Se connecterOn my wedding day, the groom, Robert Jensen, is nowhere to be seen. All that's left of him is a letter and a baby who's born with a heart disease. "I love you, Winona, but I've also fallen in love with Claire. Since I can't give her a proper title at all, I decided to go on a world trip with her in order to make it up to her. "I'll also give you a chance to raise my and Claire's baby. While we're enjoying our trip, you can spend some quality time with our baby." The thing is, I don't have any blood relations with this baby. Why the hell should I raise Robert and Claire's baby, to begin with? Six years later, I take my son, Anson Jensen, to the airport so that we can see my husband, Joshua Jensen, off to his business trip. When I turn around, I spot Robert, who's pushing his suitcase toward me. As he stares at Anson in my arms, he exclaims in surprise, "Winona, is this my and Claire's child? You raised him well! "Unfortunately, we're already married overseas, so I can no longer marry you. But don't worry, Winona. To me, you're already my wife." As I look at Robert's face, which is rather similar to Anson's features, I let out a soft chuckle. "Don't go around mistaking other people's children for your own, Robert. Anyway, this is your younger cousin."
Voir plus“Aku akan menikah lagi,” kata Daven. “Dan aku tak akan mengulangi ucapan ini, termasuk meminta izinmu.” Daven meletakkan cangkir kopinya dengan segera. Ia menyudahi sarapan yang bahkan belum disentuh sepenuhnya.
Althea berdiri mematung di dekat meja makan panjang berlapis marmer putih itu. Jemarinya masih memegang spatula mulai gemetar. Tapi raut wajahnya berusaha dibuat agar tetap tenang. Ia menunduk sejenak, membiarkan kata-kata Daven meresap meski serupa racun yang lambat namun menghancurkan dari dalam.
“Dengan Vanessa?” suaranya nyaris seperti bisikan.
Daven tak menoleh. Ia hanya menarik napas singkat, lalu menjawab dengan dingin, “Ya. Siapa lagi?”
Suaminya, Daven Callyester, menikahinya tanpa cinta. Cintanya habis untuk wanita bernama Vanessa Blake. Bisa dibilang pernikahan Daven dan dirinya, adalah penghalang kisah cinta mereka. Tapi Althea bisa apa jika ini adalah permintaan khusus dari wanita tua yang baik hati dan menyayanginya.
Evelyn Callyester, nenek dari Daven.
Padahal Althea juga tak menginginkan pernikahan ini ada. Dia hanya ingin pemakaman yang layak untuk ibunya. Segala yang telah terjadi, Althea anggap adalah takdirnya. Dia sudah ikhlas merelakan semuanya meski ia sangat bersedih kehilangan ibunya. Tapi Eve tak setuju. Ia meminta cucu kesayangannya, Daven, si penabrak alias orang yang bertanggung jawab penuh atas kematian ibu Althea, untuk menikahi Althea. Selain sebagai bentuk tanggung jawab, Eve berpikir, Althea sebatang kara di dunia ini.
Daven sangat amat terpaksa menerima permintaan neneknya. Ia tak bisa menolak keinginan neneknya itu. Tapi sekarang, pria itu sudah bisa melepaskan diri dari bayang pernikahan yang tak diinginkannya ini. Evelyn Callyster meninggal karena sakit dua minggu lalu. Dan sudah tak ada alasan Daven untuk mempertahankan pernikahannya, kan?
Senyum tipis, nyaris tak terlihat, merekah di bibir Althea—bukan karena bahagia, tapi karena getir yang begitu dalam. Ia mematikan kompor, lalu meletakkan spatula dengan hati-hati. Sekali lagi matanya memejam kuat berusaha menahan gejolak di hati yang sudah terlanjur bergemuruh hebat.
“Aku tidak akan menghalangimu,” katanya akhirnya, suaranya lembut, nyaris terlalu lembut untuk didengar di ruangan seluas itu. “Kita sama-sama tahu, aku tak pernah memiliki tempat di hatimu.”
Daven merespons dengan diam. Ia tak menyangkal, tak membenarkan apa yang Althea katakan. Hanya sorot matanya yang sedikit terganggu saat melihat Althea berjalan perlahan ke arahnya. Untuk sesaat, ia mengira wanita itu akan menangis, memohon, atau menampilkan kesedihan hanya agar Daven menjatuhkan rasa kasihan.
Tapi tidak.
Althea berdiri tegak. Tangannya mengepal di sisi dress yang sederhana. Rambut hitam panjangnya tergerai indah menghias kepalanya. Manik matanya cokelat terang yang hangat kini matanya menatap lurus tanpa ekspresi. Pada pria yang selama ini hanya menjadi sosok asing di bawah atap yang sama.
Sebenarnya Althea itu cantik, tapi kecantikannya tak mampu menggetarkan hati Daven. Bagi Daven, Althea adalah sosok pengganggu dan orang asing yang dipaksa masuk ke hidupnya. Di saat ia memiliki kesempatan untuk menyingkirkan sang pengganggu, maka itulah yang Daven lakukan.
“Berikan aku satu bulan dari semua waktumu,” ucap Althea dengan tenang. “satu bulan saja ... jadikan aku istrimu yang sesungguhnya.”
Daven menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”
“Aku akan pergi, seperti yang kau mau. Setelah kau mengucapkan janji pernikahan dengan kekasihmu,” Sungguh dada Althea terasa nyeri mengucapkan hal ini. “Kau bisa ceraikan aku dan kupastikan, aku tak akan pernah muncul dalam hidupmu lagi. Tapi sebelum itu, izinkan aku merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang istri. Bukan sekadar orang asing yang tinggal di rumahmu.”
Hening.
Lalu, tawa meremehkan keluar dari bibir Daven. Bahkan sampai pria itu mengusap sudut matanya saking tak menyangka, ucapan wanita yang berdiri tak jauh darinya ini sangatlah konyol. Apa dia pikirkan sebenarnya?
Satu bulan? Permintaan itu terdengar begitu menggelikan. Daven pun berjalan ke arah Althea, memperkecil jarak. Tatapan pria itu kini menelusuri wajah Althea seolah berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi. Siapa tahu, benar yang ibunya katakan jika Althea menginginkan kekayaan yang keluarganya miliki.
Siapa yang tak mengenal Daven Callyster? CEO Callyster Enterprise yang namanya sering kali masuk dalam jajaran pebisnis muda yang tersohor di Kota Migathan. Banyak orang yang bersaing mendekatinya, termasuk para wanita yang haus akan perhatiannya. Tapi Daven hanya mencintai satu wanita dan itu bukan istrinya. Melainkan wanita lain—Vanessa Blake, model terkenal yang namanya semakin naik daun.
“Kau serius?” Daven bertanya, suara dinginnya dibungkus rasa heran. “Ini bukan drama murahan, Althea.”
Althea mengangguk pelan. “Aku tidak meminta cintamu. Siapalah aku ini yang berhak meminta hal itu, Daven,” wanita itu tertawa miris. “Hanya saja tolong perlakuan aku secara pantas sebagai seorang istri. Makan malam bersamaku. Bicara sepatah dua patah kata setiap harinya. Berikah aku sedikit perhatian, walau palsu.” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. Kedua tangannya saling mengepal untuk menguatkan diri. “Setelah itu, aku akan pergi dengan tenang. Kau bebas menikahi siapa pun.”
Daven memicingkan mata, tak tahu apakah harus tertawa lebih keras atau merasa jengkel. Tapi di balik ketidakpercayaannya, ada sesuatu yang menusuk ke dalam sanubarinya. Sebuah permintaan sederhana—terlalu sederhana dan itu yang membuatnya penasaran.
Apa tujuan Althea sebenarnya?
“Kenapa kau tak meminta sesuatu yang jauh lebih masuk akal?”
Althea terdiam, ingin mengalihkan pandangannya dari Daven sangatlah sukar. Manik mata sekelam malam itu menatapnya tanpa jeda. Seolah memberi peringatan jika jangan mengalihkan diri dari pembicaraan yang belum selesai ini.
“Jika kau meminta sejumlah uang, katakan saja. Aku akan mengabulkannya.”
“Tidak,” sahut Althea tanpa gentar. Tekadnya sudah bulat. Ia tak akan mundur. Apa yang sudah ia katakan, tak akan ia tarik lagi.
“Kau benar-benar tidak tahu caranya menyerah, ya?” cibir Daven.
“Aku sudah menyerah, Daven,” Althea menjawab lirih. “Tapi aku hanya ingin satu kenangan yang bisa kuingat seumur hidupku. Sebelum aku pergi selamanya dari hidupmu.”
Tak ada yang bicara lagi di antara mereka.
Kali ini, sorot mata Daven tak lagi tajam. Ia menatap wanita di depannya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Antara bingung, terganggu, dan ... penasaran?
“Aku tak berjanji akan bersikap manis,” katanya akhirnya.
“Aku tidak pernah berharap kau akan mengubah sikapmu,” jawab Althea, masih dengan ketenangannya yang menghancurkan.
Dan dengan itu, kesepakatan tak terucap pun terbentuk.
Satu bulan. Tiga puluh hari bagi Althea untuk menjadi istri seorang Daven Callyster. Keadaan yang seharusnya sudah terjadi setahun lalu. Persis seperti waktu pernikahan mereka tapi sayangnya, Daven menganggap Althea hanyalah orang luar dan pengganggu.
Sebelum segalanya berakhir, Althea harus banyak berucap syukur karena Daven tak menolaknya.
“Hanya satu bulan, Althea,” kata Daven memberi peringatan. “Setelahnya kau harus pergi dari hadapanku.”
“Aku sangat mengerti apa permintaanku, Daven. Kau tak perlu khawatir.”
Daven mencibir dengan sinisnya. “Dan jika kau menginginkan lebih dari apa yang bisa kulakukan, aku tak akan segan mengusirmu.”
Althea mengangguk patuh.
“Jangan pernah mengingkari janjimu, Althea.” Daven sekali lagi menatap Althea dengan tajamnya. “Jika tidak, jangan salahkan aku untuk menghancurkan hidupmu.”
There were elders from the Jensen family in attendance as well. They came forward collectively the moment we arrived, gazing at Anson with profound concern. "You're finally better, our darling Anson. We're never going to let those awful people hurt you ever again."Anson politely greeted all the elders, using his sweet charm to put a smile on everyone's face.There were colorful balloons and string lights hanging all over the backyard, and on the table sat a massive superhero-themed cake alongside a whole spread of delicious food, featuring all of Anson's and my favorite dishes.Joshua carried Anson onto the stage, took the microphone, and looked at the crowd below, then at me. He sounded gentle while saying, "Today marks Anson's sixth birthday, as well as the sixth anniversary of the marriage between Winona and me. These six years contained both laughter and hardships, but thankfully, I've always had her and our son by my side. "I wed the young woman I love most six years ago,
Claire followed suit and dropped to her knees, knocking her forehead against the floor. "We recognize our mistakes now, Winona and Joshua! Please just let go of us this time! We'll never do anything like this again!"I looked down at them coldly and asked flatly, "Do you really think a simple apology can make up for what you've done? You ran out on our wedding, abandoned your own flesh and blood, and intentionally harmed my child, Robert—every single thing you did was an unforgivable sin."You destroyed a marriage, eloped with Robert, abandoned your own child, and deliberately hurt Anson, Claire. Did you actually think you could just get away with all of this?"Joshua raised his hand, signaling the bodyguards to pull the two of them apart. He pulled out a document and threw it down in front of them. "Here's the agreement to strip you of the Jensen name. You'll have nothing to do with the Jensen family anymore once you sign it. "That evidence regarding your deliberate harm to Anson
Robert kicked out wildly at the empty air, kicking up a cloud of dust. "Who's playing tricks here? You can't scare me!"It was then that the fluorescent infant shifted again, reappearing directly before them. In the glass jar, the infant, with its oversized head, stared intently at them and pleaded with a childlike voice, choking with emotions. "I'm so cold, Mommy and Daddy… Please hug me…"Claire screamed hysterically and scrambled back, pressing herself against the wall. "Get away from me! Go look for him, not me! He was the one who gave you to Winona!"Robert, who was being pointed at by Claire, turned completely pale at this juncture, his lips shaking incessantly. "It takes two to tango! How could I have a child if you weren't involved? Go after her instead—she's your mother!"It was then that the fluorescence flickered intermittently, while the infant's sobbing persisted, echoing within the confined space. "I want to be with Mommy and Daddy… Please hold me…"Claire suddenly d
Joshua and I leaned over at the same time and gently pulled Anson into our arms.Anson buried his face in the crook of Joshua's neck and whispered, "I protected Mommy. I bit that bad lady, but I couldn't beat that bad guy, Daddy…"Joshua's eyes instantly welled with tears. He gently patted Anson's back and said softly, "You did an amazing job, Anson. You're truly our brave son. You already protected Mommy well, so I'm very proud of you."Anson nodded, not quite fully getting it, and snuggled back into my embrace. "I'm not in pain anymore, Mommy. I'm just kind of hungry."I kissed his forehead tenderly and said, "I'll make your favorite ravioli for you once you're better, Anson."In the dead of night, after Anson had finally drifted into a peaceful sleep once more, Joshua wrapped an arm around me and led me into the silent corridor outside the hospital ward. He leaned against the wall and gently stroked my cheek before asking softly, "How would you like to deal with Robert and Cl






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.