LOGINMy Alpha brother's Omega assistant had always wanted to be Luna. She didn’t know my identity and she mistook me as a rival trying to steal her place. She framed me for theft and tortured me without mercy. As I lay dying, it was my old companion—Rex, the Siberian war dog who had fought beside my brother and earned the highest military honors—who sacrificed his life to protect me. She dragged me by my hair, smugly satisfied, and threw me before the crowd like refuse. In her hands, she flaunted her "gift" made from Rex's fur. She had no idea she was about to face the fury of the entire werewolf world.
View MoreBab 1
Michelle bangga akan dirinya sendiri. Di usianya yang masih muda, dia sudah bisa hidup mandiri. Dia memiliki usaha bridal, penyewaan gaun pengantin dikotanya. Usahanya dibantu lima orang karyawan untuk melayani para klien yang datang baik untuk menyewa gaun pengantin ataupun make up.
Sedari pagi, dia sudah bersiap-siap mandi dan merias dirinya sehingga layak menyambut tamu-tamunya hari ini. Ia turun kelantai bawah dan tidak lama kemudian satu persatu karyawannya berdatangan. Setelah mereka memberi salam, mereka langsung bersiap-siap membereskan segala tanggung jawab mereka. Michelle tersenyum puas melihat kinerja para karyawannya selama bekerja bersamanya. Mereka terampil dan ada inisiatif dalam menghadapi para klien. Denting bel berbunyi tanda ada konsumen pertama mereka yang masuk. Mereka segera bergegas memberi salam dan penyambutan. Seorang wanita masuk dengan agak kesusahan, karena selain ia membawa bayi, ia juga membawa tas bayi dikanan kiri tangannya. Dania segera membantu membawakan tas-tas klien pertamanya itu dan menunjukkan sofa untuk ia bisa beristirahat sejenak. Ia mengambilkan air mineral dan memberikan kepada kliennya itu. Setelah kliennya itu menghabiskan air mineral yang ia berikan dan sudah menghela napas lega. Barulah Dania menanyakan nama dan tujuannya datang ke Michelle Bridal. “Saya mencari gaun pesta untuk menghadiri pesta pernikahan sahabat saya di pantai. Tema pesta itu Gold tapi saya mencari gaun dengan bugget yang minim,” ujar Tina. “Kalau boleh saya tahu, bugget berapa yah minimnya?” “Dibawah tiga ratus ribu ada?” tanya Tina dengan sungkan. Sebenarnya, dibridal mereka sudah tidak menyediakan gaun seharga itu, tapi bosnya selalu bersedia memberikan harga promo bagi klien yang memiliki bugget khusus seperti ini. Maka Dania tersenyum menenangkan Tina. “Ada kok, tenang saja. Mari saya tunjukkan model-model yang bisa kakak pilih.” Dania mengarahkan Tina ke bagian gaun dengan bugget khusus.“Kalau ini, bagaimana? Apa suka?!” kata Dania menawarkan sebuah gaun untuk diperlihatkan kepada Tina.
“Yah, saya suka. Terlihat mewah sekali!” “Ada baiknya, dicoba dulu agar bisa dilihat, apakah ada yang kurang pas dan sebagainya.” “Yah, saya mau. Tapi…”Tina ragu melihat bayinya.
“Kalau boleh, biar saya yang pegang. Kebetulan saya juga ada anak di rumah jadi sudah terbiasa menggendong bayi.” Tina segera berterima kasih dan menyerahkan bayinya kepada Dania. Saat mau masuk keruangan fitting, Tina berseru memanggil Michelle.“Michelle, yah ampun. Sudah lama banget yah, tidak bertemu.”
Michelle merasa tidak mengenal tamu didepannya ini tapi dengan sopan menanggapi seruan tamunya itu.“Maaf, siapa yah?”
“Aku Tina. Alumnus Pelita. Kamu di Pelita juga 'kan!? Jurusan Management!” seru Tina dengan hebohnya mengingatkan Michelle. “Yah benar, tapi Tina mana yah?” “Di Universitas memang kita jarang berbicara. Tapi kita pernah ditugaskan bareng mengerjakan tugas kelompok. Masih ingat, professor Marwan?!” “Oh, iya iya,” sahut Michelle mencoba mengingat-ingat kejadian yang lalu tapi tetap tidak mengingatnya. Tapi dia tidak mau terkesan tidak sopan, jadinya dia berakting seolah kejadian itu benar adanya. “Silahkan dicoba gaunnya,” kata Michelle sambil melangkah ke depan. Setelah cocok dengan gaun yang dicobanya, Tina mengisi formulir dan membayar sejumlah uang sebagai dp. “Michelle kamu hebat yah, bisnis kamu berkembang dengan pesat,” kata Tina sambil memperhatikan semua karyawannya yang sibuk melayani konsumen yang datang. “Yah, ucap syukur. Semua karena kebaikan Tuhan.” “Kamu sudah menikah?!” tanya Tina lagi. “Belum tapi segera. Tunanganku masih menyelesaikan S2nya di Korea. Tunggu dia pulang, kami akan segera menikah.” Tina lalu tersenyum kecut mendengar kata-kata Michelle.“Kamu beruntung yah, tidak seperti aku.”
Michelle sebenarnya cukup sibuk tapi meninggalkan Tina seperti ini juga tidak sopan, maka ia dengan sopan menanyakan apa yang sebenarnya Tina alami. Karena Tina langsung nangis Bombay dan otomatis menarik perhatian semua yang berada di bridalnya. Maka Michelle langsung mengajak Tina untuk masuk kedalam ruangannya. Michelle segera mengambilkan tissue dan memberikannya kepada Tina. “Aku hamil diluar nikah Chel. Kamu ingat Jason, tidak?!” Michelle menggeleng karena memang tidak tahu siapa Jason yang dimaksud. Tina mengeluarkan sebuah foto bergambar dirinya dan Jason. “Oh, iya rasanya aku pernah melihatnya dikampus.” “Jason tidak menginginkan Jojo, bayi kami. Dia memintaku untuk mengugurkan kandunganku dan tidak mau menikahiku.” “Waduh, laporkan saja kepihak yang berwajib.” “Tidak bisa, dia mengancam akan melaporkan balik seandainya itu kulakukan. Kau tidak tahu seberapa terkenalnya dia sekarang.” “Tapi kau memiliki bayinya, dan itu bukti yang kuat. Tinggal lakukan tes DNA saja, maka dia tidak akan bisa mengelak lagi dari tanggung jawabnya!”Michelle menjadi emosi mendengar penuturan Tina.
“Aku mencintainya, Chel. Aku tidak mau sampai mengganggu pekerjaannya sebagai selebritis.” Michelle hanya geleng-geleng kepala menanggapi sikap Tina tapi dia tidak berkomentar lagi. “Oh, iya Chel, maaf nih sebelumnya. Apa aku bisa menitipkan Jojo sebentar? Aku mau pergi membeli kebutuhan pokok. Kalau membawanya agak repot. Setelah selesai, aku akan segera kembali menjemputnya.” “Waduh, Tin. Maaf, aku juga sibuk loh, takut tidak terpegang, kasihan bayi kamu. Kamu pulang dulu saja, nanti setelah menaruh bayimu dirumah, baru kamu berbelanja.” “Dirumah cuma ada aku dan Jojo, Chel. Orang tuaku mengusirku pergi karena aib ini. Mangkanya kemana-mana, aku pasti selalu membawa Jojo. Kalau memang tidak bisa yah, tidak apa-apa Chel. Aku bawa saja. Meski saat ini diluar sedang panas terik, tidak apalah,” ucap Tina dengan lirih. Hati Michelle menjadi tidak tega mendengar penuturan Tina.“Baiklah, kau boleh menitipkan bayimu disini, tapi jangan lama-lama yah!?”
“Tenang saja. Aku akan kembali secepat mungkin. Hanya Jojo satu-satunya, harapanku hidup Chel!” sahut Tina dengan mata berkaca-kaca.”Aku titip tas-tas ini juga yah, Chel,” tambah Tina meletakkan tas-tasnya dipojokan ruangan Michelle.
Michelle mengangguk lalu mengambil bayi yang diserahkan Tina kepadanya. Melihat Jojo, Michelle otomatis langsung menyukai Jojo. Dia bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Tina sudah pergi, sewaktu ia menoleh.My brother remained by the emergency room door all night without moving.He didn't eat, didn't drink, didn't even sit down.After losing Rex, I had become his last remaining family in this world.Several pack members tried to convince him to rest, but he refused to leave his post.Only after hearing from the head healer that I was finally stable did he allow himself to breathe a sigh of relief.But even then, he didn't go far.For the next several days, my brother made no public appearances.The pack's business was handled by his Beta while he dealt with his grief in private.My brother's driver, an elderly wolf named Stevens, later told me what Adrian had been doing during those missing days.He had searched dozens of locations throughout the territory, personally examining potential burial sites for Rex.Nothing was good enough at first.Too close to roads, too exposed to weather, not scenic enough for such a hero.Finally, he found a beautiful mountain cemetery overlooking a valley
Uncle Morrison staggered toward the fallen scarf like a man walking to his own execution.His legs barely supported his weight as the horrible truth sank in.When he knelt down and picked up the scarf with trembling hands, I could see his entire body shaking.The fabric was soft and well-made, crafted with obvious care and skill.But knowing what it was made from turned it into something monstrous.Uncle Morrison held it close to his face, and I saw tears streaming down his cheeks as he recognized the familiar scent."Rex," he whispered, his voice breaking completely.The veins on my brother's forehead bulged so prominently they looked ready to burst.His face had turned a dangerous shade of purple with rage."You're truly a monster!" he roared at Celeste, spittle flying from his mouth."A creature without a soul! Without any shred of decency!"His voice cracked with the intensity of his emotion."Not only did you beat my sister half to death, you killed Rex!"He pointed a shaking fing
Celeste broke down completely, her sobs echoing across the courtyard.She continued prostrating herself until her forehead was split open and blood ran down her face.But she didn't stop, couldn't stop, driven by terror and the desperate need for forgiveness.My brother watched her pathetic display for several long moments before he spoke.When he did, his voice was filled with cruel amusement."Do you know why I chose you from all those Omegas back then?"His tone was conversational now, which somehow made it more terrifying than his earlier rage.Celeste looked up hopefully, thinking he was about to explain some romantic reason."Because your eyes resembled my sister's."The words fell into the silence like stones into a deep well."From the very beginning, from the very first day I brought you here, you were nothing more than a substitute."His voice was matter-of-fact, as if he were discussing the weather."A poor replacement to ease the pain of missing my real family. A pale imita
Celeste's legs gave out immediately. She dropped to her knees with a bone-jarring thud, her body trembling uncontrollably.But even as she knelt, her face showed confusion rather than understanding."Alpha, it's her!" she said, pointing at me with a shaking finger. "Your new assistant!"Her voice was desperate, pleading for him to understand her perspective."I was worried you'd be conflicted about punishing her properly, so I took care of it myself. I punished her first to spare you the difficulty."She looked up at him with what she clearly thought were devoted, caring eyes."I knew you're too kindhearted to deal with thieves harshly. I was protecting you from having to make hard decisions."My brother's laugh was cold enough to freeze one's blood. It echoed off the courtyard walls like the sound of breaking glass."Oh? So I should thank you then?" His voice dripped with sarcasm and barely contained violence."Is that what you're telling me? That I should be grateful for your... acti
"Rex——!!" I screamed in anguish, crawling toward him on my hands and knees, pulling his still-warm body against my chest. His eyes remained open, as if reluctant to leave, as if taking one final look at me. No matter how I called to him, no matter how I shook him, he didn't respond. My dearest child
I wanted to explain, but the poison burned through my organs like acid. I spat up blood mixed with fragments of my insides.A scream of pure agony ripped from my throat."I've seen plenty of wolves like you," Celeste sneered. "There were several others who tried to steal my position before. I took c
My Alpha brother's Omega assistant had always wanted to be Luna. She didn’t know my identity and she mistook me as a rival trying to steal her place. She framed me for theft and tortured me without mercy. As I lay dying, my dog Rex, the Siberian war dog who had fought beside my brother and earned t
Everyone stared at me, murmuring among themselves.An elderly gardener with white hair, wearing a straw hat and work clothes, looked at me with pity.He spoke carefully to Celeste: "Ma'am, she's so young. She probably just made a mistake in judgment.""Since you recovered the item and she's learned


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.