LOGINI got back from a six month work trip and found my pet hamster dead. I couldn't just bury it. I wanted to preserve it, keep it whole. But when I carefully opened it up, I went still. Its lungs were pitch black. That kind of damage couldn't happen fast. It meant months of breathing toxic smoke. But my husband and I never smoked. So who'd been living in my house while I was gone?
View MoreApa jadinya kalau elu mesti kawin sama cewek yang masih bocah ingusan? Ribet! Resek! Tapi, gue terpaksa melakukannya demi kakek yang begitu sayang sama gue.
Bayangin, deh, gue mesti kawin sama bocah yang sama sekali bukan tipe gue. Kurus kerempeng. Dada rata. Jilbaban pula. Iyuuh banget pokoknya.
Kalian pernah terpana sama ketampanan bokap gue? Dia bahkan nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama gue.
Gue, Ken. Dan ini cerita hidup gue.
**
“Kinan, cepet pulang, ibumu didatangi Juragan Ganda.” Seorang wanita paruh baya mendekati gadis yang tengah membersihkan rumput di pinggiran kebun.
Gadis itu mematung sesaat, sebelum akhirnya kembali sadar. “Juragan Ganda?” gumamnya lirih.
“Iya. Ibumu nangis-nangis ketakutan mau ditendang sama anak buahnya Juragan.”
“Astagfirullah.” Mendengar itu Kinan lantas berdiri dan berlari menuju rumahnya. Gerimis mulai membesar dan para pekerja mulai meninggalkan pekerjaannya untuk berteduh. Sudah hampir jam empat, waktu para pekerja untuk pulang.
Masing-masing mereka mulai membereskan peralatan. Namun, sepertinya cuaca semakin tidak bersahabat. Mereka pun terpaksa menunggu hujan agak reda.
Berbeda dengan Kinanti. Dia terus berlari menantang derasnya hujan. Jarak ke rumahnya tak jauh lagi dan dia bisa melihat dua pengawal Juragan Ganda berdiri di luar gubuknya.
“Ibu!” teriak Kinan dengan tubuh dan baju yang basah. Laki-laki berbadan tegap yang berjaga langsung menoleh ke arah suara.
Kinan dengan keberanian yang tersisa dia melewati para pengawal Juragan Ganda. Terlihat Laki-laki uzur itu tengah berdiri dengan pongah di depan sang ibu yang duduk bersimpuh di atas tikar lusuh. Napasnya tersengal dengan wajah ketakutan.
“Kinan?” gumam wanita kurus yang bersimpuh di lantai sana, membuat lelaki bertubuh jangkung yang berdiri pongah itu ikut menoleh ke arah pintu. Bibirnya mengurai senyum yang menjijikan.
“Kinanti,” ucapnya menyebut nama gadis itu dengan mata penuh nafsu.
“Untuk apa lagi kamu ke sini? Carilah laki-laki laknat itu. Jangan ganggu aku dan ibuku.” Kinan berteriak.
Lelaki dengan rambut yang mulai dipenuhi uban itu terbahak sejenak sebelum akhirnya kembali memasang wajah serius lalu manggut-manggut.
“Dia itu bapakmu. Karena dia minggat begitu saja, jadi, kamu … dan … kamu.” Juragan Ganda menunjuk Kinan dan ibunya bergantian. “ Yang berkewajiban melunasi utangnya.”
“Tiga puluh lima juta, bukan uang yang sedikit.” Juragan Ganda berucap sembari menarik cangklong rokok dari bibirnya yang menghitam. Mata Kinan terbelalak.
“Kami tidak punya uang sebanyak itu, Juragan.” Wanita kurus di bawah sana menimpali dengan suara seraknya.
“Itu bukan hutang kami. Carilah laki-laki keparat itu ke neraka!” sergah Kinan. Juragan Ganda kembali terbahak.
“Berani juga kamu, ya.” Tangannya terulur dan jari-jari besar itu menekan rahang Kinan dengan kuat.
“Kamu semakin cantik saja, Kinan. Sepertinya si Sukardi tak perlu membayar utangnya dengan uang. Kamu saja sebagai gantinya. Kamu akan menjadi istriku yang ke sembilan. Bagaimana, Narti?” Juragan Ganda mengalihkan pandangannya pada wanita kurus di bawah sana. wanita bernama Narti itu menatap nanar pada sang putri yang masih dalam cengkeraman lelaki yang terkenal doyan perempuan.
“Aku nggak sudi!” bentak Kinanti dan menyemburkan ludah tepat mengenai hidung besar Juragan Ganda. Lelaki yang berumur lebih dari setengah abad itu langsung memejamkan matanya dan menyeka cairan itu dengan punggung tangan.
“Aku sudah putuskan. Kinanti, hari ini juga aku bawa. Cari dan katakan pada suamimu yang tidak berguna itu. Hutangnya lunas dengan ganti anaknya.” Juragan Ganda menyeringai.
Kinanti memberontak. Tangannya berusaha melepaskan jemari besar yang mencengkeram pipinya kuat. Kakinya menendang, tetapi Juragan Ganda lebih sigap. Dia meminta pengawalnya untuk membantunya menahan kaki dan tangan Kinan.
“Aawww!” Juragan Ganda berteriak karena Kinan menggigit pinggir telapak tangannya yang hendak membekap mulut gadis itu.
“Sialan kamu!” matanya melotot dan sebelah tangannya mengusap tangannya yang digigit Kinan.
“Lepas! Aku tak sudi jadi gundikmu!” teriak Kinan masih memberontak dalam kungkungan dua orang pengawal Juragan. Namun, lelaki dengan wajah penuh bopeng itu malah terbahak.
“Baiklah, kalau begitu … bagaimana kalau aku mencicipi dulu tubuhmu, setelah itu aku jual saja kamu ke tempat pelacuran.” Suara Juragan Ganda diakhiri dengan tawa yang menggelegar.
“Bawa dia!” titah lelaki itu dengan ujung bibir yang bergerak-gerak menyesap rokok di cangklongnya.
“Jangan, Juragan!” Narti berusaha bangkit mengejar, tetapi kaki Juragan Ganda langsung menendangnya hingga wanita kurus itu terjungkal.
“Ibu!” teriak Kinan yang meronta-ronta dalam pegangan dua pengawal.
“Bawa!” teriak Juragan Ganda menggelegar seperti suara petir yang mewarnai hujan besar kali ini.
“Lepaas!” Kinan meronta-ronta, namun tenaganya kalah besar dari pada dua pengawal yang menyeretnya. Mereka terus membawa Kinan menuju mobil Jeep yang ada di pinggir jalan.
**
Beberapa saat yang lalu.
Albany berlari dari bangunan yang menjadi gudang sayur-sayuran menuju mobilnya. Tangan kanannya dia gunakan menutupi kepala karena hujan mulai deras.
“Pak Al, baru pulang?” sapa seorang pekerja yang baru beres mengangkut karung-karung sayuran ke dalam gudang.
“Iya, Pak. Saya duluan, ya,” pamit Albany terlihat sopan. Lelaki yang masih saja tampan di usianya sekarang itu memang selalu ramah pada pekerjanya.
“Mangga, Pak Al, saya juga sebentar lagi mau pulang,” sahut lelaki berbaju kumal itu.
Albany menjalankan mobilnya perlahan. Jalanan licin dan seperti sungai di beberapa bagian karena hujan semakin deras.
Di depan sana ada jalan besar yang menuju ke perkampungan. Mata Albany menajam saat melihat pemandangan yang menarik perhatiannya. Seorang gadis sedang diseret beberapa orang lelaki.
“Apa-apaan ini?” gumamnya dan lekas mempercepat laju mobilnya.
Semakin dekat, terlihat semakin jelas jika gadis itu benar-benar diseret di jalanan aspal berlumpur menuju sebuah mobil. Sementara gadis itu tampak meronta-ronta minta dilepaskan.
Dari sosok gadis itu Albany merasa mengenalnya. Terlebih dari baju lusuh yang sering dipakai gadis itu ketika membersihkan rumput-rumput di kebun miliknya.
“Sepertinya itu Kinan,” gumamnya dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Albany gegas turun dan berlari menuju orang-orang yang berusaha memasukan seorang gadis ke bagian belakang mobil.
“Tunggu! Kalian mau apakan?!” teriaknya menembus guyuran hujan yang semakin membesar.
“Siapa kau?” Juragan Ganda berhenti dengan tatapan nyalang. Sebelah tangannya berkacap pinggang, sementara tangannya yang lain memilin ujung kumis.
“Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku tidak suka jika ada orang yang bersikap buruk pada perempuan,” jawab Albany lantang. Juragan Ganda menarik sebelah ujung bibirnya.
“Aku kira siapa.” Juragan Ganda menyungging senyum sinis.
“Masukan!” teriak Juragan Ganda pada anak buahnya dan dia pun melangkah menuju kursi di balik kemudi.
“Tunggu!” sergah Albany menahan langkah para pengawal yang tinggal menaikan Kinan ke mobil. Dengan langkah kaki lebar-lebar dia menerjang dua pengawal yang memegangi Kinan dengan kaki kanannya. Salah satu dari mereka terjungkal ke belakang. Tinggal satu lagi pengawal yang akhirnya melepaskan Kinan untuk berkelahi dengan Albany.
He looked up at me, wrecked.Then he broke. Voice low, shaking. "Lori... please. Don't do this. I messed up—really messed up. Just give me one more shot. Remember med school? Those all-nighters, the charts, the coffee. You said we'd always be this happy..."I sighed.It wasn't that I didn't remember.We were college kids then. Finals week, I crashed on a library desk, dead tired. He showed up with iced drinks and pressed them to my face just to mess with me.When we landed top scholarships, we celebrated at a cheap place by the campus gate.During internships, we stayed late. I waited for him outside the lab.After graduation, he bought his first apartment in the city.I had loved him.We had been happy.But betrayal doesn't fade. It shreds everything.Stuart shook his head like he was drowning, tears streaming. "No. I won't sign. I won't. Lori, I love you—I really do. I know I screwed up. I've hated myself for it. I swear I'll never do it again..."I just stood there. Didn
The big screen flickered on.Zoey and Stuart, clear as day, sneaking through a hotel hallway.Then their flirty chat logs.An audio clip tied to the plagiarism mess.Zoey's voice filled the room. "Uncle, once this works, you can officially put me in Lori's position. Her research alone is enough to qualify me for associate director."Dr. Fletcher shot up and slammed the table. "You—this is an illegal recording!"I smiled. "Don't stress about how I got it. Just answer me—was that you or not?"Then I turned to Dr. Sinclair. "I have three points."I held up a finger. "First, Dr. Gacke and Dr. Fletcher are uncle and niece."Another finger. "Second, Dr. Gacke worked with Dr. Cooper to steal my research. Dr. Cooper himself can confirm that."Third finger. "And third—Dr. Cooper had an affair with an intern. That violates hospital conduct policies, doesn't it?"The footage kept looping on the screen.Doctors who'd never taken my side before started speaking up."Dr. Sinclair, the e
The hospital slapped together an investigation team and dragged me into a conference room.Stuart was one of the people questioning me.Every question was a setup. No matter what I said, I'd lose."During the surgery, did you forcibly take over the intern's procedure?" he asked."There was no force. The patient started—""Yes or no." He didn't even blink. "Was your name on that paper?""That's a stupid question. I wrote it.""Yes or no."Yeah. On purpose.I was already clocking this whole thing as a fake investigation when the lawyers dropped the bomb.The head of the panel—Dr. Fletcher—was Zoey's uncle. Her mom's brother.So that was it. Scripted from the jump. He'd just been waiting for me to trip so he could shove his people forward.I froze for half a second, heat rushing straight to my skull. Then it cleared.Fine.If they wanted a game, I'd go bigger.Stuart opened his mouth again, trying to corner me, and I cut him off. Calm. Flat. "Stop. If you really think Zoey'
I didn't say anything else.I didn't mention divorce. Didn't confront him. I went home like normal.But he was home less and less. One day it was a meeting. Next day, some academic exchange. Excuse after excuse.I could tell. He wouldn't meet my eyes. Barely looked at me.I knew what that meant.Stuart wasn't brave. He could cheat, sure—but facing the fallout? That was different. Losing everything. Public humiliation. Getting kicked out of a city like Nordica City.He came from a small town. Marrying me and landing a job here hadn't been easy. Deep down, he knew divorcing me and choosing Zoey might not actually level him up.Still—They made a move.A few days after the surgery, I'd just finished an eight-hour case when the head nurse stopped me. "Dr. Loughlin, you should check the trending topics."I pulled out my phone. Third on the list was my name.[Nordica City National Research Hospital Dr. Lori Loughlin Takes Credit][Dr. Lori Loughlin Plagiarizes Intern's Paper]Zo
Stuart stammered, "Lori... you... you have to save my mom."I shoved through the OR doors.Zoey still wouldn't move. "I—I can—"I stepped in behind her. "Get off."I took the instruments. Clean. Precise. I clamped the bleed.The pressure crept up. The monitor settled into a steady beep.Two ho
A week later, there was a medical exchange conference in Nordica City. Stuart and I both went.I left early on purpose, then texted him that I'd forgotten the bracelet he gave me and asked him to bring it.When he arrived, he handed it over like nothing.I put it on, head down. Didn't say a word.
I didn't say a word. But I got it.Stuart had taken my bracelet, handed it off to her, and given me a knockoff like I wouldn't notice. And Zoey? She wore it on purpose. Just to rub it in.I smiled and slipped my arm through Stuart's. "We'll head out first."In the car, he leaned in close, whisper
I wasn't out to suspect Stuart. I mean, in marriage, trust was the whole deal, right? That was why we never put up cameras or snooped through each other's phones.Maybe I'd just been too naive.I tore through the whole house—nothing. No ashtrays, no lighters, not even a hint of smoke. For a second












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.