LOGIN~ Pemenang Runner Up (Juara 2) Kompetisi 'Ini Bukan Cerita Dongeng' 2022 ~ Dibuang setelah kematian ibunya secara tragis, hidup Gallen bagai di neraka. Dia bertekad untuk sukses dan menghimpun kekuatan untuk balas dendam. "Lihat dan tunggu pembalasanku! Akan kutenggelamkan kalian semua hingga ke kerak bumi!" Dua puluh tahun kemudian, Gallen muncul di perusahaan keluarga ayahnya sebagai Malaikat Kematian dalam wujud seorang cleaning service. Selamat membaca! Yuk ramaikan kolom review dengan komentar! Ikuti juga IG @lathifahnur117
View More"Tolong! Jangan kau bunuh suamiku! Aku sedang hamil tua. Jika suamiku tiada, lalu bagaimana nasibku dan anakku nanti."
Seorang wanita yang tengah hamil tua, merangkak di bawah kaki seorang laki-laki yang sedang berdiri sembari menginjak dada suami wanita tersebut."Harnum, istriku," ucap laki-laki yang sedang sekarat tersebut.Wanita yang bernama Harnum itu beralih merangkak memeluk tubuh suaminya yang sudah berlumuran darah."Mas Reno, tolong bangun, Mas! Jangan tinggalkan aku." Harnum menangis seraya memeluk tubuh sang suami."Tuan, tolong jangan kau sakiti istriku dan anakku. Tolong kau lepaskan mereka," pinta Reno dengan penuh permohonan.Akan tetapi, laki-laki yang sedang menyiksanya itu bergeming. Laki-laki itu justru semakin menekan dada Reno."Uhuk! Uhuk!"Reno terbatuk-batuk dan batuk darah. Harnum langsung mengangkat kepala sang suami dan diletakkan di atas pahanya. Harnum membelai-belai kepala dan wajah Reno dengan berlinangan air mata."Harnum, Sayang, cepat kau pergi dari tempat ini, selamatkan dirimu dan anak kita!" titah Reno."Tidak, Mas. Aku tidak akan pergi kemanapun juga! Biarkan aku tetap di sini bersamamu. Kita akan mati bersama, Mas," ujar Harnum."Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Setidaknya kau pikirkan anak kita karena masa depannya masih panjang.Albern Barnard, laki-laki yang tengah menyiksa Reno tersebut semakin dibuat naik pitam melihat perlakuan dan cinta Reno yang begitu besar terhadap Harnum.'Aku tidak akan membiarkan istri dan anakmu hidup dengan tenang, laki-laki keparat! Jika kau mati maka istrimu yang akan aku jadikan bahan untuk pelampiasan dendamku,' batin Albern.Albern merogoh pinggangnya yang terdapat senjata, yaitu sebuah pistol yang berjenis SIG Sauer P226. Pistol yang berkekuatan dan berkualitas tinggi tersebut langsung diarahkan ke dada Reno."Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu pada suamiku! Lebih baik kau bunuh aku saja!" Harnum memeluk tubuh Reno dengan erat."Istriku, Sayang, tolong pergilah dari sini! Aku sangat mencintaimu dan buah cinta kita," ucap Reno dengan lirih."Tidak, Mas! Biarkan kita bertiga mati bersama!" sahut Harnum dengan tegas.Albern yang sedari tadi menahan emosinya langsung menendang tubuh Harnum hingga bergeser jauh. Harnum memekik menahan sakit di perutnya yang terasa kram.Dor! Dor! Dor!Suara tembakan sebanyak tiga kali menggema di ruangan kosong tersebut. Darah bercucuran keluar dari luka tembakan Reno hingga mengalir ke lantai. Harnum yang melihat pemandangan tersebut berteriak histeris."Maas Renoooo ..! Tidak ..! Mas, jangan tinggalkan aku, aku mohon!" Harnum meraung-raung seraya mengguncang-guncang tubuh Reno yang sudah tidak berkutik."Hahaha ... sekarang kau sudah berada di neraka, Reno! Seperti itulah yang dirasakan oleh Kakakku ketika ia mati bunuh diri akibat ulahmu!" teriak Albern.Telinga Harnum yang masih normal mendengar ucapan Albern tersebut. Ia langsung berdiri dan menghadap pada Albern. Matanya yang merah menatap nyalang dan penuh kebencian pada Albern.Plak! Plak!Harnum melayangkan tamparan pada wajah Albern. Albern merasa semakin emosi, ia mendorong tubuh Harnum hingga terjengkang."Aww! Perutku sakit sekali. Tolong ... tolong aku, s-sepertinya ... a-aku ... kontraksi. Aku akan melahirkan. Ahhh ... sakitt!! Tolong aku ...."Harnum memohon kepada Albern agar menolongnya, tetapi Albern seakan tuli, ia tidak menghiraukan permohonan Harnum. Ia melangkahkan kakinya menuju lantai atas dan meninggalkan Harnum serta mayat Reno.'Apa peduliku? Walaupun wanita itu serta anak di dalam kandungannya mati, aku tidak peduli. Biarkan mereka semua merasakan kesakitan dan penderitaan yang dulu dirasakan oleh Kakakku, Ameralda,' batin Albern."Mas Reno, suamiku. Perutku sakit sekali, Mas. Tolong aku dan anak kita," rintih Harnum.Darah semakin membanjiri lantai tersebut. Darah dari tubuh Reno dan juga darah yang keluar merembes dari pangkal paha Harnum. ***"Toloonnggg ...!"Harnum terus merintih dan meminta tolong kepada suaminya yang sudah menjadi mayat. Harnum juga berteriak meminta tolong pada Albern, tetapi Albern tidak mempedulikannya. Pria itu sudah naik ke lantai atas."Toloonngg ...!" Harnum kembali merintih.Darah sudah memenuhi lantai di ruangan rumah kosong tersebut. Kaki Harnum sudah berlumuran darah."Tolong! Perutku sakit sekali, aku sudah tidak kuat rasanya. Mas Reno, suamiku ...."Sementara itu di lantai atas, Albern terlihat sedang menghubungi seseorang. Setelah itu, ia menatap sebuah foto yang ada di dalam dompetnya."Kakak, aku sudah membalaskan dendammu kepada Reno, laki-laki yang telah menyakitimu dan mengkhianatimu sehingga membuatmu bunuh diri. Dan kini, wanita yang telah merebutnya darimu itu sudah berada dalam genggamanku. Aku akan menyiksa hidupnya," monolog Albern."Toloonnggg ...."Suara teriakan Harnum kembali terdengar.Albern yang tengah melamun, sontak terkejut mendengar suara teriakan Harnum. Ia bergegas menyimpan kembali foto sang kakak ke dalam dompetnya. Lalu setelah itu, ia bergegas turun ke lantai bawah.Albern melihat Harnum yang sudah lemas tidak berdaya. Wanita itu sudah tergolek dengan wajah yang pucat pasi karena kebanyakan mengeluarkan darah."Hey! Bangun! Apa kau ingin menyusul suamimu itu untuk masuk neraka bersama, hah!" teriak Albern sembari menendang tubuh Harnum.Akan tetapi, Harnum tidak bergerak sedikitpun. Albern yang melihat itu mengernyitkan keningnya. Dengan berat hati dan penuh keterpaksaan ia berjongkok dan memeriksa nadi Harnum.'Dia masih hidup, berarti dia hanya pingsan. Aahh ... kau menjadi urusanku saja, segala pingsan. Kau sangat merepotkan!' batinnya.Tidak berapa lama kemudian, para anak buah Albern datang. Mereka yang tadi Albern hubungi."King, mayat ini akan dibuang di mana?" tanya Rully—salah satu anak buah Albern."Kalian buang saja mayatnya itu di laut! Dan ingat! Jangan sampai perbuatan kalian itu terendus oleh polisi!" ucap Albern dengan tegas."Baik, King!" jawab semua anak buah Albern dengan kompak."King, biar aku saja yang membawa tubuh wanita ini." Rully berjongkok dan hendak menyentuh tubuh Harnum."Jangan berani-berani kau menyentuhnya! Jika tidak ingin aku remukkan tanganmu itu!" bentak Albern dengan tegas.Rully langsung beringsut mundur."Maaf, King," ujar Ruly."Lebih baik kau ajak mereka untuk membuang mayat itu! Dan ingat! jangan sampai terendus polisi!" imbuh Albern sekali lagi."Baik, King!"Rully dan teman-temannya itu langsung menggotong tubuh Reno yang sudah dimasukkan ke dalam kantong mayat. Mereka langsung membawa mayat Reno menuju mobil.Sementara Albern, ia kembali menatap tubuh Harnum. Dengan raut wajah yang sangat kesal. ia terpaksa membopong tubuh Harnum.'Ah, sialan! Tubuh wanita ini sangat berat sekali. Kau menyusahkanku saja, huh!' umpat Albern di dalam hati.Albern langsung meletakkan tubuh Harnum di kursi belakang mobil. Ia tidurkan tubuh yang tidak berdaya itu. Setelah itu, ia segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit terdekat.Tidak butuh waktu lama, akhirnya Albern telah sampai di rumah sakit. Dia langsung membopong tubuh Harnum menuju ke dalam rumah sakit.Tim medis yang melihat itu langsung berlari dan membawakan brankar untuk Harnum. Albern meletakkan tubuh Harnum di brankar tersebut. Tim medis itu langsung membawa Harnum menuju ruangan IGD karena keadaan Harnum yang sudah sangat kritis.Sementara Albern, ia hanya menatap ke arah Harnum dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah itu, ia berbalik arah untuk pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Namun, saat ia akan melangkah pergi, tiba-tiba dirinya dipanggil oleh seorang suster."Tuan, tunggu!" panggil suster tersebut. TO BE CONTINUED"Nyonya Bellona Hopkins?!" seru Gallen, kaget. "Tidak. Anda datang pada waktu yang tepat. Mari bergabung bersama keluargaku!""Iya, Nyonya. Ayo duduk sini!" Kimi menjemput Bellona."Terima kasih!" Bellona merasa terharu dengan sambutan Gallen dan keluarganya. "Sebenarnya, aku ke sini ingin minta maaf pada Gallen atas namaku dan juga Atha. Aku terlalu serakah dan mementingkan anakku.""Seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Itu bisa dimaklumi, Nyonya," sahut Gallen. "Kami juga minta maaf karena telah melaporkan Anda dengan beberapa tindak kejahatan yang tidak Anda lakukan."Wajah Gallen kecut, merasa bersalah."Itu bukan kesalahanmu sepenuhnya. Wanita berhati iblis itu yang sangat pandai menipu orang." Muka Bellona menggelap. "Kalau aku tahu Bibi Rose menggunakan wajahku untuk berbuat jahat, aku pasti telah lebih dulu menyeretnya ke penjara. Dia benar-benar licik!""Dia pasti mempelajari keterampilan make-up saat berada di Korea Selatan," timpal Kimi."Betul. Itu ar
Gallen melangkah gontai memasuki rumah. Ia melewati Grizelle yang duduk santai di ruang tengah begitu saja.Namun, ketika sudut matanya menangkap bayang Grizelle saat hendak menaiki tangga, ia berbalik.Tanpa malu-malu ia merebahkan diri dan meletakkan kepala di pangkuan Grizelle yang duduk berjuntai di atas sofa.Grizelle mengelus rambut Gallen yang jatuh ke kening."Kamu dari mana saja? Aku sangat khawatir. Teleponmu tidak aktif."Gallen merogoh saku, mengeluarkan ponsel. "Ck! Baterainya habis.""Sini! Kubantu mengisikan dayanya.""Nanti saja! Aku masih mau seperti ini." Gallen menaruh ponsel di atas meja, lalu melingkarkan lengan pada pinggang Grizelle.Saat hatinya sedang galau dan pikiran kacau, berbaring di pangkuan Grizelle bikin nyaman.Wangi vanila berpadu dengan aroma alami tubuh Grizelle menghadirkan perasaan tenang di hati Gallen.Setelah cukup lama menikmati kehangatan pangkuan Grizelle, Gallen bangkit. Mengecup kening Grizelle."Terima kasih. Bersamamu, aku selalu merasa
"Kenapa? Kaget? Hahaha ...."Wanita itu tak peduli dengan keberadaan polisi dan tangannya yang terbogol. Ia tertawa, seperti telah kehilangan kewarasannya.Gallen bukan hanya kaget, tapi syok. Tak menyangka orang yang selama ini dikenalnya begitu baik dan berada di pihaknya, ternyata merupakan dalang dari segala kemalangan yang menimpa keluarganya."Bibi Rose, katakan bahwa ini tidak benar!""Hahaha ... sayangnya, inilah kenyataannya."Gallen menggeleng-geleng. Masih sulit memercayai kebenaran yang terpampang di depan mata."Kenapa, Bi? Bukankah nenekku selalu memperlakukan Bibi dengan baik?"Gallen masih ingat, walaupun samar, neneknya tidak pernah memperlakukan Bibi Rose dengan kasar.Rianna bahkan memercayai Bibi Rose menjadi pelayan pribadinya. Neneknya bahkan tak pernah perhitungan dalam membelikan pakaian dan memenuhi kebutuhan Bibi Rose.Tapi lihat balasan yang diberikan wanita itu! Hanya pengkhianatan terhadap keluarganya."Baik? Cih! Nenekmu bahkan lebih licik dari seekor rub
"Bro, target memasuki perangkap. Kau ingin melihat langsung?""Aku sudah berada di lokasi. Di mana kau?"Gallen berdiri di belakang sebuah tiang besar, mengawasi seorang wanita yang baru saja turun dari mobil.Wanita itu memakai setelan tunik dan celana panjang yang terlihat modis. Sehelai masker dan kacamata hitam berbingkai lebar menutupi wajahnya yang lonjong.Sebuah topi bulat dengan hiasan sekuntum bunga teratai mekar meneduhi wajahnya yang tersembunyi dari terik matahari."Arah jam sembilan."Gallen mengerling ke titik yang disebutkan. Tampak bayangan Regan duduk di belakang roda kemudi, berlagak sedang membersihkan dashboard. Namun, matanya sering kali mengerling ke pintu gerbang."Aku pada titik jam satu."Pandangan keduanya segera bertemu begitu Gallen menutup panggilan telepon.Regan tersenyum seraya mengangguk ringan.Wanita itu telah memasuki lobi hotel. Regan mengikuti dari belakang layaknya juga seorang pengunjung.Gallen berjalan memutar. Memasuki hotel lewat pintu khusu
"Sepertinya kamu sedang dalam suasana hati yang sangat buruk hari ini," komentar Sandra, berusaha mengimbangi kecepatan langkah Grizelle. "Biar aku yang jadi juru bicara!""Terserah!"Grizelle menyahut acuh tak acuh. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Ia bukan tipe gadis yang baperan. T
Satu jam kemudian, di sebuah rumah tua, ponsel Falisha berdering nyaring. Falisha meraih benda pipih itu dengan gerakan malas. Dia baru saja pulang dari kampus. Tubuhnya sangat lelah. Seharusnya dia bisa pulang lebih awal kalau saja dosen yang mengajar mata kuliah terakhir tidak memundurkan jadwa
Zahari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak mengenal Gallen. Bagaimana mungkin dia bisa menghubungi keluarganya? Akan tetapi, dia tidak berani untuk memberitahu perawat galak itu tentang kenyataan yang sebenarnya. Melihat Zahari diam saja, perawat itu berlalu dengan raut muka t
“Menyelamatkan nyawa seseorang tidak perlu mempertimbangkan dia orang baik atau jahat. Itu tanggung jawab dia dengan Tuhan. Kita hanya perlu melakukan kewajiban kita sebagai sesama manusia.” Zahari mengelus kepala Bimo. “Percayalah! Tidak ada kebaikan yang sia-sia.” Meskipun Bimo












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore