Share

Seduhan Kedua

Author: Envy
last update publish date: 2026-05-21 17:30:27

​"Menurutmu... untuk apa aku melakukan semua ini?"

​Adrian tertegun sesaat, napasnya tertahan. Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada sekadar godaan biasa. Ia sadar betul betapa mempesonanya sosok di depannya, namun ada tembok tak kasatmata yang harus tetap ia jaga. Sekali saja ia melangkah melewati batas itu, ketenangan yang susah payah ia bangun—hidup barunya yang sederhana sebagai montir—mungkin akan hancur lebur kembali ke masa lalu yang kelam.

​Ia menarik napas dalam dari cerutunya, membiarkan asap putih mengepul lambat di antara mereka. Tatapan mata Adrian yang biasanya jenaka mendadak berubah; menjadi tajam, kelam, dan penuh beban, seolah-olah ia sedang memandang ke dasar jurang yang tak berujung.

​Seketika, suasana di ruangan itu berubah drastis. Adrian yang santai lenyap, berganti dengan sosok pria yang memancarkan aura intimidasi yang begitu dingin hingga udara di sekitar mereka terasa membeku.

​"Mbak Retno... cukup. Jangan diteruskan," gumam Adrian dengan suara rendah yang sedikit parau, memberikan peringatan halus namun tegas.

​Guratan kesedihan sempat membayangi wajah Mbak Retno, menyiratkan luka lama yang belum sembuh benar. Namun, sebagai wanita yang terbiasa menguasai keadaan, ia segera menepis emosi itu dengan tawa kecil yang dipaksakan.

​"Astaga, lihat ekspresimu. Kaku sekali seperti melihat hantu. Aku tidak akan menggigitmu, tahu. Sudahlah, aku menyerah menggodamu."

​Ia segera mengalihkan suasana, melangkah menuju meja kayu rendah di dekat jendela besar yang menyuguhkan pemandangan taman bagian dalam. Di sana, Mbak Retno duduk dengan keanggunan seorang wanita bangsawan di atas kursi kayu berukir.

​"Kebetulan sekali kamu mampir. Ada kiriman white tea (teh putih) lokal kualitas ekspor dari perkebunan Ciwidey, bantu aku mencicipinya."

​Melihat perubahan sikap itu, Adrian pun kembali ke mode santainya. Ia duduk di seberang Mbak Retno sambil menyunggingkan senyum tipis. "Mari kita lihat, apakah kemampuan menyeduhmu masih sehebat dulu."

​Di dunia teh premium, Mbak Retno adalah seorang maestro yang perfeksionis. Gerakannya berubah menjadi sangat presisi dan penuh estetika. Ia mulai membilas cangkir porselen, mengatur suhu air agar tidak terlalu mendidih, hingga menuangkan air panas dengan gerakan yang begitu halus.

​Sebuah cangkir kecil berisi cairan kuning keemasan yang sangat pucat dan jernih disodorkan ke hadapan Adrian, terisi sekitar dua pertiga bagian.

​"Ini jenis Silver Needle premium yang dipetik sebelum matahari terbit. Coba amati, bagaimana menurut instingmu?" tanya Mbak Retno dengan binar mata yang penuh rasa bangga.

​Adrian mengangkat cangkir itu, mengamati helai pucuk daun tunggal yang diselimuti bulu-bulu halus keperakan di dasarnya.

​"Kuncupnya utuh, lurus, dan bulu halusnya masih melekat sempurna setelah diseduh... ini fiks kualitas petikan pertama grade tertinggi, kan?"

​Mbak Retno mengangguk puas, bibirnya melengkung membentuk senyum manis. "Pengetahuanmu tidak berkarat. Sekarang, coba rasakan di lidahmu."

​Adrian menghirup uap tipis yang mengepul, membiarkan aroma manis segar seperti jerami segar memenuhi indra penciumannya sebelum menyesapnya perlahan. Ia mengangguk dengan ekspresi terkesan.

​"Teh yang luar biasa. Jejak rasanya sangat lembut, ada manis alami yang tertinggal di kerongkongan, dan bersih banget."

​Mbak Retno mendengus pelan, seolah sudah menduga jawaban itu. "Tesuai dugaan. Kalau tidak enak, mana mungkin harganya tembus jutaan rupiah hanya untuk beberapa ratus gram? Yang aku minta itu penilaian kualitasnya, bukan sekadar enak atau tidak."

​Adrian tidak langsung membalas. Ia justru mengambil teko kaca di atas meja, menuangkan air panas lagi, dan membiarkannya terekstraksi kembali. Ia mengulangi proses itu dengan sabar. Barulah pada seduhan berikutnya, ia menuangkannya ke cangkir dan menghirup aromanya dalam-dalam.

​"Jadi?" tanya Mbak Retno, tampak semakin penasaran dengan ketelitian Adrian.

​Adrian menggeleng tipis. "Esensi dari Silver Needle terbaik itu ada pada ketahanan rasanya. Teh ini punya rasa manis madu yang kuat di awal. Tapi di seduhan kali ini, tasting notes buah aprikot alaminya mulai fading (memudar) terlalu cepat. Kesimpulannya, ini teh kelas atas, tapi belum mencapai tingkatan legendaris yang bisa bertahan hingga belasan kali seduh."

​Mbak Retno mengembuskan napas panjang, tampak sedikit kecewa. "Berarti sudah bisa dipastikan kalau pemasok yang mengirim ini sengaja mencampurnya dengan petikan kedua."

​Adrian tertawa kecil menanggapi kekesalan wanita itu. "Dunia teh premium komoditas ekspor memang penuh trik, Mbak. Sedikit lengah, kita bisa kena tipu."

​Mbak Retno menatap Adrian dengan binar mata yang lebih lembut, sebuah senyum manis terukir di bibirnya. "Andai saja kamu mau bekerja di sini membantuku mengelola tempat ini, hidupmu pasti akan jauh lebih nyaman. Bagaimana? Mau dipikirkan lagi? Aku bisa tanggung semua kebutuhanmu, fasilitas, semuanya. Kamu tidak perlu lagi panas-panasan keliling kota naik motor tua buat benerin AC orang."

​Adrian mengangkat bahunya, memberikan penolakan halus yang sudah sering ia sampaikan. "Sudahlah, Mbak. Saya sudah sangat menikmati hidup saya yang sekarang. Bisa menentukan arah langkah sendiri tanpa tekanan rasanya jauh lebih membebaskan."

​Mbak Retno bergumam pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan yang sedu. "Kamu bicara seolah-olah tempat ini adalah penjara yang akan mengikatmu... aku cuma ingin kamu lebih sering ada di sini."

​Mendengar wanita seanggun dan setangguh Mbak Retno bicara dengan nada yang menyiratkan kesepian seperti itu, pertahanan Adrian yang biasanya sekeras karang mendadak goyah. Ada getaran aneh yang menyentuh hatinya.

​Ia sadar, jika ia tidak segera beranjak, ia mungkin akan kehilangan keinginan untuk pulang ke rumah kontrakannya yang sepi.

​"Mbak Retno, hari sudah semakin larut. Saya pamit duluan ya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Ruang Isolasi dan Berkas Hitam

    Adrian sempat tersentak kecil, matanya melirik ke arah Alana dengan ketertarikan yang baru. *Arsitek Algoritma Kuantum pertahanan negara?* batinnya menganalisis. Fakta baru ini seketika mengurai banyak teka-teki mengenai tabiat kaku wanita tersebut. Berdasarkan literatur psikologi taktis yang Adrian pahami, individu yang menghabiskan masa mudanya di dalam laboratorium enkripsi kuantum tingkat tinggi cenderung mengunci emosi sosial mereka di titik terendah. Mereka terbiasa melihat dunia sebagai barisan kode biner yang mutlak—benar atau salah, untung atau rugi. Hal ini menjelaskan mengapa Alana memiliki pembawaan yang sangat dingin, menjaga jarak dari interaksi emosional, mengalami keretakan hubungan internal dengan keluarga besarnya yang penuh intrik, dan memiliki area kosong tanpa riak dalam sejarah asmaranya. Wanita ini mengisolasi dirinya di dalam menara gading algoritma demi melindungi kewarasannya dari kekejaman dunia luar. "Arissa, hentikan bahasan yang tidak fungsional itu,"

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Anatomi Intuitif

    Alana mematikan layar laptopnya dengan ketukan pelan, beralih menatap Adrian dengan sepasang mata yang menyipit tipis, memancarkan intonasi yang sarat akan ujian taktis. "Kamu memecahkan enkripsi *Viper-7* itu dalam waktu kurang dari delapan menit, Adrian. Tapi sebuah sistem keamanan tidak akan berjalan hanya dengan modal jari yang cepat. Apakah kamu memiliki kapasitas otak yang cukup untuk memahami mengapa saya sengaja memotong dana talangan untuk pabrik manufaktur di sektor barat pagi ini?" Adrian menyandarkan punggungnya di sofa kulit, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang kokoh. "Pola pikir seorang tiran korporasi biasanya terlalu berbelit-belit untuk konsumsi logika masyarakat awam, nona CEO. Tapi jika Anda menuntut sebuah jawaban, saya tidak keberatan untuk membaca polanya." "Saya memberikanmu waktu tiga puluh menit untuk membedah draf data audit operasional dari *Konsorsium Barat* ini melalui tablet di tanganmu," tantang Alana, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Batasan di Balik Menara Kaca

    "Saya hanya kurang tidur karena harus memproses peta jaringan distrik ini semalaman, nona CEO. Menguap adalah reaksi biologis yang lurus, bukan tanda saya sedang kehilangan fokus," kilah Adrian, wajahnya kembali tenang dan datar, menetralisir sisa rasa canggung akibat ketahuan mengintip lewat cermin kabin tadi. Alana menarik pandangannya dari laptop dengan gerakan ketus, sepasang matanya memancarkan penilaian yang sangat tajam dan dingin. "Pria manipulatif yang berlindung di balik pembenaran biologis. Adrian, dari seluruh elemen pria taktis yang pernah direkomendasikan kepada keluarga saya, kamu adalah spesimen yang paling membingungkan. Kamu serakah terhadap nominal kontrak, bermulut tajam, namun di saat yang sama, kamu menolak membuang kotak instrumen berkarat yang hampir membuat pos keamanan rumah saya melakukan siaga satu kemarin sore." Adrian mengulas senyum tipis, tangan kanannya dengan tenang memutar kemudi Lexus LX 570 memutari ramp spiral menuju area parkir bawah tanah

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Hari Pertama di Jalur Protokol

    Adrian menarik napas panjang, sudut mulutnya berkedut menahan jengkel. "Dan kamu memanfaatkan kepolosan serta loyalitas Vera untuk memercayai skenario fiktif itu?" "Vera mungkin sangat jeli dalam urusan strategi pemasaran makro, tetapi untuk urusan operasi taktis dan sejarah keluarga besar mu, dia selalu menaruh kepercayaan mutlak pada keputusan saya," Alana akhirnya menghentikan ketikannya. Ia mendongak, sepasang mata beningnya menatap Adrian dengan kilatan dingin yang menuntut patuh. "Daripada kamu sibuk berlagak seperti pahlawan moralitas yang mencemaskan perasaan bawahanku, lebih baik kamu tanda tangani kontrak kerja sekunder ini." Sebuah draf dokumen formal bermaterai disorongkan ke depan dada Adrian. Pria itu memungutnya, membaca judul besarnya: *Kontrak Kerja Sama Eksklusif Penanggulangan Risiko Domestik dan Korporasi.* "Kamu benar-benar ingin mengikat saya di dalam kantormu?" tanya Adrian, matanya menyipit. "Mengingat betapa ogah-ogahannya kamu saat menerima panggila

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Hukum Karma Pengusaha Muda

    . "Mas Adrian, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati sikap dingin Nona Alana tadi. Anak itu sebenarnya memiliki kepedulian yang besar, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Jika dia benar-benar membencimu, dia tidak akan membiarkan saya menceritakan masa lalumu, dan dia tidak akan mencoba menghubungimu subuh tadi." Adrian menurunkan gelas es kosonnya, bibirnya mengulas senyum tipis yang asimetris. "Dia hanya cemas saya memicu keributan yang bisa mencoreng nama baik bisnis keluarganya, Bibi. Wanita secerdas Alana selalu menghitung segala sesuatu berdasarkan untung dan rugi." "Kamu salah menilai dia, Mas," sanggah Bibi Sarah lembut namun tegas. "Setelah mendengar bahwa kamu tumbuh tanpa figur pelindung sejak kecil, sorot matanya langsung berubah. Nona Alana mungkin dibesarkan di lingkungan menara gading yang beku, tapi dia bukan wanita tanpa hati. Dia hanya... tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kehangatan." Adrian terdiam sejenak, menatap sisa butiran es yang

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Benang Merah yang Bertemu

    Melihat bagaimana Adrian dengan patuh mundur demi menghormati prinsip prinsipilnya, rasa kagum Vera pada pria ini justru melonjak tajam. Ia tahu, pria dengan kekuatan seperti Adrian bisa saja memaksakan kehendak, namun pria ini memilih untuk menundukkan egonya di hadapan harga diri seorang wanita. Vera tersenyum manis—sebuah senyuman paling menawan yang pernah ia perlihatkan. Ia tiba-tiba memajukan tubuhnya, memberikan satu kecupan hangat yang cepat di rahang tegas Adrian, sebelum berbisik pelan di dekat telinganya, "Jika kamu bisa terus mempertahankan ketulusan dan rasa hormat ini... waktu akan memberikan seluruh jawaban yang kamu inginkan dari tubuh dan hatiku, Adrian. Bersabarlah sedikit lagi." Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya sendiri sedikit goyah akibat serangan balik yang tidak terduga dari wanita dewasa ini. *Benar-benar berbahaya,* batin Adrian berseloroh. *Wanita berwawasan luas seperti dia ternyata jauh lebih mematikan saat mulai menggunakan p

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Semangkuk Sup

    Mbak Retno menyipitkan mata indahnya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan namun penuh minat. "Strategi biar tetap segar? Kamu sedang merayuku atau memang sedang haus?""Aku serius. Aku ini tipe pria yang bicaranya lurus-lurus saja," jawab Adrian mantap. Meski begitu, di benaknya se

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Selasar Retno

    Kawasan di sekitar tempat itu adalah definisi nyata dari kuliner legendaris yang tidak murah. Jauh dari hingar-bingar mal mewah pusat kota, udara di sudut teduh Kampung Melayu ini terasa lebih tenang berkat rimbunnya pohon-pohon peneduh yang memagari area pelataran. Di sana, terselip sebuah banguna

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Jangan tatap aku seperti itu

    "Kalau Mbak merasa kurang dan mau saya lanjut pegang-pegang tangannya sampai malam, saya sih bersedia saja," goda Adrian sambil menyunggingkan senyum jahil. "Nggak! Sudah cukup!" sahut Vera dengan nada panik yang lucu. Ia kemudian menurunkan kakinya ke lantai, mencoba memberikan tumpuan beban sec

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Lepaskan Pakaianmu

    ​"Mau ke mana? Cepat sekali. Memangnya mengobrol sebentar denganku semenakutkan itu?" Mbak Retno mencebikkan bibir, terlihat tidak senang karena suasananya baru saja menghangat. "Kamu tahu sendiri, Selasar Retno ini terasa sangat sunyi kalau tidak ada teman bicara yang sepadan." ​Adrian tertawa, s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status