LOGINA Forbidden Romance. Olivia has had it with love. Since her nasty breakup after college, she is only concerned with her career and giving her mother a happy life. But fate has other plans for Olivia when her mother suddenly announces that she's remarrying. Chad Steel, the ruthless rake and CEO of Steele Incorporated has been her boss and thorn in the flesh for so long. After bumping into him in the act with one of his many conquests, Olivia can't get the picture of her naked boss out of her mind. Little does she know that a drunken night and a heated kiss would be her undoing. Olivia's mother, Hilda is finally getting married to her second chance love, Matthew Steele and Chad Steele, the handsome, devilish rake is Olivia's step brother. Chad had sworn off love free losing his finance to his best friend. But meeting the innocent Olivia has stirred something in him he never wanted to feel. The days at work have been torture and each night he dreams of her in his bed wearing nothing. But what happens when he finds out that his father is getting married again and Olivia will be his step sister? Can the forbidden fire be tamed? Can Chad and Olivia overcome their passion and become a family or has Matthew Steele been hiding a chilling secret from his supposed son all his life, a secret that could give Chad and Olivia a shot at love.
View MoreCh4rmer adalah sekelompok pria mapan, harta berlimpah ruah. Dengan berbagai profesi dan perbedaan usia, keempatnya tetap bisa menjadi sahabat satu frekuensi. Keempat pria tampan dan mapan itu berencana untuk mengadakan pesta perayaan persahabatan mereka yang sudah terjalin selama delapan tahun. Lokasi yang dipilih tentu saja sebuah kelab malam mewah. Tidak memerlukan banyak prosedur untuk memesan sebagian tempat di sana karena satu di antara mereka adalah pemilik kelab malam itu.
Victor Zhang, seorang pebisnis lajang. Pemilik lima kelab malam mewah dan besar yang tersebar di Shanghai, Beijing, Guangzhou, Shenzen, Chengdu. Kekayaan Victor tidak hanya sampai di sana saja. Pria berusia 29 tahun itu merupakan salah satu pewaris dan pemilik salah satu hotel besar di Shanghai. Keluarganya merupakan jajaran orang kaya yang memiliki begitu banyak aset yang tersebar di berbagai kota Tiongkok.
Louis Yu, dokter spesialis anak dan juga pewaris salah satu rumah sakit swasta terbesar di Shanghai. Pria itu berstatus lajang, berusia 30 tahun. Namun, kekasihnya tersebar hampir di segala penjuru belahan dunia.
Joe Xu, aktor muda dengan segudang prestasi membanggakan. Membintangi berbagai drama dan meledak di pasar dunia. Pria berusia 27 tahun itu telah memiliki kekasih rahasia yang tidak diketahui oleh publik.
Jeff Wu berprofesi sebagai penyanyi sekaligus produser musik. Lajang 27 tahun itu sangat selektif memilih pasangan kencan.
Mengatur waktu pertemuan mereka cukup sulit. Keempatnya memiliki kesibukan masing-masing. Victor sibuk mengurus perusahaan, beberapa kali ia juga harus pergi ke luar kota untuk mengawasi bisnisnya secara langsung. Louis menghabiskan sebagian waktunya di rumah sakit. Dokter tampan itu, menyebarkan pesonanya pada sebagian besar pasien dan juga perawat di rumah sakit tempatnya bekerja.
Joe tentu saja menghabiskan waktu di lokasi syuting. Dalam satu tahun, pria itu bisa menerima 3 sampai 4 judul drama untuk ia perankan. Jeff memilih menuangkan inspirasinya di studio musik pribadi dan juga jadwal promosi album yang cukup menyita waktu.
Akan tetapi, dua bulan lalu, mereka berempat sudah sepakat untuk mengadakan pesta dan meliburkan diri. Kesepakatan itu pula dijadikan ajang taruhan. Mereka membuat perjanjian, barang siapa yang datang paling akhir, dirinya harus bersedia dihukum. Hukumannya harus dipatuhi apa pun yang dikatakan oleh pemenang.
Keempatnya mengadakan video call.
"Tentu saja aku tidak mungkin kalah. Aku selalu datang tepat waktu," kata Victor begitu percaya diri.
"Aku sudah terlatih untuk on time, tentu saja aku tidak akan kalah." Joe berbangga diri.
"Jika pasienku tidak dalam keadaan darurat, aku tentu akan datang tepat waktu. Aku tidak akan membiarkan kalian menghukumku." Louis sangat realistis.
"Hukuman konyol dari kalian akan aku hindari sebisa mungkin. Jadi, jangan harapkan aku jadi pihak yang kalah, karena aku pasti menang." Jeff tidak mau kalah.
Mereka semua sudah sepakat untuk menerima hukuman jika salah satu di antara mereka terlambat. Sejauh ini, yang sering kali datang terlambat yaitu Louis, karena pekerjaannya sebagai dokter. Banyak kejadian darurat yang tidak bisa ia abaikan.
***
Jeff terlihat sibuk dengan lembaran kertas dan juga pena di tangannya. Menghabiskan waktu seorang diri di dalam studio kecil khusus tempatnya menulis lagu adalah hal yang menyenangkan bagi Jeff sendiri. Secara tiba-tiba, ia memiliki ide untuk menulis lirik lagu. Jeff membaca ulang lirik yang ia tulis dan tersenyum cerah. Penyanyi sekaligus produser musik itu memiliki kepercayaan diri tinggi jika lagunya kali ini akan kembali booming seperti yang sebelumnya.
"Mengesankan sekali. Lirik yang sempurna dan aku tidak sabar untuk membuat musiknya." Jeff bermonolog. Pria tampan itu menyimpan lembaran kertas itu dalam sebuah buku lalu beranjak ke luar studio untuk menghirup udara segar.
"Kau memiliki janji pertemuan dengan teman-temanmu sekitar dua jam lagi." Suang, asisten pribadi Jeff memberitahu.
"What?! Dua jam lagi?" Jeff merasa tidak percaya.
Suang mengangguk. "Kau sudah menghabiskan waktu hampir seharian di dalam studio. Kau bahkan mengabaikan waktu makan siangmu." Jeff mengurut pelipisnya.
"Aku akan segera bersiap-siap. Aku tidak boleh terlambat datang. Kau tidak perlu menyiapkan makan malam, aku akan makan malam di sana." Jeff meninggalkan Suang yang hanya patuh mengangguk.
Ini bukanlah kejadian pertama kalinya, Jeff lupa waktu ketika menulis atau membuat lagu. Bahkan, ia pernah berhari-hari tidak keluar studio demi merampungkan lagunya. Jeff sangat totalitas sebagai penyanyi dan produser.
Satu jam dihabiskan Jeff untuk bersiap. Pria itu melangkah dengan penuh percaya diri saat masuk ke dalam mobil. Jeff yakin, dirinya tidak akan datang terlambat dan mendapatkan hukuman konyol dari para sahabatnya.
***
Joe sengaja meminta cuti dua hari setelah memadatkan jadwal syutingnya dalam satu bulan. Aktor muda itu tidak ingin melewatkan waktu berkumpul bersama para sahabat dan juga tidak ingin menerima hukuman jika terlambat apalagi tidak hadir. Sebisa mungkin, ia selalu meluangkan waktu untuk bermain bersama sahabatnya yang sama-sama memiliki jadwal kerja yang sangat padat. Dalam satu tahun, saat pekerjaan mereka sibuk hanya dapat berkumpul satu kali dan itu pun hanya beberapa jam saja. Jika mereka sedang luang, meskipun tidak semua hadir, setidaknya mereka tetap bertemu dan berbincang bersama.
Joe memeluk tubuh seorang wanita sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka santap bersama. Wanita yang sudah berkencan selama tiga tahun dengannya secara rahasia. Hanya agensi, manajer dan asisten pribadi Joe sendiri yang tahu hubungan mereka. Joe belum berani untuk memublikasi hubungan mereka ke publik karena Joe takut jika kekasihnya akan dibenci oleh para fans yang kecewa. Berkencan dengan selebriti sangatlah menyulitkan, tetapi beruntung Joe memiliki kekasih yang tangguh, yang mau menerima keadaan sulit mereka.
"Kau sudah bangun?" Joe mengangguk di atas bahu wanita itu.
"Ayo duduk! Kita makan bersama. Setengah jam lagi aku harus kembali ke kantor." Joe mencebikkan bibir mendengar perkataan kekasihnya.
"Kau meninggalkanku sendirian? Aku ingin kau tetap di sini menemaniku." Joe merajuk. Joe akan berubah menjadi manja dan kekanakan ketika bersama dengan kekasihnya.
Wanita itu menaruh kedua telapak tangan ke sisi pipi Joe dan menatap aktor tampan itu dengan senyum menawan. "Maafkan aku. Aku sangat ingin menemanimu, tetapi aku tidak bisa melewatkan rapat penting siang ini. Lagi pula, nanti malam kita masih bisa bertemu. Okay!" Sebuah ciuman lembut dihadiahkan untuk Joe membuat pria itu tersenyum lagi.
"Nanti malam, aku akan bertemu dengan teman-temanku." Joe bercerita sembari memakan masakan kekasihnya.
"Baiklah. Ingat, jangan melakukan hal bodoh apa pun yang bisa merusak nama baikmu." Joe mengangguk paham.
"Apa kau juga akan pergi malam ini?" Wanita itu mengangguk. "Maafkan aku. Lagi-lagi, aku tidak bisa menemanimu." Joe merasa sangat bersalah.
Wanita itu terkekeh. "Jangan mendramatisir keadaan. Bukan kali pertama, situasi seperti ini. Aku sudah sangat mengerti dan paham. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini konsekuensi yang harus kita tanggung berdua." Joe mengangguk. Aktor tampan itu beruntung memiliki seorang wanita yang berhati luas, memiliki kesabaran tiada batas dan begitu tangguh berdiri di belakangnya selama tiga tahun terakhir tanpa status jelas di mata semua orang.
"Aku mencintaimu," ucap Joe tulus. Wanita itu tersenyum manis sembari menggigit dinding mulutnya kuat. "Aku juga mencintaimu."
Jam sudah menunjukkan pukul 18.15 waktu setempat. Joe sedang bersiap-siap. Pria itu mematut penampilan di cermin dan memastikan semuanya baik. Pakaian malam ini disiapkan oleh kekasih hatinya. Joe mengedipkan sebelah mata ke cermin lalu memasang kaca mata serta masker hitam menutupi sebagian wajahnya agar tidak terlalu mencolok ketika masuk ke dalam kelab.
***
Dalam balutan jas putih, Louis berjalan santai menyapa ramah satu per satu anak-anak yang sedang berjalan-jalan membuang rasa bosan di koridor. Dokter tampan itu sangat menawan. Tidak hanya disukai oleh anak-anak, tetapi ia juga dicintai para suster dan beberapa orang tua dari pasiennya.
Lengan Louis dicekal oleh seseorang. Louis melirik sekilas lalu tersenyum mengikuti arahan dari orang itu. Keduanya kini berada di lorong yang cukup sepi. Louis melingkarkan lengannya pada pinggang seorang dokter cantik yang juga rekan kerjanya.
"Ada apa mencariku?" Jemari Louis mengelus lembut sebagian wajah Ning Ning.
Ning Ning sendiri menarik ujung dagu Louis mendekat ke arahnya dengan tatapan menggoda. "Apa kau senggang malam ini?" Louis tersenyum.
"Sayangnya, malam ini aku memiliki acara penting. Bagaimana jika lain kali?" Louis memberi penolakan dengan bahasa yang cukup halus.
"Apakah aku bisa memegang ucapanmu?" tanya Ning Ning dengan raut wajah sedikit kecewa.
Louis mengecup bibir Ning Ning sekilas dan menggosok pipi wanita itu lembut. "Kau bisa menagihnya kapan saja." Louis melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan Ning Ning yang tersenyum penuh arti di belakangnya.
Dokter tampan itu segera meninggalkan rumah sakit setelah ia menyelesaikan pekerjaannya memeriksa semua pasien hari itu. Louis tersenyum cerah karena ia bisa pulang tepat waktu dan tentunya tidak akan terlambat datang ke pertemuan bersama para sahabatnya.
***
Dering ponsel Victor terus berbunyi membuatnya harus menjeda untuk sementara pekerjaan yang sedang ia lakukan. Victor fokus membaca lembaran berkas-berkas berisi laporan yang diberikan para staf perusahaannya. Pengusaha tampan itu menggeser tombol hijau pada layar saat melihat nama yang tertera di sana.
"Kau di mana?" tanya seseorang di seberang telepon itu.
"Kantorku. Ada apa?" Victor bertanya balik.
Terdengar suara tawa yang cukup keras yang sangat dikenal oleh Victor.
"Akhirnya, kau mendapat giliran juga untuk dihukum. Kau tentu tidak melupakan jadwal kita malam ini, bukan?" Suara Louis terdengar sangat sombong. Victor segera berdiri dari tempat duduknya.
"Oh, sial! Aku melupakannya. Aku segera ke sana sekarang juga." Tanpa aba-aba, Victor menekan tombol merah untuk mematikan sambungan telepon mereka.
"Ketiga orang itu pasti sudah menyiapkan hukuman tidak masuk akal untukku. Astaga! Ini sangat menyebalkan. Mengapa aku bisa melupakan jadwal pertemuan malam ini? Sial sekali!" Victor menggerutu sepanjang ia berjalan menuju mobilnya.
***
Louis, Jeff dan Joe duduk santai sembari menikmati minuman alkohol di depan mereka. Arloji masing-masing sudah menunjukkan pukul 21.25 waktu setempat. Orang pertama yang sampai di sana adalah Jeff, lalu Louis, disusul oleh Joe dan yang terakhir, yang pasti merasakan hukuman, tentu saja Victor. Ketiga sahabat itu sangat puas saat tahu jika orang yang mendapatkan hukuman adalah Victor.
Enam pasang mata menatap satu titik. Seorang pria berjalan bak supermodel melewati puluhan orang yang sedang asyik bergerak meliukkan tubuh menikmati irama musik. Ekspresi masam tercetak jelas di wajah Victor saat menyapa ketiga sahabatnya yang terlihat begitu puas menertawainya.
"Welcome my brother!" teriak Joe yang sangat semringa menyambut kedatangan Victor.
"Selamat, Brother! Kau terlambat 28 menit." Jeff menyindir Victor tanpa belas kasih.
"Bersiaplah menerima hukumanmu," goda Louis membuat Victor mendengkus.
'Sial! Mereka pasti telah menyiapkan hukuman tidak jelas untukku. Baru kali ini, aku merasakan kalah taruhan.' Victor menggerutu di dalam batinnya.
***
JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK KALIAN DI SINI!!!
Chapter 19___What’s Wrong with My Heart? Olivia sat at the dinner table, her fingers nervously toying with the edge of her napkin as she tried to focus on the meal in front of her. The soft clinking of silverware against plates and the low murmur of conversation around the table faded into the background, overshadowed by the chaotic whirlwind of thoughts swirling in her mind. Across from her, Isabella seemed to fit perfectly into the family, all pretty smiles and polished manners. Olivia had never felt so out of place, so overshadowed, in a very long time.Her eyes darted to Chad, sitting diagonally from her, his attention seemingly glued to his plate. But Olivia noticed the way Isabella didn't miss a chance to touch his arm, her fingers brushing lightly against his sleeve as she leaned in to whisper something unimportant. The soft sound of her laughter grated on Olivia's nerves, and an unfamiliar emotion twisted in her chest—envy. She hated it, but there was no denying it.Desperat
Chapter 18__The Big AnnouncementChad and Olivia arrived home after a long day at the office. The drive home was silent and a little tense. Olivia looked outside the window throughout and Chad kept stealing glances at her. “I hope you didn't tell your friend anything. This is a family issue," he reminded her with a sharp tone. Olivia simply hummed but her heart hammered. Would Macey be able to keep it hush hush. She was never the kind to keep a secret despite her best efforts. She always had a way of letting things slip out. She was her best friend but she knew that much about her too. Olivia couldn’t shake the uneasy feeling that had settled in her stomach since receiving the summons from her mother, Hilda. She and Chad had been summoned home with no explanation, only the request to come immediately.As they stepped through the door, Hilda met them with a bright smile, her eyes sparkling with excitement. “Welcome home!” she exclaimed, her voice light and airy. “Hey, Hilda,” Chad
Chapter 17__Friends Never Keep SecretsOlivia and Chad stood there, frozen, their lips just inches away from each other when there was a loud knock at the door. Olvia jumped apart as if the sound had burned her and tried to compose herself. “Fuck!" Chad swore under his breath but didn't look half as disoriented as Olivia did. “Who is it?" He hissed. “It’s Frederick, sir," the man replied. It was the HR manager. “I have a few reports for you to sign." "The door is open,” Chad snapped and Frederick entered. Olivia’s face turned bright red, and she took a step backward, trying to escape the awkwardness of the situation. Chad, however, stood firm, staring at the HR manager with cold eyes. He seemed to be daring the man to say something, anything, that might give him an excuse to lash out.The HR manager failed to sense the tension in the room. He flashed Olivia a charming smile. “Hey, Liv. How are you doing?" He asked. Olivia didn't trust her voice. She was too shaken by that near k
Chapter 16__Hate, love, hate Olivia stepped out of the house just as Chad did. Their eyes met briefly, but Chad didn’t acknowledge her presence. He moved straight to his car, his expression unreadable. Olivia’s heart sank a little, though she would never admit it. Why was he ignoring her? She didn't do anything, she wasn't the one that ruined last night and tried to give her a bloody heart attack in the garage. “Arrogant rake!" She hissed under her breath just as she heard her mother calling out to her. Hilda was right behind her as she turned. "Hey, are you okay?" Hilda asked, concern etched into her features. "You skipped breakfast."Olivia forced a smile, though her stomach was twisting with hunger. "I'm not so hungry, Mum," she lied, hoping it would ease her mother’s worry.Hilda didn’t look convinced, but she nodded and let her go. Olivia was grateful. She didn’t want to explain why the thought of sitting at the breakfast table with Chad made her lose her appetite. It had been
Chapter 15__Please…?Chad stood in front of the nightclub, his eyes hard and unwavering as he stared down at Olivia. His cheek was still red from the sting of her slap, but his gaze held such intensity that made Olivia’s heart race with fear. "You shouldn't have done that," he hissed, his voice low a
Chapter 14__Cat Out of the Bag Chad's face was red with anger as he strode towards Olivia, his eyes blazing with disapproval. "What do you think you're doing?" he demanded, his voice low and menacing.Olivia shrank back, unsure of what to say. She knew she had done nothing wrong, but Chad's anger was
Chapter 13__The Bareback Show. Olivia was still fiddling with the hem of her short dress when they arrived at the club. Luxe Den was a private and very expensive club. It was strictly on membership and the sort of club that Olivia had no business attending considering her pay grade. The luxurious ca
Chapter 12___Three TicketsThat evening, Olivia turned in the last of the documents that Chad had asked her to sort out. She walked into his office, the dim brown jacket she had thrown on over her dress a stark contrast to the sheer blouse she had worn earlier."These are getting ready to be emailed,


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.