Short
Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku

Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku

By:  DreamersCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
38views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku dan adikku mengalami kecelakaan mobil bersama. Aku mengalami rupture jantung dan harus segera dilakukan operasi darurat. Namun, Ibu yang merupakan direktur rumah sakit di sana justru memanggil semua dokter untuk ke kamar adikku demi melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya yang sebenarnya hanya mengalami luka ringan. Aku memohon kepada ibu agar menyelamatkanku, tetapi Ibu malah menatapku dengan wajah penuh kekesalan dan membentakku, “Kamu cari perhatian seperti ini tidak bisa lihat waktu, ya? Kamu tahu, adikmu itu hampir patah tulang!” Pada akhirnya, aku mati di sudut rumah sakit tanpa seorang pun menyadarinya. Namun setelah kabar kematianku sampai ke telinganya, Ibu yang paling membenciku itu … justru menjadi gila.

View More

Chapter 1

Bab 1

Tiga menit terakhir sebelum kematianku, arwahku melayang ke sisi Ibuku.

Saat itu, Ibu duduk di samping ranjang rumah sakit adikku dan berdoa dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran, "Daniel, jangan menakut-nakuti Ibu. Cepat bangun, Nak."

Sementara itu, Ayah tampak sangat murka, "Kalau bukan karena si brengsek Aldo yang tidak bisa melindunginya, Daniel tidak akan menjadi seperti ini! Nanti aku akan menghajarnya sampai mati!"

Aku berdiri di samping dan menyaksikan mereka. Perasaan pahit menyeruat di hatiku.

Ayah tidak perlu melakukan itu, karena aku memang sudah mati.

Mati karena ketidakpedulian kalian.

Saat ini, para dokter berdiri di sisi ranjang Daniel Atmadja.

Setelah memastikan bahwa Daniel hanya mengalami patah tulang dan tidak terluka parah, salah satu dokter senior memberanikan diri menyinggung namaku. Dia bertanya dengan hati-hati, "Dokter, apakah kita benar-benar tidak perlu melakukan apa pun pada Aldo? Kecelakaan mobil yang dialaminya tampak sangat parah.”

Raut wajah Ibuku yang semula khawatir seketika berubah menjadi masam, dia berteriak, "Sandiwara macam apa yang dia lakukan sekarang? Mau pura-pura mati? Dia tidak tahu sudah membahayakan adiknya seperti apa!"

Aku menatap kosong Ibuku, jantung yang sudah mati ini tiba-tiba terasa nyeri.

Padahal aku juga anak mereka. Apakah mereka benar-benar tidak peduli padaku?

Tiba-tiba Ibuku mengambil ponselnya untuk meneleponku.

Perawat menempelkan ponsel di telingaku. Alih-alih mendengar perhatian yang kuharapkan, aku justru mendengar suara ketus seperti biasanya, “Aldo Atmadja, kapan kamu akan datang untuk minta maaf pada adikmu?”

Hatiku akhirnya benar-benar membeku. Aku tidak punya harapan lagi.

Ya, Ibu sama sekali tidak peduli padaku.

Namun, jika memutar kembali ingatan beberapa saat lalu ketika baru saja tiba di rumah sakit, aku memohon padanya untuk menyelamatkanku. Pada saat itu dia hanya mengatakan, “Kamu cari perhatian seperti ini tidak bisa lihat situasi, ya? Kamu tahu, adikmu itu hampir patah tulang!” Lalu dia berbalik dan membawa semua dokter untuk menolong adikku tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

Tidak adakah sedikitpun rasa sayang di hatinya untukku?

Perawat yang sudah tak tahan lagi pun mengarahkan ponsel ke telinganya dan berkata, “Dokter, kondisi Aldo benar-benar kritis.”

Namun bukannya percaya, ibu justru mengira aku sedang membuat keributan dan mencibir, “Kenapa? Anak licik itu membayarmu berapa sampai kamu mau bersandiwara dengannya? Tidak kusangka dia punya kemampuan seperti itu!”

Tepat setelah cibiran ibu terucap, Daniel yang sejak tadi berpura-pura pingsan akhirnya membuka mata. Dengan suara lemah yang dibuat-buat, dia berkata, “Ayah, Ibu, bagaimana kondisi Kak Aldo?”

Ibu seketika menatap Daniel yang tampak sangat pengertian meski sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ibu pun semakin muak, “Aldo, tidak bisakah kamu lebih pengertian seperti adikmu ini? Padahal kamu sudah membuatnya celaka, tapi dia masih memedulikanmu. Tiga menit kamu tidak ke sini untuk meminta maaf pada adikmu, jangan pernah datang menemuiku lagi!”

Ibu menutup panggilan telepon itu dengan napas yang menggebu-gebu karena emosi.

Sementara itu Ayah yang berdiri di sampingnya, berkata dengan tidak senang, “Untuk apa memanggilnya ke sini? Apa masih belum cukup mencelakai Daniel sampai begini?”

Daniel tak kuasa menyembunyikan ekspresi puas di wajahnya. Dia pun menunduk pelan, lalu menatap Ayah dan Ibu dengan wajah penuh rasa bersalah, “Ayah, Ibu, jangan marah lagi. Kak Aldo hanya dendam karena aku mengambil kuota beasiswa luar negerinya. Wajar saja kalau dia membenciku.”

Aku ingin tertawa.

Tak pernah kusangka, bahkan setelah aku mati, adikku Daniel itu masih mengadu domba aku dengan Ayah dan Ibu.

Namun, Ayah dan Ibu tidak akan menyadarinya.

Di mata mereka, Daniel selamanya adalah putra mereka yang lebih baik dan patuh daripada aku.

Mereka tidak akan pernah membayangkan bahwa kecelakaan mobil itu ternyata disebabkan oleh putra kesayangan mereka, Daniel.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status