LOGINLa historia inicia con un paseo en el bosque, 4 brujas deciden pasear por los predios, hasta que la tierra se abre debajo de ellas. Decenas de demonios emergen, uno en especial de estirpe. La bruja mística que se encuentra liderando la expedición es obligada a descender al mismo infierno como esposa del demonio. Después de esto se desatan los vínculos y pasiones más retorcidas así como efervescentes.
View More"Kamu kok baru pulang jam segini Rin? Sudah Ibu tunggu dari tadi juga." Aku hanya bisa menghela nafas saat menatap sosok Ibu mertua yang berdiri di teras.
Sebelum aku menurunkan semua barang dagangan, Ibu mertua sudah mengambil tas yang tersampir di tangan. "Tunggu dulu Bu. Aku mau mencocokan hasil pembayaran hari ini. Jangan di ambil dulu."
Ibu mertua yang tetap tidak peduli sudah membuka tas selempangku lalu mengambil segepok uang berjumlah dua ratus ribu rupiah. Uang yang sejatinya akan aku gunakan untuk membayar biaya spp Dinda, putriku yang baru kelas satu SD.
"Uang ini buat Ibu dulu. Biaya sekolah Dinda bisa kamu cari lagi besok. Ibu harus membayar biaya arisan agar bisa dapat bulan ini."
"Bukannya Mas Eko sudah kasih gajinya kemarin Bu?" Tanyaku sedikit memberontak.
"Sudah habis buat beli sabun, sampo, beras terus barang-barang yang lain. Belum lagi beli skincare untuk Ibu dan adik iparmu. Sudahlah jadi mantu jangan pelit. Sudah kewajiban kamu sebagai istri untuk membantu Eko membahagiakan keluarganya." Seru Ibu mertua ketus lalu naik ke atas motornya.
Bukannya aku mau bersikap pelit. Hanya saja gaji Mas Eko yang hanya setara umr itu di berikan semua pada keluarganya. Jelas saja tidak cukup karena harus menghidupi orang tua dan adik perempuannya. Karena itulah Mas Eko mengijinkan aku bekerja sejak umur Dinda tiga tahun.
Dengan menggunakan modal yang di berikan oleh kakak iparku, aku menjual baju di kios pasar. Awalnya hanya dapat untung sedikit. Lama kelamaan pelangganku jadi banyak. Sayangnya hasil pekerjaanku juga harus di nikmati oleh keluarga Mas Eko. Bagi mereka asalkan aku dan Dinda masih bisa makan itu sudah cukup.
Aku terduduk di teras rumah. Kepalaku mendadak pusing karena memikirkan uang setoran yang harus aku berikan pada agen. Sedangkan penghasilan hari ini tidak seberapa karena hanya sedikti pelanggan yang membayar kredit pakaian mereka.
Tanpa terasa air mata sudah meleleh di pipiku. Ku hapus air mata itu dengan cepat lalu mengambil barang-barang yang masih ada di atas motor. Ada dua kardus berisi pakaian yang aku bawa keliling. Untuk di jajakan pada para tetangga dengan cara menghampiri dari satu rumah ke rumah yang lain.
Jika pasar mingguan buka, aku juga berjualan di pasar. Dengan harga sewa yang semakin mahal setiap tahun jujur saja membuatku kesulitan berjualan. Untung saja penghasilan dari menjajakan baju keliling cukup untuk biaya makanku dan Dinda. Itu pun setelah di ambil oleh Ibu mertua seperti tadi. Selain itu, aku juga punya tabungan rahasia dari pengasilan lain yang tidak pernah di ketahui Mas Eko dan keluarganya.
Namun, sejak Dinda masuk SD, uang yang harus aku dapatkan semakin banyak. Untuk biaya pendaftaran sekolah, membeli buku, tas, seragam dan perlengkapan sekolah yang lain. Itu semua dari uang jualan. Karena Mas Eko hanya memberi uang lima puluh ribu untuk satu minggu. Dengan alasan aku sudah bisa mencari uang sendiri.
Aku masuk ke dalam rumah yang lampunya sudah di nyalakan. Dinda menunggu di ruang keluarga sambil mengerjakan PR. Di usia yang masih sangat muda, aku harus sering meninggalkan Dinda di rumah sendirian sejak umurnya enam tahun. Karena Dinda sudah tidak mau ikut lagi denganku berjualan keliling.
Dulu saat Dinda masih kecil, aku menggendongnya di depan sambil naik motor untuk berjualan. Banyak orang kasihan menatapku. Tapi, rasa kasihan itu yang membuatku tidak nyaman itu tidak sebanding dengan urusan perut yang harus di penuhi.
"Assalamualaikum." Sapaku saat masuk ke dalam. Dinda menolehkan kepalanya dengan mata berbinar.
"Waalaikumsalam. Ibu sudah dapat uang untuk bayar spp? Biar aku bisa ikut ujian." Aku mensejajarkan tubuh dengan Dinda agar bisa menatap kedua bola matanya yang bening.
"Besok Ibu akan pergi ke koperasi dulu ya buat ambil uang yang Ibu tabungkan di koperasi." Binar di mata Dinda seketika hilang.
"Uang Ibu di ambil mbah lagi ya?" Aku hanya bisa tersenyum pahit lalu mengusap pucuk kepalanya.
"Dinda lanjutin belajar ya. Ibu mau mandi. Setelah ini kita makan ayam goreng bareng."
"Horee." Teriak Dinda senang. Setidaknya makanan yang aku beli khusus untuk Dinda tidak di ambil Ibu mertua karena sudah aku sembunyikan di tempat yang aman.
Aku hanya bisa menangis tanpa suara di dalam kamar mandi agar Dinda tidak bisa mendengarnya. Hidupku yang sudah menyedihkan sejak kecil belum berubah. Menjadi istri Mas Eko tidak mengubah nasib menjadi lebih baik, tapi justru membuatku merasa semakin tertekan.
Orang tuaku sudah meninggal sejak aku duduk di bangku SMP. Kakak laki-lakiku berjuang keras untuk menghidupi kami berdua. Sejak menikah dengan teman sekolahnya, kakakku pindah keluar kota. Aku juga meninggalkan tanah kelahiran kami setelah menikah dengan Mas Eko. Berharap kehidupanku akan menjadi lebih baik. Namun, semuanya jauh panggang dari api.
"Ya Allah. Apa yang harus aku lakukan?" Isakku tertahan.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Mas Eko baru pulang ke rumah. Pekerjaannya sebagai satpam di sebuah pabrik memang membuat jam kerja Mas Eko jadi tidak menentu. Aku tidak menyambutnya di ruang tamu karena sudah terlalu lelah dengan sikapnya.
Cklek
"Kamu nggak mampir beli makanan Rin?" Tanya Mas Eko begitu masuk ke dalam kamar.
Suamiku itu memang tidak menuntut untuk selalu di masakan jika aku keliling pada sore hari. Jika masih ada wakut aku akan memasak. Namun, jika tidak biasanya aku beli lauk di warung.
"Niatnya mau beli di warung dekat rumah mas. Tapi, Ibu sudah nunggu di teras. Nggak jadi beli makan tadi." Jawabku seadanya.
Bisa kulihat raut kecewa di wajahnya. Aku yakin Mas Eko belum beli makan di luar karena ingin makan di rumah. Tapi, sampai di rumah kenyataan tidak sesuai harapan. Seharusnya ia sudah paham sikap Bapak dan Ibunya yang selalu datang ke rumah ini untuk meminta uang.
"Ya sudah kalau begitu. Berarti kamu dan Dinda makan yang tadi siang. Masih ada nggak?" Aku menggelengkan kepala.
"Sudah habis tadi siang di bawa Ibu pergi. Aku sama Dinda makan mie instan tadi." Wajah Mas Eko berubah menjadi masam.
"Ya sudah aku nggak jadi makan."
Mas Eko langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku hanya mengedikan bahu lalu memejamkan mata.
Pagi harinya, aku sudah sibuk menyiapkan sarapan dengan menu sederhana. Mie goreng dan telur ceplok. Bahan makanan yang bisa aku stok untuk satu bulan ke depan. Itu pun hanya bisa aku beli sedikit untuk dua atau tiga hari saja.
"Kamu benar-benar nggak punya uang untuk beli ayam atau sayur Rin?" Aku menganggukan kepala tanpa menjawab pertanyaan suamiku itu.
"Kalau hasil jualan hari ini mau buat bayar sppnya Dinda mas. Jadi menu malam ini juga akan sama." Mas Eko menghentakan sendoknya di atas meja makan.
"Aku mau makan di rumah Ibu saja. Setelah bayar spp Dinda kamu harus beli ayam atau daging. Aku jadi nggak nafsu makan kalau makanannya cuma ini saja."
Dinda menatap dengan takut ke arah Ayahnya. Aku mengusap rambut panjang Dinda menenangkan. Biarlah jika dia pergi ke rumah Ibunya. Memang mereka ada uang?
Aku lalu mengajak Dinda naik motor. Di depanku sudah ada satu kardus berisi pakaian yang akan aku gelar di pasar. Setelah mengantarkan Dinda ke sekolah, aku pergi ke rumah pemilik agen baju untuk menyampaikan jika aku belum bisa membayar uang jualan bulan ini.
Setelah itu aku pergi ke salah satu koperasi. Bukan untuk meminjam uang. Tapi, untuk mengambil tabungan yang sedikit demi sedikit aku kumpulkan saat petugasnya berkeliling di pasar. Baru saja aku sampai di halaman. Sebuah motor juga berhenti di sampingku. Dadaku berdegup kencang saat menyadari jika orang yang turun dari motor itu adalah Ibu mertua.
"Loh Rin. Kamu punya uang di koperasi?" Tanya Ibu mertua yang sudah turun dari motornya. Tanganku gemetar karena bingung harus menjawab apa.
"Ternyata kamu sudah pintar bohong ya. Ngakunya nggak ada uang, tapi ternyata punya banyak uang di bank keliling."
Luna permaneció inmóvil.Por un instante, hasta el maullido de Graciosa pareció desaparecer. Había conseguido exactamente lo que quería. Que él fuera hasta ella.Despacio, abrió los ojos y dejó escapar una pequeña sonrisa. No se giró de inmediato. Quería disfrutar un poco más de aquella victoria.—Vaya... —murmuró—. Al final sí sabes obedecer.El silencio que recibió como respuesta fue mucho más intimidante que cualquier amenaza.—¿No eras tú la que quería que viniera por ti?Tragó saliva.Aquella voz había sonado demasiado cerca.Ahora sí se giró.Y se encontró con él.El Oscuro permanecía de pie detrás de ella, imponente, con aquella mirada de laberinto capaz de hacer que cualquiera olvidara hasta su propio nombre.Lo recorrió con los ojos sin ninguna vergüenza.Luego levantó ligeramente una ceja.—Pensé que tendría que esperarte más.—Yo también pensaba que tendría que buscarte por todo el castillo. Que huirias cobardemente como una hora atras lo hiciste en mi propio territorio.—N
POV: Luna Para no terminar viviendo en el mal gusto, le tocó volver a sacar el anillo y dar otro viaje. En la mansión Badin se le habían quedado cinco maletas enormes, repletas de prendas fabulosas. También había otra donde guardaba la comida y los outfits de su nena Graciosa. Por suerte, no lo dudó dos veces y regresó justo a tiempo, cuando Boa tocaba la puerta. Respiró profundamente y se sentó sobre la cama. —Princesas. Eso lo dijo con una voz estropajosa, pero ella logró entenderlo. —Solo hay una princesa aquí. La otra se marchó. Lo confesó sin importarle que aquella revelación pronto llegara a oídos de Kairon Loguember. Incluso su madre desconocía que todo aquello ya era un hecho. Pero no importaba. Ese siempre había sido el plan. Después ya se le ocurriría algo. —Mi amo se molestará. —Se la llevaron y yo no pude hacer nada —respondió, fingiendo inocencia. A la brevedad, notó que Boa sostenía la taza de té con ambas manos. La porcelana vibraba ligeramente debido a sus e
—¡Grrr!Al escuchar un gruñido, miro a su gata, luego al aire.—¿Y ese gruñido? —Se pregunto confundida, pero sin inmutarse a mirar a los lados. —¡Del gran Kairon Loguember! —Fue la respuesta hiperactiva e inesperada que recibió al instante. Abrió mucho los ojos y, con las pocas fuerzas que le quedaban después de caminar tanto, se puso de pie.Lo que sus ojos vieron cuando se fue acercando a ella quedaba corto ante la descripción que le había dado su madre del demonio de su padre. La altura, el cabello rojo, el aspecto rudo, lo guapo que era.Cuando estuvo más cerca, fue ella quien dejó a un lado el bulto de su gata y se acercó para abrazarlo.—Soy Luna, padre.Este no se resistió, pero se tornó seco, distante, a pesar de que le devolvió el abrazo.—Lo sé, hueles a diabla mística. Eres la otra. ¡Grrr!Asintió luego de retroceder unos pasos. Al instante supo que el demonio no tenía muchos sentimientos y tenía pinta de ser un gruñón amargado. Con él no valdría mostrar lo dulce y tiern
POV: LunaTodo lo tuvo fríamente calculado dentro de su pequeño mundo rosa. Tan calculado que, incluso antes de ponerse en marcha, rozó con los dedos el anillo que podía teletransportarla directamente al infierno… a ese lugar que hasta entonces solo había conocido a través de sueñosSu plan estaba en marcha.Y cuando la imagen del demonio que rondaba sus sueños volvió a azotar su mente, vio con absoluta claridad que él tenía en su poder la bolsa de dulces que le había entregado a su cuñado Leoncio. Fue entonces cuando supo que debía ir.Pero no con el enmascarado.Debía ir con su madre.Soltó un suspiro antes de dejarse caer de la cama. Luego, con cierta cautela, caminó hasta donde había dejado sus zapatos de tacón: rosados, brillantes y tan encantadores como a ella le gustaban. Se los puso y, apenas se incorporó, sintió que recuperaba parte de su poder.Tomó su maleta y después buscó a su pequeña compañera.La gata descansaba en un rincón, completamente ajena a los peligros que las e


















Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reviewsMore