LOGINVesa Araya tak pernah mengerti alasan ayah kandungnya, Valentino Araya, membuang dirinya ke London, Inggris. Yang Vesa ketahui, sejak dia masih kecil dia tinggal bersama dengan kakek dan neneknya di negara itu. Sedangkan ayahnya malah menetap di Indonesia. Sang ayah hanya mengunjungi dirinya ke Inggris setahun sekali dan dia melarang sang putra untuk pergi Indonesia. Suatu ketika, Vesa yang tidak sanggup lagi menahan rasa penasarannya, memutuskan untuk nekad pergi ke Indonesia untuk menemui sang ayah. Betapa kaget dirinya kala mengetahui ayah kandungnya itu ternyata seorang miliarder yang sangat terkenal. Jika Valentino sekaya itu, kenapa dia membiarkan sang putra hidup secara sederhana di Inggris? Dan kenapa seolah-olah Valentino tidak ingin orang-orang mengetahui keberadaan putranya? Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Valentino dari sang putra? Bisakah Vesa mendapatkan jawaban-jawaban mengenai teka-teki itu? -sequel dari Sang Miliarder yang Tersembunyi-
View MoreBreathlessness can cause our lungs to burst at any moment.
We have been running for miles now and are close to the cave where we live. If we can make it there, we will be saved from the clutches of two colossal Lycans who are hot on our heels. Judging by their prominent wolf features, they must hold high ranks in their race.
"Hang in there, Xanna. We're almost home, just a few more miles," I urge my best friend.
Thank God, we were able to shift in time, these two possess incredible speed that leaves us in awe. We were able to get a big head start since they didn't anticipate us leaving, which confused them before starting the chase. However, our lead is quickly diminishing since their pace is relentless, they are gaining ground.
'Yes, we're almost there. Once we hit the imperceptible barrier, we will be safe', Xanna replies panting in the mind link.
As Era, my wolf, strides to cover the last bit of distance, we finally arrive at Xanna's mystically built wall. Concealed from everyone's sight lies our secure refuge, a cave. With a long jump, Era nimbly passes through the invisible veil and we land on the sandy ground inside. To my left I notice Jeva, Xanna's wolf, also flopping down, gasping for breath.
We shift into our human and lean against the wall of the cave, trying to regain our strength.
“That was close, Cissy. How were they able to scent us? The potion is all over us,” Xanna asks astonished.
I can't help but chuckle, undoubtedly, Lycan instincts are undeniably sharper than those of ordinary werewolves. We crossed paths with them unexpectedly and were unable to take precautions.
“I think we require a more powerful one that is capable of withstanding Lycans as well," I laugh. "Meeting this breed in this area was unforeseen. They are typically found in Canada, we encountered them sooner than planned."
All of a sudden, a menacing growl catches our attention and we turn to look back in the direction we had just come from. There we see them again, scanning the surroundings, apparently baffled that we could have disappeared in the blink of an eye. Why were they in Crescent Moon anyway? An Alpha installation isn't really a great event for Lycans to step out of their nest.
They thoroughly search every nook and cranny of the terrain, peering behind each leaf and rock formation, digging deep into the bushes for clues, but to no avail. After some time, they look at each other in despair before starting another cycle of rigorous investigation.
Xanna and I are now screaming with laughter, tumbling around on the ground.
Amused, we sit up again and with great interest, we observe them tear out every last tree and shrub in their search of finding us. Our mates. They are now back in their human form and stark naked.
Identical twins, and handsome as hell.
Both of them have long hair with blended shades of brown and blonde. One of them has his in a ponytail, tightly fastened at the top of his head. Their divine toned bodies are on full display before our eyes, my mouth waters as my gaze fixates upon their bulging manhood.
Their thick eyebrows are knitted together tightly, growing increasingly annoyed that they can't find us. Lycans are very possessive by nature, we are aware they will not give up easily and will probably continue looking for us for hours. Fortunately, we had stocked up all the necessary supplies in the cave, so we could watch over them undetected from atop our comfortable bed.
"I am at a complete loss here! How were they able to perceive us as their mates? We are merely seventeen years old, we still have sixty days left until we turn eighteen!" Xanna wonders out loud. I shrug.
"Poor timing for them. They entered our lives at an inconvenient time. We do not have the luxury to worry about mates right now, as it would only complicate things further. They will surely demand that we assume our responsibilities. As for me, I am not ready yet," confidently stated.
Suddenly, one of them glances towards us, his gaze penetrating the wall as if he can see through. Impossible, of course, outsiders see the magic barrier as a big stone structure and hence do not bother to approach it.
“Where did they disappear, brother?” one asks the other. “And why did they flee? Every wolf would like to meet his mate, right? Maybe we should ask Alpha Dimitri about all the unmated she-wolves in his pack, they won't dare to stay hidden,” he suggests.
“Easy, man. Don't put pressure on this,” the other one soothes. “If they fled from us, there must be an underlying reason why they're acting out. Forcing them to come out might only make it harder for us to find them."
Hmmm, clearly one twin is decidedly more sentimental than his sibling.
Impatiently, his brother runs a hand through his hair and looks back at the wall.
“But how do we find them? I can't detect any scent here. It seems as if they have disappeared from the face of the earth. Is that even impossible?".
"Calm down. They can't be far. Plus, if they're part of Dimitri's pack, it won't be difficult to locate them,” the other brother chimes in. "We'll track them down and convince them to join us willingly. I want a woman who's enthusiastic about being with me, not someone forced into it."
His words were full of resolution and conviction.
"Makes sense. Let's take a rest under the tree. We can extend our stay in Crescent Moon for a few days," admits the stoic brother. “Besides, my instincts warn me about this Alpha. He seems like a dubious figure to me. I wouldn't be surprised if he's involved in shady business.”
As we watch the scene unfold, the two are sitting just below a massive tree, facing directly into the cave.
Now that we have a complete view of them, we can observe them to our heart's content...
Halo, readers. Kita ketemu lagi di sini. Akhirnya selesai juga season kedua ini. Lega sekali rasanya bisa menyelesaikan cerita ini. Zila ucapkan banyak terima kasih yang sudah antusias membaca kisah Vesa Araya, anak dari Valentino Araya ini dan mengikutinya sampai akhir. Semoga ceritanya tidak mengecewakan ya dan kalian puas dengan cerita ini. Endingnya semoga juga memuaskan bagi para readers ya dan nggak ada yang kecewa. Zila harap kisah Vesa Araya ini semoga bisa diingat oleh para pembaca. Akhir kata, Zila harap bisa membuat cerita lain yang juga disukai para pembaca. Salam hangat dari Zila Aicha, sampai ketemu di karya Zila berikutnya.
Tubuh Gea terlihat begitu mengerikan. Dadanya tertancap pisau dan mulutnya mengeluarkan busa serta matanya pun terbuka.Vesa langsung memerintah, "Hubungi polisi sekarang."Inka menutup wajahnya karena tak sanggup melihatnya. Vesa langsung saja memeluk gadis itu agar Inka tak merasa takut."Siapa yang membunuhnya? Itu terlalu kejam, Vesa. Sungguh mengerikan," ujar gadis itu dengan suara bergetar."Kita akan segera tahu, biarkan polisi yang menanganinya," ujar Vesa.Tak lama kemudian polisi datang dan langsung saja memeriksa kasus itu."Apakah Anda berdua bisa ikut kami ke kantor polisi untuk memberi kesaksian?" tanya petugas polisi itu."Ya," jawab Vesa.Vesa pun mengajak Inka untuk ikut ketua polisi itu.Vesa dan Inka harus berada di kantor polisi setidaknya selama dua jam lamanya guna memberi kesaksian mereka. Dan saat dia telah selesai dan keluar dari ruang interogasi, dia melihat Lara, anak Gea itu datang ke kantor polisi dengan raut wajah yang penuh air mata."Apa Anda sudah mene
"Aku tidak membencimu, Alea. Hanya saja kau sudah keterlaluan," ucap Vesa. Dia lalu menggandeng Lara pergi dari sana.Alea berteriak, "Vesa."Vesa tak memperdulikannya. Alea hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan perasaan getir. Vesa sudah tak mau berhubungan lagi dengannya. Pria muda itu pastilah sudah begitu jijik padanya.Alea menjambak rambutnya sendiri lalu pergi dari kampus itu karena tak tahan melihat para mahasiswa yang menatapnya dengan tatapan aneh.Di sisi lain, Vesa berujar pelan, "Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi...""Tak apa. Well, omong-omong aku harus pergi sekarang, aku rasa temanku sudah datang," ujar Lara kemudian.Vesa mengangguk pelan, masih merasa begitu bersalah. Begitu gadis itu pergi, dia memilih untuk mengubah rencananya. Dia tak mungkin memanfaatkan Lara untuk menjebak Gea. Gadis itu tak tahu apa-apa. Entah kenapa, dia merasa jika Lara memang gadis polos. Maka dari itu dia memutuskan untuk menyerang Gea tanpa melibatkan Lara. Sore itu dia kembali
Hanya dalam waktu tak kurang dari tiga puluh detik saja, Stefan sudah mengirimkan sebuah photo begitu Vesa mematikan sambungan teleponnya.Vesa dengan tenang membuka pesan itu dan tersenyum miring begitu dia melihat photo itu.Kena kau, Gea. Vesa membatin.Segera dia mengantongi kembali ponselnya dan berjalan mendekati Lara sambil tersenyum cerah."Sudah selesai menghubungimu?" tanya Vesa yng jauh lebih ramah dari pada sebelumnya."Sudah. Mau berkeliling sekarang?" tanya Lara balik."Ya, langsung saja. Aku tak akan mengambil waktumu banyak-banyak," ucap Vesa.Lara mengangguk dan kemudian mulai bertindak sebagai seorang tour guide di sana. Meskipun baru meninggalkan kampus itu selama tujuh bulan lamanya, tapi kampus itu sudah cukup banyak berubah.Vesa mengenang masa-masa di kampusnya itu. Walaupun memang banyak kenangan buruk di sana, dia tetap masih sedikit kenangan baik hingga sekarang dia cukup merasa kecewa lagi ketika teringat masa-masa awal pertemanannya dengan Derrick.Derrick
Derrick akhirnya turun dari panggung dan berjalan menuju ke arah Vesa yang baru saja meletakkan gelasnya. Dia menghampiri Vesa dengan ekspresi yang rumit dan membuat semua orang yang berada di gedung itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari Derrick."Katakan, Vesa. Dari mana kau dapat ar
Vesa Araya hampir tidak memiliki teman di kampus itu. Hal itu karena memang sebagian besar teman-teman sekelasnya adalah orang-orang yang cukup terpandang dan setidaknya memiliki kelas sosial yang lebih tinggi daripada dirinya.Teman Vesa berasal dari fakultas lain dan tentu saja tidak diu
"Valen, jangan terlalu kejam pada anakmu. Ayolah, kau tidak ingin anakmu dipermalukan bukan?" ucap Thomas Miller.Dia sedang menelepon Valentino Araya, putra tirinya sekaligus ayah dari cucunya, Vesa Araya.Hera Adnan yang duduk di dekat suaminya itu pun hanya bisa menatap suaminya
"Hei, apa yang sedang terjadi? Kenapa kau terlihat murung sekali?" tanya Hera Adnan yang baru saja melihat cucunya pulang dari kampusnya dengan wajah yang lesu.Vesa Araya masih tetap menunduk dan tak menjawab pertanyaan neneknya tersebut."Vesa Araya, Oma sedang berbicara den
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore