Short
Membela Anak dari Tuduhan

Membela Anak dari Tuduhan

Oleh:  PeachyTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Bab
1Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Aku hanya menghadiri satu pesta di lingkungan baruku yang kaya. Tidak lama setelah itu, tetanggaku Nadia menuntutku. Di pengadilan, dia menggendong putrinya Tiffany yang tubuhnya penuh memar dan luka. Dia menuduh anak lelakiku telah memperkosa putrinya. Di tengah persidangan, Tiffany menarik kerah bajunya ke bawah dan bekas merah melingkar jelas di lehernya. "Dia mencoba merobek celanaku," katanya terisak. "Dia mencoba memperkosaku dan aku melawan. Jadi dia memukulku dan merusak wajahku!" Di luar gedung pengadilan, para demonstran mengangkat papan-papan bertuliskan hinaan, menyebut putraku sampah, dan anak orang kaya manja. Di dunia maya, sebuah memorial hasil editan fotoku menyebar luas. Tulisannya berbunyi: [Ibu yang tidak layak seharusnya mati bersama putranya.] Saham perusahaanku mengalami penurunan drastis. Namun aku tetap duduk di sana, wajahku tanpa ekspresi. Aku hanya meminta agar Rian dibawa masuk. Pintu ruang sidang terbuka. Semua orang terdiam ketika Rian melangkah masuk.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Tetangga baruku menuntutku. Di pengadilan, dia terisak sambil menuduh putraku memperkosa putrinya.

"Putramu itu menjijikkan!" teriak Nadia ke wajahku yang tanpa ekspresi. "Dia baru pindah, lalu dia memukuli putriku, Tiffany! Dia memperkosanya!"

"Ibu Sabrina." Pengacara Tiffany, Julian, menatapku tajam. "Mari kita perjelas. Pada malam tanggal lima belas Juli, apakah putramu melakukan serangan brutal pada klien saya atau tidak?"

Aku duduk di meja terdakwa. Tuduhan itu menggantung di udara, aku tidak mengatakan apa-apa.

Di luar, para demonstran berteriak. "Keadilan untuk Tiffany." Kilatan kamera menembus jendela seperti petir menyambar.

"Tidak," kataku akhirnya dengan suaraku yang dingin.

Julian berbalik ke arah juri. Wajahnya menjadi topeng penderitaan. "Hadirin sekalian, dia menolak bertanggung jawab atas kekerasan putranya."

Aku melirik ke arah bangku penonton.

Para tetangga baruku berbisik dan tatapan mereka penuh rasa jijik.

Nyonya Lina menggelengkan kepala. Orang-orang dari Keluarga Santoso bahkan memalingkan wajah mereka.

Padahal baru minggu lalu, orang-orang ini tersenyum lebar di acara kumpul-kumpul tetangga. Mereka tidak sabar menyambut seorang tokoh sukses di bidang teknologi di lingkungan mereka.

Begitu mendengar aku punya seorang putra yang bahkan adalah seorang juara binaraga, hal ini sontak membuat mereka terpana. "Pasti anak muda yang hebat!" Mereka berseru dengan kagum. "Kamu beruntung sekali!"

Sekarang, mereka memandangku seperti sampah.

Kemunafikan itu begitu pekat hingga terasa menyesakkan.

Aku teringat sore itu. Seminggu yang lalu.

Nadia berdiri di teras rumahku.

"Sabrina! Kamu harus keluar mengurus ini!"

Dia memeluk Tiffany. Gadis itu penuh memar, dan tampak seperti baru keluar dari ruang gawat darurat.

"Putra binaragamu yang melakukan ini!" Suara Nadia memecah kesunyian.

Teriakannya merusak momen damai yang jarang aku rasakan. Aku baru saja mendapat kesepakatan besar.

"Putraku tidak pernah meninggalkan rumah."

"Jangan berpura-pura bodoh!" Tiffany mengangkat kepala dengan lemah, air mata menggenang di matanya. "Tadi malam … di halaman belakang … Rian … dia … dia mengerikan."

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Dia menjatuhkanku ke tanah dan mulai merobek pakaianku … mencoba menurunkan celanaku … mau memperkosaku." Tiffany tergagap, dan seluruh tubuhnya gemetar. "Aku melawan sekuat tenaga, jadi dia mulai memukuliku. Wajahku, tubuhku .…"

Nadia menyela, "Delapan puluh miliar. Selesaikan ini secara diam-diam atau kita ke pengadilan dan tunjukkan ke seluruh dunia sampah seperti apa yang kamu besarkan."

Aku menatap sandiwara mereka dan tidak merasakan apa-apa.

"Aku menolak."

"Apa?" Nadia jelas tidak menyangka itu.

"Aku sudah bilang, aku menolak. Kalau memang mau uang, kita selesaikan di pengadilan."

Aku menutup pintu tepat di depan wajah mereka.

Mengingat kembali, aku pun tahu aku telah membuat keputusan yang tepat.

"Yang Mulia," kata Julian sambil membuka sebuah berkas. "Saya ingin memperlihatkan kepada pengadilan foto-foto luka yang dialami Ibu Tiffany."

Sebuah gambar Tiffany muncul di layar besar.

Dia memakai penyangga leher. Lengan kanannya dibalut gips dan ada bekas goresan jelas di wajahnya.

Para juri terkejut.

"Apa yang foto-foto ini tunjukkan?" Julian menunjuk layar. "Ini menunjukkan betapa menakutkannya kekuatan pelaku, dan betapa brutal caranya."

Dia menampilkan foto lain. Foto buram yang diambil di malam hari dengan ponsel.

Dalam foto itu, seorang pria tampak membelakangi kamera seolah hendak menyerang seorang wanita yang berada di tanah.

"Foto ini diambil oleh tetangga yang mendengar teriakan. Buram, tapi jelas terlihat serangan sedang berlangsung."

Desahan marah memenuhi ruang sidang.

"Menjijikkan sekali."

"Anak orang kaya semuanya sama."

"Begini caranya membesarkan anak?"

Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi saham.

Saham perusahaan turun tiga persen lagi.

Aku meliriknya, lalu membalikkan ponsel itu menghadap ke bawah.

Gerakan itu tidak luput dari perhatian. Terasa dingin dan penuh kesombongan.

Seorang pria di bangku penonton mendesis, "Lihat dia. Gadis itu nyaris mati, tapi dia malah mengecek sahamnya!"

"Ibu macam apa yang membesarkan anak seperti itu?"

"Apa dia pikir uang membuatnya lebih hebat dari kita?"

Julian menatapku dengan senyum menyeringai. Dia lalu kembali menghadap juri. "Sikapnya sudah menjelaskan segalanya. Dia pikir uangnya bisa menutupi dosa putranya."

Hakim mengetuk palu. "Diam!"

Tapi itu tak menghentikan badai di media sosial. Seseorang di ruang sidang sedang menyiarkan langsung, dan komentar mengalir deras.

[Wanita ini kejam sekali.]

[Aku tidak akan melupakan nama itu. Rian.]

[Anak orang kaya itu sampah.]

[Sabrina Mahendra, keluar dari kota kami.]

Aku menjaga posturku. Punggung tetap tegak seperti berada di ruang rapat, bukan ruang sidang.

Angkanya jelas. Kemarahan publik meledak dengan cepat.

Tagar [#KeadilanUntukTiffany] disebarkan ulang sebanyak lima puluh ribu kali dalam waktu tiga jam.

Semuanya berjalan sesuai naskah mereka.

"Sekarang," kata Julian sambil melangkah menuju bangku juri. "Saya ingin meminta Ibu Tiffany menceritakan sendiri malam mengerikan itu."

Tiffany perlahan berdiri, dan berjalan ke kursi saksi dengan langkah gemetar.

Setiap gerakan tampak menyakitkan, sulit, seolah gerakan sekecil apa pun akan merobek kembali luka-lukanya.

Akting yang bagus.

Dia duduk, menarik napas dalam, dan matanya kembali berlinang air mata.

"Aku tidak akan pernah melupakan mata itu," katanya tercekat. "Penuh dengan … dengan amarah. Rian menatapku seperti .…"

Dia lalu berhenti, seakan mencari kata yang tepat.

"Seperti … seperti binatang yang menatap mangsanya."

Para juri menahan napas.

Seorang pria paruh baya di bangku penonton tidak tahan lagi. Dia melompat berdiri, dan menunjuk ke arahku.

"Sampah seperti dia pantas dikurung!"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status