Masuk"Nyonya, saya tidak bisa melakukannya." Victor menolak cepat.Disusul Elena, "Saya juga. I-itu tidak masuk akal." Bagi keduanya, berlutut di hadapan Jack adalah penghinaan paling hina. Di mata mereka Jack tidak lebih dari orang rendahan yang bahkan tidak layak untuk sekadar diajak duduk sejajar. Lantas, mengapa mereka mesti merendahkan diri di depan orang yang derajatnya jauh di bawah mereka?Tapi Daisy tidak mau ambil pusing. Dengan tegas dia berkata, "Terserah kalian. Yang harus kalian tahu adalah ini bukan penawaran, tapi perintah. Kalian sudah tahu risikonya jika melawan perintah Direktur." Victor dan Elena menelan ludah dengan susah payah. Daisy berdiri, "Waktu kalian hanya 15 menit. Pastikan kalian tidak menyia-nyiakannya." "Nyonya, tunggu... Nyonya..." Victor memanggil-manggil Daisy yang keluar ruangan. Tapi tidak digubris sama sekali.Dia duduk dengan frustrasi. Tuan Filantropi benar-benar membuatnya tertekan."Victor, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau minta maaf,
Victor dan Elena menjadi lebih tegang. Terlebih, mereka melihat ekspresi dingin yang ditunjukkan Daisy pasca menerima panggilan dari Tuan Filantropi. Entah akan seperti apa nasib mereka setelah ini. Mereka sampai tertunduk, tidak berani menegakkan kepala.Daisy mengepalkan tangannya. "Padahal sebelum ini, kalian bahkan mengancamku. Sekarang apa yang memberatkan kepala kalian hingga tidak berani melihatku?" Masih dengan kepala tertunduk, Victor berkata, "Saya sungguh menyesal, Nyonya. A-anda bisa meminta saya melakukan apa saja, asalkan saya tetap diizinkan berkunjung ke sini di kemudian hari untuk mengajukan proposal lagi." "Tidak sudi," sahutnya ketus. Bahkan jika bukan karena perintah Jack, Daisy pasti telah menampar dan mengusir keduanya sejak tadi. Namun, dia pikir, apa yang Jack inginkan akan membuat mereka lebih tertampar, bukan secara fisik, melainkan mental. "Tapi kalian beruntung," kata Daisy setelah duduk di hadapan Victor dan Elena.Victor dan Elena refleks menegakkan ke
Dengan ragu Daisy menuruti perintah Jack. Dia menyalakan laptop dan menghubungkannya ke proyektor. "Berikan ponsel anda. Aku akan memeriksa video itu untuk melihat apakah anda berbohong atau tidak." "Haha, apa anda kira saya sebodoh itu? Siapa bisa menjamin anda tidak akan menghapusnya. Tapi, ini bukan masalah besar. Saya akan mengirim video itu ke email anda." Daisy menggertakkan gigi. Dia ingin menampar mulut Victor, tapi dia tahan-tahan. "Sudah." Victor tersenyum. "Jangan lupa untuk menghubungkan laptop anda ke pengeras suara, supaya anda bisa mendengar percakapan di video itu dengan lebih jelas." Victor menoleh pada Elena yang tersenyum lebar. Dalam benak Victor sesumbar, 'Video itu tidak hanya akan membuat Tuan Filantropi menemuiku, tetapi juga akan memaksanya agar menerima proposal yang aku ajukan. Itu artinya, selangkah lagi, posisi CEO di EchoBuild Contruction akan jatuh ke tanganku!' Dia tersenyum licik.Daisy menahan napasnya ketika hendak menekan tombol 'play' pada vid
Elena mendengus kesal. Sudah cukup lama dia dan Victor menunggu, tapi Tuan Filantropi tidak juga datang menemui."Sebenarnya, seberapa dekat hubunganmu dengan Tuan Filantropi? Kenapa dia membiarkan kita menunggu begitu lama?" keluh Elena berwajah masam.Selain karena Elena merasa dongkol menunggu tanpa kepastian kapan Tuan Filantropi akan datang, sebenarnya dia memiliki niat busuk, yakni melanjutkan penghinaannya kepada Jack dan pacar barunya. Ia tidak terima karena belum membalas ucapan kurang ajar Emma tadi.Lebih dari itu, Elena yang begitu licik berharap bisa menemui Tuan Filantropi sebelum Emma menjalani tes wawancara. Dia ingin memengaruhi Direktur Redwave Group itu agar tidak menerima Emma di perusahaannya dengan merendahkan reputasinya, supaya si gadis miskin menyadari kesalahannya yang berani melawan wanita terhormat seperti Elena."Tenang, Sayang. Pasti saat ini Tuan Filantropi sedang menguji kita. Kamu tahu bahwa proyek kerjasama yang aku ajukan ini bernilai fantastis. Dia
Jack mengembangkan senyum. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku bertanya pada salah seorang karyawan yang kebetulan lewat tadi, khawatir kalau-kalau mendadak nanti merindukanmu, jadi aku bisa menyusulmu langsung." Emma menunduk sebentar, menyembunyikan senyum. Pipinya memerah. Suasana di dalam lift menjadi sedikit canggung. Emma seperti tidak bisa memulai obrolan lagi setelah mendengar ucapan manis dari Jack. Ia hanya mendorong helai rambutnya ke belakang telinga.Meski begitu, keduanya diliputi rasa bahagia. Bahkan kebersamaan sesaat di dalam lift itu terasa berharga. Sampai saat lift terbuka, Jack menggandeng tangan Emma, hendak menuntunnya menuju ruang wawancara.Emma pasrah mengikuti, biarpun ia bisa pergi sendiri mencari keberadaan ruang wawancara itu sesuai penjelasan resepsionis. Sepanjang langkah ia tidak henti-hentinya mengamati tangannya dalam genggaman tangan Jack yang kekar."Ini ruangannya. Baiklah, aku akan pergi melihat-lihat sekitar. Jika memerlukan apapun,
Jack diam. Walau dia tahu alasan orang-orang itu bersikap demikian, dia tidak bisa berterus terang. "Mungkin karena kamu sangat cantik," jawab Jack sambil menunjukkan barisan giginya yang putih.Emma mendengus. "Kamu mulai lagi." Ia lalu turut tersenyum, "Tapi ini bagus. Artinya, jika aku diterima bekerja di sini, aku berada di lingkungan orang-orang yang sangat menghargai dan menghormati orang lain.""Itu benar. Sekarang, fokus saja pada wawancaramu, dan berhenti memikirkan hal lain.""Kamu benar. Aku harus fokus agar kesempatan berharga ini tidak terlewat begitu saja.""Pergilah, aku akan menunggu di sini." Jack duduk di kursi.Emma merapatkan bibir. "Apa kamu yakin akan menungguku di lobi? Um, aku belum tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk interview. Aku khawatir membuatmu menunggu terlalu lama." Dia duduk di samping Jack.Dengan santai Jack menjawab, "Tidak masalah. Aku bisa berkeliling jika bosan.""Tapi...""Jangan cemas. Aku sudah dewasa. Aku tidak akan tersesat."Sebu







