Chapter: PDKI - 46Aku langsung berlari menuju kamar Bobi. Untung saja, aku masih menyimpan kunci cadangan sehingga memudahkanku untuk masuk tanpa menunggu Bobi.Kamar Bobi sangat wangi sekali, bahkan semuanya tertata dengan rapi. Aku lantas berjalan menuju laci yang ada di sebelah kasurnya.Mataku menyipit saat mendapati banyak sekali benda-benda yang sangat asing. Entah digunakan apa barang-barang ini olehnya? Tapi ada yang sangat lentur dan bergerak, yang membuatku heran adalah, benda tersebut hampir mirip dengan bentuk kelamin pria."Memangnya ada mata kuliah yang menggunakan benda ini? Kalaupun ada pun sangat tidak sinkron dengan jurusan yang diambilnya."Kukembalikan lagi benda-benda tersebut. Lalu berjalan menuju rak susun di bawah televisi yang tertempel di dinding.Aku terperangah dengan mata membelalak. Di dalam lacinya terdapat deretan kaset CD dengan gambar yang sangat tidak pantas untuk dilihat anak di bawah umur."Ya Allah, Bobi ngoleksi ini buat
Terakhir Diperbarui: 2026-04-16
Chapter: PDKI - 45-POV IBU-"Gel pelumas?" Aku membaca setiap huruf yang tertera dalam kemasan berbentuk tube berwarna biru tersebut."Bu, ini kepunyaanku." Bobi langsung menyambar barang tersebut dan segera memasukkannya ke dalam saku jaketnya."Itu buat apa?" Dia nampak kebingungan, membuatku langsung menyipitkan mata untuk memperhatikannya. "Ibu nyuruh kamu beli sabun wajah lho, Bob, itu produk baru bukan?""Ah, ini skincare saja, Bu. Urusan anak muda. Lagian punya Ibu sudah Bobi belikan." Dia berkata demikian dan membuatku mengangguk pertanda paham. Memang di usiaku sekarang, aku sangat ketinggalan zaman untuk urusan yang berkaitan dengan anak muda."Ya sudah, masih ada kembaliannya gak?" Bobi nampak mengangguk lalu tangannya bergerak untuk merogoh sesuatu di saku celananya. "Buat kamu saja, nanti Ibu beliin cilok di dekat kampus ya.""Kalau masih ada ya, Bu," ucapnya dengan senyum mengembang. Bobi termasuk anak yang pendia
Terakhir Diperbarui: 2026-04-16
Chapter: PDKI - 44Aku masih terduduk di pinggiran pusara dengan nisan bertuliskan Salma binti Sofyan."Nil, aku bahkan masih belum meminta maaf pada Ibu." Aku menangis lagi dengan keras. Robi juga menunduk dengan air mata yang masih terus mengalir sampai ke tanah yang masih basah itu.Dengan ringkih, kami berdua berjalan diiringi Tante Wanda dan juga Om Pras. Sedang Ibu, dia harus terdiam kaku di bawah gundukan tanah itu menyaksikan kepergian kami semuanya."Rob, makan dulu!" Aku masih merayunya saat kami sudah sampai ke rumah. Dia hanya menggeleng dengan pelan."Bahkan di sisa akhir hidup Ibu, aku belum bertanya apakah dia sudah makan belum, Nil." Sangat terlihat sekali penyesalannya atas kepergian Ibu. "Belum kering benar makam adikku, lalu sekarang aku harus merelakan ibuku juga. Aku sudah tak punya siapa pun lagi.""Lalu aku siapamu, Rob?" tanyaku dengan tegas. Aku tahu bahwa dia sedang bersedih kali ini. Tapi haruskah dia melupakan bahwa aku masih di sini dan s
Terakhir Diperbarui: 2026-04-15
Chapter: PDKI - 43"Tak perlu, tanpa kamu memberi tahu pun aku sudah lebih duluan mengetahuinya." Robi bangkit dari tempat duduknya. Dia menarik lenganku dan kemudian mengajakku untuk keluar dari ruangan."Mas Robi yakin sudah tahu? Lantas kenapa diam saja? Apa karena Mas Robi bingung saat mengetahui bahwa risikonya adalah harus memenjarakan Ibu sendiri?" Mataku membulat seolah tak percaya dengan apa yang Ricard katakan saat ini.Aku menoleh pada Robi yang masih mematung. Dia hanya menunjukkan senyum di ujung bibirnya."Seperti yang sudah kuingatkan tadi, jangan coba-coba mencampuri lagi urusan keluargaku. Atau kamu akan tahu bagaimana orang yang selama ini diam menjadi muak dan berusaha membalasnya." Bisa kulihat bibir Ricard bergetar seolah ingin berkata sesuatu tapi tak bisa untuk diungkapkan.Aku menurut saja saat Robi menarikku berjalan dengan cepat, bahkan saat Cindy menyapa pun aku tak bisa menjawabnya karena Robi sepertinya sudah di ujung kesabarannya."Rob!"
Terakhir Diperbarui: 2026-04-15
Chapter: PDKI - 42"Maafin Ibu ya, Nil." Ibu masih saja merasa tak enak padahal kita sudah sampai rumah. Aku hanya mengangguk dan menguar senyum."Bu, aku tadi makan kok. Gak usah dibahas lagi dong!" Tawaku sengaja kubuat sekeras mungkin, agar dia tak merasa bersalah lagi."Yakin?""Udah, Bu." Aku menenangkannya lagi setelah kita sudah beres menata belanjaan yang sengaja dibeli di swalayan saat pulang tadi."Sebagai gantinya, Ibu besok akan masak spesial buat kamu." Aku mengacungkan dua jempol untuknya. Setelah memastikan bahwa aku benar-benar tak mempermasalahkannya, Ibu pun masuk ke dalam kamarnya.Sedang aku menyusul ke kamar, karena Robi sudah lebih dulu masuk sejak tadi."Ricard ngajak ketemuan nih. Kayaknya dia tahu kalau aku bertemu dengan Wilona." Kini Robi bangkit dari tempat pembaringannya."Dia mengancammu?" Aku hanya memanyunkan bibirku. "Besok aku antar!" Mengangguk setuju dengan permintaannya.Semalaman ini, aku jelas tak bisa tidur
Terakhir Diperbarui: 2026-04-15
Chapter: PDKI - 41"Memangnya kamu enggak?" tanyaku balik yang hanya dia tanggapi dengan melihatku lebih serius."Motor yang digunakan Bobi adalah motor yang biasa Ibu gunakan untuk ke ruko. Memangnya kapan Ricard bisa menyabotase remnya?" Telunjuknya bergerak pada keningku. Aku lantas memutar bola mataku jengah."Dengan halus kamu menuduh Ibu." Dia lalu terdiam. "Securiganya aku sama Ibu, aku gak sampai hati menuduhnya lho, Rob. Memang ada seorang ibu yang rela membuat anaknya celaka bahkan sampai meninggal?"Robi tak menanggapi lagi. Dia lantas berbaring dan segera memejamkan matanya. Sedang aku masih menahan gejolak batin antara mau percaya atau justru menyetujui kecurigaan Robi.*Sebelum mengantar Bude dan Pakde ke pangkalan bus antarprovinsi, kami terlebih dahulu pergi ke makam Bobi.Beberapa waktu tak ke sini, sudah sangat berbeda. Rumputnya sudah tertata rapi, bahkan batu nisannya juga sudah diganti menjadi bentuk persegi dengan tulisan berwarna keemas
Terakhir Diperbarui: 2026-04-14
Chapter: bab 19"Sel apakah kau masih takut denganku?" Aku hanya diam saja mendengar pertanyaan yang keluar darinya. "Sel, masih seramkah aku untukmu?" Aku menggeleng dengan lambat, senyum yang awalnya mengembang berubah raut sedikit kaku. Apakah lelaki ini akan marah lagi?"Tuan..." Tuan Marcell menggeser duduknya untuk menjauh dariku, entah kenapa aku justru merasakan desiran yang begitu menghujam perasaanku. "Maksudku bukan begitu." Nafasnya terdengar berat, wajahnya dipalingkannya tanpa melihatku. Aku yang masih memaku ditempatku ini mulai merasakan ketakutan bila lelaki ini akan memunculkan sifat tempramentalnya. Tanganku saling bertemu diatas pangkuanku, mencoba mempersiapkan diri untuk menyambut keadaan bilamana tuan Marcell benar-benar akan marah padaku. "Sel, aku tak tau bagaimana caranya membuatmu tak takut lagi. Tapi selama kamu masih tinggal disisiku selama itu pula aku akan berusaha untuk menaklukkan amarahku." Tuan Marcell mendekat lagi
Terakhir Diperbarui: 2022-10-02
Chapter: bab 18*"Hei!" Teriak pemuda yang sepertinya ku temui beberapa hari lalu. Aku hanya menoleh kemudian kembali melanjutkan jalanku dan memilih untuk mengabaikannya saja. Baru saja beberapa langkah saja, tangan itu sudah berhasil menarikku untuk ikut duduk ditempat yang biasa kugunakam untuk melepas penat. "Kenapa?" Aku mencoba melepaskan eratannya, pemuda bermata biru itu hanya memaku didepanku dan belum mengucapkan sepatah katapun. "Kenapaaaa?" Aku menggeram. "Anggap saja ucapan terimakasih." Dia memberikan sebatang coklat seperti yang biasa dibeli teman-temanku. Melihat dia pergi aku membiarkannya saja, karena pandanganku kini hanya berfokus pada coklat yang sepertinya sangat enak sekali. Sudah lama aku ingin memakan voklat ini, tapi selalu alasan uang yang membuatku tak bisa merealisasikan keinginanku sendiri. Setelah memghabiskannya aku segera pulang, berjlana dengan riangnya menuju rumah bibi yang berjarak tak cukup jauh dari lapangan ini.
Terakhir Diperbarui: 2022-10-01
Chapter: bab 17Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya. "Tuan tak akan meninggalkanku ditengah jalan lagi kan?" Mengingat kejadian kapan lalu saat dia meninggalkanku dipinggiran laut yang jauh dari rumah. Tuan Marcell menggeleng lalu membelai ujung kepalaku, sungguh hangat sekali sikapnya yang membuatku mengembangkan senyum untuknya. Nampak tuan Marcell melirik kearah arloji dipergelangan tangannya, aku hanya diam saja seraya mengamati sekitar. "Selena?" Suara dari sosok lelaki yang sempat kutemui diswalayan waktu itu. Menyadari kehadiran Mattew, tuan Marcell gegas mendekatkan posisi duduknya untuk lebih mendekat. "Dengan siapa Matt?" Mencoba berbasa-basi dengan mengamati gerak gerik tuan Marcell yang masih bersikap biasa. "Bersama temanku, oh ya semua teman sekelas kaget ketika aku memberi kabar bahwa kamu sudah menikah dan tinggal sekota denganku." Aku menelan saliva yang terasa berat, seandainya bisa saja kukatakan bahwa lelaki disebelahku ini bukanla
Terakhir Diperbarui: 2022-10-01
Chapter: bab 16Tuan Marcell hanya memandangku dengan lekat, manik matanya yang kebiruan terlihat jelas bahkan rahangnya yang biasanya mengeras itu nampak begitu tegas. Aku bisa merasakan degup jantungku sendiri yang tak beraturan."Sel?" Aku menelan saliva mendengar suara seraknya. "Bolehkah aku menciummu?" Tanpa bisa menjawab pertanyaannya langsung menutup mataku seolah memberi kesempatan padanya. Sosok itu sudah menempelkan bibirnya pada bibirku. Fikiranku sudah berkelana dan membayangkan lebih tapi nyatanya dia langsung menarik bibirnya lagi. Ketika kubuka mata untuk melihatnya sudah beranjak didepan jendela memandang kearah laut. Aku mendecah kesal. Apalagi yang akan kuperbuat kali ini, menuruti kekecewaan dengan melanjutkan membersihkan ranjang yang masih belum kubereskan. "Sel." Kembali dia mendekat, dengan cepat aku langsung menarik selimut yang akan ku lipat tadinya. Memasang badan untuk berbaring diranjang dan menutup selimut sampai batas wajahku. Takku pedulikan lagi panggilannya. Tuan
Terakhir Diperbarui: 2022-08-03
Chapter: bab 15Malam ini tidak berbeda dengan malamku sebelumnya yang masih saja berselimut ketakutan. Memakan sisa camilan tadi siang yang diantar Vika, biasanya dia sudah mengantar makan malamku tapi malam ini apakah dia terlupa? Sesekali menengok kearah pintu, takut bila tuan Marcell masuk dan entah apa yang akan dia lakukan padaku. "Sel." Suara serak khasnya yang membuka pintu bersamaan dengan Vika dibelakangnya membawa nampan yang sudah kutunggu sedari tadi. Setelahnya Vika langsung keluar kamar membawa bekas gelas kotor siang tadi. Tuan Marcell menata dua piring hidangan lengkap dimeja makan lalu menarikku agar duduk disebelahnya. Aku hanya menurutinya saja agar tak perlu memancing emosinya. "Habiskan makananmu." Tanpa disuruhpun pasti akan kuhabiskan makanan dihadapanku ini. "Sel." Panggilnya yang membuatku terpaksa menoleh. "Iya tuan?" Aku menatap kearahnya yang menunjukkan lukanya yang sudah berganti perban baru. "Tanganku masih sakit, tolong suapi aku." Aku melotot kearahnya tapi sek
Terakhir Diperbarui: 2022-07-15
Chapter: bab 14"Tuan!" Aku berteriak kala dia menghores luka ketangannya, mengambil tissue yang ada didasboard mobilnya dan menekan lukanya dengan cepat. "Apa yang anda lakukan?" Bukannya sebuah jawaban yang ku dapati malah sebuah senyum yang mengembang. Untuk saat ini hanya bisa membersihkan lukanya menggunakan tissue yang ada. "Kau mencemaskanku?" Dia bersuara, mencekal tanganku yang masih berusaha menekan luka dengan tissue. "Tuan ini kenapa sih?" Aku malah membentaknya tak peduli dengannya yang mungkin akan marah setelah ini. "Apakah hobi anda memang menyakiti orang lain dan diri sendiri?" "Anggap saja ini perjanjian, sekali aku menyakitimu saat itu pula aku akan menyakiti diriku sendiri." Aku menoleh lagi kearahnya. *Sekembalinya kami kerumah ini, aku masih mendiamkannya walau sesekali merasa khawatir dengan luka ditangannya. Sepertinya tuan Marcell memang sudah gila. Kembali ke kamar, melepaskan beberapa aksesoris yang terpasang sebagai pelengkap penampilanku tadi. Toerdengar suara pint
Terakhir Diperbarui: 2022-07-11
Chapter: dua duaAku membalikkan tubuhku agar tidak merasakan api cemburu lagi. Aku ingin meninggalkan mereka berdua pergi sejenak, karena kini aku justru merasakan tenggorokanku yang kering. Nyatanya aku tak seberani itu menanggung resiko. Bukankah lebih baik memberi waktu pada mereka saja.Melihat mereka membuatku kehilangan kepercayaan diri. Mungkin, Jean akan merasa lebih baik saat mengobrol dengan teman lamanya.Kuambil sebotol air yang berada di dalam lemari pendingin dan menuangkannya di gelas, meneguknya hingga tandas. Padahal niatku pulang untuk bisa mengobrol serius dengan Jean tapi sepertinya masa lalu masih jadi pemenangnya. Tanpa terasa aku justru tertawa merutuki kebodohanku. Tahu begini, lebih baik aku tetap dikantor saja atau lebih baik pergi ke kafe Aditya."Mas Gara?" Mbok Wati terlihat kaget. Aku lantas tersenyum kearahnya. "Mbak Jean...""Itu puddingnya? Bisa mbok suguhkan sebagian untuk tamu Jean juga." Mbok Wati menurut dan bergegas
Terakhir Diperbarui: 2024-07-03
Chapter: dua satuSejak pertengkaran kami, aku, mulai menahan diri untuk menunjukkan perhatianku kepada Jean. Setiap kali melihatnya, hatiku merasa sakit. Jean juga masih tetap saja, dia tidak mau berbicara denganku. Kami seperti dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Malam itu, saat makan malam bersama, Jean malah memilih untuk makan di kamar. Aku hanya bisa menatapnya pergi, membawa piring makanannya. Hatiku merasa berat. Kami biasanya selalu makan bersama, sekalipun hanya saling diam tapi setidaknya tak harus seperti ini. Namun sekarang, semuanya berubah. Aku merindukan kebiasaan yang sebelumnya, kebersamaan yang biasa ku nikmati walaupun mungkin tidak untuk Jean. Namun, aku tahu bahwa aku harus memberi Jean ruang untuk sendiri kali ini. Mungkin pula dia membutuhkan waktu untuk merenung dan menenangkan pikirannya. Meski begitu, aku tidak bisa menahan kekhawatiran dan rasa sakit di hatiku. Aku merindukan Jean, merindukan suara tawanya, merindukan senyumnya.
Terakhir Diperbarui: 2024-07-03
Chapter: dua puluhTanpa terasa tiga hari sudah berlalu sekalipun Jean masih belum diperbolehkan pulang. Keadaanya juga cukup membaik. Bahkan nafsu makannya bertambah dibandingkan hari sebelumnya. Jean sudah bisa kutinggal untuk kemudian kutitipkan dirawat mbok Wati dirumah sakit. Mbok Wati yang paham situasipun, tak berhenti memberi kabar setiap perkembangan Jean. Karena aku tak mungkin mendapatkan kabar langsung dari Jean. Aku kembali fokus menatap layar laptop dan berkas-berkas yang harus aku tanda tangani. Berkali-kali menghela nafasku karena lelah, beberapa hari ini aku selalu tidur di rumah sakit untuk menunggui Jean, walaupun masih sering bersikap acuh dan ketus padaku. Bukan Segara yang akan menyerah hanya hal seperti ini. Karena bagaimanapun caranya, melunakkan Jean adalah tujuan utamaku saat ini. Suara nada dering yang menggema di seluruh penjuru ruangan membuatku langsung mengalihkan pandangan menuju ke layar ponselku, di sana tertera nama Nama. Aku pun langsu
Terakhir Diperbarui: 2024-07-03
Chapter: sembilan belasTubuhku mematung saat melihat foto tersebut. Bagaimana bisa, Morgan mendapatkan informasi pengajuan talak yang sempat diurus lawyerku beberapa waktu lalu. Lantas aku segera membenarkan dudukku dan tetap berusaha bersikap tenang. Jadi, ini alasannya pulang ke Indonesia? Artinya Morgan memang masih menyimpan rasa pada Jean? "Hanya seumur dua tahun, dan anda sudah memutuskan hal ini? Harusnya dari awal anda menyerah saja. Jadi tak oerlu menyakiti perasaannya." Raut Morgan terlihat memerah. Mungkin dia memang menyimpan amarah untuk diluapkan padaku. Kini giliranku yang menyimpulkan senyum. "Anda jelas melupakan bahwa talak ini tak mungkin dilanjutkan karena Jean sedang hamil? Perlukah saya perjelas siapa bapaknya?" Morgan terdiam. Tangannya melemah dan meletakkan ponselnya dimeja. Aku masih mencoba tenang dengan menunjukkan sikap yang tak peduli. Padahal hatiku tengah bergemuruh karena menahan gejolak yang entah apa ini namanya, antara malu dan ke
Terakhir Diperbarui: 2024-07-02
Chapter: delapan belasSaat sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Merasakan getaran di kantong celanaku, tidak berjarak lama dari setelah itu terdengar suara dering ponsel. Aku merogoh saku celanaku dan mendapati nomor Mbok Wati yang sedang menghubungiku.Suatu kebetulan yang sangat jarang terjadi. Dengan segera aku mengangkat telepon itu dengan menekan tombol hijau di layar ponselku. Lantas mendekatkan ponselku pada daun telinga.“Iya Mbok ada apa?”“Mas … i … ini Mas.”Aku mendengar suara Mbok Wati yang sepertinya sedang panik. “Ada apa sih Mbok Kok suaranya gitu?”“Ini loh, Mas. Mbak Jean, tadi mbak Jean pingsan di swalayan. Tadi kan kami pergi belanja ke swalayan, Ini beneran loh mas kalau mbak Jean sendiri yang pengen ikut. Padahal kan saya udah bilang jangan, soalnya muka dia itu kayaknya pucet gitu loh. Pas lagi milih-milih barang belanjaan tiba-tiba pingsan.”Aku yang mendapatkan kabar tersebut langsung bertanya sekarang Mbok Wati dan j
Terakhir Diperbarui: 2024-07-02
Chapter: tujuh belasPagi hari yang cerah namun tidak dengan suasana hatiku saat ini. Duduk di kursi kebanggaanku yang berada di ruang kerja, seraya menatap layar laptopku. Pasalnya hari ini sama sekali tak bisa membuatku fokus kerja karena nyatanya mengajak Jean ke pantai pun sama sekali tidak meluluhkan hatinya.Padahal aku sudah mencari review rumah makan dengan pemandangan paling banyak di ulas. Kenapa meluluhkan hati Jean jadi sesulit ini? Aku menghela nafasku dan menopang dagu ku. Apalagi yang harus aku lakukan supaya Jean luluh?Aku memijit pangkal hidungku seraya membaca file yang masuk ke dalam email perusahaan. Hingga akhirnya mendengar suara pintu ruanganku yang diketuk. Membuatku memcingkan mata dan mencoba menerka tentang siapa yang datang. Karena seingatky semua berkas sudah tertumpuk di meja ini.Saat masih diam menebak hingga lupa untuk mempersilahkan orang di balik pintu itu untuk masuk. Namun saat tersadar dari lamunanku, terlihat handle pintu itu
Terakhir Diperbarui: 2024-07-02