LOGINMy father abandoned me and took away my mother.I experienced q lot of things while growing up but it never stops me to become a successful person because I am hoping that one day he will give my mother back. Until that day came a letter from my father telling me to be ready because in two months I will marry a guy he wanted me to in exchange of being with my mother. I just wish that this man will protect and love me despite my past.
View MoreKetika Istri Mati Rasa
Bab 1"Rencananya kapan kalian akan menikah secara resmi?" Samar, aku mendengar obrolan di ruang tamu. Jelas sekali itu suara ibu mertua. Siapa yang akan menikah secara resmi? Tangan yang sudah siap mengetuk pintu aku urungkan. Mematung di depan pintu adalah pilihanku saat ini. Mencuri dengar obrolan mereka dengan tangan membopong Wildan yang sedang tidur."Radit belum tahu, Bu." Aku terperanjat , kaget mendengar jawaban mas Radit. Jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya. Ya Allah, apa maksud semua ini?Tidak, tidak mungkin suamiku menikah lagi. Aku pasti salah dengar. Hatiku menolak tapi pikiranku menyimpulkan sesuatu."Apa memang harus diresmikan pernikahan kalian, Dit? Apa tidak sebaiknya kamu ceraikan saja wanita itu. Ibu memikirkan perasaan Alina. Dia begitu baik selama ini, Nak. Ibu tak tega melihat dia terluka." Innalillahi … berarti pradugaku tadi benar.Detik ini rasanya duniaku runtuh. Apa yang aku dengar bukan lagi halusinasi atau sebuah mimpi. Dadaku sesak bagai kena hantaman bogem besar. Air mata luruh begitu saja beriringan dengan hancurnya hatiku. Kenapa kamu tega melakukan ini semua, Mas? Kenapa? Apa kurangku? Aku punya anak. Aku mengurus ibu dengan penuh kasih sayang. Apa salahku sampai hati kamu menduakan aku? Ingin rasanya aku mendobrak pintu dan mengumpat langsung di depan mas Radit. Namun, bukan itu yang aku butuhkan saat ini. Aku harus tenang untuk menghadapi mereka."Bu, tidak mungkin aku menceraikannya. Dia sama pentingnya dengan Alina. Sama-sama bermakna untuk Radit, Bu. Sebentar lagi Ralia masuk sekolah. Kami butuh status yang jelas di mata negara, Bu." Ya Allah … mereka sudah memiliki anak? Sudah mau sekolah? Artinya mereka menyembunyikan ini bertahun-tahun lamanya.Aku tak sanggup lagi mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Segera, aku mengetuk pintu setelah menyusut air mata dan mengatur napas. Seolah tidak terjadi apa-apa."Sayang, kok sudah pulang? Sama siapa? Sejak kapan sudah di sini?" Rentetan pertanyaan mas Radit ajukan padaku. Celingak-celinguk dia menatap ke arah jalan."Ya, Mas, kebetulan tadi aku nebeng Kang Dika, dia mau ada urusan di daerah sini. Sebentar, ya, aku menaruh Wildan dulu di kamar sekalian bersih-bersih." Aku tersenyum tipis ke arah mas Radit yang wajahnya terlihat kaget dan ke arah ibu yang memucat. Mungkin mereka takut aku mendengar semuanya. Terlambat!Segera, aku tidurkan Wildan ke ranjangnya dengan penuh hati-hati. Kutatap wajah polos yang tertidur dengan damai itu.Wildan bukan tipe orang yang mudah terganggu tidurnya dengan hal-hal kecil. Persis seperti bapaknya. Tidurnya selalu pulas dan tidak mudah bangun.Ah, mengingat bapaknya membuat dadaku semakin sesak saja. Apa yang membuat lelaki itu begitu tega mengkhianati pernikahan ini?Mereka yang terlalu pintar dan aku yang terlalu oon. Tak pernah curiga sedikitpun saat suami berminggu-minggu tak pulang ke sini. Aku terlalu percaya pada lelaki yang terlihat setia itu. Bagaimana tidak setia di mataku? Ia tak pernah sibuk dengan handphonenya. Selalu memanjakan dan menyayangi aku sebagai istrinya. Tak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Selalu dekat dengan anak meski jarang pulang.Tak pernah terlintas sedikitpun bahwa suamiku memiliki istri baru. Aku mengerjap berulang kali agar embun di mata ini tak menjadi anak sungai. Lekas, langkah kaki kubawa ke arah kamar. Sudah tak ada ibu ataupun mas Radit di ruang tamu. Ke mana mereka? Sudah selesaikah pembicaraan mereka?"Surprise untuk istri tercinta." Mas Radit memberikan buket bunga padaku ketika pintu kamar kubuka. Senyum terbaik dia suguhkan padaku. Manis sekali bukan? Dulu aku akan berbunga-bunga diberikan surprise seperti ini. Sekarang tersentuh pun tidak. Semua terasa basi."Terima kasih, Mas." Senyum tipis kuberikan pada lelaki yang terlihat sok romantis itu. Buket kuambil dari tangannya. Lekas, kutaruh di atas nakas tanpa ingin mencium aroma bunganya seperti dulu-dulu lagi."Sayang, Mas kangen." Mas Radit m merentangkan kedua tangannya ke arahku. Dulu dengan segera aku akan merangsek ke dada bidang itu. Sekarang semua terasa menjijikkan."Maaf, Mas. Aku mandi dulu, ya, sudah gerah banget ini." Lagi senyum tipis yang aku berikan padanya seraya masuk ke dalam kamar mandi. Gurat kecewa tercetak jelas di wajahnya. Kecewa yang kamu rasakan tak seberapa dibanding kecewa yang aku dapatkan, Mas!Kran air di bawah aku buka, begitu pun dengan kran shower. berharap menyamarkan suara isakan ku nantinya.Tumpah sudah pertahananku yang sempat kutahan. Air mataku luruh bersamaan dengan merosotnya tubuh ini ke lantai. Aku memeluk lutut di bawah shower yang mengucur. Percakapan ibu dan anak itu kembali terngiang di telingaku. Apa salahku sampai kamu tega melakukan ini semua, Mas? Apa alasan kamu menikah lagi, Mas? Aku rela jauh-jauh ke luar negeri untuk bisa merubah taraf hidup kamu, Mas. Hingga sekarang bisa terpandang karena memiliki lahan berhektar-hektar. Aku rela menjadi perawat ibumu agar kamu tenang dalam bekerja. Semua itu aku lakukan dengan tulus. Tapi apa yang aku berikan padaku, Mas? Sebuah pengkhianatan!Aku berjanji, Mas. Tidak akan tinggal diam atas semua perlakuanmu ini! Aku yakin sampai kapan pun kamu tidak akan pernah jujur padaku. Biarlah aku akan pura-pura tidak tahu, tapi akan banyak sekali perubahan sikapmu terhadapmu, Mas!Someone is lying on the bed an unconcious kid he looks tired because of what he has been through. "Your kid experienced a lot from the guys who took him, I'm sorry to say but he will experience that trauma forever you need to be with him all the time and understand him" the doctor said on the parents kid. "What do you mean... what did those bad guys did to our son! "The father said. "We saw a lot of old and new bruises all over your son's body he experience hell from that mens.. his bones are severly injured his skull is also injired and a bolld clot is visible we can't perform the operation yet because some wounds need to be healed first and we need to wait until he woke up and ask some questions" the doctor said that made the parents cry even more. They both hold their Son's hand while crying in pain. "This was all our fault, we are way too late before we could rescue him" Randall said. "My baby boy, mommy is here now I will do every
The Maldives trip already ended and we're now flying back to philippines, my husband is so quiet since Damon Arrive on where we are staying at.I hold his hand and gently squeezed it that's why he look up to me I gave him a smile "what is my husband thinking hmm?" I asked."Nothing Mahal" he said and just gave my hand a quick kiss before leaning on the back rest and closed his eyes.The flight back home is just too fast ,we both stood up and walk out of the private plane holding each other's hand. A car is already waiting for us so we ride inside it damon is the one who'll drive it.Our Parents welcomed us the moment we got out of the car."Welcome home !" Mom said and hugs me tight he also did the same to Raven."What's so urgent that you interrupted our honeymoon trip mom?" Raven asked coldly kaya pasimple ko siyang hinampas."Let's talk inside the house I'm sure both of you are tired on the flight" Daddy Ran said and turn around go
I saw my husband holding the knife in his hands and he slowly walked towards my direction. Napahigpit ang kapit ko sa cellphone ko at sinubukan hindi humakbang paatras. Hinablot niya ang braso ko ng malakas kaya napa aray ako ng bahagya."Who are you talking with !" He shouted and I saw the veins became visible on his hands and neck. Sobrang higpit din ng kapit niya sa braso ko to the point na babakat ang mga daliri niya dito mamaya."S-si Danny iyon mahal masyadong mahigpit ang hawak mo" I said and teied to remove his hand but he just holds me tight and pulled me closer to him."Bakit kayo magkausap huh?you have no right to talk to any male specie except me!" He shouted in front of my face at nagulat ako ng ilapit niya sa mukha ko ang kutsilyong hawak kaya napapikit ako sa takot.Tears started to form on the side of my eyes, my knees tremble in fear and my breathing is unstable, bullets of sweat form on my forehead while chanting a prayer in my mind.
Warning: MATURE CONTENTSTwo months passed since our wedding happened and I had a laceration after resting for two weeks we visited different countries and enjoyed our time with each other, I also had a time to know more about Raven's attitude and the true him.We are currently staying in maldives and this was the one of my favorite place that we visited."Mahal which place do you want us to go next?" Raven asked me.I put down a little my aviator glasses and look on him lying on the canopy beach chair beside mine ,he's only wearing a board shorts and my husband looked hot."Let's go to Vietnam ?" I said and he nodded in response and called someone on the phone maybe that's damon and Raven is ordering to arrange our flight and the staycation.A lot of things has changed between our relationship, I am not blushing whenever I see him naked ,I felt comfortable sleeping on his favorite position every night."It's done mahal we'll fl
reviews