Se connecterWhen it's time for us to say our vows during the wedding ceremony, Jessica Fletcher, my wife, leaves the stage just so she can confess her love to her first love, Benedict Olson. "Once upon a time, we had vowed to stay together for the rest of our lives, Benedict. It's unfortunate that we've missed out on the chance to do so in this lifetime. Would you be willing to stay with me in our next life, then?" Touched, Benedict pulls Jessica into his arms. Then, he turns to tell me, "Oliver, I've already given Jess to you in this lifetime, so you must take good care of her for me." Everyone gasps in shock, thinking that they'll soon witness two men fighting over the same woman. But I merely smile at the sight of Benedict and Jessica embracing each other tightly. Then, I take off my ring before passing it to Benedict. "Why wait till your next life to be together? Since you've already made a vow to stay together for eternity, I might as well grant your wish."
Voir plusBanjarnegara, 10 Januari 2012
Tangan Mayang gemetar saat mencelupkan alat uji kehamilan pada wadah urinenya. Sesaat setelah stick penguji kehamilan diangkat dari wadah, Mayang mulai merapal doa. Jantungnya berdebar kencang sementara mulutnya tidak berhenti komat-kamit berdoa. Ia sangat berharap kalau hasilnya hanya garis satu, sesuai petunjuk yang tadi ia baca di kemasan.
Tidak siap dengan hasil yang akan segera ia dapatkan, Mayang memejamkan mata. Ia berusaha mengatur napas terlebih dahulu, agar tidak pingsan saat hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Setelah merasa lebih baik, Mayang pun membuka mata. Mayang berkali-kali mengucapkan kata Alhamdullilah dalam hati, saat mendapati garis satu pada stick. Syukurlah, ternyata ketakutannya tidak terbukti. Ia tidak hamil! Mayang berkali-kali mengelus dada. Berusaha untuk menenangkan perasaannya sendiri.
Saat ini ia berada di toilet pabrik. Jikalau ia pingsan di sini, rekan-rekan kerjanya pasti akan heboh. Apalagi saat mereka menemukan alat penguji kehamilan di tangannya. Bakalan habislah ia di tangan kedua orang tuanya. Makanya ia berusaha menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali bekerja.
Baru saja ia bermaksud membuang hasil test ke tempat sampah, sesuatu terjadi. Garis pada stick yang tadinya hanya satu, kini berubah menjadi dua! Mayang kaget. Tanpa sadar menjatuhkan alat penguji kehamilan di lantai kamar mandi sambil menjerit lirih. Ia shock!
Tok... tok... tok
"Siapa sih di kamar mandi? Masa dari tadi nggak keluar-keluar? Gantian dong!" Suara gedoran pintu menyadarkan Mayang di mana dirinya berada. Mayang menarik napas dua kali sebelum menjawab.
"Sa--saya Mayang, Mbak. Sebentar lagi juga selesai kok." Mayang menyelipkan stick penguji kehamilannya di saku, sebelum membasuh wajahnya. Setelah merasa agak tenang, barulah ia membuka pintu kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi, ia disambut oleh kehadiran beberapa rekan kerjanya yang kebelet pipis. Mereka semua mengomelinya karena kelamaan di kamar mandi. Mayang yang masih linglung berjalan menjauh tanpa menyahuti satu pun omelan mereka. Saat ini pikirannya penuh dengan rencana-rencana yang harus segera ia realisasikan. Salah satunya adalah menemui Mahesa di Jakarta.
"Mas, kita tidak boleh melakukan hal seperti ini? Kita 'kan belum menikah, Mas. Dosa?"
"Tidak apa-apa, Mayang. Kita 'kan saling cinta. Lagi pula, cepat atau lambat kamu toh akan menjadi istri Mas. Jadi tidak masalah kalau kita melakukan hal seperti ini sekarang. Kamu tidak usah takut ya?"
"Kalau nanti Mayang hamil bagaimana? Lusa 'kan Mas sudah kembali ke Jakarta."
"Mau kamu hamil atau tidak, Mas tetap akan kembali ke sini secepatnya untuk melamar kamu. Kalau kamu tidak percaya, ini alamat rumah Mas di Jakarta. Kamu boleh menyusul ke rumah Mas, kalau Mas bohong!"
Kalimat demi kalimat yang diucapkan Mahesa dua bulan lalu, terus terngiang-ngiang di telinga Mayang. Karena termakan bujuk rayu Mahesa kala itu, ia pun terlena. Ia menyerahkan mahkota kesuciannya begitu saja pada Mahesa. Ia yakin, Mahesa pasti tidak akan membohonginya. Tapi apa lacur. Dua bulan telah berlalu, namun Mahesa tidak juga kembali ke kampung. Apalagi untuk melamarnya. Dan sekarang ia hamil, sementara Mahesa entah berada di mana.
Keringat dingin kian bermanik di keningnya. Mayang ngeri membayangkan bagaimana kecewanya kedua orang tuanya, saat mengetahui bahwa dirinya hamil di luar nikah. Apalagi orang yang menghamilinya kabur begitu saja. Ia pasti akan diusir oleh kedua orang tuanya karena membawa aib dalam keluarga.
Mayang ketakutan. Dengan keringat dingin membanjir, ia mencoba kembali bekerja. Tugasnya di pabrik ini adalah sebagai buruh pengemas gula pasir. Pendidikan terakhirnya yang hanya kelas 2 SMA, membuatnya hanya bisa bekerja sebagai buruh. Tahun lalu, ia terpaksa berhenti sekolah karena ketiadaan biaya. Ayahnya tidak mampu membiayai pendidikan tiga orang anak sekaligus. Karena ia adalah anak perempuan sementara dua adiknya laki-laki, ayahnya memutuskan sebaiknya dirinya saja yang mengalah. Karena perempuan toh pada akhirnya akan ke dapur juga. Mayang pun mengalah. Ia kemudian melamar pekerjaan di pabrik gula yang tidak jauh dari rumahnya. Hingga hari ini, sudah setahun lebih dua bulan ia bekerja.
"Kenapa kamu malas-malasan bekerjanya, Mayang? Kamu mau dipecat hah?" Bentakan dari mandor pengawas pabrik, membuat Mayang terlonjak. Ia kaget. Gula pasir yang sedianya akan ia kemas pada mesin vertical packaging, nyaris tumpah karena gerakan tidak terkontrolnya.
"Maaf, Bu Henny. Saya sedikit kurang enak badan. Tapi saya janji akan mengemas gula-gula ini secepat mungkin," tukas Mayang cepat. Kalau ia sampai dipecat, bagaimana nasib pendidikan kedua adiknya? Semenjak ayahnya sakit-sakitan, kewajiban membiayai sekolah adik-adiknya kini telah berpindah ke punggungnya.
"Kamu ini saya perhatikan sudah dua bulan tidak semangat bekerja. Tepatnya semenjak anak magang yang bernama Mahesa itu kembali ke kota. Mayang, dengar baik-baik nasehat saya. Kamu jangan percaya begitu saja pada mulut manis mahasiswa kota itu. Dia memacari kamu hanya sekedar untuk membuang sepi di kampung ini. Jangan berharap terlalu banyak. Nanti kamu sakit hati sendiri. Mengerti? Sekarang sebaiknya kamu bekerja, kalau kamu tidak mau saya laporkan pada pihak perusahaan!"
"Ba--baik Bu Henny." Mayang dengan gugup kembali memaksakan diri bekerja. Ia harus mencari kesibukan agar pikirannya tidak melayang ke mana-mana. Mendengar nasehat Bu Henny tadi, tekadnya makin bulat untuk mencari Mahesa ke ibukota. Ia sekarang telah hamil di luar nikah. Itu artinya dan ia harus meminta pertanggungjawaban Mahesa.
Mayang memindai jam dinding. Dua jam lagi, waktu kerjanya akan usai. Ia berencana akan kembali menemui Bu Henny, untuk izin tiga hari. Ia tahu kalau izin yang ia minta, pasti akan diikuti dengan pemotongan gaji. Tetapi ia tidak peduli. Perutnya akan membesar dari hari ke hari. Hal seperti ini tidak bisa ditangguhkan lagi. Ia harus meminta pertanggungjawaban Mahesa secepat mungkin.
***
Sore hari saat pulang ke rumah, Mayang heran melihat banyaknya aneka makanan yang tersaji. Belum lagi kedua orang tuanya memakai pakaian terbaik, yang biasanya hanya mereka kenakan pada acara-acara tertentu. Ada tamu yang akan datang sepertinya. Kedua adiknya, Aris dan Arfan juga tidak kalah rapi. Mereka mengenakan kemeja kotak-kotak, yang merupakan pakaian lebaran mereka tahun lalu. Tamunya ini pasti sangat istimewa.
"Kamu kok lama sekali sih pulangnya, May? Sana cepat mandi dan berdandan yang rapi. Sebentar lagi Sena dan ibunya akan datang."
Kalimat sang ibu yang mengatakan Sena dan ibunya akan datang, menghadirkan rasa ngeri di hati Mayang. Bukan rahasia lagi kalau Sena itu menyukainya. Sena adalah anak tunggal Bu Zainab. Sedangkan ayahnya Sena, tidak seorang pun yang tahu keberadaannya. Menurut rumor, Sena adalah anak haram karena Bu Zainab hamil di luar nikah. Sedari kecil, Sena memang sering diolok-olok sebagai anak haram. Tetapi Bu Zainab dan Sena itu pekerja keras. Mereka mempunyai sebidang tanah yang lumayan luas. Mata pencaharian Bu Zainab dan Sena adalah bertani.
"Untuk apa Mas Sena dan Bu Zainab kemari, Bu?" tanya Mayang dengan jantung berdebar. Jangan... jangan...
"Untuk apa? Ya untuk melamar kamu lah. Sena itu sudah berumur 25 tahun. Sudah pantas untuk berumah tangga. Kamu memang baru berusia 17 tahun. Tapi kamu 'kan perempuan. Sudah tidak sekolah lagi. Jadi jika ada yang melamar, ya diterima saja. Apalagi yang kamu tunggu?" tutur ibunya.
Astaga, benar 'kan tebakannya? Bagaimana ini? Sedangkan saat ini, ia tengah berbadan dua.
"Tapi Bu--"
"Tidak ada kata tetapi. Ibu sudah setuju untuk menerima lamaran Sena. Titik."
Mayang bergeming. Tidak bisa begini. Ia harus melakukan sesuatu. Lamaran dari Sena, tidak boleh ia terima. Tetapi menilik sikap ibunya yang tidak mempedulikan keberatannya, ia harus memakai strategi lain. Mudah-mudahan saja, efek kejutnya ini berhasil menggagalkan lamaran Sena. Begitulah, saat mendengar suara motor Sena memasuki halaman, Mayang menarik napas panjang. Ia telah siap berakting. Ia tahu kalau kata-katanya ini akan sangat melukai Sena. Namun setidaknya luka ini akan menyelamatkan penyesalan tidak berkesudahan Sena, apabila ia menerima lamarannya. Sena pasti merasa seperti memakan kotoran, apabila melamar seorang wanita yang telah berbadan dua bukan?
Saat ketukan pintu terdengar, Mayang beranjak dari kursi dan membukanya dengan gerakan kasar.
"Mas mau apa membawa ibu Mas ke sini?" sembur Mayang kasar. Sekilas Mayang melihat keterkejutan di wajah Sena. Wajar Sena kaget. Karena selama ini ia tidak pernah berbicara kasar kepada siapa pun.
"M--Mas ma--mau melamar, Dek Mayang. Mas dan ibu Mas, sudah lebih dulu membicarakan masalah ini dengan ibunya Dek Mayang. Dan--dan ibu Dek Mayang sudah setuju," jawab Sena gagap.
Mayang menarik napas pendek-pendek demi menenangkan debaran jantungnya. Ia nyaris tidak sanggup melanjutkan sandiwara, saat melihat piasnya wajah Sena. Sena tampak serba salah. Mayang sendiri tidak mempersilahkan Sena dan Bu Zainab masuk. Ia menahan mereka berdua di depan pintu. Hal itu memang ia sengaja. Ia ingin mempermalukan Sena, sehingga niatnya buyar dan lamaran pun akhirnya dibatalkan.
"Mau melamar Mayang? Di rumah Mas Sena ada cermin tidak?" Mayang meringis. Ia tahu kalimat-kalimat yang akan ia lontarkan berikutnya akan menghancurkan harga diri Sena. Sementara para tetangga mulai berkumpul di halaman. Mereka tertarik mendengar suara ribut-ribut di depan rumahnya. Untungnya, saat ini kedua orang tuanya sedang berada di dapur. Ayahnya yang berpenyakit lambung memang tidak boleh terlambat makan. Tetapi Mayang yakin, sebentar lagi kedua orang tuanya pasti akan keluar. Mustahil mereka tidak mendengar suara ribut-ribut di luar. Untuk itu ia harus menyelesaikan sandiwaranya secepat mungkin. Saat melihat Sena mengangguk ragu, Mayang pun kembali mencecarnya.
"Oh ada toh . Nah, kalau ada, harusnya Mas bercermin dulu sebelum ke sini. Apa pantas Mas yang kere ini melamar Mayang? Yakin Mas sanggup menghidupi Mayang?" sindirnya sadis. Mayang sampai ingin menggigit lidahnya sendiri mendengar kata-kata tidak manusiwinya. Mata Bu Zainab berkaca-kaca. Mayang merasa sangat berdosa karena telah melukai hati Sena dan Bu Zainab. Namun hebatnya, Sena masih belum mau menyerah. Ia menebalkan muka dan tetap pada niatnya semula. Sementara para tetangga menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berkasak kusuk mengatakan kalau dirinya adalah perempuan yang tidak tau diri.
"M--Mas su--sudah lama menabung, Dek. Mas juga berjanji akan bekerja keras untuk menafkahi Dek Mayang." Suara Sena bergetar. Mayang sampai ingin menangis melihat perjuangan Sena. Sementara Bu Zainab sudah benar-benar menangis.
"Maaf, Mas. Seberapa keras pun Mas bekerja, Mas tidak akan mampu mewujudkan impian-impian Mayang. Mayang butuh laki-laki yang mapan dan kalau bisa tampan Mas. Bukan laki-laki kere dan ceking seperti Mas ini. Sadar diri dong, Mas."
Maafkan Mayang, Mas. Semua ini Mayang lakukan demi kebaikan Mas sendiri. Mayang minta maaf sekali ya, Mas? Bu Zainab.
"Sudahlah, Sena. Ayo kita pulang, Nak. Hati Ibu sakit mendengar kamu dihina seperti ini."
Hati Mayang pun sakit mendengar kata-kata Mayang sendiri. Maafkan, Bu. Maafkan.
"Ibu Mas benar. Sebaiknya Mas pulang saja. Kebetulan saya juga tidak ingin punya suami anak haram. Sudah miskin, jelek, anak haram lagi. Tidak ada satu hal pun di diri Mas yang bisa saya banggakan."
Plak!
Saat terdengar langkah-langkah bergegas dari arah dapur, Mayang tahu, pasti ibunya akan keluar. Dan tamparan pedas di pipinya ini adalah bukti kemarahan ibunya.
"Kamu membuat malu Ibu, Mayang! Ibu sudah menerima lamaran Sena sebelumnya. Sena itu anak baik. Kamu beruntung memiliki suami sebaik dia!"
"Kalau begitu, silahkan saja Ibu menikah dengan Sena!"
Plak! Plak!
Tamparan bolak balik dari ibunya, membuat Mayang begitu gembira. Ia puas karena ibunya menamparnya. Ia dengan senang hati menerima makian dari ibunya. Bahkan, umpatan dari para tetangga yang bergerombol di halaman depan pun ia terima dengan baik. Ia merasa dengan menerima makian dari mereka semua, sedikit melegakan hatinya. Ia memang pantas diperlakukan seperti ini. Sementara Sena dan Bu Zainab telah pergi dengan motor yang sengaja digas kencang. Sena tadi tampak malu dan sakit hati. Mayang yakin, seumur hidup, Sena tidak akan bisa melupakan penghinaan luar biasa yang diterimanya hari ini.
Dan sisa malam itu, ia habiskan dengan menerima segala kemarahan dan kekecewaan dari kedua orang tuanya. Ibunya terus mencecar bahwa ia membuang-buang kesempatan menjadi menantu orang kaya. Menurut ibunya, ayah kandung Sena itu kaya raya. Ibunya mendapatkan informasi itu dari mulut Bu Zainab sendiri. Dan ibunya berharap siapa tau ayah kandung Sena akan mencari putranya. Dengan begitu ia akan menjadi menantu orang kaya dan bisa membantu perekonomian keluarga.
Saat ibunya membahas tentang masalah perekonomian keluarga, Mayang merasa timingnya tepat sekali untuk ia meminta izin ke ibukota. Mayang beralasan kalau Tanti, anak Pak Dullah yang kini sudah sukses di Jakarta, mengajaknya bekerja. Dan ia ingin membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di sana. Pada mulanya kedua orang tuanya keberatan. Mereka takut kalau ia dijahati orang di luar sana. Tetapi saat ia membahas akan biaya pendidikan kedua adiknya, kedua orang tuanya luluh juga. Mereka mengizinkan karena mengira ada Tanti yang akan menjaganya di sana. Begitulah. Pada pukul tujuh malam, ia mengemas beberapa stel pakaiannya dalam satu tas ransel. Ia bertekad akan mencari Mahesa di Jakarta sesuai dengan alamat yang Mahesa berikan dua bulan lalu. Pikirannya penuh dengan rencana baru. Ia berpikir, seandainya pun ia pulang ke kampung dan tidak jadi bekerja dengan Tanti, tapi kini statusnya jelas. Ia adalah seorang istri dari Mahesa Haryanto. Sepanjang malam, Mayang tidak bisa memejamkan mata sepicing pun. Otaknya begitu penuh dengan rencana-rencana. Semoga saja apa yang ia rencanakan sesuai dengan kenyataan. Aamiin.
***
After that, I began prioritizing my divorce procedures. However, Jessica refused to sign the divorce agreement no matter what.Left without a choice, I could only file for a court divorce. At the same time, I used 2% of my shares to bribe Jessica's parents into taking my side. As long as they could convince Jessica to sign the divorce agreement, I'd give them the 2% of the shares I promised them.All the Fletchers cared about was money. They never really gave Jessica the attention she needed her whole life, anyway.It was difficult on their finances nowadays, seeing as the money they received from their shares was barely enough to sustain their lifestyle. The 2% I promised them was like a lifeline being offered during their time of need.In the end, I had no idea how, but the Fletchers managed to get Jessica to sign the divorce agreement before the court hearing. One month later, they even took her to the courthouse so that she could receive the divorce certificate. When I laid m
I was slightly irritated by Jessica's presence.A few days ago, I had already made the truth clear to her. I even mailed her the divorce agreement, and yet, she still refused to sign it.I couldn't understand her thought process at all. She was the one who was hung up on Benedict the whole time. My actions should please her to no end.Furious, Jessica stomped over and questioned me. "Who the hell is she? When did you get to know her?"I was about to answer her when Yvette interjected smoothly while flipping her hair. "We're old classmates, Jessica. I'm Yvette Miller."Jessica was so pissed that her chest kept heaving violently."Oh, I see now! I remember that you two were seatmates back then! Did you two already get together a long time ago? Is that why you want a divorce, Oliver?"I just glanced at Jessica with a frown."Don't go around thinking that everyone else has a relationship as shameless and messy as the one you have with Benedict, Jessica!" I retorted.Yvette added
I mailed another copy of the divorce agreement to Jessica's house, ensuring that she'd receive it personally. That way, I could get her to sign it as soon as possible.Ever since I became the chairman of the company, I had a huge pile of tasks to deal with. As such, my life was thrown into a busy frenzy. So, I had to hire an assistant.When my new assistant reported to work on her first day, I had a feeling that she looked a little familiar for some reason. So, I shot her a few more glances than usual.Unexpectedly, the assistant burst into a fit of giggles."Wow. You don't recognize me anymore after a few years of separation, huh?"Upon hearing her voice, I quickly recalled a certain someone. This made me widen my eyes in shock."Wait, you're Yvette Miller?"Yvette nodded in response. She smiled as she passed her work badge to me."That's right. It seems that you haven't forgotten me after all."I still found it hard to believe that Yvette was my assistant. I stared at her na
I frowned slightly at Jessica's words. I didn't want to deal with her at all. Then, I realized that I still needed her to sign the divorce agreement. So, I had no choice but to open the door."You're still mad at me, aren't you? My parents told me that you wanted a divorce, but I refused to believe them!"Jessica's eyes were red and puffy. Clearly, she had cried earlier.The sight left me completely stunned. In the past five years, Jessica rarely cried. But when I noticed her phone's screen, I quickly snapped out of my trance. After all, her phone's wallpaper was a photo of her and Benedict.I took a step backward so that I could keep my distance from Jessica."I'm serious, Jessica. Since you don't love me, we might as well get a divorce."Jessica panicked instantly after hearing my words."Why? Is it because of what happened at the wedding? I already told you that it was a promise Benedict and I had made in the past! Seriously, he's like an older brother to me now!"I pointe
Although I decided not to love Jessica anymore, the sight of the photos still left my heart throbbing in pain. The amazing memories we had woven together in the past did exist, but the fact that she preferred Benedict's company over mine still stood. It was said that human brains were capable of
After dealing with my friends and relatives, I went home right away. The moment I opened the front door, I saw the wedding decorations as well as a wall plastered with photos.Before the wedding, I had specifically hired a team to decorate my residence. That way, Jessica and I would be able to remi
Since I was about to say my wedding vows earlier, I still had the microphone raised to my lips. Hence, everyone could hear my voice clearly.Jessica's furious expression froze on her face, but she soon snapped out of her trance. She merely gazed at me in disdain."Don't tell me you're jealous, Oli
I had looked forward to having my wedding with my beloved partner, Jessica Fletcher, for five long years. There was once when I thought I'd be the happiest man alive on my wedding day. After all, I got to marry my beloved Jessica.At least, I thought I was certain that my happy ending was within












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.