My Secret Billionaire: Claiming My Stepsister's Fiancé

My Secret Billionaire: Claiming My Stepsister's Fiancé

last updateHuling Na-update : 2025-06-20
By:  Kimberly_RossiOngoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
10Mga Kabanata
1.3Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

WARNING: RATED 18+| NO RAPE!!! Excerpt; "Was I a good girl?" she hiccupped, her bare skin flushed and glowed as she rolled across the sheets like she owned the bed—and him. Six weeks without his touch had scraped her raw. She was slowly losing touch of her sanity. "You did good, Penguin," Alanis said, his voice low and rough as he reached for his tie. And just like that, the spell cracked. He was leaving...again. It wasn't fair, she had to remain in the shadows, while her perfect half-sister was rubbing his chest in public. Poppy slammed the door shut, while she arranged her robe, her eyes wet and wild. "Can you… stay… just one more night?" He hesitated. And she saw it, the guilt and pull. "You know how this—" Something made him stop mid-sentence. His gaze dropped. One sharp breath, and he was staring at her peaked nipple like it was a commandment. "Please?" she breathed, arching toward him. With a low growl, he tossed her back on the bed because he had been starved, and he was ready to devour his Penguin. ... Poppy never had a chance to be the golden girl. Not with a cruel stepmother, and a father who forgot she even existed. Penelope was given everything that belonged to Poppy. Now Penny's prize? A diamond ring—a wedding to Alanis Caelum, Velmora's most powerful billionaire. Cold, brilliant, and devastatingly magnetic. To everyone but Poppy. Because before he became Penny’s perfect fiancé, he belonged to Poppy—in the dark, in secret, in sin. He knows her body like a weapon. He calls her Penguin with a growl that makes her knees buckle. And when he’s inside her, he forgets who he's supposed to love. She had him wrapped so tight, he forgot the world.

view more

Kabanata 1

The Preparation

“Kisah kasih di sekolah, alangkah indahnya...” — Chrisye, 1980

Pagi di Sidomulyo selalu bikin hati tenang, seperti ada keajaiban yang cuma muncul saat matahari mulai naik. Hamparan sawah hijau membentang luas di bawah kaki Gunung Merbabu, seperti permadani hidup yang bernapas pelan, mengikuti irama angin pagi. Udara sejuk membawa aroma tanah basah, embun menempel di padi muda, dan langit perlahan berwarna merah muda bercampur oranye lembut. Cahaya matahari merayap pelan dari puncak gunung, seolah dunia sedang membuka mata dan berbisik tentang harapan yang belum terucap.

Ardi Santoso berdiri di tengah sawah, tangannya memegang cangkul kayu yang sudah tua, gagangnya licin karena digenggam bertahun-tahun. Punggungnya yang kuat, terlatih oleh kerja subuh sejak kecil, terasa ringan hari ini. Mungkin karena pagi ini terasa lebih hidup, atau cuma harapan kosong bahwa sesuatu bakal berubah, pikirnya. Dia anak petani, lahir dan besar di Desa Sidomulyo, sebuah kampung kecil yang terselip di lereng Merbabu, Jawa Tengah. Tahun 1988, di tengah semangat Orde Baru yang gila-gilaan dengan swasembada pangan, sawah buat Ardi bukan simbol kemajuan negara. Itu cuma hidup, sederhana, penuh keringat dan mimpi yang sulit diraih.

“Bapak, embunnya masih banyak. Saya siram dulu petak sebelah, ya?” tanya Ardi pada Pak Santoso, ayahnya, yang sudah membungkuk di sawah sejak fajar, memeriksa akar padi dengan tangan penuh lumpur.

Pak Santoso menoleh, matanya tajam meski wajahnya letih. “Cepat, Ardi. Jangan sampai matahari tinggi, padi kita butuh air sebelum panas.” Suaranya kasar tapi penuh perhatian, seperti orang yang membawa beban dunia di pundaknya.

Ardi mengangguk, lalu menancapkan cangkul ke tanah lembek. Gerakannya mengalir, senyaman napas yang keluar-masuk tanpa dipikir. Tapi di kepalanya, pikiran melayang. Kenapa hidup harus begini terus? Setiap hari cangkul, sawah, lumpur, lalu ulang lagi. Dia membayangkan dirinya di Semarang, duduk di bangku kuliah, belajar hukum atau teknik, lepas dari siklus tanam-panen yang bikin tangannya kapalan. Mimpi itu indah, tapi jauh, seperti puncak Merbabu yang cuma bisa dilihat dari kejauhan.

Sawah Sidomulyo punya pesona yang sulit dilupain. Padi muda bergoyang pelan ditiup angin, menciptakan ombak hijau yang seolah tak punya ujung. Di kejauhan, rumah-rumah Jawa dengan genteng merah berjejer rapi, asap tipis mengepul dari dapur-dapur yang baru nyala. Suara ayam berkokok bercampur dengan deru sepeda tua yang lewat di jalan setapak. Pasar desa, yang cuma beberapa ratus meter dari sawah, mulai ramai. Pedagang ikan wader dan tempe goreng udah teriak-teriak, saling bersahut.

“Ikan wader panas! Tempe mendoan, murah!” Suara Mbok Siti, ratu gosip pasar, menggema, selalu punya cerita baru buat tetangga.

Ardi senyum kecil mendengar itu. Pasar selalu bikin dia ingat Rendra Wijaya, sahabat masa kecilnya. Keluarga Rendra jualan beras, rumah mereka besar, halamannya luas, bahkan punya motor CB 100 yang kinclong, bikin anak-anak desa ngiler tiap lewat. Dulu, Ardi dan Rendra main bola di tanah berdebu, ketawa bareng tanpa mikirin apa-apa. Tapi sekarang, di tahun terakhir SMA, semuanya beda. Ardi pinter, selalu juara kelas, tapi Rendra punya duit, koneksi, dan mimpi kota yang udah di depan mata.

“Bapak, padi di ujung petak kayaknya kurang air. Saya cek, ya?” tanya Ardi, menyeka keringat di dahinya.

Pak Santoso cuma mengangguk, fokus ke padi. “Jangan lama, Ardi. Nanti kita ke saluran irigasi bareng.”

Ardi melangkah, lumpur merekat di kakinya. Hidup di sawah ini berat, tapi indah juga, pikirnya, sambil menatap padi yang bergoyang. Dia ingat janji Rendra waktu mereka masih kecil, main di bawah pohon sawo dekat pasar. “Kita kuliah bareng di Semarang, Di. Gue traktir makan di warung Pak Haji!” kata Rendra waktu itu, matanya penuh semangat. Tapi sekarang, janji itu terasa kosong, seperti angin yang cuma lewat.

Selesai menyiram, Ardi dan ayahnya duduk di pinggir saluran irigasi, angin sejuk menyapu wajah. Di rumah, Bu Siti, ibunya, udah menyiapkan bubur jagung panas dan kue beras manis. Rumah bambu mereka sederhana, lantai tanah, tapi selalu penuh kehangatan. “Ardi, besok ada bioskop keliling lagi di lapangan pasar,” kata Bu Siti, sambil menyodorkan mangkuk kayu penuh bubur.

Ardi nyaris tersedak. Sari Wulandari. Gadis baru dari Solo yang kerja di bioskop keliling itu punya mata gelap yang kayak menyimpan rahasia dan senyum yang bikin jantungnya lari. Mereka ketemu sebulan lalu di pasar, saat Ardi beli garam buat ibunya.

“Kamu Ardi, ya? Yang menang cerdas cermat di sekolah?” tanya Sari, matanya berbinar di bawah sinar matahari.

“Iya, Mbak Sari,” jawab Ardi, wajahnya panas seperti kena oven. Sejak itu, dia gak bisa lupain Sari. Dia beda, gak pernah ngejek aku anak petani, gak kayak anak kota lain.

Tapi ada Rendra. Ardi tahu sahabatnya itu pasti udah dengar soal Sari. Dengan motor kinclong dan cerita-cerita kota, Rendra selalu punya cara memikat cewek desa. Jangan mikirin yang gak-gak, Di. Fokus ke ujian, Ardi memaksa dirinya.

Pagi itu, Ardi mengayuh sepeda tuanya ke SMA Negeri Sidomulyo, bangunan bata merah sederhana dengan halaman yang jadi lapangan voli. Di gerbang, Rendra udah menunggu, bersandar di motor CB 100-nya yang mengkilap. “Loe lama banget, Di! Gak di sawah, ya?” canda Rendra, senyumnya lebar tapi ada nada ngejek.

“Masih bantu Bapak,” balas Ardi, nyengir. Mereka jalan bareng ke kelas, seperti biasa.

Rendra mengangkat bahu. “Gue kemarin nonton ‘Janur Kuning’ di kota. Propaganda, tapi seru. Eh, besok bioskop keliling datang, loe ikut?”

Jantung Ardi ngebut. “Pasti. Sari yang jual tiket, kan?”

Rendra nyenggol lengan Ardi, ketawa. “Naksir, ya? Awas, dia cewek kota. Mungkin lebih suka motor gue ketimbang cangkul loe.”

Ardi ketawa, meninju lengan Rendra. “Sok kaya, loe!” Tapi di dalam hati, ada benih kecil yang mulai tumbuh, sesuatu yang belum pernah ada di persahabatan mereka.

Di kelas sejarah, Pak Budi, guru yang selalu pakai kacamata tebal, berceramah. “Sawah kalian itu tulang punggung bangsa. Tapi setiap kemajuan punya harga, anak-anak.”

Ardi coba mendengar, tapi pikirannya melayang ke Sari. Film apa yang dia suka? Sore itu, dia dan Rendra nongkrong di warung Pak Haji, nyeruput teh panas sambil makan tempe goreng. Radio tua memutar “Kisah Kasih di Sekolah”, dan sejenak, dunia terasa cuma milik mereka berdua.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Rebyu

onlydamselsread
onlydamselsread
I love this book. To be fair, Alanis belonged to her first... so it's not really cheating... -_- The overall flow is superb. I love it!
2025-06-20 20:31:41
3
0
10 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status