LOGINOn the day we decided to get a divorce, I saw Miranda’s account book while I was packing up my stuff. Aside from our daily expenses, Miranda had also set up a scoring sheet for me. Miranda had taken notes of all the things I had done ever since we started dating. Some of them were such miniscule things that even I had forgotten. She took note of them all with a red pen, and she scored them by either awarding me points or deducting them. However, the further down the sheet, the more points were deducted. In the end, I saw Miranda add one line in black ink. [He’s no longer the Henry Jones who used to love me: -100]
View MoreHujan yang mengguyur kota sore itu bukan sekadar rintik, tetapi tembakan peluru air yang membabi buta terhadap kaca depan mobilnya.
Alya menyetir dalam mode bertahan hidup. Pandangannya tertuju pada jalanan licin yang dipadati kendaraan, sementara pikirannya sibuk mengutuki meeting yang molor dan tagihan yang harus dibayar besok.
Dia benar-benar ingin gila! Apalagi dia adalah anak broken home. Ayahnya sudah meninggal, ibunya menikah lagi dan sudah tidak peduli. Sekarang Alya hidup dari harta peninggalan ayah. Apartemen kecil, mobil tua, dan sedikit tabungan untuk bertahan.
Tapi ya sudahlah. Setidaknya, dia masih memiliki tempat berteduh tanpa harus menyewa.
Namun entah sejak kapan ia melamun, meratapi hidup, karena saat sadar ia sudah menabrak mobil didepannya dengan sangat keras.
Brakkk!
Suara itu bukan sekadar bunyi. Itu adalah sensasi yang brutal. Rangka mobilnya yang tua berderak seperti biskuit kering ditimpa batu.
Kantung udara menyembur keluar, menampar mukanya dengan debu putih dan bau bahan kimia yang menyengat. Kepalanya tersentak ke belakang, lalu ke depan, didampingi bunyi klakson yang macet, meraung-raung dalam kesakitan.
Dia terduduk, diselimuti diam yang mendadak. Hujan adalah satu-satunya suara yang berani bersuara, mengetuk atap mobil yang rusak itu seperti dering bel kematian.
Kemudian, pintu di depannya terbuka.
Seorang wanita tua berdiri di balik tirai hujan, terlindungi oleh payung yang dipegang oleh sopir pribadinya yang berbadan tegap.
Dia tidak terlihat marah. Dia terlihat... terpana. Matanya setajam elang, menyapu tubuh mobil Alya yang ringkih, lalu berhenti pada wajah Alya yang pucat dan basah.
Wanita itu mengenakan jas berwarna coklat yang sudah pasti harganya setara dengan gaji Alya setahun. Seuntai mutiara alami melingkari lehernya yang ramping, memantulkan cahaya suram sore itu dengan cara yang sinis.
"Anak muda..." ucapnya. Suaranya jernih, menembus deru hujan dan raungan klakson. Sebuah suara yang dingin dan terlatih, seperti pisau bedah. "Kamu baru saja menghancurkan sebuah Rolls-Royce Phantom."
Jantung Alya seketika jatuh ke dasar kolam ketakutan. Rolls-Royce. Itu bukan mobil, itu adalah istana beroda. Itu adalah mimpi buruk yang harganya mungkin melebihi nyawa dan masa depannya.
"Bu, Saya benar-benar..." kata Alya gagap, tangannya gemetar memegang stir. Air mata campur air hujan mulai mengalir di pipinya. Ini adalah akhir. Dia akan dijebloskan ke penjara. Hidupnya berakhir di sini, di sebuah persimpangan yang basah, karena sebuah lamunan bodoh.
Tapi wanita tua itu, yang kemudian Alya ketahui bernama Ratri, mengangkat tangan. Sebuah gesture kecil yang penuh kuasa, membungkam semua permintaan maaf yang belum terucap.
"Diam!" perintahnya. Matanya, yang tadi terpana, kini menyala dengan sebuah penilaian yang membuat Alya merinding.
"Kecelakaan sudah terjadi. Air mata tidak akan meluruskan bemper ini." katanya, langkahnya mendekat, sepatu haknya yang elegan menginjak genangan air tanpa ragu. Dia membungkuk sedikit, menatap langsung ke mata Alya yang berkaca-kaca.
"Tapi nasib adalah permainan yang lucu. Kerusakan ini bisa menjadi kutukan, atau..." dia berhenti, senyum tipis dan tanpa emosi mengembang di bibirnya yang merah. "Sebuah pintu. Aku punya sebuah proposal. Lakukan sesuatu untukku, dan kita akan melupakan semua kerusakan ini. Bahkan, aku akan memberimu imbalan yang sangat besar."
"Beruntunglah kamu sangat mirip dengannya, wajahmu itu menyelamatkanmu!"
Dia berdiri tegak kembali, meninggalkan Alya yang terengah-engah, terkunci di dalam mobil yang hancur, dengan sebuah tawaran yang lebih menakutkan daripada ancaman.
"Pikirkan baik-baik, Nak." bisik Ratri sebelum berbalik. "Pilihanmu sederhana. Bekerja untukku, atau aku akan memastikan kamu tidak pernah bisa menghirup udara bebas. Karena kamu akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam sel. Ini kartu namaku, besok temui aku di hotel Rosetta. Jam 10 pagi!"
Pintu mobilnya yang mewah tertutup, meninggalkan Alya sendirian dengan gemerincing hujan.
"Nasib sial apalagi ini!" Alya tersedu-sedu. "Papa kenapa tanpa kamu, hidupku sesulit ini?"
*****
Dengan napas yang masih memburu, Ratri menginjakkan kakinya di marmer lobi rumahnya yang megah. Dinginnya lantai tak sebanding dengan dingin yang menggelayuti hatinya.
Dan kemudian, pandangannya tertuju pada pemandangan yang membuat darahnya mendidih.
Di ruang keluarga, Axton, putra satu-satunya, berlutut di atas karpet Persia termahal, dengan patuh memijat kaki Nadira yang terlungkup di sofa.
Ekspresi hamba yang tunduk itu tak bisa disembunyikan lagi. Dia adalah badut di istananya sendiri, diperbudak oleh seorang wanita yang tahu persis di mana letak kelemahannya.
Pikiran Ratri melayang ke masa lalu, ke Chloe. Gadis kecil berambut lurus dan mata sebening embun itu. Anak dari sahabat terbaiknya.
Cahaya yang merebut hati Axton yang pendiam. Kematiannya yang tragis, menyelamatkan Axton dari terjangan mobil, telah merenggut lebih dari sekadar nyawa. Itu merenggut kewarasan putranya.
Axton pun tenggelam, menjadi antisosial, hanyut dalam kesedihan yang tak berujung. Hingga akhirnya, Nadira datang. Wanita yang kebetulan memiliki kemiripan sekilas dengan Chloe. Itulah kail yang berhasil menangkap Axton.
Tapi yang tumbuh bukanlah cinta, melainkan sebuah Attachment Disorder yang parah. Kebutuhan untuk terikat, yang mengubahnya menjadi budak bagi siapapun yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Chloe.
Dan Nadira, dengan kelicikannya, memanfaatkan itu sepenuhnya.
Ratri menghela napas. Tapi sore ini, segalanya terasa berbeda. Ada secercah harapan. Alya. Gadis yang mobilnya ia tabrak itu.
Wajahnya... bukan sekadar mirip. Itu hampir menyamai Chloe. Sebuah kemiripan yang menakjubkan, seolah-olah Chloe lahir kembali dalam tubuh seorang gadis biasa.
Meski terpaut usia 10 tahun dan jauh berbeda latar belakangnya, ada cahaya kejujuran di matanya serta akhlak yang jauh lebih baik dari Nadira.
"Eh, Mama udah pulang!" sapa Nadira tiba-tiba, memutuskan lamunannya. Suara itu bagai kuku yang mengores papan tulis.
Ratri mengabaikannya. Langkahnya terus melaju.
"Mama masih nggak suka sama aku? Sayang, Mamamu tuh!" keluh Nadira dengan suara manja yang dipaksakan, memprovokasi Axton.
Axton langsung menatap ibunya. "Mama, kamu punya mulut untuk bicara, kan?"
Ratri berhenti, menatap anaknya dengan pedih. "Besok aku akan panggil Maid baru untuk jaga cucuku, Kai. Maid lama boleh di-cut off."
"Tapi..." protes Nadira, duduk tegak.
"Tidak ada tapi!" bentak Ratri, suaranya menggelegar di ruangan luas itu. Amarah yang lama tertahan mulai mendidih.
"Mama, jangan bentak istriku!" Axton berdiri, wajahnya berkerut, dia telah dibutakan oleh Nadira.
"Kamu mau melawan ibumu?" teriak Ratri, rasa frustrasinya meluap. "Sudah cukup, Mama diam! Mama selama ini mengkhawatirkan mentalmu, tapi kamu semena-mena!"
"Mama berani bicara seperti itu?" sergah Nadira, bangkit dengan senyum kemenangan. Dia melangkah mendekat, matanya menyipit. "Mau provokasi hubungan kami? Sayang..." ujarnya pada Axton dengan suara merayu. "Aku mau Mama-mu bersujud padaku. Sekarang."
"Kamu wanita gila!" desis Ratri, jijik.
"Suruh dia melakukannya!" desak Nadira pada Axton. "Atau aku pergi dan tidak pulang semalaman. Biar saja aku ketemu orang jahat dan..." ancamannya menggantung.
Wajah Axton pucat. Ketakutan akan ditinggalkan lagi, kecemasannya yang parah, langsung mengambil alih. Dia menatap ibunya dengan mata memohon, tapi juga memerintah.
"Mama..." katanya, suaranya tegang namun penuh desakan, "Bersujudlah."
"Kamu..." Ratri tercekat, hancur. Air mata kebencian dan kepedihan menggenang di matanya.
"Pengawal!" panggil Axton pada dua orang pengawal yang berdiri kaku di pintu. "Bantu Mama meminta maaf pada istriku!"
Dua pengawal itu mendekat dengan ragu. Ratri menatap mereka, lalu menatap Nadira. Di wajah menantunya itu, terpancar senyum kepuasan yang jumawa, sebuah kemenangan mutlak.
Tapi di balik rasa hina yang membara, hati Ratri berbisik. "Tunggu saja, Nadira. Tunggu besok. Ketika Alya datang, senyummu yang keji itu akan pudar. Takhtamu akan runtuh. Dan aku akan menyaksikan kehancuranmu!"
The end of the divorce cooling-off period drew closer. Louie Dubois, our lawyer, sent me a professional-sounding message.[My client is bothered by your continuous harassment of her, and she has chosen to block your number. Even so, she has asked me to remind you not to forget about getting the divorce certificate.]Feeling stubborn, I replied, [If I refuse to get a divorce during the cooling-off period, we can’t get a divorce certificate.]Louie then texted back, [That’s fine. We can choose another method. My client is fine with bringing this to court or living separately for two years. She also hopes that you will consider whether you can handle the consequences.[When she chose you seven years ago, she never expected this to happen, but she does not regret her choice. She does not blame the Henry Jones from seven years ago for making the mistakes that the current Henry Jones has made.[She is willing to shoulder the responsibility of her choice seven years ago, and she hopes th
When Kiara came to visit me, I was about to move to another place. She waited at the entrance to the residential area and looked pitiful as usual.“Henry, I heard that you’re getting a divorce with Miranda.”While she did her best to appear regretful, she could barely hide her excitement.I sneered and said damningly, “Yes. Are you satisfied now? All of this happened because of you.”Kiara froze, and fear briefly appeared on her face.Then, she calmed down and weakly said, “Henry, how could you say that? I’ve done nothing. I didn’t know that Miranda would be so easily upset. I’ll apologize to her. She’ll understand…”In the past, I might have had the patience to admire her acting. But that was no longer the case.I had to admit that Kiara had been crossing the line with her flirting, and I had allowed it.It did not matter whether we had shared secrets or whether we kept chatting more and more about our lives. All of them were evidence that we had crossed the line.“Stop actin
“If I was sure that you were cheating, I would’ve sent these pictures to your executives’ emails, not to your phone,” Miranda said. “Henry, I don’t care about your relationship with your assistant. But did you really have to put me on the spot today?“It was my art exhibition, and your guests were also there. Did you even consider my situation? How was I supposed to explain why you were absent? Was I supposed to tell them that you were playing out a soap opera cliche in a restaurant with your assistant?”Miranda sounded tired and sad, and all I could do was hang up in silence.[Henry’s heart is no longer loyal to me: -20]The further down the scoring sheet, the fewer red marks I got. In reality, my relationship with Miranda worsened.I turned to the last page and looked at the final entry. The date was three months ago, and it was the day she asked for a divorce.Her words were smooth as if she had made up her mind.[He’s no longer the Henry Jones who used to love me: -100]It
I told myself that Miranda had always been stubborn. Her words today had to just be a way for her to appear more dignified.I was certain that the additions and deductions in the book would reveal her love for me. So, I kept reading as if I was intentionally trying to torture myself.After the fiasco with the trip, the deduction entries increased. She saw through all the seemingly foolproof excuses and things I said to humor her.Then, I saw one particular entry.[Henry ruined my hour to shine: -10]I clenched my fists. Suddenly, I felt that my actions might have indeed been unforgivable.Soon after Miranda graduated, she got a job as a salesperson, and she hated it.She had always loved drawing, but her family did not have the money to support her hobby. Even so, she gradually became a pretty good artist by copying others. While she could not compare to the professionals, she still felt happy about it.She once told me that her dream was to attend art classes after she started
I turned around and saw Miranda dressed in loungewear. She stood at the entrance and asked, “Do you have that many things in the study? You still haven’t finished clearing it out?”She was stunned when she noticed the scoring sheet in my hand.At this moment, I felt embarrassed for being caught lookin


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews