Mag-log in"Hanya saja nggak tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Sekarang ini dia sedang kekurangan uang, ditambah lagi dikejar-kejar utang oleh Pak Muklis. Seharusnya dia nggak akan bisa bertahan lama lagi.""Tapi, omong-omong ini konyol juga, ya. Sebelumnya bocah itu sangat arogan, sekarang kepalanya sudah dilukai oleh Pak Ardika, dia malah nggak berani datang mencari masalah dengan kita lagi."Sebelumnya Chalis memang sudah mengenal Alendo. Pria itu selalu menjadi tokoh yang hebat di Provinsi Aste.Ditambah lagi, dia menguasai taktik yang luar biasa. Setiap kali menangani masalah, selalu sangat sempurna. Sebagian besar rakyat biasa sangat menghormati dan mengaguminya, mengira dia adalah seorang pebisnis yang baik.Namun, orang-orang yang benar-benar mengenalnya sudah pasti tahu orang yang satu itu adalah orang yang kejam, pergerakannya juga sangat cepat. Setiap kali tertarik pada sebuah proyek, maka dia bisa mendapatkannya dengan cepat dan akurat. Kemudian, dia akan menjualnya dengan
"Mereka semua adalah orang-orang bodoh yang nggak tahu berterima kasih."Saking emosinya, Alendo merasakan kepalanya pusing, dia sudah mencapai ambang kegilaan.Dia belum pernah mengalami penghinaan seperti ini. Untuk sesaat, dia hilang kendali dan melemparkan ponselnya ke lantai dengan keras.Saat ini, ekspresi Lucas juga tampak muram. Dia benar-benar tidak menyangka bisa mengalami hal seperti ini."Bos, apa mereka semua nggak mau meminjamkan uang?"Walaupun dia sudah menduga situasi seperti ini, tetapi saat benar-benar mengalaminya tetap membuatnya sangat terkejut."Semua orang-orang bodoh itu mengira aku sudah hancur, mengira aku nggak akan bisa bangkit lagi, makanya satu per satu dari mereka menghindariku."Alendo sangat marah, dia sudah menghancurkan barang-barang di sekelilingnya yang bisa dihancurkannya. Saat ini, sebenarnya dia butuh istirahat dengan tenang untuk fokus pada pemulihannya, tetapi sekarang ini dia sama sekali tidak bisa tenang.Hanya memikirkan hal ini saja, sudah
"Yah, bukankah sudah kubilang? Memang kebetulan sekali."Divan tidak akan meminjamkan uang pada Alendo. Walaupun biasanya mereka cukup akrab, tetapi mereka sangat berhati-hati soal uang."Kenapa pemegang sahammu tiba-tiba mundur? Ini agak nggak normal, apa ada masalah?"Divan merasa ada yang aneh, jadi dia secara khusus menanyakan hal tersebut."Sebelumnya ada beberapa proyek yang tertahan, dia kira aku bermasalah. Yah, namanya juga memandang rendah orang."Alendo memanfaatkan kesempatan itu untuk mengutarakan kekesalannya.Divan bisa tahu jelas kalimat Alendo itu ditujukan pada dirinya. Walaupun dia merasa agak kesal, tetapi dia juga tahu identitas lawan bicaranya itu. Selama Alendo belum benar-benar hancur, semua orang tidak akan berani memusuhinya."Kalau begitu, memang agak sial, ya. Tapi aku benar-benar nggak punya uang lagi sekarang ini. Aku coba hubungi dulu. Bila perlu, aku akan membantumu menanyakan pada orang lain," kata Divan dengan sopan, membuat lawan bicara tidak bisa mel
Saking emosinya, Alendo membanting ponselnya.Dia mengira dengan mengirim Lucas ke sana, masalah ini sudah bisa terselesaikan, tetapi siapa sangka Muklis tetap berpegang teguh pada pendiriannya.Sementara itu, Lucas yang sedang berdiri di luar tidak tahu apakah dia harus masuk. Dia merasa agak ragu."Kenapa semuanya ada saja hambatan?"Alendo memukul tempat tidurnya dengan keras, dia tampak sangat marah. Dia tahu seharusnya dia menenangkan diri dan fokus pada pemulihannya. Namun sekarang semua masalah sudah datang, dia sama sekali tidak bisa tenang."Lucas, sudah kembali atau belum?"Alendo berteriak dengan marah. Tadi masih ada perawat yang datang untuk menanyainya, tetapi sudah dimakinya hingga keluar."Bos, aku sudah kembali."Lucas mengerti dia tidak bisa kabur, jadi dia hanya bisa mendorong pintu bangsal dan masuk ke dalam."Bos, tadi setelah aku tanyakan, aku baru tahu Pak Muklis sudah memperoleh informasi dari seseorang. Itulah sebabnya dia bersikeras mau mundur."Lucas takut di
Walaupun Lucas sudah menebak hal ini, tetapi saat mendengar informasi ini, dia tetap agak terkejut."Tentu saja situasinya bukan seperti itu. Kami hanya ingin tahu apakah ada yang berulah di belakang hingga membuat proyek-proyek itu bermasalah, juga demi membeli sebuah informasi."Lucas berusaha sebaik mungkin untuk memberikan penjelasan."Memangnya kenapa kalau begitu? Aku bebas menginvestasikan uangku pada siapa saja, tapi Keluarga Siantar benar-benar sudah menganggap remeh kami, tentu saja aku nggak setuju untuk melanjutkan kerja sama lagi."Kali ini Muklis sudah bertekad untuk tidak bekerja sama lagi. Apa pun yang mereka katakan, juga tidak ada gunanya.Hal yang lebih mengesalkan adalah, uang sebesar 180 miliar itu diambil dari dana proyek mereka. Orang yang satu itu benar-benar menganggap mereka sebagai orang bodoh."Sebenarnya hal ini bisa dijelaskan lagi. Pak Muklis nggak perlu marah karena hal ini. Itu hanya penggunaan dana untuk sementara waktu saja, kekurangan itu akan segera
"Memang ada sedikit masalah, tapi juga bukannya sangat merepotkan. Asalkan diubah sedikit, nggak lama lagi akan ada penghasilan. Sebenarnya hal seperti ini juga sulit dikatakan. Nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Terlebih lagi, bisnis Keluarga Siantar selalu untung nggak pernah rugi."Lucas masih berusaha untuk membujuk lawan bicaranya. Dia juga sangat penasaran mengapa tekad Muklis dalam hal ini sangat kuat.Terlebih lagi, bagaimana Muklis bisa tahu soal proyek bermasalah? Mereka sudah memblokade informasi soal proyek bermasalah sejak awal, tidak akan ada orang luar yang tahu."Yah, seperti yang kamu katakan sendiri, nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi, kalian harus segera mentransfer uang itu padaku. Aku takut kalau ditunda-tunda akan terjadi sesuatu nggak terduga."Keputusan Muklis sudah bulat, tidak akan bisa dibujuk lagi.Lucas merasa sangat menyayangkan. Kali ini boleh dibilang dia juga sudah melihat ketetapan hati Muklis."Omong-omong, aku hanya b
"Elsy dasar wanita jalang! Kamu begitu terburu-buru ingin bercerai denganku karena ingin bersama dengan Ardika si pecundang yang hanya tahu mengandalkan wanita itu, 'kan?""Istrinya lebih cantik dan lebih kaya darimu! Apa kamu pikir setelah kamu bercerai denganku, maka dia akan menikahimu?""Kulihat o
TV Satelit Denpapan memiliki banyak penonton setia.Di seluruh negeri, TV Satelit Denpapan menempati peringkat depan.Kali ini, demi mempromosikan Gunung Amona, Grup Hatari bekerja sama dengan TV Satelit Denpapan. Pada jam-jam tertentu, iklan promosi Gunung Amona akan ditayangkan.Iklan promosi berdura
"Eh, Pak Farlin, apa maksudmu?"Ekspresi di wajah Panji langsung membeku.Dia tidak menyangka biarpun dia sudah menyampaikan hal itu dengan penuh penghayatan, Farlin tetap tidak tersentuh.Farlin mendengus dan berkata, "Kamu nggak tahu, 'kan? Aku diundang oleh Ardika secara pribadi ke Kota Banyuli. Aku
Melihat orang-orang yang sedang mendorong anggota Grup Bintang Darma, Ardika berkata dengan dingin, "Cepat suruh mereka berhenti sekarang juga! Lalu bawa mereka pergi dari sini!""Ardika dasar pecundang! Apa kamu pikir kamu berhak untuk mengusirku?!"Hardi memasang ekspresi muram."Plak!"Ardika langsun







