Share

PDKI - 3

Penulis: Piki Chan
last update Tanggal publikasi: 2024-10-11 11:25:20

"Amar?" Kami bedua menyebutkan nama tersebut bersamaan. Bagaimana tidak terkejut, jika kamar yang sebelumnya kosong tiba-tiba terlihat sosok di atas ranjang.

"Biasa aja kenapa sih kak?" Sosok remaja berusia belasan tahun tersebut telihat santai saja di atas ranjang kamar Bobi tengah memainkan ponsel.

"Memangnya kapan kamu datang?" Aku bertanya seraya mendekat untuk duduk ditepian ranjangnya.

"Tadi sore. Tapi kalian berdua kayaknya lagi tidur. Kamar dikunci rapat tapi pintu depan dibiarin terbuka." Aku melirik ke arah Robi yang salah tingkah dan menahan senyumnya. Yah, namanya juga mengisi waktu senggang.

"Kan bisa ngirim Wa, ngabarin kalau kesini." Robi kini duduk di kursi yang berada dekat dengan ranjang. Matanya mulai melirik kebagian meja yang memang tertata begitu rapi sebagian barang milik Bobi.

"Bude minta aku nginep sini selama liburan sekolah, tapi..." Dia bangkit, dan melihat keseliling kamar.

"Apa?"

"Sebenarnya Bude melarangku masuk kamar Kak Bobi, tapi kamar bagian bawah yang biasa buat tamu dikunci." Aku menepuk jidatku. Memang kemarin siang sempat aku bersihkan seperti perintah ibu, dan lupa menguncinya hingga sore hari.

"Yaudah, mau pindah ke sana, nggak?" Aku menarik lengan sepupu Robi ini. Tapi dia menghempasnya pelan.

"Udah terlanjur malas aku buat pindah tempat. Lagian enak disini ada tv nya juga." Dia tertawa dengan lirih. Membuat Robi langsung menonyor kepalanya pelan.

"Kalau lapar langsung ke dapur ya. Ada makanan yang masih anget di atas kompor." Aku lalu menarik lengan Robi untuk keluar kamar. Sedangkan anak itu hanya mengangguk malas dan kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

*

Amar nampak diam saja dan duduk disofa ruang tengah. Pandangannya terlihat kosong sejak aku memulai masak pagi ini.

Sedang Robi sudah bergegas untuk pergi ke ruko karena ibu memintanya mengawasi pegawai pagi ini. Entahlah, apakah ibu tak akan pulang lagi hari ini.

"Mar, ayoh makan!" Perintahku. Tapi remaja tersebut hanya menoleh padaku dan kemudian menggeleng dengan pelan.

Lantas aku duduk disebelahnya. Bahkan ponsel yang dia letakkan itu dibiarkan menyala dan tengah menampilkan layar yang tengah memutar video musik dari salah satu situs menonton video.

"Mar, kenapa?" Aku yang mulai khawatir akan sikapnya pun berusaha menanyakan langsung padanya. Ku pegang keningnya yang ternyata terasa panas. "Ya Allah Mar, kamu demam."

Dengan sangat khawatir akupun segera membuatkannya teh panas. Kemudian menyendokkan sepiring nasi diatas piring dan dengan cepat membawanya ke tempat Ammar duduk.

"Kak Nil, jangan bilangin mama kalau aku sakit ya." Aku mengangguk pelan. Dan menyodorkan gelas berisi teh hangat itu agar dia segera meminumnya.

"Tapi makan dulu, habis itu kamu minum obat. Biar nanti pas bude datang demammu udah reda." Dia mengangguk dan menuruti apa yang aku perintahkan.

Aku masih menungguinya dan melihat Amar yang walaupun sedikit gemetar tetap memaksa untuk makan.

Hinga tak berselang lama, Amar menyudahinya dan akupun membereskan sisa makannya. Tak lupa memberinya obat penurun panas agar segera diminumnya.

"Istirahat di kamar dulu aja Mar. Nanti biar kak Nilna minta kak Robi untuk bawakanmu makanan." Baru saja aku akan bangkit, tapi Amar menarik lenganku dan menahanku untuk pergi.

"Aku gak mau tidur kamar kak Bobi lagi kak."

*

"Amar masih tidur Nil?" Robi datang menenteng beberapa kantong plastik berwarna putih. Aku lantas menggerakkan kepala sebagai tanda menunjukkan dimana posisinya sekarang. "Kok dibiarin tidur di sofa sih?"

Robi menunjukkan sikap cukup kesal padaku. Tapi aku biarkan saja hingga dia duduk di kursi meja makan menungguiku yang membereskan sisa masak pagi tadi.

"Dia gak mau tidur kamar." Aku pun segera mengambilkan minuman dingin dari lemari pendingin dan kemudian meletakkannya di depan Robi.

Terlihat sekali saat Robi mengerutkan keningnya, menanggapi atas jawabanku akan pertanyaannya.

"Dia kayak ketakutan sih Rob. Tapi aku gak berani nanya." Robi kemudian menoleh ke belakang untuk melihat dimana Amar tidur. Memang sangat terlihat lelap sekali.

"Jangan-jangan dia diteror hantunya Bobi?" Aku lantas menepuk lengannya cukup keras hingga ia merasa kesakitan. "Lagian, kenapa semalam disuruh pindah kamar aja gak mau."

Selagi Robi menikmati minuman dinginnya, akupun segera mengeluarkan makanan berupa roti dan cake yang dibawanya tadi.

*

Sepertinya Amar sudah sehat, terlihat dari raut wajahnya yang sudah tak sepucat tadi pagi. Tapi walaupun begitu, aku masih memaksanya untuk meminum obat agar tidak demam lagi.

"Apa aku perlu demam tiap ke sini ya biar dibeliin makanan enak begini." Dia tertawa dengan sangat keras. Tapi sejurus kemudian Robi langsung mengetuk kepalanya dengan sendok bekas mengaduk teh.

"Mau demam aja pakai acara menumpang ke sini." Kesal Robi yang diabaikan oleh Amar.

Melihat Amar yang sudah cukup tenang, hasrat ingin tahuku langsung melonjak dan ingin sekali segera bertanya kenapa alasan dia yang tak mau tidur kamar Bobi lagi.

"Tapi kak Nilna penasaran. Memangnya semalam kamu lihat hantu ya?" Mendengar pertanyaanku, Amar langsung meletakkan cake yang awalnya dia pegang. Ekspresinya langsung berubah dan membuatku cukup takut.

"Eh, kak Nilna cuma bercanda Mar," ucapku seraya mendekat padanya dan mengusap pundaknya pelan. Terlihat sekali dia berusaha tenang, ditandai dengan menghembuskan nafasnya berat.

"Bukan hantu sih kak. Aku cuma kaget aja pas semalam di kamar kak Bobi." Kali ini bukan hanya aku yang menanggapinya dengan antusias. Bahkan Bobi pun segera meletakkan cangkir teh yang sebelumnya dia seduh untuk kemudian mendekatkan duduknya di dekat Amar.

"Selagi bude belum datang, coba kamu kasih tau kakak." Sepertinya Robi memang sangat penasaran.

"Tapi janji ya kakak nggak marah karena aku lancang buka-buka laci dan lemari kak Bobi." Robi pun mengangguk dengan sangat mantap. Sepertinya apa yang tengah dipikirkan Robi pun sama dengan apa yang terlintas dipikiranku.

Sekali lagi, aku melihat Amar yang menghembuskan nafasnya dengan sangat berat. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan kemudian menarik tangan suamiku untuk berjalan mengikutinya.

Kami bertiga berjalan menuju lantai atas di mana kamar Bobi berada. Saling diam dengan pikiran yang saling berkecamuk di kepala masing-masing.

Amar berhenti ketika kami sudah sampai depan kamar. Memang tak terkunci tapi pintunya tertutup rapat hingga Robi membukanya.

"Maaf ya kak, aku belum sempat membersihkannya karena langsung pergi dari kamar tadi." Aku mengangguk pelan dan menepuk pundaknya lagi.

Lantas Amar mengajak kami berdua untuk mendekat pada salah satu laci yang letaknya berada di bawah layar televisi.

Dia memberi kode pada Robi untuk membuka laci tersebut. Sedangkan dia segera menyalakan layar televisi tersebut sehingga terlihat jelas tampilan dari layar lebar tersebut.

"Astaga!" Mulutku menganga seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ku lihat di layar tersebut.

(Sebenarnya rahasia apa yang berada di kamar Bobi? Dan benarkah semuanya berkaitan dengan sikap aneh mertua Nilna?)

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Marvi Lena
semakin dibaca semakin penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   TAMAT

    Langit di atas pemakaman sore itu tampak muram, seolah semesta pun enggan berhenti berduka. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bunga kamboja terasa menyesakkan dada. Aku berdiri di samping Robi yang bahunya masih bergetar hebat. Di bawah gundukan tanah yang masih merah itu, terkubur sesosok wanita luar biasa yang baru kami sadari keberaniannya setelah ia tiada. Ibu Salma."Nil, aku ini anak macam apa?" bisik Robi lirih. Suaranya pecah, tersapu angin sore. "Aku menghakimi Ibu, menganggapnya kejam karena kematian Bobi, sementara Ibu justru menyerahkan nyawanya untuk menghancurkan orang yang merusak adikku."Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku pada lengan suamiku. Tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka ini. Kehilangan dua orang tercinta dalam waktu kurang dari dua bulan adalah ujian yang nyaris membuat kami kehilangan kewarasan.Setelah para pelayat pulang, Tante Wanda mendekati kami dengan wajah sembap. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 61

    [Tante, Haryono sudah sepakat. Hari ini jangan ke mana-mana, ya. Di rumah saja.]Pesan dari Krisna pagi ini masih terpampang di layar ponsel. Namun, membacanya justru semakin menguatakan tekadku untuk melakukan apa yang sudah kupikirkan sejak semalam.Aku sudah bersiap, membawa mukena dan buku Yasin. Tanpa berpamitan pada Nilna maupun Robi, aku mengambil kunci motor Bobi. Motor itu sebenarnya masih baru dan jarang ia gunakan, tapi hari ini aku membutuhkannya.Saat baru saja keluar dari halaman rumah, suara seseorang menghentikanku.“Bu Salma, udah dandan cantik aja?”Cindy sedang menyapu halaman rumahnya. Aku menghentikan motor dan tersenyum padanya.“Gak masuk kerja, Cin?” tanyaku.Dia menggeleng lemas. “Sebentar lagi mau praktik magang, Bu. Makanya aku resign.”Aku mengangguk paham, lalu menyerahkan kantong plastik berisi beberapa gamis dan jilbab yang masih bagus.“Ka

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 60

    "Nilna sama Robi marah, Kris." Aku meletakkan secangkir teh hangat yang kupesan barusan setelah menyeduhnya.Bukannya terlihat simpati, dia justru tertawa dengan lirih. Lalu meletakkan ponselnya tepat di hadapanku."Haryono sepertinya tertarik. Tapi Aditama juga baru saja memberikan tanggapan." Aku justru mengerucutkan bibirku seolah kesal dengan keterlambatan Aditama."Terus, apakah Tante harus memberikan ini pada Aditama saja?""Tante tahu Wilona?" Aku mengangguk dengan ragu. Seingatku, Wilona adalah putri dari Aditama yang akan menikah dengan Ricard. "Dia baru saja bertemu dengan Nilna. Bagaimana kalau Tante juga ikut serta menyerangnya?""Tapi, Kris ....""Biarkan saja, setidaknya dia tak masuk kubangan oleh suami dan ayahnya sendiri." Sesaat jawaban dari Krisna membuatku terdiam.Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini, pasti sangat melelahkan. Terpaksa menumbuhkan rasa benci dari putra sulungku untuk tak membenci adiknya. Tap

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 59

    Aku hanya bisa diam saja saat Nilna mengajakku untuk pergi ke panti asuhan. Aku tahu maksud mereka ke sini. Tapi bagaimana dengan hatiku yang masih terus terbayang dengan Bobi?"Bu Salma, bukankah lebih baik mengatakan pada Mbak Nilna dan juga Mas Robi bahwa Ibu donatur pembangunan gedung yang tengah direnovasi?"Aku menggeleng pada wanita seusiaku yang sekarang menatap padaku. Lantas dengan cepat menggeleng padanya."Jangan ya, Bu. Biarkan saja mereka tak pernah tahu." Wanita ini semakin lekat menatapku dan kemudian membelai lembut pundakku. Tampak wajahnya menunjukkan raut kesedihan.Aku tahu, Nilna baru saja memeras Ricard untuk harga video yang sengaja kubiarkan tak terhapus di flashdisk kecil peninggalan Bobi.[Tan, bukannya ini alamat rumah Tante?]Krisna mengirimiku pesan saat aku baru saja tiba dan masuk ke dalam kamar. Keningku berkerut untuk memastikan bahwa alamat tersebut memang benar di sini."Ada apa, Kris?"

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 58

    "Akhirnya saya bisa juga ketemu sama Nilna." Krisna mengulas senyum saat aku mengunjunginya di klinik kecantikan."Benarkah?" Dia mengangguk. Kami berdua memang sempat bingung memikirkan cara agar Krisna bisa bertemu dengan Nilna dan Robi tanpa terlihat disengaja."Saya beli pembalut untuk Alex." Dia tertawa lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum getir. Entah kenapa setiap membahas pembalut, hatiku seolah tersayat karena mengingat Bobi."Alex positif herpes genital, sekarang sedang diusahakan untuk berobat ke luar negeri." Aku hanya bisa mengembuskan napas dengan keras.Padahal sudah banyak kasus tentang penyakit menular seperti ini, tapi kenapa juga masih banyak orang yang terjerumus dan seolah mengacuhkannya.Krisna lalu menyerahkan sebuah voucher diskon dari kliniknya untuk bisa digunakan oleh Nilna. Aku paham maksudnya sekarang."Tan, akhir pekan ada acara grand launching apartemen milik Haryono Corporation." Aku mas

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 57

    "Ibu, jangan tidur dulu. Kita bahas masalah yang tertunda." Robi mencoba mengingatkanku yang baru saja meletakkan bekas piringnya ke wastafel. Membuatku menghela napas panjang."Sekarang aja, Rob, Ibu juga sudah capek ini." Akhirnya aku pergi ke kamar untuk mengambil hasil pemeriksaan Bobi saat itu. Sesuai saran Krisna, aku sudah menyalinnya sebelum menyerahkannya kepada Robi kali ini."Rob, sekitar sebulan sebelum Bobi meninggal, Ibu mengantarnya periksa." Aku meletakkan map itu di atas meja dan langsung dibuka oleh Nilna."Granuloma Inguinale?" Robi membacanya dengan terbata-bata. "Apa ini, Bu?""Coba kamu cari di internet saja, Rob, Ibu kesusahan jika harus menjelaskannya." Aku masih memperhatikan dengan seksama saat mereka nampak terkejut dengan tatapan lurus ke ponselnya.Mataku membulat dan terperangah seolah tak percaya dengan apa yang kubaca di laman tersebut."Apa, Nil?" Robi nampak bertanya pada istrinya, Nilna."Pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status