Share

PDKI - 5

Author: Piki Chan
last update Petsa ng paglalathala: 2024-10-11 11:36:41

Aku masih mengamati semua barang dalam kresek tersebut. Sengaja ku masukkan dalam kamarku agar ibu tak curiga.

Entah apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Bobi, setahuku Bobi termasuk anak yang sangat patuh dan lugu. Tak mungkin jika dia berbuat macam-macam di luar sana.

Lantas kenapa dia menyimpan banyak sekali barang-barang khusus perempuan? Bukan hanya di rumah saja, bahkan di loker kampuspun dia juga melakukannya.

"Kak Nil, tolongin aku!" Ponselku berdering, dan benar saja itu adalah panggilan dari Amar. "Kak, jemput aku di minimarket daerah X." Aku mengerutkan kening.

"Memangnya kenapa, Mar?" Aku berusaha bertanya pelan karena suaranya terdengar seperti ketakutan.

"Kak Robi belum bisa ku telepon. Aku cuma minta dijemput aja sekarang, kak!" Kenapa pula dengannya. Bukannya aku tak mau menjemput, tapi memang aku tak hafal daerah sini jadi bagaimana bisa aku sampai kesana.

Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas pergi ke tempat di mana Amar memberitahu. Mengendarai mobil milik ibu, satu-satunya kendaraan yang berada dirumah sekarang.

Seharusnya aku bertanya dulu, kenapa dengannya sampai memintaku untuk mnjemputnya sekarang.

Hanya mengandalkan peta digital yang sudah ku cari saat mulai keluar rumah tadi. Kalau dilihat jaraknya cukup lumayan juga.

Setelah lima belas menit melajukan mobil mengikuti arahan dari peta digital tersebut, dan benar saja aku sudah sampai ke minimarket yang dikatakan oleh Amar tadi.

Di depan sana nampak sekali orang-orang berkerumun. Sepertinya kerumunan tersebut tertuju pada tempat duduk yang memang biasa disediakan oleh semua minimarket ini.

"Kak Nil." Suara Amar terdengar semakin parau. Dia duduk dikursi berwarna merah kecoklatan dan di sebelahnya terlihat sosok tinggi semampai dengan dandanan klimis yang menatap tajam padaku.

"Ya Allah Amar kenapa?" Aku mendekat dan langsung merengkuh remaja tersebut. Matanya nampak memerah menahan tangis. "Ini kenapa kakinya? Kamu jatuh dari motor?" Dia mengangguk pelan.

"Ini mbak pelakunya. Langsung dihentikan oleh warga. Mau di bawa kekantor polisi tapi adiknya minta nunggu keluarganya dulu." Seorang bapak dengan rompi berwarna hijau itu mendekat dan menujuk lelaki yang duduk disebelah Amar.

Aku mengamati pria tersebut. Pandangannya sangat sinis kearahku bahkan rautnya juga menunjukkan kekesalan. Tapi bukan itu yang tengah kupikirakan, wajah ini cukup familiar dan sepertinya pernah ku lihat sebelumnya.

"Masnya gimana sih, ini anak kecil naik motor kenapa malah ditabrak?" Lalu bapak tadi menarik bajuku dan menunjuk pada mobil sport warna merah yang terpakir tak jauh dari motor Bobi.

"Lagian mbaknya kenapa izinin anak kecil mengendarai motor? Emangnya dia udah punya SIM?" Wah, dia menyerangku dengan pertanyaan konyol yang jelas masih kupikirkan jawabannya.

"Emang kalau udah punya SIM terjamin kamu gak nabrak dia? Gak usah nyari celah deh mas. Sekali salah ya salah. Terus gimana nih adik saya kayak begini?"

Pria tersebut terdiam. Menatap padaku dan sekarang seperti mengamati dari atas ke bawah. Mataku langsung menyipit untuk mengingat di mana pernah bertemu dengannya. Nyatanya tetap saja aku tak bisa mengingat.

"Ya udah, saya antarin pulang aja. Kita bahas di rumah anda saja." Dia berucap dengan sangat kaku. Sedang orang disekitar pun hanya mengangguk pertanda setuju.

Setelah memastikan bahwa Amar bisa mengendarai motor kearah pulang. Kami bertiga pun akhirnya segera pergi dari minimarket. Tak lupa mengabari Robi agar dia segera pulang karena tak mungkin menghadapi pria kaku ini sendirian.

"Nil, kenapa gak nungguin aku, sih?" bisik Robi saat aku sampai duluan di rumah dan keluar dari mobil. Sedang ibu menghampiri Amar dan menuntunnya masuk. Aku menggerakkan kepala pada Robi seraya menyambut sosok pria kaku tersebut keluar dari mobil mewahnya.

"Dia yang nabrak Amar. Noh urusin, agak sewotan sih." Robi menghela nafasnya berat. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan aku mengekor di belakang. Telunjukku bergerak memberi kode pada pria tersebut untuk ikutan masuk.

"Nil, segera obati lecetnya si Amar ya. Biar ibu dan Robi yang ngomong sama masnya." Aku mengangguk paham dan segera menghampiri Amar yang duduk di ruang tengah.

"Kenapa bisa sih?" Amar mengangkat kedua bahunya. Dia dengan santainya menarik celana pendek tersebut agar mempermudahku mengobati luka di bagian lututnya.

"Tapi mobil itu udah ngikutin aku dari keluar gang daerah pojok sana, Kak. Terus makin mepet sampai akhirnya aku ditubruk tepat di depan minimarket tadi. Aneh gak sih?" Kami berdua mengangguk secara bersamaan.

Sebenarnya aku berniat untuk menguping pembicaraan mereka. Tapi rupanya, suara yang terdengar tak terdengar jelas sampai ruangan ini.

"Tapi yang paling aneh adalah ekspresinya saat turun dari mobil sih, Kak. Harusnya kan kalau berniat jahat dia langsung kabur aja, tapi dia justru berhenti dan nyamperin aku." Benar juga analisa Amar. Bahkan sejak awal bertemu saja aku sudah menganggap lelaki tersebut aneh.

"Apa kakak ikutan nimbrung aja ya? Penasaran juga pengen maki-maki dia." Amar mencibir kearahku. Lalu dia menarik tanganku dan kemudian bergerak seolah ingin membisikkan sesuatu padaku. Suara bisikan darinya membuatku menahan tawa.

Ya, Amar menyuruhku untuk membuatkan minum saja untuk penabraknya. Walaupun ibu tak menyuruhku.

Akupun menyetujui ide Amar. Segera bergegas untuk menyiapkan air mineral dalam botol plastik yang biasa distock Robi dalam lemari pendingin. Sudah sangat bagus bukan, sekedar memberinya minum walaupun hanya air putih saja.

"Untuk kerusakan motor dan biaya periksa adiknya biar semua saya yang nanggung, Bu," ucapnya dengan nada penuh kesombongan. Aku melirik pada Robi yang ternyata tengah melirik padaku. Matanya bergerak dan menuju pada botol minum tersebut.

"Ya memang kewajiban masnya." Ibu menjawab dengan suara menahan kesal. Aku yang mendengarnya pun mengangguk seolah setuju.

"Ini nomor telepon saya, dan Ini kartu debit yang isinya cukup untuk sekedar periksa. Sedang motornya saya bawa kebengkel dulu." Begitu katanya menyarankan. Kami semua hanya mengangguk setuju. "Pinnya saya tulis di balik kartu nama ini saja."

"Kamu tak berniat membawa kabur motornya kan? Lalu apa jaminannya kalau kartu ini ada isinya?" Aku yang geram tak bisa menahan diri untuk tak ikut campur.

"Apakah tampang saya ada seperti penipu ulung?"

"Biar lebih enaknya, mas ninggal kartu identitas saja." Kini Robi yang bersuara. Pria itu bahkan tak berfikir panjang dan langsung mengangguk.

Dia membuka dompet berlogo salah satu brand luar negeri. Kemudian mengulurkan tangannya sembari menyodorkan kepingan kartu identitas pada ibu.

"Baiklah, ibu yang simpan." Padahal aku penasaran pada lelaki tersebut. Tapi ibu seperti tak memberi celah dan langsung memasukkan kartu tersebut ke dalam dompet, sekalipun sudah menengok sebentar untuk memastikan bahwa itu memang benar miliknya.

Aku melirik lagi pada lelaki aneh tersebut, dia juga tengah melirikku seraya tersenyum menyeringai. Entahlah, apa aku berlebihan jika berfikir bahwa dia punya tujuan tertentu.

(Siapa ya pria ini?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Marvi Lena
tambah penasaran
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   TAMAT

    Langit di atas pemakaman sore itu tampak muram, seolah semesta pun enggan berhenti berduka. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bunga kamboja terasa menyesakkan dada. Aku berdiri di samping Robi yang bahunya masih bergetar hebat. Di bawah gundukan tanah yang masih merah itu, terkubur sesosok wanita luar biasa yang baru kami sadari keberaniannya setelah ia tiada. Ibu Salma."Nil, aku ini anak macam apa?" bisik Robi lirih. Suaranya pecah, tersapu angin sore. "Aku menghakimi Ibu, menganggapnya kejam karena kematian Bobi, sementara Ibu justru menyerahkan nyawanya untuk menghancurkan orang yang merusak adikku."Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku pada lengan suamiku. Tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka ini. Kehilangan dua orang tercinta dalam waktu kurang dari dua bulan adalah ujian yang nyaris membuat kami kehilangan kewarasan.Setelah para pelayat pulang, Tante Wanda mendekati kami dengan wajah sembap. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 61

    [Tante, Haryono sudah sepakat. Hari ini jangan ke mana-mana, ya. Di rumah saja.]Pesan dari Krisna pagi ini masih terpampang di layar ponsel. Namun, membacanya justru semakin menguatakan tekadku untuk melakukan apa yang sudah kupikirkan sejak semalam.Aku sudah bersiap, membawa mukena dan buku Yasin. Tanpa berpamitan pada Nilna maupun Robi, aku mengambil kunci motor Bobi. Motor itu sebenarnya masih baru dan jarang ia gunakan, tapi hari ini aku membutuhkannya.Saat baru saja keluar dari halaman rumah, suara seseorang menghentikanku.“Bu Salma, udah dandan cantik aja?”Cindy sedang menyapu halaman rumahnya. Aku menghentikan motor dan tersenyum padanya.“Gak masuk kerja, Cin?” tanyaku.Dia menggeleng lemas. “Sebentar lagi mau praktik magang, Bu. Makanya aku resign.”Aku mengangguk paham, lalu menyerahkan kantong plastik berisi beberapa gamis dan jilbab yang masih bagus.“Ka

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 60

    "Nilna sama Robi marah, Kris." Aku meletakkan secangkir teh hangat yang kupesan barusan setelah menyeduhnya.Bukannya terlihat simpati, dia justru tertawa dengan lirih. Lalu meletakkan ponselnya tepat di hadapanku."Haryono sepertinya tertarik. Tapi Aditama juga baru saja memberikan tanggapan." Aku justru mengerucutkan bibirku seolah kesal dengan keterlambatan Aditama."Terus, apakah Tante harus memberikan ini pada Aditama saja?""Tante tahu Wilona?" Aku mengangguk dengan ragu. Seingatku, Wilona adalah putri dari Aditama yang akan menikah dengan Ricard. "Dia baru saja bertemu dengan Nilna. Bagaimana kalau Tante juga ikut serta menyerangnya?""Tapi, Kris ....""Biarkan saja, setidaknya dia tak masuk kubangan oleh suami dan ayahnya sendiri." Sesaat jawaban dari Krisna membuatku terdiam.Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini, pasti sangat melelahkan. Terpaksa menumbuhkan rasa benci dari putra sulungku untuk tak membenci adiknya. Tap

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 59

    Aku hanya bisa diam saja saat Nilna mengajakku untuk pergi ke panti asuhan. Aku tahu maksud mereka ke sini. Tapi bagaimana dengan hatiku yang masih terus terbayang dengan Bobi?"Bu Salma, bukankah lebih baik mengatakan pada Mbak Nilna dan juga Mas Robi bahwa Ibu donatur pembangunan gedung yang tengah direnovasi?"Aku menggeleng pada wanita seusiaku yang sekarang menatap padaku. Lantas dengan cepat menggeleng padanya."Jangan ya, Bu. Biarkan saja mereka tak pernah tahu." Wanita ini semakin lekat menatapku dan kemudian membelai lembut pundakku. Tampak wajahnya menunjukkan raut kesedihan.Aku tahu, Nilna baru saja memeras Ricard untuk harga video yang sengaja kubiarkan tak terhapus di flashdisk kecil peninggalan Bobi.[Tan, bukannya ini alamat rumah Tante?]Krisna mengirimiku pesan saat aku baru saja tiba dan masuk ke dalam kamar. Keningku berkerut untuk memastikan bahwa alamat tersebut memang benar di sini."Ada apa, Kris?"

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 58

    "Akhirnya saya bisa juga ketemu sama Nilna." Krisna mengulas senyum saat aku mengunjunginya di klinik kecantikan."Benarkah?" Dia mengangguk. Kami berdua memang sempat bingung memikirkan cara agar Krisna bisa bertemu dengan Nilna dan Robi tanpa terlihat disengaja."Saya beli pembalut untuk Alex." Dia tertawa lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum getir. Entah kenapa setiap membahas pembalut, hatiku seolah tersayat karena mengingat Bobi."Alex positif herpes genital, sekarang sedang diusahakan untuk berobat ke luar negeri." Aku hanya bisa mengembuskan napas dengan keras.Padahal sudah banyak kasus tentang penyakit menular seperti ini, tapi kenapa juga masih banyak orang yang terjerumus dan seolah mengacuhkannya.Krisna lalu menyerahkan sebuah voucher diskon dari kliniknya untuk bisa digunakan oleh Nilna. Aku paham maksudnya sekarang."Tan, akhir pekan ada acara grand launching apartemen milik Haryono Corporation." Aku mas

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 57

    "Ibu, jangan tidur dulu. Kita bahas masalah yang tertunda." Robi mencoba mengingatkanku yang baru saja meletakkan bekas piringnya ke wastafel. Membuatku menghela napas panjang."Sekarang aja, Rob, Ibu juga sudah capek ini." Akhirnya aku pergi ke kamar untuk mengambil hasil pemeriksaan Bobi saat itu. Sesuai saran Krisna, aku sudah menyalinnya sebelum menyerahkannya kepada Robi kali ini."Rob, sekitar sebulan sebelum Bobi meninggal, Ibu mengantarnya periksa." Aku meletakkan map itu di atas meja dan langsung dibuka oleh Nilna."Granuloma Inguinale?" Robi membacanya dengan terbata-bata. "Apa ini, Bu?""Coba kamu cari di internet saja, Rob, Ibu kesusahan jika harus menjelaskannya." Aku masih memperhatikan dengan seksama saat mereka nampak terkejut dengan tatapan lurus ke ponselnya.Mataku membulat dan terperangah seolah tak percaya dengan apa yang kubaca di laman tersebut."Apa, Nil?" Robi nampak bertanya pada istrinya, Nilna."Pe

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status