Share

Semangkuk Sup

Author: Envy
last update publish date: 2026-05-20 17:07:24

Mbak Retno menyipitkan mata indahnya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan namun penuh minat. "Strategi biar tetap segar? Kamu sedang merayuku atau memang sedang haus?"

"Aku serius. Aku ini tipe pria yang bicaranya lurus-lurus saja," jawab Adrian mantap. Meski begitu, di benaknya sempat terlintas sekilas wajah Alana yang dingin, misterius, dan sulit ditebak.

Jika Alana adalah puncak gunung es yang tak tersentuh, maka Mbak Retno adalah api unggun yang hangat namun siap membakar siapa saja yang terlalu dekat. Keduanya punya pesona yang bertolak belakang.

Wanita dewasa itu tampaknya termakan juga oleh pujian Adrian. Ia berbalik dan berjalan perlahan menuju meja makan kayu jati di sudut ruangan. "Ya sudah, anggap saja aku percaya bualanmu. Sekarang duduk, aku sudah siapkan makanan yang biasanya kamu lahap sampai bersih."

Aroma gurih kaya rempah yang sedari tadi menggoda hidung Adrian kini terpampang nyata di depan mata. Namun, begitu melihat menunya, Adrian justru merasa sedikit ngeri.

"Makan favorit? Mbak, menu ini lebih cocok untuk perjamuan menteri. Sup sengkel sumsum kerbau raksasa, sate domba muda premium, sampai bebek betutu utuh ini... habis makan ini bukannya kenyang, tensi darah saya bisa langsung melonjak karena kebanyakan kolesterol," keluh Adrian.

Mbak Retno menyodorkan semangkuk nasi hangat dengan aroma pandan yang kuat. "Jangan banyak protes. Makan saja, aku tidak suka melihat hidangan ini dingin."

Adrian tidak lagi memiliki kekuatan untuk menolak. Perutnya yang keroncongan setelah seharian memanjat atap untuk memperbaiki AC dan baku hantam di parkiran langsung menuntut haknya. Ia makan dengan kecepatan yang luar biasa, seolah-olah besok makanan seperti ini tidak akan ada lagi di dunia.

Setelah dua mangkuk nasi tandas dan piring-piring di meja mulai bersih, Adrian baru sadar kalau Mbak Retno sejak tadi hanya memperhatikannya tanpa menyentuh sendok sama sekali.

"Kenapa Mbak nggak ikut makan?" tanya Adrian di sela kunyahannya.

"Sudah tadi sore. Aku juga harus menjaga bentuk tubuh, jadi porsiku sangat ketat," jawab Mbak Retno sambil menopang dagunya dengan satu tangan, terlihat sangat menikmati cara rakus Adrian saat makan.

"Badan sudah proporsional begitu, buat apa diet lagi?"

Mbak Retno tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun penuh wibawa. "Diet itu urusan harga diri bagi perempuan. Kamu anak kecil tidak akan paham. Tapi bicara soal bentuk tubuh..." Mbak Retno menjeda kalimatnya, menatap Adrian dengan tatapan yang lebih dalam. "Menurutmu, laki-laki lebih tertarik pada perempuan yang ramping atau yang punya lekuk tubuh lebih berisi?"

Adrian sempat terhenti sejenak, memutar otaknya sebelum sebuah cengiran jahil muncul di wajahnya.

"Seleraku sederhana, Mbak. Aku lebih suka yang kelihatannya ramping dan elegan saat berbaju, tapi... punya kejutan yang pas saat disentuh."

"Dasar kurang ajar! Mulutmu benar-benar minta dikasih pelajaran ya?!" Mbak Retno mendadak menyambar sebuah tusuk sate bambu yang tajam dari meja dan menjentikkannya ke arah Adrian dalam jarak dekat.

Tanpa menghentikan kunyahannya, Adrian hanya sedikit memiringkan kepala ke kiri. Tusuk sate itu melesat cepat dan menancap di dinding semen tepat di samping telinganya. "Aduh, Mbak, ini ruang makan, bukan tempat sirkus. Jangan jadikan aku sasaran terus."

Mbak Retno langsung menghela napas, bahunya merosot lesu. Ia meletakkan jemarinya dan menatap Adrian dengan rasa penasaran yang besar. "Adrian, jujur saja—butuh berapa puluh tahun lagi aku latihan fisik supaya serangan dadakan tadi bisa kena badanmu?"

"Hmm..." Adrian tampak berpikir serius. "Mungkin sekitar empat puluh atau satu abad belakangan lagi."

Mbak Retno memutar bola matanya dengan kesal. "Sama saja bilang aku nggak punya harapan sampai tua!"

Adrian hanya tertawa. Baginya, dalam urusan insting dan teknik bertarung, bakat adalah segalanya. Kerja keras memang penting, tapi terkadang itu hanya hiburan untuk mereka yang sulit mengejar ketertinggalan sejak lahir.

Setelah menandaskan semangkuk besar sup dan memastikan piring-piring di depannya bersih tanpa sisa, Adrian bersendawa puas. Ia baru saja hendak merogoh saku untuk mengambil rokok batangan murahnya, tapi Mbak Retno sudah lebih dulu menyodorkan sebuah cerutu premium Kuba ke depan bibirnya.

"Berhenti merokok bungkusan yang isinya cuma polusi murahan itu. Nggak bagus buat paru-parumu," omel Mbak Retno.

Adrian menjepit cerutu mahal itu, namun tetap menggeleng pelan sambil tersenyum. "Sebenarnya aku lebih cocok sama yang murah, rasanya lebih jujur dan 'menggigit' di tenggorokan. Sudah kebiasaan."

"Ya tetap saja harus dikurangi. Kamu masih muda, jalanmu masih panjang," tegur Mbak Retno dengan nada protektif yang tulus.

Adrian tidak berniat membantah lebih jauh karena ia tahu wanita di depannya ini hanya peduli padanya. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan sambil mengingat rasa makanan tadi. "Ngomong-ngomong, sup sumsum tadi... ada potongan daging kenyal yang rasanya agak beda. Itu kikil jantan atau apa, Mbak?"

Mata Mbak Retno tiba-tiba berkilat jenaka, seolah sudah menunggu pertanyaan itu sejak tadi. "Oh, itu? Itu torpedo kambing jantan pilihan yang sudah diproses khusus dengan ramuan herbal. Sengaja aku minta koki untuk mencincangnya halus supaya staminamu makin kuat."

Mata Adrian membelalak, cerutu di mulutnya hampir saja jatuh ke lantai. "T-torpedo... kambing?"

"Kenapa? Rasanya enak, kan? Kalau sudah diolah begitu, sari patinya jadi lebih gampang diserap tubuh," Mbak Retno tertawa terbahak-bahak—sebuah pemandangan langka melihat wanita seanggun dia tertawa lepas menyaksikan ekspresi syok di wajah Adrian yang biasanya selalu tenang.

Adrian merasa suhu tubuhnya mendadak naik, rasanya seperti ada uap panas yang keluar dari kepalanya. "Mbak Retno... kamu benar-benar berniat bikin aku mimisan ya? Untuk apa aku dikasih asupan stamina booster sebanyak itu?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Ruang Isolasi dan Berkas Hitam

    Adrian sempat tersentak kecil, matanya melirik ke arah Alana dengan ketertarikan yang baru. *Arsitek Algoritma Kuantum pertahanan negara?* batinnya menganalisis. Fakta baru ini seketika mengurai banyak teka-teki mengenai tabiat kaku wanita tersebut. Berdasarkan literatur psikologi taktis yang Adrian pahami, individu yang menghabiskan masa mudanya di dalam laboratorium enkripsi kuantum tingkat tinggi cenderung mengunci emosi sosial mereka di titik terendah. Mereka terbiasa melihat dunia sebagai barisan kode biner yang mutlak—benar atau salah, untung atau rugi. Hal ini menjelaskan mengapa Alana memiliki pembawaan yang sangat dingin, menjaga jarak dari interaksi emosional, mengalami keretakan hubungan internal dengan keluarga besarnya yang penuh intrik, dan memiliki area kosong tanpa riak dalam sejarah asmaranya. Wanita ini mengisolasi dirinya di dalam menara gading algoritma demi melindungi kewarasannya dari kekejaman dunia luar. "Arissa, hentikan bahasan yang tidak fungsional itu,"

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Anatomi Intuitif

    Alana mematikan layar laptopnya dengan ketukan pelan, beralih menatap Adrian dengan sepasang mata yang menyipit tipis, memancarkan intonasi yang sarat akan ujian taktis. "Kamu memecahkan enkripsi *Viper-7* itu dalam waktu kurang dari delapan menit, Adrian. Tapi sebuah sistem keamanan tidak akan berjalan hanya dengan modal jari yang cepat. Apakah kamu memiliki kapasitas otak yang cukup untuk memahami mengapa saya sengaja memotong dana talangan untuk pabrik manufaktur di sektor barat pagi ini?" Adrian menyandarkan punggungnya di sofa kulit, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang kokoh. "Pola pikir seorang tiran korporasi biasanya terlalu berbelit-belit untuk konsumsi logika masyarakat awam, nona CEO. Tapi jika Anda menuntut sebuah jawaban, saya tidak keberatan untuk membaca polanya." "Saya memberikanmu waktu tiga puluh menit untuk membedah draf data audit operasional dari *Konsorsium Barat* ini melalui tablet di tanganmu," tantang Alana, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Batasan di Balik Menara Kaca

    "Saya hanya kurang tidur karena harus memproses peta jaringan distrik ini semalaman, nona CEO. Menguap adalah reaksi biologis yang lurus, bukan tanda saya sedang kehilangan fokus," kilah Adrian, wajahnya kembali tenang dan datar, menetralisir sisa rasa canggung akibat ketahuan mengintip lewat cermin kabin tadi. Alana menarik pandangannya dari laptop dengan gerakan ketus, sepasang matanya memancarkan penilaian yang sangat tajam dan dingin. "Pria manipulatif yang berlindung di balik pembenaran biologis. Adrian, dari seluruh elemen pria taktis yang pernah direkomendasikan kepada keluarga saya, kamu adalah spesimen yang paling membingungkan. Kamu serakah terhadap nominal kontrak, bermulut tajam, namun di saat yang sama, kamu menolak membuang kotak instrumen berkarat yang hampir membuat pos keamanan rumah saya melakukan siaga satu kemarin sore." Adrian mengulas senyum tipis, tangan kanannya dengan tenang memutar kemudi Lexus LX 570 memutari ramp spiral menuju area parkir bawah tanah

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Hari Pertama di Jalur Protokol

    Adrian menarik napas panjang, sudut mulutnya berkedut menahan jengkel. "Dan kamu memanfaatkan kepolosan serta loyalitas Vera untuk memercayai skenario fiktif itu?" "Vera mungkin sangat jeli dalam urusan strategi pemasaran makro, tetapi untuk urusan operasi taktis dan sejarah keluarga besar mu, dia selalu menaruh kepercayaan mutlak pada keputusan saya," Alana akhirnya menghentikan ketikannya. Ia mendongak, sepasang mata beningnya menatap Adrian dengan kilatan dingin yang menuntut patuh. "Daripada kamu sibuk berlagak seperti pahlawan moralitas yang mencemaskan perasaan bawahanku, lebih baik kamu tanda tangani kontrak kerja sekunder ini." Sebuah draf dokumen formal bermaterai disorongkan ke depan dada Adrian. Pria itu memungutnya, membaca judul besarnya: *Kontrak Kerja Sama Eksklusif Penanggulangan Risiko Domestik dan Korporasi.* "Kamu benar-benar ingin mengikat saya di dalam kantormu?" tanya Adrian, matanya menyipit. "Mengingat betapa ogah-ogahannya kamu saat menerima panggila

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Hukum Karma Pengusaha Muda

    . "Mas Adrian, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati sikap dingin Nona Alana tadi. Anak itu sebenarnya memiliki kepedulian yang besar, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Jika dia benar-benar membencimu, dia tidak akan membiarkan saya menceritakan masa lalumu, dan dia tidak akan mencoba menghubungimu subuh tadi." Adrian menurunkan gelas es kosonnya, bibirnya mengulas senyum tipis yang asimetris. "Dia hanya cemas saya memicu keributan yang bisa mencoreng nama baik bisnis keluarganya, Bibi. Wanita secerdas Alana selalu menghitung segala sesuatu berdasarkan untung dan rugi." "Kamu salah menilai dia, Mas," sanggah Bibi Sarah lembut namun tegas. "Setelah mendengar bahwa kamu tumbuh tanpa figur pelindung sejak kecil, sorot matanya langsung berubah. Nona Alana mungkin dibesarkan di lingkungan menara gading yang beku, tapi dia bukan wanita tanpa hati. Dia hanya... tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kehangatan." Adrian terdiam sejenak, menatap sisa butiran es yang

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Benang Merah yang Bertemu

    Melihat bagaimana Adrian dengan patuh mundur demi menghormati prinsip prinsipilnya, rasa kagum Vera pada pria ini justru melonjak tajam. Ia tahu, pria dengan kekuatan seperti Adrian bisa saja memaksakan kehendak, namun pria ini memilih untuk menundukkan egonya di hadapan harga diri seorang wanita. Vera tersenyum manis—sebuah senyuman paling menawan yang pernah ia perlihatkan. Ia tiba-tiba memajukan tubuhnya, memberikan satu kecupan hangat yang cepat di rahang tegas Adrian, sebelum berbisik pelan di dekat telinganya, "Jika kamu bisa terus mempertahankan ketulusan dan rasa hormat ini... waktu akan memberikan seluruh jawaban yang kamu inginkan dari tubuh dan hatiku, Adrian. Bersabarlah sedikit lagi." Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya sendiri sedikit goyah akibat serangan balik yang tidak terduga dari wanita dewasa ini. *Benar-benar berbahaya,* batin Adrian berseloroh. *Wanita berwawasan luas seperti dia ternyata jauh lebih mematikan saat mulai menggunakan p

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Lalat Kecil di Area Parkir

    Kedua pria itu saling pandang sejenak, terkejut karena target mereka tidak hanya mengenali nama bos mereka, tetapi juga faksi yang menaungi mereka. Namun, rasa terkejut itu dengan cepat digantikan oleh seringai meremehkan."Ternyata lu tahu banyak juga ya, bocah," ujar pria bertato pergelangan tang

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Area Perbelanjaan

    Perjalanan menuju supermarket yang terletak di dalam sebuah pusat perbelanjaan premium itu memakan waktu sekitar dua puluh menit. Adrian mengemudikan SUV Jerman tersebut dengan sangat halus, membuat Bibi Sarah merasa sangat nyaman dan terus melemparkan pujian di sepanjang jalan. ​Sesampainya di sa

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Paviliun Barat

    ​Alana menoleh ke samping, menatap Adrian yang justru terlihat sangat santai menikmati pemandangan gedung-gedung bertingkat dari balik kaca mobil, seolah-olah insiden penyerangan preman di kawasan Kota Tua tadi hanyalah hiburan sore yang lewat begitu saja. ​"Kamu sama sekali tidak terlihat taku

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Wanita Sedingin Es

    Mendengar permintaan itu, Adrian langsung terdiam kaku di kursinya. "Alana, begini ya... meskipun kamu cantik luar biasa dan kita memang punya kesepakatan tertulis, aku ini bukan pria yang bisa kamu pakai sesuka hati. Apa nggak sebaiknya kamu pikirkan dulu? Aku rasa kamu bukan tipe wanita yang...

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status