berbicara, karena setelah itu dia membenamkan wajahnya di dada perempuan tersebut untuk melakukan hal yang lebih dari sebelumnya. Dayana beberapa kali menggeliat ketika sentuhan demi sentuhan diberikan Ganesh. Dalam hati, dia menjerit bahkan ingin kabur sekarang juga, tapi sial, tubuhnya justru merespon dengan baik apa yang dilakukan sang cassanova. Malam itu, semuanya terjadi. Malam di mana Dayana harus kehilangan kesuciannya di tangan Ganesh. Sakit hati, sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu. Pagi hari saat terbangun, Dayana menangis pilu. Tubuh dan hatinya diselimuti rasa sakit yang tak terjelaskan. Sementara Ganesh masih terlelap dengan tenang, seolah tak melakukan apa-apa padanya semalam. "Bapak dan Ibu pasti kecewa kalau tahu aku udah nggak gadis. Ah, Ya Tuhan, aku harus apa?" Lagi, Dayana meratap. Tapi setelahnya, ia memutuskan untuk bergerak, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, dan berjalan tertatih menuju kamar mandi. Di sana, tangisan kembali terdengar. Dayana mengenakan baju yang semalam dilepas paksa oleh Ganesh, dengan isakkan tangis yang tak mau berhenti karena membayangkan bagaimana marah dan kecewa kedua orang tuanya di kampung. Dayana pergi ke kota Surabaya untuk mencari nafkah guna membantu kehidupan orang tuanya di kampung. Namun, alih-alih sukses, dia justru kehilangan kesuciannya. Bagaimana hidup Dayana setelah ini? Dia sendiri tak tahu. Setelah puas menumpahkan semua rasa sakit, Dayana keluar dari kamar mandi. Ia menatap Ganesh dengan perasaan marah bahkan kecewa. Ingin sekali dia menyerang pria itu atas apa yang dilakukannya semalam. Namun, di detik berikutnya kewarasan Dayana kembali, sehingga yang dia lakukan setelah itu adalah mengambil ponsel untuk kemudian menghubungi seseorang. "Halo, Dayana, kamu di mana? Ganesh udah siap, kan? Siang ini dia ada pemotretan dan—" "Saya mengundurkan diri jadi manajernya Ganesh, Pak," potong Dayana sambil terus memandang Ganesh dengan tatapan penuh kebencian. "Mulai hari ini saya bukan manajernya lagi. Dan mulai sekarang, dia bukan urusan saya lagi."DamonThe city never really sleeps, but tonight it feels like it’s holding its breath.From my office window, the skyline blurs into streaks of white and gold, the rain turning glass into a mirror. I stare into it, but I can’t recognize the man looking back at me.There’s an untouched cup of coffee on my desk. It’s gone cold, like everything else between us.I’ve been replaying Aria’s face in my head since the moment I walked out that door — the way her voice broke when she said my name, the disbelief in her eyes. I told myself space would help. That I just needed time to think. But all it’s done is give me silence loud enough to make me hate myself.The office is empty except for the hum of the servers in the next room. My phone sits beside me, dark and heavy, waiting for a message that will never come.I should go home. I should try to fix this.Instead, I open my laptop again.The security logs are still up — I’ve
DamonThe office hums with the quiet, expensive stillness of power — the kind that comes with success, but never peace. The glass walls around me reflect a man who looks whole on the outside but feels like cracked porcelain within.It’s been months since Aria and I came home. We’ve been trying — or at least pretending to. The world sees our reunion as some fairytale comeback. They don’t see the silence that follows our arguments, the way we sleep on opposite edges of the bed, or how her eyes sometimes drift toward the window when she thinks I’m not watching, as if freedom might still exist out there.The phone buzzes once. Then again.Cassandra.The name alone is enough to set my jaw. I hadn’t heard from her since she’d been forced out of the company last year — my business partner, my mistake, my ghost. She was brilliant and manipulative in equal measure, a woman who could make ambition sound like love.I stare at the screen for t
(Aria’s POV)Morning light slipped between the tall glass panes, flooding the living room with pale gold. It was the kind of light that belonged to freedom — the sort that might have once felt like a promise. Now it only burned against the inside of Aria’s eyelids when she tried to sleep.She had been here for almost a week. The apartment Cassandra arranged for her sat high above the city, built of marble, glass, and silence. The kind of place that seemed too expensive to breathe in. She hadn’t chosen it, but Cassandra’s voice over the phone had been so soft, so assuring — “You need somewhere quiet, Aria. Somewhere safe. Just until things calm down.”At first, Aria believed her. Or she wanted to.She’d wanted to believe that running had been the right choice. That the sight of Damon’s eyes when she walked away — that flash of shock and something like disbelief — didn’t mean she’d made the worst mistake of her life.The thought cam
(Damon’s POV)The first thing I noticed was the silence.Not the comfortable kind that used to settle between us after long days, when the only sound was the whisper of her breath beside me. This was a heavier quiet—hollow, absolute, the kind that told me something had been taken and the air hadn’t decided what to do without it yet.“Aria?”My voice disappeared into the hallway. No answer.Her book still lay on the coffee table, the spine bent where she’d marked her page. A faint ring from her mug circled the wood—something she always scolded herself for leaving. I touched it, ridiculous as it was, because I needed proof that she’d actually been here.I checked the kitchen next. The light above the sink glowed faintly, a single lamp left on the way she always did when she expected me home late. Except tonight, the light felt like a question.Her shoes weren’t by the door.A tremor started low in my chest and rose until it fil






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews