LOGINKawasan di sekitar tempat itu adalah definisi nyata dari kuliner legendaris yang tidak murah. Jauh dari hingar-bingar mal mewah pusat kota, udara di sudut teduh Kampung Melayu ini terasa lebih tenang berkat rimbunnya pohon-pohon peneduh yang memagari area pelataran. Di sana, terselip sebuah bangunan paviliun kayu jati Jawa yang kokoh dan megah: Selasar Retno.
Tempat ini bukan sekadar warung makan biasa; ini adalah tempat tersembunyi di mana para pejabat, jenderal, hingga pengusaha kelas kakap sering mengadakan pertemuan santai tanpa sorotan kamera media. Jika melihat ke area parkirnya, kamu akan disuguhi kontras yang nyata—deretan SUV hitam antipeluru berplat nomor khusus terparkir rapi di sana. Ckit... Suara rem motor bebek tua yang sudah berkarat memecah kesunyian di depan area masuk. Adrian turun dari motornya, menyeka keringat yang membasahi pelipis dengan punggung tangan. Seorang pemuda rapi dengan seragam batik modern segera berlari kecil menghampirinya. Namanya Zaka. Senyumnya melebar seolah baru saja melihat tamu agung yang sudah lama dinanti. "Mas Adrian! Akhirnya datang juga. Sini, biar saya yang parkirkan motornya. Mbak Retno sudah nunggu di ruangan pribadi paling belakang," ucap Zaka sigap, tangannya langsung memegang setang motor Adrian. Adrian tertawa kecil sambil menyerahkan kuncinya. "Zaka, kamu ini nggak berubah. Nggak perlu sampai lari-lari begitu, aku cuma mau mampir makan malam, bukan mau sidak komisi." "Justru karena Mas jarang datang, kami harus menyambut dengan benar," balas Zaka semangat. Adrian mencoba merapikan kemeja garis-garisnya yang sedikit berdebu akibat sisa pekerjaan menyervis AC tadi. "Cuaca di luar lagi gerah banget. Orderan hari ini lagi padat, belum lagi jadwal joki game yang numpuk. Rasanya baru kali ini bisa napas lega." "Iya, saya tahu Mas orang penting yang sibuk," canda Zaka. Tanpa ragu, ia mendorong motor tua Adrian dan memarkirkannya tepat di celah sempit di antara dua mobil mewah hitam berukuran besar. Adrian yang melihat itu hanya bisa menepuk jidatnya. "Zak, serius? Motor bututku ditaruh di situ? Kalau pemilik mobilnya keluar dan lihat motor itu di samping aset miliaran mereka, bisa-bisa tempat ini dianggap turun kelas." Zaka hanya terkekeh pelan tanpa niat memindahkan motor tersebut. "Biarkan saja, Mas. Tenang saja, saya lihat rantai motor Mas Adrian juga sudah agak kering, nanti saya minta orang di belakang untuk beri pelumas dan merawatnya sedikit." Adrian hanya bisa pasrah dengan perlakuan istimewa itu. Ia baru saja hendak melangkah masuk ke dalam paviliun, namun saat melirik pantulan dirinya di pintu kaca, ia mendadak ragu. Kemejanya kusam terkena debu jalanan. Ia pun berbalik, berniat mencari pintu samping saja. Melihat itu, Zaka segera mencegahnya. "Mas Adrian, tolong jangan lewat jalan samping. Kalau Mbak Retno sampai tahu, saya yang bakal kena masalah besar." "Lihat sendiri bajuku, berdebu begini. Nggak enak dilihat pelangganmu yang rapi-rapi di dalam," jelas Adrian jujur. Zaka menggeleng dengan raut wajah serius. "Mas, Mbak Retno bukan orang yang menilai dari pakaian. Lagi pula, bagaimana mungkin pelanggan-pelanggan di depan bisa dibandingkan dengan Mas?" Sulit untuk menolak keramahan yang begitu tulus. Akhirnya, Adrian terpaksa masuk melalui lorong utama. Beruntung, koridor yang ia lewati sedang sepi tamu sehingga ia bisa langsung menuju area paling dalam—sebuah ruang privat eksklusif dengan pendingin ruangan yang sejuk dan pemandangan langsung ke arah kolam ikan koi yang menenangkan. Zaka mengantarnya hanya sampai di depan pintu kayu jati berukir, lalu membungkuk hormat dan segera undur diri tanpa berani masuk lebih jauh. Begitu Adrian mendorong pintu tersebut, indra pendengarannya yang tajam menangkap desing halus di udara. Tiga kilatan cahaya melesat ke arahnya dengan kecepatan luar biasa—mengincar titik vital di bahu, lengan, dan pahanya! Sial! Adrian tersentak, namun tubuhnya bereaksi secara naluriah. Ia menggeser badannya setengah lingkaran ke sisi kanan, membiarkan dua benda tajam itu melintas hanya seujung rambut dari pakaiannya dan menancap di tiang kayu belakang. Namun serangan belum berakhir, satu kilatan terakhir kembali menyambar lurus ke arah dadanya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Adrian mengangkat tangan kirinya dan menyapu udara dengan gerakan ringan—dua jarinya secara presisi menjepit bilah pisau dapur kecil tersebut tepat sebelum menyentuh kulitnya. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya, lalu menatap ke arah meja makan di tengah ruangan. Di balik meja itu, tampak sosok wanita yang begitu anggun dan berwibawa sedang memegang teko teh. "Mbak Retno, harus sampai segitunya? Kalau saya telat menghindar dikit, besok saya nggak bisa kerja benerin AC lagi," Adrian tersenyum pahit sambil menunjukkan pisau dapur kecil di jemarinya. "Hmph, aku cuma mau lihat apa refleksmu sudah tumpul karena keseringan memegang obeng dan stik game—sudah berapa lama kamu tidak datang menemuiku?" Wanita itu, Retno, mengeluh dengan nada suara yang berwibawa namun menyimpan kehangatan yang manis. Ia mengenakan kebaya kutubaru modern berwarna merah marun yang membalut lekuk tubuhnya dengan sangat anggun. Aura kepemimpinannya yang berkelas terpancar kuat, memberikan pesona dewasa yang matang dan sulit ditemukan pada wanita mana pun. Adrian menarik napas panjang, lalu meletakkan pisau kecil itu di atas meja dekat pintu. "Jangan berlebihan, Mbak. Saya baru absen sebulan. Bukan satu tahun." Retno melipat tangan di depan dada, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan sebelum menuangkan teh hangat ke cangkir kosong. "Sebulan itu lama bagi orang yang mengharapkan kabarmu. Kamu tahu berapa banyak kontraktor daerah dan pengusaha kaya yang rela antre setiap hari hanya untuk meminta waktu makan siang bersama denganku di sini? Kalau barisan mobil mereka digabung, mungkin sudah bikin macet total sepanjang jalan Kampung Melayu ini. Tapi kamu? Harus ditelpon duluan baru mau menampakkan diri." Adrian tersenyum tipis, lalu duduk di kursi seberangnya dan menyesap teh tersebut. "Begini, Mbak Retno... sesuatu yang jarang muncul itu nilainya jauh lebih tinggi. Kalau kita bertemu setiap hari, rasa bosan yang akan datang. Dengan jeda seperti ini, setiap kali saya datang, Mbak Retno selalu kelihatan lebih awet muda dan menawan. Anggap saja ini strategi biar hubungan kita tetap segar."Adrian sempat tersentak kecil, matanya melirik ke arah Alana dengan ketertarikan yang baru. *Arsitek Algoritma Kuantum pertahanan negara?* batinnya menganalisis. Fakta baru ini seketika mengurai banyak teka-teki mengenai tabiat kaku wanita tersebut. Berdasarkan literatur psikologi taktis yang Adrian pahami, individu yang menghabiskan masa mudanya di dalam laboratorium enkripsi kuantum tingkat tinggi cenderung mengunci emosi sosial mereka di titik terendah. Mereka terbiasa melihat dunia sebagai barisan kode biner yang mutlak—benar atau salah, untung atau rugi. Hal ini menjelaskan mengapa Alana memiliki pembawaan yang sangat dingin, menjaga jarak dari interaksi emosional, mengalami keretakan hubungan internal dengan keluarga besarnya yang penuh intrik, dan memiliki area kosong tanpa riak dalam sejarah asmaranya. Wanita ini mengisolasi dirinya di dalam menara gading algoritma demi melindungi kewarasannya dari kekejaman dunia luar. "Arissa, hentikan bahasan yang tidak fungsional itu,"
Alana mematikan layar laptopnya dengan ketukan pelan, beralih menatap Adrian dengan sepasang mata yang menyipit tipis, memancarkan intonasi yang sarat akan ujian taktis. "Kamu memecahkan enkripsi *Viper-7* itu dalam waktu kurang dari delapan menit, Adrian. Tapi sebuah sistem keamanan tidak akan berjalan hanya dengan modal jari yang cepat. Apakah kamu memiliki kapasitas otak yang cukup untuk memahami mengapa saya sengaja memotong dana talangan untuk pabrik manufaktur di sektor barat pagi ini?" Adrian menyandarkan punggungnya di sofa kulit, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang kokoh. "Pola pikir seorang tiran korporasi biasanya terlalu berbelit-belit untuk konsumsi logika masyarakat awam, nona CEO. Tapi jika Anda menuntut sebuah jawaban, saya tidak keberatan untuk membaca polanya." "Saya memberikanmu waktu tiga puluh menit untuk membedah draf data audit operasional dari *Konsorsium Barat* ini melalui tablet di tanganmu," tantang Alana, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk
"Saya hanya kurang tidur karena harus memproses peta jaringan distrik ini semalaman, nona CEO. Menguap adalah reaksi biologis yang lurus, bukan tanda saya sedang kehilangan fokus," kilah Adrian, wajahnya kembali tenang dan datar, menetralisir sisa rasa canggung akibat ketahuan mengintip lewat cermin kabin tadi. Alana menarik pandangannya dari laptop dengan gerakan ketus, sepasang matanya memancarkan penilaian yang sangat tajam dan dingin. "Pria manipulatif yang berlindung di balik pembenaran biologis. Adrian, dari seluruh elemen pria taktis yang pernah direkomendasikan kepada keluarga saya, kamu adalah spesimen yang paling membingungkan. Kamu serakah terhadap nominal kontrak, bermulut tajam, namun di saat yang sama, kamu menolak membuang kotak instrumen berkarat yang hampir membuat pos keamanan rumah saya melakukan siaga satu kemarin sore." Adrian mengulas senyum tipis, tangan kanannya dengan tenang memutar kemudi Lexus LX 570 memutari ramp spiral menuju area parkir bawah tanah
Adrian menarik napas panjang, sudut mulutnya berkedut menahan jengkel. "Dan kamu memanfaatkan kepolosan serta loyalitas Vera untuk memercayai skenario fiktif itu?" "Vera mungkin sangat jeli dalam urusan strategi pemasaran makro, tetapi untuk urusan operasi taktis dan sejarah keluarga besar mu, dia selalu menaruh kepercayaan mutlak pada keputusan saya," Alana akhirnya menghentikan ketikannya. Ia mendongak, sepasang mata beningnya menatap Adrian dengan kilatan dingin yang menuntut patuh. "Daripada kamu sibuk berlagak seperti pahlawan moralitas yang mencemaskan perasaan bawahanku, lebih baik kamu tanda tangani kontrak kerja sekunder ini." Sebuah draf dokumen formal bermaterai disorongkan ke depan dada Adrian. Pria itu memungutnya, membaca judul besarnya: *Kontrak Kerja Sama Eksklusif Penanggulangan Risiko Domestik dan Korporasi.* "Kamu benar-benar ingin mengikat saya di dalam kantormu?" tanya Adrian, matanya menyipit. "Mengingat betapa ogah-ogahannya kamu saat menerima panggila
. "Mas Adrian, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati sikap dingin Nona Alana tadi. Anak itu sebenarnya memiliki kepedulian yang besar, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Jika dia benar-benar membencimu, dia tidak akan membiarkan saya menceritakan masa lalumu, dan dia tidak akan mencoba menghubungimu subuh tadi." Adrian menurunkan gelas es kosonnya, bibirnya mengulas senyum tipis yang asimetris. "Dia hanya cemas saya memicu keributan yang bisa mencoreng nama baik bisnis keluarganya, Bibi. Wanita secerdas Alana selalu menghitung segala sesuatu berdasarkan untung dan rugi." "Kamu salah menilai dia, Mas," sanggah Bibi Sarah lembut namun tegas. "Setelah mendengar bahwa kamu tumbuh tanpa figur pelindung sejak kecil, sorot matanya langsung berubah. Nona Alana mungkin dibesarkan di lingkungan menara gading yang beku, tapi dia bukan wanita tanpa hati. Dia hanya... tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kehangatan." Adrian terdiam sejenak, menatap sisa butiran es yang
Melihat bagaimana Adrian dengan patuh mundur demi menghormati prinsip prinsipilnya, rasa kagum Vera pada pria ini justru melonjak tajam. Ia tahu, pria dengan kekuatan seperti Adrian bisa saja memaksakan kehendak, namun pria ini memilih untuk menundukkan egonya di hadapan harga diri seorang wanita. Vera tersenyum manis—sebuah senyuman paling menawan yang pernah ia perlihatkan. Ia tiba-tiba memajukan tubuhnya, memberikan satu kecupan hangat yang cepat di rahang tegas Adrian, sebelum berbisik pelan di dekat telinganya, "Jika kamu bisa terus mempertahankan ketulusan dan rasa hormat ini... waktu akan memberikan seluruh jawaban yang kamu inginkan dari tubuh dan hatiku, Adrian. Bersabarlah sedikit lagi." Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya sendiri sedikit goyah akibat serangan balik yang tidak terduga dari wanita dewasa ini. *Benar-benar berbahaya,* batin Adrian berseloroh. *Wanita berwawasan luas seperti dia ternyata jauh lebih mematikan saat mulai menggunakan p
Di saat yang sama, di dalam gang buntu yang sunyi dan lembap di pinggiran distrik bawah kota Tanjung Arta Adrian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana taktisnya. Asap rokok putih mengalir perlahan dari bibirnya, membubung membelah udara pagi yang berkabut. Di hadapannya, seorang pria
Hendra Wijaya mengembuskan asap cerutunya perlahan, tatapan matanya yang sedingin es langsung mengunci sosok Adrian. Aura otoritas dan kekejaman dari pria yang telah puluhan tahun memimpin dunia hitam terpancar kuat dari gestur tubuhnya. "Anak muda, di kota ini, setiap tindakan selalu memiliki harg
Adrian melangkah keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual paginya. Di dekat wastafel, Vera ternyata telah menyiapkan selembar handuk bersih yang masih wangi serta sikat gigi baru yang masih tersegel rapi. Sudut bibir Adrian terangkat tipis. Sentuhan perhatian sekecil itu meletupkan rasa
Seluruh argumen dan rasa kesal di kepala Vera seketika menguap. Sepasang matanya sempat membelalak tidak percaya menatap wajah Adrian yang berada sangat dekat, sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan menutup, menyerahkan seluruh kendali tubuhnya pada kehangatan yang ditawarkan oleh pria itu. Tubu







