LOGINAnthony Mavens, a lawyer,politician, and most importantly, a mafia Lord, has set out teach everyone who has hurt him a lesson. Sandra Martinson, a fashion designer, first daughter, ruthless, and fearless has found herself somehow crossing paths with the infamous mafia Lord. She is the solution to his problems, and the key to his revenge. No strings attached, no love connection, just two years of marriage is the term of their contract. He has vowed to tame her. What happens when the contract goes south? Anthony has found himself falling for the woman he once discarded, and Sandra knowing she is a pawn in a game has vowed to never be with him. What happens when he is faced with the option of choosing between his long-term planned revenge and his newly found love? Will love or hatred conquer it all?
View More"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”The ride home was extremely quiet. Ryan had come back for her three hours after he had left, and they were finally getting to head home by 3:39. Who knew she would still have to meet other family members even after their casino stuff? She huffed her anger out her nose. "Is all well?" "No." She grunted. The silence took its course. She folded her arms across her chest. "What's wrong?" He asked, placing his hand over hers. She flinched a bit, before regaining herself. How could she explain that she wanted to be alone? Her head was running at three hundred and thirty metres per second. She needed to soothe and calm herself. She was angry, frustrated, sad and mad at herself. Why was it so hard for her to find a peaceful ground? What would it take for her to live a normal life? She was finally getting her life back on track. She had forgotten Anthony and his nuisance. She had her best friend and this amazing guy with her. And all of a sudden, every
"Baby, are you okay?" Ryan asked, placing an arm on her shoulder. She clamped her fingers together, trying to force a smile. "Yes, I am." She replied, turning to him. Her lips spread. "Coleman" Anthony called out, digging into his meal. Sandra looked at her table to find out that a plate was before her. When did that happen? "Mavens." Ryan greeted. "Do you have any intention of introducing me to her?" He asked. Ryan smiled. "baby,meet one of my many brothers. Anthony Mavens" Sandra's frown grew deeper. He was pretending not to know her. Ignoring all they had shared. The same way he had dumped her before. "It's a pleasure meeting you." Anthony said to her with a grin. He stretched out his hand. She stabbed the meal before her. "Same" she replied with a wide smile. She searched his eyes. He really seemed not to recognize her. She stared deeper into his eyes and no flick of recognition passed by. Reluctantly,she sighed. She turned
The long awaited weekend had finally arrived, and Sandra was sitting peacefully like the passenger princess that she was. Earlier that day, she had completed the low cut dress she intended on wearing to the dinner. Adjustments had been easy to make. The makeup artist she had booked arrived ten minutes earlier than expected, and luckily, they had gotten everything done at least five minutes before Ryan arrived. He had arrived in a black tux with his hair gelled backwards. It gave his face a more defined shape. His tattoos all covered up made him seem so innocent. His doe eyes took the form of a bunny's. She could see fear, panic and excitement behind the walls of his beautiful eyes. How important was the dinner to him? She smiled lightly as she recalled his reaction to her present look. He hadn't gasped or gushed, but his eyes had held her body longer than she expected. "Why are you smiling?" Ryan asked. She turned to him, quietly placing her palm on his thigh. She felt
The door slammed in her face as soon as Tanya left the room. Sandra, feeling choked by the repercussions of her actions retreated slowly into the vacant chair her friend had just occupied. Her heart seemed to have sank to her stomach. She clenched it tightly, hoping to hold herself in place. She hadn't really meant what she said. She hadn't. Tanya wasn't a monster. She wasn't a saint either, but she was far from a monster. She sighed. In a way,she was right. Tanya was hurting these men and their families. Innocent people who had done nothing to deserve the sour plate of injustice she had dished for them. But was the truth worth her friendship? She collapsed further into the chair. Tanya was the only person she could ever run to whenever she was in trouble. Tan was her backbone. Her hope. Her candle in the midst of the darkness. Her doorbell rang, capturing her attention. Her nerves grew alert as she quickly rose to her feet. She quietly tiptoed to the door, avoiding any s
"What mess?" Sandra questioned, rolling to his side. His eyes brushed over her stature quickly before he averted his gaze. He looked up to the ceiling. He could hear her breathing. One, two, three, he counted knowing she would soon murmur off some snarky remark. "Piece of shit..." She m
Francesca's heels clinked on the floors as she searched through the halls. The guards would not let her pass through the female wing, stating that she had to be there. "Get the fuck outta my way." She growled at the extravagantly large man. "No can do." He replied, folding his arms.
D-Day. It was finally the day. The day she would become a Mrs. The day her surname would change. The day her life would change.She had anticipated that change for years,creating random images of what her groom would look like,what he would say and how he would act. She had expected a dream come thr
Yes! She wanted to scream yes. She wanted to feel his hands within her, around her. She wanted him on her. Her eyes squeezed as she imagined him on her. His large hands pinning her to the bed as he grinded her. Sweat trickling down his perfectly chiseled jaw as he moaned her name. His pink lips k






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.