Share

PDKI - 4

Penulis: Piki Chan
last update Tanggal publikasi: 2024-10-11 11:29:31

Kami bertiga duduk dan saling diam di ruang tengah. Bahkan televisi yang menyalapun hanya kami diamkan tanpa berniat untuk menontonnya.

Sudah jam delapan malam. Ibu juga belum ada kabar apakah akan pulang atau kembali menginap dirumah temannya tersebut.

"Rob, coba dong kamu telepon ibu. Ini udah malam lho!" Mungkin perintahku ini sudah terucap lebih dari lima kali. Bahkan raut Robi sekarang terlihat semakin kesal.

"Kamu kira dari tadi aku ngapain liatin ponsel sih?" gerutunya dengan suara pelan tapi masih tetap kudengar.

Amar yang berada ditengah kamipun juga nampak diam saja tanpa berkata sepatah katapun. Berkali-kali mengamatinya yang terlihat sibuk dengan angannya sendiri. Apa yang dilihatnya semalam di kamar Bobi sangat wajar jika membuatnya langsung kaget sampai mengalami demam.

"Aku tidur kamar bawah ajalah kak." Robi menepuk pundak Amar lalu mengangguk setuju. "Jangan dimatikan semua lampunya ya!" pintanya dan kembali dijawab Robi dengan anggukan.

"Kamu masuk kamar aja dulu, kita masih nunggu bude." Begitu Robi memerintahkan kepada Amar agar segera masuk kedalam kamarnya. Dan benar saja, tanpa harus diulangipun Amar dengan sigap menuruti perintah kakak sepupunya tersebut.

Berkali-kali melihat keponsel. Berharap Ibu akan memberi kabar. Tapi nampaknya harapanku tak terwujud sampai detik ini. Bahkan Robi pun tak berhenti untuk berusaha menghubungi ponsel ibu yang tak diangkat sama sekali.

Cukup lama berselang, hingga suara deru mobil didepan gerbang rumah membuat Robi sigap untuk bangkit.

Dia segera berjalan untuk menuju kedepan dan gegas membukakan gerbang agar mobil ibu bisa segera masuk garasi.

Aku memberi kode pada Robi untuk diam saja dan membiarkan ibu beristirahat.

Ibu hanya tersenyum saja saat memasuki rumah. Dan mengabaikan bagaimana kami semua begitu khawatir padanya.

Memastikan bahwa ibu sudah masuk kedalam kamar. Kami berduapun gegas untuk naik kelantai atas. Tak lupa melihat terlebih dahulu situasi kamar Bobi yang sudah kita bereskan tadi agar ibu tak curiga telah kami masuki.

"Ibu aneh banget ya?" Kali ini aku tak bisa diam saja. Lantas bertanya pada lelaki yang berbaring disebelahku.

"Apa ibu punya pacar ya?" Robi bertanya balik padaku. Ketika kutoleh, pandangannya lurus kearah langit-langit kamar. "Apa aku yang kurang peka sebagai anak? Tapi kenapa perasaanku justru gak tenang setelah tau sikap ibu sekarang ya?" Aku meraih tangannya untuk membelainya pelan.

Saat ini, bukan waktu yang tepat jika aku ikut mengomentari perubahan sikap ibu yang tak seperti biasanya.

"Coba diajak biacara baik-baik dulu lah Rob. Kita kan udah lama gak pulang rasanya gak pantes kalau ngatain ibu berubah. Karena yang tau kesehariannya sejak lama bukan kita." Robi mengangguk dan menoleh padaku. Kemudian tangannya terlepas dan berpindah kepipiku.

*

Ibu dan Robi sudah pergi ke ruko sejak tadi pagi. Sepertinya niatan ibu untuk meminta kami berdua pindah kerumah ini bukanlah main-main.

Bahkan dengan sangat jelas, ibu sudah meminta Robi untuk meneruskan usaha toko grosirnya saat ini. Itu artinya aku dan suamiku itu tak akan bisa kembali merantau di pulau sebelah seperti sebelumnya.

Rencana cuti yang diambil penuh itu pun mungkin akan berakhir dengan surat pengunduran dari dari Robi untuk perusahannya.

"Kak Nil, aku mau keluar sebentar ya?" Amar meminta izin padaku. Remaja itu sudah berdandan dengan sangat rapi. Bahkan bau harum parfumnya pun menyengat keseisi rumah.

"Ada duit gak?" Amar tersenyum dengan malu-malu dan kemudian mengangguk. Akupun tak tinggal diam dan segera mengambil uang dalam dompet yang kebetulan ku letakkan di atas lemari pendingin. "Jangan sore-sore ya. Takutnya kehujanan terus demam lagi!" Dia mengangguk pertanda mengerti.

"Aku udah izin bude buat bawa motornya kak Bobi." Dia langsung menuntun motor matic berukuran besar itu keluar dari rumah dan akupun dengan sigap langsung menutup gerbang setelah dia melajukan kendaraam tersebut.

Rumah sudah bersih, masakan juga sudah siap. Aku sendiri bingung untuk melakukan kegiatan apa lagi.

Sebenarnya ada dua ruangan yang belum aku bersihkan, kamar ibu dan kamar Bobi. Tapi ibu benar-benar melarangku untuk masuk ke kamarnya. Terbukti dari pintu yang selalu dikuncinya, sekalipun ibu berada dirumah.

Sedang untuk kamar Bobi, aku juga bingung bagaimana mebersihkannya. Karena jika ketahuan kamar tersebut bekas disapu dan dipell pasti akan membuat ibu semakin marah.

[Nil, coba kamu kirim foto petugas kebersihan yang ada di ponselmu!]

Pesan dari Robi baru saja masuk dan langsung kubuka. Tak perlu berfikir panjang, akupun langsung menurutinya dengan mengirim foto yang dia mau.

"Assalamualaikum!" Suara salam yang terdengar keras bersumber dari luar rumah membuatku langsung beranjak dan segera menghampiri asalnya.

"Waalaikumsalam," balasku seraya membuka gerbang, nampak dengan jelas dua pemuda dengan dandanan yang sangat rapi. "Cari siapa?"

"Benar rumahnya Bobi?" Aku mengangguk, menamati keduanya dari atas ke bawah, "Kami teman kuliahnya." Begitu jawab mereka.

Karena dirumah tak ada orang, dan aku sedikit ragu untuk mengajak mereka masuk. Akhirnya ku persilakan mereka untuk duduk diteras saja.

"Maaf, mbaknya ini siapanya Bobi?" Salah satu dari mereka langsung bertanya setelah duduk dikursi kayu yang memang berada didepan rumah.

"Saya kakak iparnya. Ada apa ya, Mas? Maaf nih sebelumnya, tapi kalian sudah tau kan kalau Bobi baru saja meninggal?" Mereka mengangguk secara bersamaan.

"Maka dari itu kami datang kesini, Mbak. Perkenalkan saya Reza dan ini Doni." Aku mengangguk saja. Sebenarnya tak terlalu penting bagiku untuk tahu nama keduanya. Lalu Reza menyenggol lengan Doni seperti memberi kode. Hingga Doni pun pagam dan segera membuka tas ranselnya.

"Maaf mbak, saat kejadian tersebut kami berdua sedang berada diluar kota. Jadi belum sempat untuk datang melayat dan berbela sungkawa." Doni berhenti sejenak, aku masih mengamati setiap gerakan dari keduanya yang kini saling melirik.

"Mas Reza dan mas Doni, jika ada masalah dengan Bobi saya harap segera sampaikan saja."

Lalu Doni kembali mengeluarkan sesuatu dari ranselnya tersebut. Sebuah kantong kresek berwarna merah yang kemudian dia letakkan dilantai.

"Ini adalah barang-barang milik Bobi yang ketinggalan di loker fakultas mbak." Bobi memang masih berstatus menjadi mahasiswa tingkat akhir saat meninggal. "Kebetulan sebelum meninggal dia nitip kunci loker pada saya karena ada buku yang mau saya pinjam dan dia minta untuk saya mengambilnya sendiri disana."

Aku mengamati keduanya secara bergantian.

"Maafkan kami berdua yang lancang membuka loker tanpa memberi tahu keluarga terlebih dahulu." Yang bernama Reza kembali bersuara. "Berhari-hari kami berdua kepikiran terus setelah membuka isi loker milik Bobi."

Aku mengehembuskan nafas dengan berat. Kemudian membuka kantong kresek tersebut. Isinya memang tak banyak tapi dari barang-barang tersebut membuatku semakin kebingungan tentang rahasia yang disembunyikan Bobi semasa hidupnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   TAMAT

    Langit di atas pemakaman sore itu tampak muram, seolah semesta pun enggan berhenti berduka. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bunga kamboja terasa menyesakkan dada. Aku berdiri di samping Robi yang bahunya masih bergetar hebat. Di bawah gundukan tanah yang masih merah itu, terkubur sesosok wanita luar biasa yang baru kami sadari keberaniannya setelah ia tiada. Ibu Salma."Nil, aku ini anak macam apa?" bisik Robi lirih. Suaranya pecah, tersapu angin sore. "Aku menghakimi Ibu, menganggapnya kejam karena kematian Bobi, sementara Ibu justru menyerahkan nyawanya untuk menghancurkan orang yang merusak adikku."Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku pada lengan suamiku. Tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka ini. Kehilangan dua orang tercinta dalam waktu kurang dari dua bulan adalah ujian yang nyaris membuat kami kehilangan kewarasan.Setelah para pelayat pulang, Tante Wanda mendekati kami dengan wajah sembap. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 61

    [Tante, Haryono sudah sepakat. Hari ini jangan ke mana-mana, ya. Di rumah saja.]Pesan dari Krisna pagi ini masih terpampang di layar ponsel. Namun, membacanya justru semakin menguatakan tekadku untuk melakukan apa yang sudah kupikirkan sejak semalam.Aku sudah bersiap, membawa mukena dan buku Yasin. Tanpa berpamitan pada Nilna maupun Robi, aku mengambil kunci motor Bobi. Motor itu sebenarnya masih baru dan jarang ia gunakan, tapi hari ini aku membutuhkannya.Saat baru saja keluar dari halaman rumah, suara seseorang menghentikanku.“Bu Salma, udah dandan cantik aja?”Cindy sedang menyapu halaman rumahnya. Aku menghentikan motor dan tersenyum padanya.“Gak masuk kerja, Cin?” tanyaku.Dia menggeleng lemas. “Sebentar lagi mau praktik magang, Bu. Makanya aku resign.”Aku mengangguk paham, lalu menyerahkan kantong plastik berisi beberapa gamis dan jilbab yang masih bagus.“Ka

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 60

    "Nilna sama Robi marah, Kris." Aku meletakkan secangkir teh hangat yang kupesan barusan setelah menyeduhnya.Bukannya terlihat simpati, dia justru tertawa dengan lirih. Lalu meletakkan ponselnya tepat di hadapanku."Haryono sepertinya tertarik. Tapi Aditama juga baru saja memberikan tanggapan." Aku justru mengerucutkan bibirku seolah kesal dengan keterlambatan Aditama."Terus, apakah Tante harus memberikan ini pada Aditama saja?""Tante tahu Wilona?" Aku mengangguk dengan ragu. Seingatku, Wilona adalah putri dari Aditama yang akan menikah dengan Ricard. "Dia baru saja bertemu dengan Nilna. Bagaimana kalau Tante juga ikut serta menyerangnya?""Tapi, Kris ....""Biarkan saja, setidaknya dia tak masuk kubangan oleh suami dan ayahnya sendiri." Sesaat jawaban dari Krisna membuatku terdiam.Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini, pasti sangat melelahkan. Terpaksa menumbuhkan rasa benci dari putra sulungku untuk tak membenci adiknya. Tap

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 59

    Aku hanya bisa diam saja saat Nilna mengajakku untuk pergi ke panti asuhan. Aku tahu maksud mereka ke sini. Tapi bagaimana dengan hatiku yang masih terus terbayang dengan Bobi?"Bu Salma, bukankah lebih baik mengatakan pada Mbak Nilna dan juga Mas Robi bahwa Ibu donatur pembangunan gedung yang tengah direnovasi?"Aku menggeleng pada wanita seusiaku yang sekarang menatap padaku. Lantas dengan cepat menggeleng padanya."Jangan ya, Bu. Biarkan saja mereka tak pernah tahu." Wanita ini semakin lekat menatapku dan kemudian membelai lembut pundakku. Tampak wajahnya menunjukkan raut kesedihan.Aku tahu, Nilna baru saja memeras Ricard untuk harga video yang sengaja kubiarkan tak terhapus di flashdisk kecil peninggalan Bobi.[Tan, bukannya ini alamat rumah Tante?]Krisna mengirimiku pesan saat aku baru saja tiba dan masuk ke dalam kamar. Keningku berkerut untuk memastikan bahwa alamat tersebut memang benar di sini."Ada apa, Kris?"

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 58

    "Akhirnya saya bisa juga ketemu sama Nilna." Krisna mengulas senyum saat aku mengunjunginya di klinik kecantikan."Benarkah?" Dia mengangguk. Kami berdua memang sempat bingung memikirkan cara agar Krisna bisa bertemu dengan Nilna dan Robi tanpa terlihat disengaja."Saya beli pembalut untuk Alex." Dia tertawa lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum getir. Entah kenapa setiap membahas pembalut, hatiku seolah tersayat karena mengingat Bobi."Alex positif herpes genital, sekarang sedang diusahakan untuk berobat ke luar negeri." Aku hanya bisa mengembuskan napas dengan keras.Padahal sudah banyak kasus tentang penyakit menular seperti ini, tapi kenapa juga masih banyak orang yang terjerumus dan seolah mengacuhkannya.Krisna lalu menyerahkan sebuah voucher diskon dari kliniknya untuk bisa digunakan oleh Nilna. Aku paham maksudnya sekarang."Tan, akhir pekan ada acara grand launching apartemen milik Haryono Corporation." Aku mas

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 57

    "Ibu, jangan tidur dulu. Kita bahas masalah yang tertunda." Robi mencoba mengingatkanku yang baru saja meletakkan bekas piringnya ke wastafel. Membuatku menghela napas panjang."Sekarang aja, Rob, Ibu juga sudah capek ini." Akhirnya aku pergi ke kamar untuk mengambil hasil pemeriksaan Bobi saat itu. Sesuai saran Krisna, aku sudah menyalinnya sebelum menyerahkannya kepada Robi kali ini."Rob, sekitar sebulan sebelum Bobi meninggal, Ibu mengantarnya periksa." Aku meletakkan map itu di atas meja dan langsung dibuka oleh Nilna."Granuloma Inguinale?" Robi membacanya dengan terbata-bata. "Apa ini, Bu?""Coba kamu cari di internet saja, Rob, Ibu kesusahan jika harus menjelaskannya." Aku masih memperhatikan dengan seksama saat mereka nampak terkejut dengan tatapan lurus ke ponselnya.Mataku membulat dan terperangah seolah tak percaya dengan apa yang kubaca di laman tersebut."Apa, Nil?" Robi nampak bertanya pada istrinya, Nilna."Pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status