
Pernikahan Lavender
Safira tidak pernah menyangka bahwa pekerjaan paruh waktunya di sebuah restoran akan membawanya pada tawaran pernikahan.
Bukan pernikahan karena cinta. Bukan pula karena sebuah kisah romantis seperti yang sering ia baca dalam novel.
Melainkan **pernikahan kontrak selama lima tahun** dengan Mikael Aryasatya, chef muda yang dingin, tampan, kaya raya, dan terkenal sulit didekati.
Awalnya, Safira mengira semuanya akan mudah. Ia hanya perlu menjadi istri Mikael selama lima tahun, menerima semua fasilitas yang dijanjikan, menyelesaikan kuliahnya, lalu pergi membawa rumah yang telah disiapkan untuknya setelah perceraian.
Tidak ada kewajiban melayani suami. Tidak ada tuntutan untuk memiliki anak. Bahkan tidak ada cinta.
Sederhana, bukan?
Sayangnya, Safira terlalu banyak bicara untuk sebuah pernikahan yang seharusnya berjalan tanpa drama.
Terlebih setelah ia mulai mencurigai bahwa Mikael menyimpan sebuah rahasia besar tentang kehidupan cintanya. Rahasia yang membuat Safira bertanya-tanya—**mengapa seorang pria seperti Mikael sampai membutuhkan pernikahan palsu?**
Lima tahun seharusnya menjadi waktu yang cukup untuk menyelesaikan sebuah kontrak.
Namun bagaimana jika dalam lima tahun itu, **hati mereka justru terlanjur saling memiliki?**
Dan bagaimana jika rahasia yang selama ini disembunyikan Mikael ternyata jauh lebih rumit daripada yang Safira bayangkan?
Karena terkadang, pernikahan yang dimulai tanpa cinta justru menyimpan kisah cinta yang paling sulit untuk diakhiri.
Read
Chapter: PL 7Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: PL 6Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: PL 5Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: PL 4Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: PL 3Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: PL 2“Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: bab 19"Sel apakah kau masih takut denganku?" Aku hanya diam saja mendengar pertanyaan yang keluar darinya. "Sel, masih seramkah aku untukmu?" Aku menggeleng dengan lambat, senyum yang awalnya mengembang berubah raut sedikit kaku. Apakah lelaki ini akan marah lagi?"Tuan..." Tuan Marcell menggeser duduknya untuk menjauh dariku, entah kenapa aku justru merasakan desiran yang begitu menghujam perasaanku. "Maksudku bukan begitu." Nafasnya terdengar berat, wajahnya dipalingkannya tanpa melihatku. Aku yang masih memaku ditempatku ini mulai merasakan ketakutan bila lelaki ini akan memunculkan sifat tempramentalnya. Tanganku saling bertemu diatas pangkuanku, mencoba mempersiapkan diri untuk menyambut keadaan bilamana tuan Marcell benar-benar akan marah padaku. "Sel, aku tak tau bagaimana caranya membuatmu tak takut lagi. Tapi selama kamu masih tinggal disisiku selama itu pula aku akan berusaha untuk menaklukkan amarahku." Tuan Marcell mendekat lagi
Last Updated: 2022-10-02
Chapter: bab 18*"Hei!" Teriak pemuda yang sepertinya ku temui beberapa hari lalu. Aku hanya menoleh kemudian kembali melanjutkan jalanku dan memilih untuk mengabaikannya saja. Baru saja beberapa langkah saja, tangan itu sudah berhasil menarikku untuk ikut duduk ditempat yang biasa kugunakam untuk melepas penat. "Kenapa?" Aku mencoba melepaskan eratannya, pemuda bermata biru itu hanya memaku didepanku dan belum mengucapkan sepatah katapun. "Kenapaaaa?" Aku menggeram. "Anggap saja ucapan terimakasih." Dia memberikan sebatang coklat seperti yang biasa dibeli teman-temanku. Melihat dia pergi aku membiarkannya saja, karena pandanganku kini hanya berfokus pada coklat yang sepertinya sangat enak sekali. Sudah lama aku ingin memakan voklat ini, tapi selalu alasan uang yang membuatku tak bisa merealisasikan keinginanku sendiri. Setelah memghabiskannya aku segera pulang, berjlana dengan riangnya menuju rumah bibi yang berjarak tak cukup jauh dari lapangan ini.
Last Updated: 2022-10-01
Chapter: bab 17Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya. "Tuan tak akan meninggalkanku ditengah jalan lagi kan?" Mengingat kejadian kapan lalu saat dia meninggalkanku dipinggiran laut yang jauh dari rumah. Tuan Marcell menggeleng lalu membelai ujung kepalaku, sungguh hangat sekali sikapnya yang membuatku mengembangkan senyum untuknya. Nampak tuan Marcell melirik kearah arloji dipergelangan tangannya, aku hanya diam saja seraya mengamati sekitar. "Selena?" Suara dari sosok lelaki yang sempat kutemui diswalayan waktu itu. Menyadari kehadiran Mattew, tuan Marcell gegas mendekatkan posisi duduknya untuk lebih mendekat. "Dengan siapa Matt?" Mencoba berbasa-basi dengan mengamati gerak gerik tuan Marcell yang masih bersikap biasa. "Bersama temanku, oh ya semua teman sekelas kaget ketika aku memberi kabar bahwa kamu sudah menikah dan tinggal sekota denganku." Aku menelan saliva yang terasa berat, seandainya bisa saja kukatakan bahwa lelaki disebelahku ini bukanla
Last Updated: 2022-10-01
Chapter: bab 16Tuan Marcell hanya memandangku dengan lekat, manik matanya yang kebiruan terlihat jelas bahkan rahangnya yang biasanya mengeras itu nampak begitu tegas. Aku bisa merasakan degup jantungku sendiri yang tak beraturan."Sel?" Aku menelan saliva mendengar suara seraknya. "Bolehkah aku menciummu?" Tanpa bisa menjawab pertanyaannya langsung menutup mataku seolah memberi kesempatan padanya. Sosok itu sudah menempelkan bibirnya pada bibirku. Fikiranku sudah berkelana dan membayangkan lebih tapi nyatanya dia langsung menarik bibirnya lagi. Ketika kubuka mata untuk melihatnya sudah beranjak didepan jendela memandang kearah laut. Aku mendecah kesal. Apalagi yang akan kuperbuat kali ini, menuruti kekecewaan dengan melanjutkan membersihkan ranjang yang masih belum kubereskan. "Sel." Kembali dia mendekat, dengan cepat aku langsung menarik selimut yang akan ku lipat tadinya. Memasang badan untuk berbaring diranjang dan menutup selimut sampai batas wajahku. Takku pedulikan lagi panggilannya. Tuan
Last Updated: 2022-08-03
Chapter: bab 15Malam ini tidak berbeda dengan malamku sebelumnya yang masih saja berselimut ketakutan. Memakan sisa camilan tadi siang yang diantar Vika, biasanya dia sudah mengantar makan malamku tapi malam ini apakah dia terlupa? Sesekali menengok kearah pintu, takut bila tuan Marcell masuk dan entah apa yang akan dia lakukan padaku. "Sel." Suara serak khasnya yang membuka pintu bersamaan dengan Vika dibelakangnya membawa nampan yang sudah kutunggu sedari tadi. Setelahnya Vika langsung keluar kamar membawa bekas gelas kotor siang tadi. Tuan Marcell menata dua piring hidangan lengkap dimeja makan lalu menarikku agar duduk disebelahnya. Aku hanya menurutinya saja agar tak perlu memancing emosinya. "Habiskan makananmu." Tanpa disuruhpun pasti akan kuhabiskan makanan dihadapanku ini. "Sel." Panggilnya yang membuatku terpaksa menoleh. "Iya tuan?" Aku menatap kearahnya yang menunjukkan lukanya yang sudah berganti perban baru. "Tanganku masih sakit, tolong suapi aku." Aku melotot kearahnya tapi sek
Last Updated: 2022-07-15
Chapter: bab 14"Tuan!" Aku berteriak kala dia menghores luka ketangannya, mengambil tissue yang ada didasboard mobilnya dan menekan lukanya dengan cepat. "Apa yang anda lakukan?" Bukannya sebuah jawaban yang ku dapati malah sebuah senyum yang mengembang. Untuk saat ini hanya bisa membersihkan lukanya menggunakan tissue yang ada. "Kau mencemaskanku?" Dia bersuara, mencekal tanganku yang masih berusaha menekan luka dengan tissue. "Tuan ini kenapa sih?" Aku malah membentaknya tak peduli dengannya yang mungkin akan marah setelah ini. "Apakah hobi anda memang menyakiti orang lain dan diri sendiri?" "Anggap saja ini perjanjian, sekali aku menyakitimu saat itu pula aku akan menyakiti diriku sendiri." Aku menoleh lagi kearahnya. *Sekembalinya kami kerumah ini, aku masih mendiamkannya walau sesekali merasa khawatir dengan luka ditangannya. Sepertinya tuan Marcell memang sudah gila. Kembali ke kamar, melepaskan beberapa aksesoris yang terpasang sebagai pelengkap penampilanku tadi. Toerdengar suara pint
Last Updated: 2022-07-11
Chapter: dua duaAku membalikkan tubuhku agar tidak merasakan api cemburu lagi. Aku ingin meninggalkan mereka berdua pergi sejenak, karena kini aku justru merasakan tenggorokanku yang kering. Nyatanya aku tak seberani itu menanggung resiko. Bukankah lebih baik memberi waktu pada mereka saja.Melihat mereka membuatku kehilangan kepercayaan diri. Mungkin, Jean akan merasa lebih baik saat mengobrol dengan teman lamanya.Kuambil sebotol air yang berada di dalam lemari pendingin dan menuangkannya di gelas, meneguknya hingga tandas. Padahal niatku pulang untuk bisa mengobrol serius dengan Jean tapi sepertinya masa lalu masih jadi pemenangnya. Tanpa terasa aku justru tertawa merutuki kebodohanku. Tahu begini, lebih baik aku tetap dikantor saja atau lebih baik pergi ke kafe Aditya."Mas Gara?" Mbok Wati terlihat kaget. Aku lantas tersenyum kearahnya. "Mbak Jean...""Itu puddingnya? Bisa mbok suguhkan sebagian untuk tamu Jean juga." Mbok Wati menurut dan bergegas
Last Updated: 2024-07-03
Chapter: dua satuSejak pertengkaran kami, aku, mulai menahan diri untuk menunjukkan perhatianku kepada Jean. Setiap kali melihatnya, hatiku merasa sakit. Jean juga masih tetap saja, dia tidak mau berbicara denganku. Kami seperti dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Malam itu, saat makan malam bersama, Jean malah memilih untuk makan di kamar. Aku hanya bisa menatapnya pergi, membawa piring makanannya. Hatiku merasa berat. Kami biasanya selalu makan bersama, sekalipun hanya saling diam tapi setidaknya tak harus seperti ini. Namun sekarang, semuanya berubah. Aku merindukan kebiasaan yang sebelumnya, kebersamaan yang biasa ku nikmati walaupun mungkin tidak untuk Jean. Namun, aku tahu bahwa aku harus memberi Jean ruang untuk sendiri kali ini. Mungkin pula dia membutuhkan waktu untuk merenung dan menenangkan pikirannya. Meski begitu, aku tidak bisa menahan kekhawatiran dan rasa sakit di hatiku. Aku merindukan Jean, merindukan suara tawanya, merindukan senyumnya.
Last Updated: 2024-07-03
Chapter: dua puluhTanpa terasa tiga hari sudah berlalu sekalipun Jean masih belum diperbolehkan pulang. Keadaanya juga cukup membaik. Bahkan nafsu makannya bertambah dibandingkan hari sebelumnya. Jean sudah bisa kutinggal untuk kemudian kutitipkan dirawat mbok Wati dirumah sakit. Mbok Wati yang paham situasipun, tak berhenti memberi kabar setiap perkembangan Jean. Karena aku tak mungkin mendapatkan kabar langsung dari Jean. Aku kembali fokus menatap layar laptop dan berkas-berkas yang harus aku tanda tangani. Berkali-kali menghela nafasku karena lelah, beberapa hari ini aku selalu tidur di rumah sakit untuk menunggui Jean, walaupun masih sering bersikap acuh dan ketus padaku. Bukan Segara yang akan menyerah hanya hal seperti ini. Karena bagaimanapun caranya, melunakkan Jean adalah tujuan utamaku saat ini. Suara nada dering yang menggema di seluruh penjuru ruangan membuatku langsung mengalihkan pandangan menuju ke layar ponselku, di sana tertera nama Nama. Aku pun langsu
Last Updated: 2024-07-03
Chapter: sembilan belasTubuhku mematung saat melihat foto tersebut. Bagaimana bisa, Morgan mendapatkan informasi pengajuan talak yang sempat diurus lawyerku beberapa waktu lalu. Lantas aku segera membenarkan dudukku dan tetap berusaha bersikap tenang. Jadi, ini alasannya pulang ke Indonesia? Artinya Morgan memang masih menyimpan rasa pada Jean? "Hanya seumur dua tahun, dan anda sudah memutuskan hal ini? Harusnya dari awal anda menyerah saja. Jadi tak oerlu menyakiti perasaannya." Raut Morgan terlihat memerah. Mungkin dia memang menyimpan amarah untuk diluapkan padaku. Kini giliranku yang menyimpulkan senyum. "Anda jelas melupakan bahwa talak ini tak mungkin dilanjutkan karena Jean sedang hamil? Perlukah saya perjelas siapa bapaknya?" Morgan terdiam. Tangannya melemah dan meletakkan ponselnya dimeja. Aku masih mencoba tenang dengan menunjukkan sikap yang tak peduli. Padahal hatiku tengah bergemuruh karena menahan gejolak yang entah apa ini namanya, antara malu dan ke
Last Updated: 2024-07-02
Chapter: delapan belasSaat sedang sibuk dengan pikiranku sendiri. Merasakan getaran di kantong celanaku, tidak berjarak lama dari setelah itu terdengar suara dering ponsel. Aku merogoh saku celanaku dan mendapati nomor Mbok Wati yang sedang menghubungiku.Suatu kebetulan yang sangat jarang terjadi. Dengan segera aku mengangkat telepon itu dengan menekan tombol hijau di layar ponselku. Lantas mendekatkan ponselku pada daun telinga.“Iya Mbok ada apa?”“Mas … i … ini Mas.”Aku mendengar suara Mbok Wati yang sepertinya sedang panik. “Ada apa sih Mbok Kok suaranya gitu?”“Ini loh, Mas. Mbak Jean, tadi mbak Jean pingsan di swalayan. Tadi kan kami pergi belanja ke swalayan, Ini beneran loh mas kalau mbak Jean sendiri yang pengen ikut. Padahal kan saya udah bilang jangan, soalnya muka dia itu kayaknya pucet gitu loh. Pas lagi milih-milih barang belanjaan tiba-tiba pingsan.”Aku yang mendapatkan kabar tersebut langsung bertanya sekarang Mbok Wati dan j
Last Updated: 2024-07-02
Chapter: tujuh belasPagi hari yang cerah namun tidak dengan suasana hatiku saat ini. Duduk di kursi kebanggaanku yang berada di ruang kerja, seraya menatap layar laptopku. Pasalnya hari ini sama sekali tak bisa membuatku fokus kerja karena nyatanya mengajak Jean ke pantai pun sama sekali tidak meluluhkan hatinya.Padahal aku sudah mencari review rumah makan dengan pemandangan paling banyak di ulas. Kenapa meluluhkan hati Jean jadi sesulit ini? Aku menghela nafasku dan menopang dagu ku. Apalagi yang harus aku lakukan supaya Jean luluh?Aku memijit pangkal hidungku seraya membaca file yang masuk ke dalam email perusahaan. Hingga akhirnya mendengar suara pintu ruanganku yang diketuk. Membuatku memcingkan mata dan mencoba menerka tentang siapa yang datang. Karena seingatky semua berkas sudah tertumpuk di meja ini.Saat masih diam menebak hingga lupa untuk mempersilahkan orang di balik pintu itu untuk masuk. Namun saat tersadar dari lamunanku, terlihat handle pintu itu
Last Updated: 2024-07-02
Chapter: TAMATLangit di atas pemakaman sore itu tampak muram, seolah semesta pun enggan berhenti berduka. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bunga kamboja terasa menyesakkan dada. Aku berdiri di samping Robi yang bahunya masih bergetar hebat. Di bawah gundukan tanah yang masih merah itu, terkubur sesosok wanita luar biasa yang baru kami sadari keberaniannya setelah ia tiada. Ibu Salma."Nil, aku ini anak macam apa?" bisik Robi lirih. Suaranya pecah, tersapu angin sore. "Aku menghakimi Ibu, menganggapnya kejam karena kematian Bobi, sementara Ibu justru menyerahkan nyawanya untuk menghancurkan orang yang merusak adikku."Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku pada lengan suamiku. Tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka ini. Kehilangan dua orang tercinta dalam waktu kurang dari dua bulan adalah ujian yang nyaris membuat kami kehilangan kewarasan.Setelah para pelayat pulang, Tante Wanda mendekati kami dengan wajah sembap. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: PDKI - 61[Tante, Haryono sudah sepakat. Hari ini jangan ke mana-mana, ya. Di rumah saja.]Pesan dari Krisna pagi ini masih terpampang di layar ponsel. Namun, membacanya justru semakin menguatakan tekadku untuk melakukan apa yang sudah kupikirkan sejak semalam.Aku sudah bersiap, membawa mukena dan buku Yasin. Tanpa berpamitan pada Nilna maupun Robi, aku mengambil kunci motor Bobi. Motor itu sebenarnya masih baru dan jarang ia gunakan, tapi hari ini aku membutuhkannya.Saat baru saja keluar dari halaman rumah, suara seseorang menghentikanku.“Bu Salma, udah dandan cantik aja?”Cindy sedang menyapu halaman rumahnya. Aku menghentikan motor dan tersenyum padanya.“Gak masuk kerja, Cin?” tanyaku.Dia menggeleng lemas. “Sebentar lagi mau praktik magang, Bu. Makanya aku resign.”Aku mengangguk paham, lalu menyerahkan kantong plastik berisi beberapa gamis dan jilbab yang masih bagus.“Ka
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: PDKI - 60"Nilna sama Robi marah, Kris." Aku meletakkan secangkir teh hangat yang kupesan barusan setelah menyeduhnya.Bukannya terlihat simpati, dia justru tertawa dengan lirih. Lalu meletakkan ponselnya tepat di hadapanku."Haryono sepertinya tertarik. Tapi Aditama juga baru saja memberikan tanggapan." Aku justru mengerucutkan bibirku seolah kesal dengan keterlambatan Aditama."Terus, apakah Tante harus memberikan ini pada Aditama saja?""Tante tahu Wilona?" Aku mengangguk dengan ragu. Seingatku, Wilona adalah putri dari Aditama yang akan menikah dengan Ricard. "Dia baru saja bertemu dengan Nilna. Bagaimana kalau Tante juga ikut serta menyerangnya?""Tapi, Kris ....""Biarkan saja, setidaknya dia tak masuk kubangan oleh suami dan ayahnya sendiri." Sesaat jawaban dari Krisna membuatku terdiam.Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini, pasti sangat melelahkan. Terpaksa menumbuhkan rasa benci dari putra sulungku untuk tak membenci adiknya. Tap
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: PDKI - 59Aku hanya bisa diam saja saat Nilna mengajakku untuk pergi ke panti asuhan. Aku tahu maksud mereka ke sini. Tapi bagaimana dengan hatiku yang masih terus terbayang dengan Bobi?"Bu Salma, bukankah lebih baik mengatakan pada Mbak Nilna dan juga Mas Robi bahwa Ibu donatur pembangunan gedung yang tengah direnovasi?"Aku menggeleng pada wanita seusiaku yang sekarang menatap padaku. Lantas dengan cepat menggeleng padanya."Jangan ya, Bu. Biarkan saja mereka tak pernah tahu." Wanita ini semakin lekat menatapku dan kemudian membelai lembut pundakku. Tampak wajahnya menunjukkan raut kesedihan.Aku tahu, Nilna baru saja memeras Ricard untuk harga video yang sengaja kubiarkan tak terhapus di flashdisk kecil peninggalan Bobi.[Tan, bukannya ini alamat rumah Tante?]Krisna mengirimiku pesan saat aku baru saja tiba dan masuk ke dalam kamar. Keningku berkerut untuk memastikan bahwa alamat tersebut memang benar di sini."Ada apa, Kris?"
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: PDKI - 58"Akhirnya saya bisa juga ketemu sama Nilna." Krisna mengulas senyum saat aku mengunjunginya di klinik kecantikan."Benarkah?" Dia mengangguk. Kami berdua memang sempat bingung memikirkan cara agar Krisna bisa bertemu dengan Nilna dan Robi tanpa terlihat disengaja."Saya beli pembalut untuk Alex." Dia tertawa lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum getir. Entah kenapa setiap membahas pembalut, hatiku seolah tersayat karena mengingat Bobi."Alex positif herpes genital, sekarang sedang diusahakan untuk berobat ke luar negeri." Aku hanya bisa mengembuskan napas dengan keras.Padahal sudah banyak kasus tentang penyakit menular seperti ini, tapi kenapa juga masih banyak orang yang terjerumus dan seolah mengacuhkannya.Krisna lalu menyerahkan sebuah voucher diskon dari kliniknya untuk bisa digunakan oleh Nilna. Aku paham maksudnya sekarang."Tan, akhir pekan ada acara grand launching apartemen milik Haryono Corporation." Aku mas
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: PDKI - 57"Ibu, jangan tidur dulu. Kita bahas masalah yang tertunda." Robi mencoba mengingatkanku yang baru saja meletakkan bekas piringnya ke wastafel. Membuatku menghela napas panjang."Sekarang aja, Rob, Ibu juga sudah capek ini." Akhirnya aku pergi ke kamar untuk mengambil hasil pemeriksaan Bobi saat itu. Sesuai saran Krisna, aku sudah menyalinnya sebelum menyerahkannya kepada Robi kali ini."Rob, sekitar sebulan sebelum Bobi meninggal, Ibu mengantarnya periksa." Aku meletakkan map itu di atas meja dan langsung dibuka oleh Nilna."Granuloma Inguinale?" Robi membacanya dengan terbata-bata. "Apa ini, Bu?""Coba kamu cari di internet saja, Rob, Ibu kesusahan jika harus menjelaskannya." Aku masih memperhatikan dengan seksama saat mereka nampak terkejut dengan tatapan lurus ke ponselnya.Mataku membulat dan terperangah seolah tak percaya dengan apa yang kubaca di laman tersebut."Apa, Nil?" Robi nampak bertanya pada istrinya, Nilna."Pe
Last Updated: 2026-04-20