LOGIN"I have found your woman" Mark, said through the phone. "What!" James who was coming out of the shopping mall exclaimed "Yes, I saw her in Northland. In very pitiful conditions. She was......." James cut the phone immediately without letting Mark finish with what he wanted to say. "Prepare the jet immediately we are going back to Topland," James told his assistant Toby after he hung up on the phone. He is not prepared to come back home so soon because he is still hurt by the way Catherine abandoned him. However, after receiving such information from Mark he has the urge to see her and ask her why she left him like she did. He thought he could move on with his life, but that girl was irresistible. Her image kept coming back to his memory and made him lose control of his emotions. Fortunately when he least expected he received such news. "The jet is ready boss" Toby announced and instantly James and his men headed to Top Land.
View MoreDi sebuah lahan ditengah-tengah hutan Foresta Umbra Italia! Dua group mafia besar tengah bertarung habis-habisan untuk memperebutkan wilayah kekuasaan mereka. Kedua group tersebut ialah group The King dengan ketua bernama Adilson Carlos dan putra semata wayangnya yang baru saja lulus sekolah bernama Emanuel Carlos, sedangkan lawan mereka adalah group Tander X dengan ketuanya bernama Patrick Tander dan puteranya yang bernama Zayn Tander.
Zayn Tander bertarung melawan Emanuel meskipun usia Emanuel jauh lebih muda dari Zayn, akan tetapi Emanuel tidak bisa dianggap remeh! Emanuel telah dilatih sejak kecil oleh Adilson untuk menjadi penerusnya kelak, maka dari itu Emanuel bisa ikut terjun kedalam pertarungan yang mendadak ini. Disatu sisi Zayn juga tidak bisa bertarung dengan tenang karena dia sebenarnya membawa serta isterinya yang bernama Rosaline dan puteri mereka yang berusia dua tahun. Zayn tidak menyangka markas pembuatan senjata dan narkotika milik Ayahnya itu akan diserang secara brutal oleh group The King yang merupakan musuh bebuyutan Tander X. Rosaline dan putrinya itu memang kerap kali menemani Zayn jika datang mengunjungi pabrik yang terletak didalam hutan ini, Rosaline yang sangat menyukai alam kerap kali gembira dan senang jika diajak jalan-jalan hutan disekitar pabrik tersebut. Sayangnya hari ini semua kegembiraan itu berubah, Zayn yang sempat menyembunyikan Rosaline dan putri mereka didalam lemari besi yang terletak tidak jauh dari pertarungan yang sedang berlangsung itu, masih merasa belum tenang! Zayn sangat gelisah karena takut anak dan isterinya sampai ditemukan oleh anggota The King, karena itulah konsentrasi Zayn buyar sehingga membuat Emanuel semakin mudah mengalahkan Zayn. Tendangan super keras dilayangkan oleh Emanuel dan mengenai bagian dada Zayn, seketika tubuh Zayn pun tersungkur ke lantai! Disaat yang sama seorang anggota Tander X mencoba menyerang Emanuel dengan pisau tajam yang mengayun hampir mengenai bagian wajahnya, dengan sigap Emanuel langsung menangkis dan mematahkan lengan anggota Tander X tersebut dan menusukkan pisau itu ke perut anggota Tander X tersebut. Zayn bangkit dan mengambil pisau yang tertancap di perut anggota Tander X tadi, lalu mulai menyerang kembali Emanuel, Emanuel pun tetap tenang dan melawan Zayn dengan tangan kosong. “Matilah kau, hiya!” teriak Zayn. Slazhh.. Hiya.. Emanuel terkena sabetan pisau yang dilayangkan oleh Zayn, tapi itu tidak membuat Emanuel kalah dia malah semakin bersemangat untuk melawan Zayn! Pertarungan itu semakin menjadi-jadi, bukan hanya Zayn dengan Emanuel, namun juga seluruh anggota masing-masing-masing-masing termasuk juga Adilson dan Patrick. Namun pertarungan itu sempat melemah setelah Emanuel berhasil membuat tubuh Zayn tersungkur bersimbah darah dilantai, pisau tersebut malah berbalik bisa Emanuel kendalikan hingga membuat Zayn terluka parah, Emanuel pun kembali menekan pisau yang sudah menancap pada tubuh Zayn dengan cara menginjaknya. “Tidak! Zayn!” teriak Rosaline yang sejak tadi bersembunyi namun masih bisa melihat semua kekacauan itu dari dalam lemari besi. Rosaline yang melihat suaminya sudah bersimbah darah langsung keluar dari tempat persembunyiannya sambil menggendong putrinya, dia berlari keluar dari lemari besi untuk menghampiri Zayn yang sudah tidak berdaya ditangan Emanuel. Dor… Dor… Sebuah tembakan melesat tepat dikepal Rosaline hingga membuat dirinya langsung terjatuh ke lantai dengan posisi masih menggendong putrinya, Emanuel yang melihat salah satu anggotanya menembak Rosaline dan hendak menembak putrinya juga yang baru berusia dua tahun itu, segera menghentikannya. “Berhenti!” titah Emanuel. “Aku menyerah Adilson! Cukup! Hentikan! Putraku dan menantuku sudah kau bunuh, lihat anggotaku pun sudah tidak berdaya!” kata Patrick seraya memelas. “Itu salahmu Patrick! Kau dulu mengkhianatiku dan memutuskan membangun kerajaan bisnismu sendiri, kau pun berusaha membuat bisnisku hancur, itu adalah ganjaran yang setimpal untukmu,” kata Adilson. Adilson kemudian menodongkan pistol kearah putri dari Zayn dan Rosaline, Patrick yang tidak ingin cucunya sampai ikut mati akibat kesalahan dirinya, langsung memohon dan merangkak dibawah kaki Adilson. “Aku mohon Adilson, berikan belas kasihmu sedikit saja untukku! Jangan bunuh cucuku dia tidak bersalah apapun padamu, bunuhlah aku,” “Heuh, kau pikir aku akan kasihan pada penerusmu itu? Tidak Patrick, kalian semua akan mati disini tanpa tersisa satu pun!” ujar Adilson. Adilson kembali menodongkan pistol tersebut pada anak dua tahun itu, bukannya menangis atau ketakutan anak itu malah tertawa riang dan menatap Adilson, melihat hal itu Emanuel merasa anak itu tidak perlu sampai dibunuh. “Papa cukup!” “Apa maksudmu?” “Biarkan anak itu hidup,” kata Emanuel. “Tidak Nuel, tidak ada yang boleh hidup apalagi anak perempuan itu cucu dari orang brengsek ini!” Disaat Emanuel berusaha menghentikan Adilson, Patrick segera mencari pistol karena melihat Adilson lengah tapi tidak dengan Emanuel yang selalu waspada dalam situasi apapun. Emanuel segera mengambil pistol yang tergeletak dilantai. “Kau pantas mati Adilson!” teriak Patrick. Pistol itu sudah mengarah pada Adilson, namun Emanuel menembak Patrick lebih dulu. Dor.. Adilson terkejut karena dia berpikir Patrick akan berhasil menembaknya, tapi ternyata Emanuel begitu sigap dan tidak lalai sama sekali. Tubuh Patrick langsung terkapar tak bergerak di lantai, tepatnya disamping tubuh putranya yang telah tewas lebih dulu. Hahaha.. “Kau memang putraku Nuel,” “Aku sudah menyelamatkan nyawa Papa, sekarang aku minta bayaran,” kata Emanuel. “Astaga, kalian dengar itu? Putraku telah dewasa dan mengerti betul tentang bayaran,” Semua anggota group The King pun turut tersenyum. “Katakan nak, kau ingin bayaran apa? Semua uang Papa itu milikmu,” “Aku tidak butuh uang,” “Lalu apa yang kau mau?” “Biarkan anak itu hidup!” “Apa?” Adilson menoleh pada anak perempuan itu, Adilson pun terheran-heran karena anak itu terlihat sangat ceria dan terus tertawa tanpa mengerti kejadian mengerikan ini. “Kau lihat disekelilingmu Nuel, mereka semua tewas! Jika anak itu aku biarkan hidup, dia pun akan sendirian disini,” “Biar itu menjadi urusanku Papa, aku hanya memerlukan izin mu untuk membiarkannya hidup,” Untuk beberapa saat Adilson pun terdiam, dia pun berpikir memang tidak ada salahnya juga mengabulkan keinginan Emanuel toh anak itu tidak akan membahayakan juga jika dibiarkan hidup. “Baiklah, urus dia,” kata Adilson sambil menepuk pundak Emanuel. “Terimakasih Papa,” Digendongnya anak tersebut, dan dibawanya pulang oleh Emanuel! Tadinya Emanuel berencana untuk menyimpan anak itu di panti asuhan, sehingga Emanuel dalam perjalanan pulangnya meminta pada bodyguard didalam mobilnya untuk mencari sebuah panti asuhan. Setelah melewati salah satu kota setelah hutan tempat awal mereka berada, terlihat sebuah panti asuhan yang dilihat dari bangunannya itu panti asuhan yang cukup besar dan terawat. Mobil pun berhenti didepan panti asuhan tersebut. “Biar saya yang membawa anak ini masuk kedalam,” ujar salah seorang bodyguard. Namun tangan anak itu malah memegangi jas yang dikenakan oleh Emanuel, anak itu terlihat berseri-seri dan menatap Emanuel dengan sumringah. Emanuel pun langsung salah tingkah dibuatnya. “Kenapa kau menatapku?” tanya Emanuel. Anak berusia dua tahun itu malah kembali tertawa dengan riang, entah kenapa berat sekali hati Emanuel untuk menyerahkan anak itu ke panti asuhan ini! “Kita turun sekarang?” “Tidak jadi, lanjut saja pulang ke rumah,” “Ta-tapi nanti Pak Adilson bisa marah,” “Aku yang tangani,” kata Emanuel. Karena anak itu terus menerus memegangi jas Emanuel, akhirnya Emanuel pun yang menggendongnya ketika sampai di rumah! “Kau berat sekali,” gumam Emanuel. Hari-hari berlalu, Emanuel pun membiarkan anak itu untuk tinggal bersamanya meskipun bukan dirinya yang mengasuh, melainkan babysitter dan bodyguard tapi tetap saja terkadang Emanuel menemuinya. “Pak, apa tidak sebaiknya anak ini kita beri nama? Saya bingung memanggilnya apa,” ujar bodyguard yang menjaganya. “Apa harus aku beri nama untuknya?” tanya Emanuel. “Iya tentu saja, perlahan anak ini akan tumbuh dewasa tentu saja dia sangat butuh nama,” “Kau saja yang beri nama kalau begitu,” kata Emanuel. Menikah saja belum, Emanuel tentu saja bingung jika harus memberi nama pada seorang anak. “Saya juga bingung,” Mereka pun terdiam, hingga sebuah film di televisi terdengar menyebutkan sebuah nama yaitu Bianca. “Bianca!” kata Emanuel. “Nama yang cantik, seperti anaknya,” kata bodyguard itu. “Bianca apa?” tanya babysitternya. “Sudahlah Bianca saja!” kata Emanuel yang tak ingin pusing. Akhirnya anak itu pun memiliki nama, saat Emanuel sedang bersama Bianca tiba-tiba Adilson pun datang menghampiri. “Setelah membiarkannya hidup, kemudian membawanya kedalam rumah ini dan sekarang apa ini Nuel, kau memberinya nama?” “Sudahlah Pa, hanya nama,” “Kau masih sangat muda Nuel, untuk apa anak ini? Perjalanan hidupmu masih panjang terlebih lagi Papa tidak nyaman melihat cucu dari musuh Papa ada didalam rumah ini,” “Kalu begitu Nuel akan cari rumah untuk tempat tinggal anak itu,” “Yasudahlah terserah padamu saja!” Karena Adilson tidak memiliki keinginan sama sekali untuk Bianca ada didalam rumah itu, akhirnya Emanuel pun membeli satu unit rumah untuk ditinggali oleh Bianca dan babysitternya, ada juga beberapa bodyguard yang akan menjaganya.Catherine finished preparing the food, put the order in a cart, and wheeled it toward James's room. She tapped at the door, but James did not respond. She touched the handle, and the door gradually opened. She pushed the cart inside the room and got in.She meticulously set the food on the table and then stood aside to wait for James to come out of the bathroom. Within a short time, James came out with a towel wrapped around his waist, his head dripping water from his bath.Catherine suddenly turned around the moment she saw him coming. She must admit that he was handsome. He looked so sexy and hot. Catherine felt weird, what was going on with her body? All her members are heating up. She suddenly desired him. The thought of their past came flooding into her memory like a film. She remembered her one-night encounter with him and lusted after him the more."When you are done watching, you serve me the meal," James told her."What? Are you insane? How can you eat your meal dressed like
I want you to call her here," James said coldly.The waitress hurried out of the place to fetch Catherine who was still busy cooking in the kitchen. Meanwhile, Mr. Gregg was already wetting his pant in his hiding place. Soon enough, the waitress came back with Catherine."Are you the one that prepared this meal?" Mr.James asked raising his head so that their eyes could meet hers. Catherine was shocked to see him. No wonder he has been giving her workers trouble. Was he doing this to gain her attention?"Yes, I made the meal. Is there any problem?" She asked indifferently.Seeing her arrogance, James said."I don't like this meal. Prepare something else" James said."I will prepare that, if only you will pay for that" Catherine emphasized."And why would I do that? Aren't you supposed to compensate me for the bad meal you served?" He asked. "Look Mr. James I will appreciate it if you don't come here to bother me and my workers. What I have here are well-trained and professional chefs
James came out of the bathroom and put on his pajamas. It was already 9 pm and he wanted to watch the news on the television so he moved downstairs to his living room. However, the moment he put on the television, the light on the camera shone brightly on Catherine's beautiful face. She was gorgeously dressed in a silver evening gown that was beautified with matching stone beads. Her long silver earring dangling from her ear. Catherine stretched out her long legs and crossed them together to make herself comfortable on the single couch she sat on in the little studio. With her were two reporters from Sky TV. She was about to go live with an exclusive interview hosted by Sky TV. When James put on the television James sat down to watch her interview."Miss Wood, can you please tell us more about Evegarden?" One of the reporters asked. Catherine smiled and answered."Evegarden is everything you can think of when it comes to comfort and Luxury. Our meals are excellent and our services are
Catherine stood up in anger and moved closer to James. She pointed her ring finger at his chest and said coldly."You will regret this. I promise you" With that, she took her file and walked out of the board room. Everyone was silent, James was amused because nobody had ever talked to him in that manner. Not even his associates."See me in my office," he told Claudia and left the room. Each of them left the room with a sad face except Claudia. James specially appointed Claudia just to hurt Catherine. He smiled at the horror on her face when he finished with his announcement and entered his office while Claudia followed behind.Catherine was not going to take that. She packed all her stuff and left the office. She met James in the hallway coming out of his office with Claudia.Claudia came to her and said."Catherine, where are you going to do with all this stuff? I hope you are not leaving because of me. Please Mr. James do something." She sneeredHowever, Catherine ignored them and c
Catherine was so restless that she couldn't sleep. The thought of seeing James every morning sent a chill to her spine. She knew that the only option she had was to quit, but that also was impossible. She hissed. Determined not to tell him who she was and about their son since he had forgotten every
Catherine looked at Mr. Johnson in confusion and asked"Why? Did I do anything wrong to you? You don't like my job here?" "It has nothing to do with me or you. And of course, you are doing a great job here." He answered"Then what is the problem? Why are you laying me off? " Catherine asked, she was n
Toby went back to the car and related everything to James. He instructed Toby to take them to an eligible hotel close by so they could spend the night. He has the intention of checking back the next day. Toby agreed and drove their vehicle to the Upper East where a decent hotel could be found.The ne
Mrs. Wood's office is on the tenth floor the first door on your right." She said."No ma'am" Catherine replied, she could smell trouble because Claudia was up to no good." If you say so then hurry up and don't keep her waiting" Glory shouted the last thing she wanted was Claudia's problems.Catherine






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore