LOGINAku mengalami kram menstruasi dan memesan obat pereda nyeri. Di aplikasi, pengantarnya tertulis seorang pengendara wanita, tapi yang datang ternyata seorang pria mabuk. Kali ini, aku tidak menelepon dua kakakku untuk meminta bantuan. Langsung saja aku melapor ke polisi. Di kehidupan sebelumnya, kedua kakakku bukan hanya memanggil semua pengawal pribadi yang ada, tetapi mereka sendiri juga buru-buru kembali. Akibatnya, mereka melewatkan drama panggung yang dimainkan oleh adik angkat mereka. Adik angkat mereka begitu sedih hingga dia menusukkan tombak mainan ke dirinya sendiri di atas panggung dan membuat dirinya terluka parah. Kedua kakakku mencoba menghiburku, "Jangan merasa bersalah. Setidaknya kamu tetap selamat." Namun, di balik itu, mereka mengikatku dan menyerahkanku kepada sekelompok pria mabuk. "Cuma pria mabuk, 'kan? Kamu bisa mengusirnya sendiri. Kenapa harus manggil kami? Sekarang lihat akibatnya. Kalau Hilda meninggal, kamu juga jangan berharap bisa hidup!" Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari di mana pria mabuk itu mengetuk pintuku. Kali ini, aku tidak menelepon mereka. Mereka akhirnya bisa menyaksikan drama panggung adik angkat mereka, memberi dukungan dan semangat. Namun, setelah drama itu selesai, mereka malah menyesal.
View MoreBibi kehilangan banyak darah dan meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Kakak pertama yang kini didakwa dengan tuduhan penganiayaan berat, langsung ditahan dan dikirim ke penjara.Kakak kedua berdiri di sana dengan wajah penuh rasa bersalah. Dia perlahan menoleh ke arahku, mencoba berbicara, "Winona, aku ...."Namun, sebelum dia bisa melanjutkan, Hilda langsung melangkah di depanku, memotong pembicaraan. Dengan air mata berlinang, dia melompat ke pelukan kakak kedua sambil gemetar ketakutan."Kak, maafkan aku, sungguh maafkan aku .... Tapi aku benar-benar nggak tahu apa-apa soal semua ini. Aku nggak bersalah, kamu harus percaya sama aku! Kak, aku takut sekali. Kamu nggak akan meninggalkanku, 'kan?"Kakak kedua terlihat bingung dan tidak bisa bergerak, seperti terikat oleh tangisan dan rengekan Hilda. Melihat wajahnya yang penuh dilema, aku hanya memutar mata dan pergi begitu saja.Kemudian, aku kembali ke kompleks untuk menunjukkan rumahku kepada calon pembeli. Pembeli tersebu
Bukti nyata terpampang di depan mata.Kedua kakakku tampak terpukul. Selama bertahun-tahun, mereka menghormati Bibi yang ternyata adalah pembunuh orang tua mereka. Mereka memanjakan Hilda seperti harta paling berharga yang ternyata dia adalah anak dari pembunuh itu.Sementara aku, satu-satunya adik yang tulus mencintai mereka, justru menjadi sasaran penderitaan mereka selama ini.Di saat itu, aku merasa puas, bahkan tertawa hingga meneteskan air mata. "Jadi, jadi selama ini kedua kakakku hanyalah orang bodoh yang dimanipulasi seperti mainan di tangan orang lain!"Wajah kedua kakakku menjadi semakin muram. Kakak pertama berdiri kaku di tempatnya, matanya terpaku pada sosok Bibi di kejauhan.Kakak kedua, dengan emosi yang meledak-ledak, langsung melompat dan mencengkeram kerah Bibi sambil berteriak marah, "Dasar wanita busuk! Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini?!""Ayah dan Ibu selalu baik sama kamu dan Paman, juga selalu membantu kalian. Kenapa kamu membalas kebaikan dengan pengkhianatan?!"
Aku langsung mendorong kakak kedua menjauh dan kembali duduk di sofa dengan santai. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan melawan. Dia terhuyung mundur dengan mata terbelalak dan terkejut di tempatnya.Melihat tidak ada yang benar-benar berani berbuat apa-apa padaku, Hilda mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sambil mengerutkan alis."Kakak, sejak kecil aku sudah menjadi yatim piatu. Kakak-kakak kita sibuk dan di malam-malam ketika aku nggak bisa tidur, cuma Bibi yang selalu menemaniku."Hilda tiba-tiba berlutut di hadapanku. Bahkan, dia sengaja bergeser sedikit agar tidak berlutut di atas pecahan piring."Kakak, kumohon, Bibi sangat penting bagiku. Dia sudah menganggapku seperti putrinya dan aku juga menganggapnya sebagai ibu yang harus kuhormati. Tolong, bicaralah dengan polisi dan bebaskan dia. Kalau ada hukuman yang harus diterima, aku bersedia menanggungnya!"Kain putih di lututnya perlahan menjadi merah karena darah, sangat mencolok."Cukup!" Kakak pertama tiba-tiba b
Aku merasa muak dengan semua ini. Baik yang bagus maupun yang buruk, aku membersihkan seluruh isi rumah tanpa sisa.Sejak tahun kedua Hilda tinggal di rumah, uang sakuku sudah dihentikan. Selama bertahun-tahun, aku mengandalkan usahaku sendiri untuk bertahan hidup dan menghidupi diriku sendiri.Rumah ini kubeli beberapa tahun lalu, awalnya memang harus berhemat dan hidup seadanya. Namun sekarang, perusahaan yang kudirikan sudah berjalan stabil, dengan nilai pasar yang berlipat kali dari awal, bahkan jauh melampaui perusahaan milik kakakku.Meski begitu, aku tidak pernah melupakan masa-masa sulit dulu, itulah sebabnya aku tetap mempertahankan rumah ini. Namun alasan utamaku adalah karena aku masih sayang pada kedua kakakku, rumah ini dekat dengan kompleks vila mereka. Namun sekarang, semua itu tidak berarti lagi.Aku langsung memasang iklan penjualan rumah ini secara online dengan harga murah. Sebagai tanda terima kasih atas "perawatan" mereka selama bertahun-tahun, aku juga mengirimkan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews