MasukOn our wedding night, my fiancé's best friend barged into our room for the third time, claiming a wedding prank. Having had enough, I warned Sam Whitman that if we didn't consummate our marriage that night, it was as good as over. He glanced at my half-unbuttoned dress and dismissed my words as a tantrum. Then Candace Lombard stormed in for the ninth time, ripped off the covers, and livestreamed our intimate moments. Sam merely pushed me aside and told me to be understanding. She climbed into our bed, smirking as she claimed the spot between us. "Wedding night prank? I get it," I grinned, leaning into her livestream camera. "Alright, everyone, fire up those donations! I'm about to let my husband take a mistress live. Let's make it a show!"
Lihat lebih banyakDi balik apron merah dan rambut diikat ponytail seorang wanita bersenandung sambil menata meja dengan dua piring berisi menu english breakfast yang mana di sampingnya juga telah tersedia segelas kopi hitam dan secangkir teh.
"Perfect."
Meski tinggal di rumah mewah dan megah untuk urusan memasak dia selalu melakukannya sendiri tanpa bantuan para asisten. Mengingat memasak adalah kegiatan favoritnya. Selesai memasak biasanya dia mengambil foto menu makanan yang dia masak dan berakhir diunggah ke media sosial.
"Sekarang saatnya ambil foto." Segera dia meraih ponsel yang terletak di mini tablebar.
Asik sendiri. Tanpa sadar dari arah belakang ada seorang pria berjalan mengendap-ngendap mendekat ke arahnya. Ketika jarak keduanya sudah cukup dekat, lengan kekar pria itu langsung melingkar di pinggang kecil sang wanita membuatnya berjengit.
"Kau lebih dulu bersenang-senang dengan makanan itu nyonya Latrivis. Membuatku sedikit cemburu. Apa aku harus jadi makanan juga?" tanyanya sembari memeluk dari belakang.
"Leluconmu tidak lucu Jared."
"Tapi kau tertawa," ucapnya. Kemudian mendaratkan satu kecupan di pipi sang pujaan.
"Good morning my beauty lady Amy Latrivis."
"Good morning tuan Jared Latrivis." Amy ikut membalas kecupan Jared di satu sisi pipinya
"Perlu aku perbaiki ucapanmu tuan. Aku masih menjadi Amy Savares," koreksi Amy.
"Tapi kita akan menikah. Itu bukan masalah."
"Tapi itu masalah buatku. Kau belum legal menjadi suamiku. Kau masih harus bersabar sedikit lagi hingga aku resmi menjadi Amy Latrivis. Sudahlah, lebih baik kita sarapan. Ayo duduk."
"Baik yang mulia." Jared menurut, lalu melepaskan pelukannya dari Amy.
Jared dan Amy adalah sepasang kekasih akan melangsungkan pernikahan. Mengingat acara pernikahan keduanya semakin dekat mereka memutuskan untuk tinggal di satu rumah yang sama agar memudahkan mengurus segala keperluan pesta pernikahan.
Jared Latrivis, bilioner karismatik di bidang teknologi komunikasi. Dalam dunia bisnis seantero negeri tidak ada yang tidak mengenal namanya. Jared satu-satunya penerus dari perusahaan ATT corp yang sebelumnya dipimipin oleh Ayahnya dan didirikan oleh Kakek.
Pria dewasa di usia tiga puluhan akan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi sang pujaan hati, Amy, seorang guru musik di sekolah menengah atas. Pertemuan keduanya ketika Jared memberikan donasi ke sekolah tempat Amy mengajar. Waktu itu, ditemani asistennya, Edwardo, saat Jared berjalan menuju ruang kepala sekolah dia mendengar suara nyaring datang dari arah taman. Jared menghentikan langkah kakinya, lalu melihat ke arah taman. Jared menangkap objek indah tersebut. Atensi Jared fokus pada seorang wanita yang duduk di bangku taman sambil meniup alat musik harmonika dan dikelilingi beberapa siswa. Detik itu juga Jared jatuh cinta pada Amy. Alunan alat musik tersebut bagaikan jalan untuknya bertemu dengan Amy.
Kini tepat tiga bulan sudah Amy tinggal satu atap di istana Jared. Amy sudah mengangkat seluruh barang-barangnya dari apartemen kecilnya yang dulu dia sewa. Sejak tinggal bersama Jared, Amy terbiasa mengurus semua keperluan Jared. Amy benar-benar melakukan perannya layaknya seorang istri.
"Apa kau yakin tidak ingin menukar lokasi pernikahan kita?" tanya Jared setelah menyesap kopi buatan Amy.
"Kau sudah bertanya hal ini berulang kali dan jawabanku akan tetap sama. Kau punya gedung perusahaan yang cukup besar dan mewah. Lalu untuk apa kita harus susah-susah mencari gedung lain? Jangan buang-buang uangmu," jelas Amy panjang.
Jared tergelak, "uang bukan masalah. Ini pernikahan sekali seumur hidup untuk kita. Aku ingin membuat pernikahan kita sesuai keinginanmu."
"Sekali pun aku mengatakan ingin menikah di kebun binatang apa kau tetap setuju?" tanya Amy, menatap Jared penuh penasaran menanti jawaban.
"Jika kau mau aku tidak keberatan."
"Tidak, terima kasih. Aku tidak mau merepotkanmu dan orang-orang yang membantu mengurus pernikahan kita," ungkap Amy jujur. "Lebih baik simpan uangmu untuk anak kita nanti."
"Apa kau baru saja menggodaku? Apa ini tandanya kau ingin cepat-cepat punya anak dariku?" tanya Jared menggoda sekaligus antusias terlihat dari binar matanya.
"Jika kau setuju tentu aku juga," balas Amy, setelahnya dia melahap sepotong roti yang tersisa.
"Ah, aku jadi ingin memakanmu sekarang juga." Jared kembali menggoda Amy.
"Bukankah kita sering melakukannya tuan Latrivis. Bahkan dahulu kau juga sering melakukannya dengan banyak wanita."
"Kita melakukannya dengan alat pengaman dan tolong jangan ingatkan tentang diriku di masa lalu sayang. Itu sangat menjijikan."
Amy mengangguk karena dia sibuk mengunyah makanannya. Setelah menelan makanannya dengan baik Amy pun menjawab, "Cepat habiskan sarapanmu. Kau bisa terlambat pergi kerja."
Jared tersenyum menatap Amy. Jared tidak menyangka bejatnya dia di masa lalu justru membawanya mendapatkan Amy. Wanita super sabar dan sangat mengerti dirinya. Jared sudah mengakhiri masa bejatnya dua tahun lalu. Tepatnya saat dia berulang tahun ke tiga puluh, sang Kakek sosok yang berhasil menyadarkan Jared.
Tidak jauh berbeda saat seusia Jared kakeknya juga hobi mampir ke club untuk sekedar minum, membayar para wanita dan sering menteraktir teman-temannya untuk pesta alkohol. Namun semua itu kakek tinggalkan saat orangtua wanita yang dia cintai tidak menyetujui rencana pertunangan mereka. Orangtua si wanita mengetahui perilaku kakek yang hobi bermain perempuan. Segala cara dilakukan kakek untuk menyakinkan orangtua si wanita namun mereka tetap tidak setuju dan berakhir dengan si wanita menikah dengan pria lain pilihan orangtuanya. Setelah itu mereka pindah dan sampai sekarang tidak pernah terdengar kabarnya.
Kakek tidak mau keturunannya merasakan apa yang dia rasakan. Butuh waktu cukup lama bagi kakek untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Karena jika sudah terjadi tidak ada gunanya menyesal.
Kini Jared bersyukur, Tuhan masih berbaik hati padanya mengirimkan sosok Amy Savares. Satu tahun lebih melalui proses pacaran, Jared dengan berani melamar Amy. Jared butuh Amy untuk menjadi pendamping hidupnya hingga mereka menua bersama. Niat tulus Jared tentu diterima Amy dengan bahagia.
Jared sudah siap berangkat ke kantor. Kegiatan rutin Amy adalah mengantar Jared hingga teras rumah di mana mobil keluaran bentley mulsanne telah terparkir dengan seorang supir menunggu.
"Honey, malam ini aku akan pulang terlambat. Tidak usah menungguku. Jika sudah mengantuk tidurlah," pesan Jared.
"Jangan terlalu bekerja keras. Aku tidak kau sakit."
"Iya, aku tahu. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Jared. Sebelum pergi Jared tidak pernah lupa untuk menautkan bibirnya pada bibir manis Amy. Bukan hanya sekedar, tapi Jared sering kebablasan kalau tidak dadanya didorong oleh Amy.
"Kita bukan di kamar," kata Amy setelah ciuman mereka terlepas.
Jared tergelak mendengar ucapan pujaan hatinya. "Kau selalu membuatku candu,"
Amy berdecak, "sudah sana, pergilah," usir Amy.
"Baiklah. I love you," ucap Jared bersamaan berjalan memasuki mobil.
"Love you. Bye."
"I asked you to choose between her and me," I continued. "And you didn't hesitate. You picked her, pushed me aside, and let her humiliate me, over and over. You threw me away yourself."Sam froze, finally realizing I hadn't been naïve. I had just been waiting to see where he stood....He broke down, looking like a lost soul. Without another word, I took Fabio's arm and walked past him.I thought that was the end, but Sam wasn't done. In a final, desperate act, he obtained and leaked Fabio and my prenuptial agreement to the press.The headlines screamed:[Billionaire Marriage Exposed: Bride a Pawn in Revenge Plot!][Jilted Lover's Vengeance—Marriage as a Weapon!]Gossip swirled, painting me as a scheming manipulator who'd sold her marriage to spite her ex. Fabio shielded me, standing firm against the storm.At a press conference, he faced the barrage of questions with unshakable calm. He announced, "The agreement is real."The room went silent.He turned to me, his eyes warm
The cherished Lombard heiress was revealed as a manipulative fraud who'd faked illness to control others, dragging the Whitman family into ruin.The Lombard name became a joke. Candace turned into a pariah, jeered at in public, pelted with garbage.Desperate, she threw herself at Sam's feet, begging, "I was wrong. Please, one more chance. We grew up together. You can't do this to me."He looked at her tearful face, feeling only disgust. "Get lost! You ruined my life. I'll never forgive you."She was thrown out, and he never saw her again.But her absence didn't ease his pain. The void in his chest grew, and he drowned it in liquor, haunted by regret.Meanwhile, my life soared.With Fabio's guidance, I stabilized the Myers Group, expanded into new markets, and drove profits skyward. My decisiveness earned me respect, and no one dared underestimate my capabilities anymore.The media crowned me a business prodigy, my face on every newsstand and screen. Each story cut Sam deeper, f
I nodded. Technically, it was Candace who broke it, but Sam let her.Fabio placed the seal back in my hand, closing my fingers around it. "I don't want your shares. I've only ever wanted you."His gaze was so intense I had to look away....The Whitman family's fortunes crumbled further each day. Sam begged and pleaded, but nothing could salvage their business.In his desperation, he turned his anger on Candace, the starter of the whole mess. Her relentless provocations and her targeting of me had clouded his judgment and led to this catastrophe.He decided to confront her, but ever since she was kicked out of their house, she had disappeared without a trace, not even returning to her own place.Sam used all his connections to track her down and finally found her at a private clinic on the outskirts of the city.She was full of energy, haggling with the doctor. "Got another one of those cardiogenic anemia reports? I'm a bit short on cash. Can you cut me a deal?"The doctor wav
"Realize your mistake now?" I said, my voice cold. "Too late, Sam. Enjoy the wedding gift I've left you."...Fabio guided me to the car, and we drove off. He never once looked at Sam, and that dismissal was the sharpest cut of all.He took my hand, his voice soft. "It's over now."I met his eyes, tears threatening. "Thank you."He shook his head, his gaze warm with something deeper. "I told you, my promise from years ago stands. Now you can call me Honey."Word spread fast.Within half an hour, Whitman Group's stock plummeted. Partners jumped ship, canceling contracts left and right. Sam's father called, tearing into him and demanding he return home.When he did, Marvin Whitman slapped him across the face, snapping, "You idiot! Look at what you've done!"Marvin shook with rage, pointing at Sam's nose. "For some nobody, you've ruined our family!"Vicky tried to intervene. "Don't blame Sam. It's Cathy's fault, running around with another man.""Shut up!" Marvin knocked over a
"As for Cathy," Sam said, "I'll smooth things over with her later."Utterly disappointed, I dragged myself upright, gripping the chair for support. "Sam, this is the last time I say your name. You and the Lombard family can do whatever you want. This marriage? It never happened. Let Candace be Mrs.
My grandfather's dying words echoed in my mind, his frail hand clutching mine. "The alliance is important, but you must live with dignity. Never let anyone trample you."I'd failed to live up to his expectations. For the sake of this so-called alliance, I'd turned myself into a laughingstock.Taki
When I didn't budge, Sam leaned in, his voice dropping to a threatening whisper. "Don't forget that our business deal hinges on this marriage. If you make a mess of things now, it screws us both. Your grandfather is watching from above. You don't want to let him down, do you?"He knew my grandfathe
...My fiancé's best friend, Candace Lombard, held her phone high, the camera trained on my nearly bare body.Her laughter was sharp and mocking. "Wow, Cathy, so eager already? The wedding night has barely started, and you're stripping?"My cheeks burned with shame as I yanked the blanket around












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.