หน้าหลัก / Urban / Pacarku, Artis / Ch. 7 Jakun Yang Sensual

แชร์

Ch. 7 Jakun Yang Sensual

ผู้เขียน: Pinnacullata
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-10 12:01:41

Jessica segera menarik tangannya dan Adrian tertawa.

“Latihan, kita harus ada skinship dikit,” kekeh pria itu sambil menepis poninya. Pria itu kembali mendengus geli saat Jessica mencibir.

"Dia artis pendatang baru, aku sih curiga emang semua ini agensinya yang atur, jadi dia numpang popularitasku," jelas Adrian sambil menatap Jessica.

"Dan itu berhasil, soalnya sejak berita klo dia pacarku, makin laris iklannya. Awalnya Pak Lionel mau biarin aja, tapi sekarang udah nggak bisa, makin seenaknya tuh!" Adrian mendengus kesal.

"Aku ngerti klo itu, tapi yang kutanya, Miranda itu yang mana?" tanya Jessica serius. Bola mata Adrian membulat.

"Kamu beneran nggak tau yang mana Miranda?" tanya Adrian seakan bertanya apakah Jessica tak tahu kalau dunia ini berputar. Jessica mengangguk kesal, jujur saja dia tak pernah tertarik dengan dunia artis.

Adrian segera menggeser bokongnya untuk mendekati Jessica dan menyalakan TV. Tidak lama muncul iklan sabun, Miranda muncul.

"Tuh Miranda." Adrian memutar matanya. 

Jessica segera mencondongkan badannya agar bisa melihat TV lebih jelas sekaligus menjauh dari Adrian.

Miranda dengan rambut kecoklatan bergelombang, tersenyum memperlihatkan gigi putihnya berderet rapi. Hati Jessica segera mencelos ke dasar perut, bagaimana dia harus bersaing dengan wanita secantik ini? Sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan netizen maha benar.

"Kamu... bener nggak ada hubungan sama dia?" tanya Jessica dengan suara serak.

"Nggak, nggak ada minat!" jawab Adrian asal, sambil merebahkan dirinya serta melebarkan tangannya sehingga ada di belakang Jessica. 

"Kenapa? Dia itu cantik sekali!" ucap Jessica dengan suara melengking. Matanya terpaku ke layar sampai iklan habis. 

"Nggak selera dengan wanita seperti itu," jawab Adrian  sambil merebahkan kepalanya di bantalan sofa yang empuk.

"Padahal Miranda cantik banget," desah Jessica seakan protes.

"Emang, cuma cantik doang standarku?" tanya Adrian dengan kesal karena dianggap sedangkal itu oleh Jessica.

"Yah, kamu ‘kan artis, jadi pacarmu juga harus artis yang cantik." Jessica masih menatap iklan kacamata yang juga dibintangi Miranda.

"Siapa bilang pacarku harus artis?" ucap Adrian sambil mencondongkan dirinya ke arah Jessica.

“Lagian cantik itu relatif, menurutku dia cantik jelas dia kan model, tapi tembelan semua. Cantikan kamu, nggak pakai apa-apa juga cakep.” Tatapan Adrian menuju dada Jessica dan wanita itu segera menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya.

“Coba, matanya tolong diatur ya Pak Adrian,” ujar Jessica dengan nada resmi yang membuat Adrian segera tertawa.

Adrian menepis poninya dan Jessica berusaha untuk tidak menatapnya. Pria itu terlalu tampan, Jessica menelan ludahnya agar dia tidak menoleh saat pria itu merebahkan kembali punggungnya di sofa. Jessica segera sok sibuk menatap TV.

Kali ini muncul iklan Adrian, hanya saja kali ini dia tidak mengenakan kaus, Adrian hanya handuk saja, badannya yang berotot sengaja diperlihatkan ke penonton saat ceritanya dia memakai body spray itu. 

Pipi Jessica seketika terasa panas, seharusnya dia cepat pulang. Menonton bersama orang aslinya di samping persis membuat Jessica merasa gerah.

"Tau nggak, aku sampai masuk angin karena terus ngulang semprot itu, mending kalau wanginya enak!" ucap Adrian mengomentari iklan itu dengan santai. 

Sedangkan tanpa sadar Jessica malah sibuk membandingkan otot perut di iklan dengan yang asli di sebelahnya.

"Emang berapa lama sih klo syuting iklan?" tanya Jessica ikut bersandar pada sofa karena Adrian tiba-tiba menoleh ke arahnya. 

Namun begitu dia bersandar wanita itu langsung menyesal karena kini dia menjadi terlalu dekat dengan Adrian. Terlalu dekat sehingga aroma tubuh pria itu mulai menggoda hidungnya.

“Wangi apa ya?” tanya Jessica dalam hati karena biasanya Jessica membenci aroma parfum pria. Tapi segera mengalihkan pandangan pada TV lagi saat Adrian menatapnya. Bola mata coklat Adrian sungguh berbahaya.

"Dua mingguan deh kalau nggak salah, aku lupa tepatnya, ‘kan sempet bolos syuting karena masuk angin." Pria itu terkekeh dan menunjukkan lesung pipi yang semakin membuatnya terlihat semakin tampan. 

"Hah, gini doang sampe dua minggu?" tanya Jessica kaget. 

"Kalau merknya lebih terkenal syuting bisa sebulanan malah, padahal iklan 30-60 detik saja," jawab Adrian sambil melirik ke arah jam dinding, sudah lewat tengah siang.

"Eh aku lapar, kamu mau makan?" tanyanya tiba-tiba karena takut Jessica meminta pulang karena lapar. 

Jessica segera melihat jam tangan, betapa tak tahu malunya dia malah asyik nonton TV di rumah seorang artis. 

"Eh, mending aku pulang deh." Jessica segera berdiri, Adrian yang sebenarnya tak mau Jessica pergi segera berdiri dan memutar otak untuk menahan Jessica.

"Kita lihat dulu," ucapnya sambil menuju balkon. Jessica segera mengikuti Adrian dari belakang.

"Wah… masih banyak yang nunggu," ucap Adrian sambil menunjuk hitam kecil di bawah lalu mendorong Jessica kembali ke dalam. Pria itu berharap Jessica memakan aktingnya, karena sebenarnya sudah tak ada apa-apa di bawah.

"Maaf sayang, sepertinya kamu terperangkap denganku," ucap Adrian  tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Jessica masih mau mengintip ke arah balkon tapi Adrian malah seenaknya merangkul sambil mendorongnya ke arah dapur.

"Jadi mau makan apa?" tanya Adrian ketika Jessica segera melepaskan rangkulan tangannya.

"Kamu mau masak?" tanya Jessica lupa kalau mau pulang karena terkejut melihat Adrian mengenakan celemek.

"Iya dong, ini kan rumahku, jadi aku yang masak, ada lasagna, ada ravioli, ada chicken teriyaki,” ucap Adrian dengan penuh gaya.

"Waw, aku nggak tau kalau kamu bisa masak,” ujar Jessica semakin terpesona dengan sang artis.

"Bisa dong, aku kan Adrian," jawab pria itu sambil membuka freezer. Kening jessica berkerut heran saat pria itu mengeluarkan beberapa bungkusan beku. Jessica mendengus melihat makanan beku itu.

"Aish aku pikir kamu bisa masak beneran." Adrian tertawa karena berhasil menipu Jessica.

"Ooh, sepertinya aku lupa bilang kalau ini semua masih frozen," guraunya sambil mengeluarkan gunting.

"Kalau gitu aku mau teriyaki aja," dengus Jessica. Adrian menunduk ala chef secara berlebihan lalu memasukkan makanan beku itu ke microwave.

"Kalau begitu selera kita sama nona cantik," serunya sambil menekan tombol. Jessica memutar bola matanya.

"Tadaaa," ucap Adrian ceria lalu menaruh ayam teriyaki panas di hadapan Jessica. Wanginya sungguh menggoda karena wanita itu belum sarapan. Jessica segera duduk di kursi tinggi dapur Adrian.

"Cobain deh, teriaki ala Adrian!" Pria itu begitu antusias sehingga Jessica mau tak mau menyedokkan garpu dan mulai makan. Bola mata coklat Adrian mengikuti yang semua Jessica lakukan sehingga wanita itu tak bisa menahan tawa. 

"Gimana, kok ketawa, enak nggak?" tanya Adrian dengan gugup. Biasanya yang memanaskan makanannya adalah Edo, pria itu takut ayamnya masih beku. 

"Enak," jawab Jessica sambil menggelengkan kepala. 

“Jadi sebenarnya enak atau nggak sih? Enak tapi geleng kepala?” dengus Adrian sambil duduk di samping Jessica. 

“Ini makanan pabrikan Adrian, rasanya selalu sama,” dengus Jessica sambil mengambil potongan wortel. 

“Nggak dong, butuh keahlian loh untuk tau waktu yang pas untuk manasinnya,” ujar Adrian tak mau kalah. Jessica tertawa mendengarnya.

“Yah, oke kalau gitu kamu ahli memanaskan makanan, ini enak.” Jessica memasukkan potongan daging ayam sambil menutup matanya, berpura- pura menikmati makanan ala restoran michelin. 

Namun, jantung Jessica seakan berhenti saat Adrian membersihkan sudut bibirnya dengan ujung jarinya. Terlalu lembut sehingga napas Jessica ikut terhenti.

“Enak sih enak, tapi jangan sampe cemongan dong,” desah pria itu menatap lurus bola mata biru milik sang dokter. Jessica segera menarik wajahnya mundur, sentuhan Adrian membuatnya sadar bahaya. 

“Aku nggak cemong,” ujarnya sambil membersihkan bibirnya sendiri.

Adrian tak menjawab dan mulai makan. Jessica kembali tak bisa mengalihkan pandangannya pada jakun Adrian yang bergerak. 

Bagaimana bisa jakun seseorang bisa begitu sensual? Itu hanya jakun, biasanya Jessica juga tak pernah memperhatikan jakun, kenapa sekarang dia jadi terobsesi dengan jakun? Wanita itu tersedak karena kesal dengan pikirannya sendiri.

“Pelan-pelan, segitu enaknya kah?” ujar Adrian kembali mendekat sambil menyodorkan gelas. Jessica segera minum karena takut Adrian menyadari kalau dari tadi dia memperhatikan jakunnya. 

Tapi karena terlalu cepat, Jessica malah jadi kembali tersedak. Adrian mengambil gelas dan mulai menepuk punggung Jessica dengan lembut. 

Wanita itu semakin gugup, aroma tubuh Adrian membuat tubuh Jessica seakan melayang, dia mencoba mengelak dan mundur cepat-cepat, tapi sialnya kursi tinggi menjadi oleng dan Jessica akan terjatuh di lantai.

Tapi tangan kekar Adrian segera menangkapnya dan tanpa disadarinya, Jessica sudah dalam pelukan Adrian lagi.

“Oh…”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pacarku, Artis   Ch. 90 Ramai Namun Sendiri

    Adrian dengan susah payah melepaskan diri dari rombongan stylish dan tentunya Edo. Tapi pria bertubuh gempal itu sangat senang karena hasil konferensi pers sehingga terus berbicara dengan wartawan yang menempel padanya dari awal acara. Adrian sangat senang saat Edo masuk ke van tanpa menyadari Adrian belum masuk. Pria itu dengan cepat menyelinap ke ruang makeup wanita tapi sudah kosong. Napasnya beruap karena udara dingin, Adrian mengigil karena tak mengenakan mantel. “Dimana dia,” desahnya sambil mengatupkan kedua tangannya untuk menghangatkan tubuh dan melihat ke sekelilingnya.Pria itu lalu menyadari kalau Jessica tadi dijemput, berarti dia akan pulang naik bus atau taxi. Dengan secepat kaki panjangnya bisa berlari, Adrian segera ke depan gedung untuk mencari Jessica. Napasnya beruap terengah-engah saat dia berlari ke depan dan tersenyum senang saat melihat Jessica masih berdiri di depan. Rambut keemasannya berkilau di bawah lampu jalan. Adrian baru mau berteriak saat melihat

  • Pacarku, Artis   Ch. 89 Selamat Tinggal Jessica

    Jantung Jessica berdebar sangat kencang karena melihat fotonya di layar. Ada foto saat makan bersama Joe, saat Joe mengantar pulang, dan yang paling mengerikan adalah foto tadi pagi, saat Joe menanyakan keadaannya. Dari foto- foto itu, memang terlihat dia dan Joe memang pacaran. Tapi nyatanya tidak, bagaimana bisa cara mengambil foto itu seakan memang Jessica sedang berselingkuh? Bagaimana Jessica tak sadar kalau selama ini dia diikuti? Blitz membutakan matanya, jemari para wartawan bekerja dengan cepat, seakan sedang melaporkan keadaan ini ke seluruh dunia. Namun, tiba- tiba pria di sebelahnya menggenggam tangannya. Jessica seakan baru teringat kalau Adrian ada di sampingnya. Pria itu tersenyum dan hati Jessica seketika terasa takut kehilangan pria itu. “Aku nggak…” bisiknya sambil menatap Adrian. “Aku tau.” Pria itu tersenyum lalu berbicara lantang membela Jessica. Begitu saja. Dia sangat tampan dengan kemeja dan celana bahan yang senada dengan yang Jessica kenakan juga. L

  • Pacarku, Artis   Ch. 88 Wanita Yang Berselingkuh

    Ruangan konferensi pers kali ini lebih mewah dari sebelumnya, dan juga wartawan yang ikut lebih banyak dari yang kemarin karena gosip yang baru muncul. Pangeran kesayangan negeri diselingkuhi, sang dokter beralih hati. Adrian menatap kecut berita di layar tab-nya. Pantas semua bersikeras untuk melakukan konferensi pers. Ternyata beritanya semakin tak terkendali. Namun, yang membuat perut Adrian semakin melilit adalah karena ada foto Jessica yang jelas bersama pria itu. Dari awal Adrian tahu kalau hubungan Jessica dan Joe bukan hubungan sembarangan. Mereka sahabat lama, sehingga pria itu pasti memiliki satu bagian di hati Jessica. Walau wanita itu mengatakan kalau mereka hanya sahabat, tapi foto yang ada menyatakan lain. Walaupun sudah menghabiskan bersama dengan Adrian, Joe jelas tetap ada bersama dengan Jessica. Selalu ada, sedangkan Adrian malah menghilang. Walau sebenarnya Adrian lebih tepat dikatakan didorong agar menjauh, tapi ya, Adrian jelas tak ada di sisi Jessica sekar

  • Pacarku, Artis   Ch. 87 Malam Ini Semua Selesai

    Dengan gusar Adrian segera mematikan telepon. Walaupun yang diberitahukan Edo bukan informasi yang baru lagi, tetapi tetap saja hati Adrian tidak siap untuk mendengarnya. Pria itu tahu jika tanpa ada kontrak itu, kemungkinan untuk dia bisa bertemu dengan Jessica lebih sulit. Karena itu, dia harus menemukannya benda kecil itu. Seharusnya Jessica akan simpan itu di sini kalau memang dia tidak mau berhubungan lagi dengannya Adrian. Walau Sebenarnya dia mencari tapi sebenarnya ada yang tidak mau menemukan benda kecil itu. Hatinya lega ketika tak menemukan cincin yang dia berikan. Jika Jessica tidak ada di rumahnya, berarti wanita itu pasti di rumah sakit dan masih mengenakan cincin itu. Yah walaupun itu hanyalah hipotesa dari Adrian tapi berbekal dengan itu Adrian dengan gembira keluar dari apartemen Jessica. Sekarang ya sudah pasti ke rumah sakit dan harus berbicara dengan Jessica. Tapi sayangnya, begitu dia turun dari lobi, Adrian segera tertangkap tangan oleh Edo dan diseret pu

  • Pacarku, Artis   Ch. 86 Konferensi Pers

    Seakan masalahnya belum cukup, Jessica kini malah terperangkap di antara dua pria yang tidak tahu diri. “Nggak tau… dan nggak ikutan!” jawab Jessica sambil berdiri. Wanita itu berdiri lalu segera meninggalkan kantin dengan kesal. Jessica baru saja mau menekan lift, tapi handphonenya berbunyi. “Kamu akan ikut dalam operasi Dokter Mosley,” baca Jessica dalam hati dan wanita itu mendengus. Seharusnya tak boleh begini, tapi biasanya kalau Jessica sudah mendapatkan pesan seperti ini, maka sudah pasti akan terjadi walau Jessica mencoba mengelak. Tanpa sadar jarinya menyentuh cincin bermata biru di jari manisnya. ... Pria itu menutup wajahnya dengan selimut dan berusaha untuk tetap tidur walau Edo sudah membuka jendelanya besar-besar. “Gue heran ma lo Adrian, umur dah pala 3 loh, tapi kelakuannya kayak bocah!” omek Edo dengan kesal. “Semalam nggak bisa tidur, seka

  • Pacarku, Artis   Ch. 85 Terjepit

    Kalau sedang bingung rasanya waktu berjalan lama sekali. Walau baru seminggu setelah kejadian itu, rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Anehnya, Adrian tak pernah menghubunginya. Sama sekali tak pernah. Jessica memandangi inkubator bayi dan melihat bayi- bayi yang baru lahir tertidur dengan pulasnya. Tidak, tentu saja dia tidak hamil. Setelah beberapa hari pertengkarannya dengan Adrian, bulannya datang. Jessica sungguh lega. Bukannya dia tak suka bayi. Dia sangat menyukai anak kecil karena itu dia dengan jelas memilih bangsal anak-anak dibanding bangsal dewasa untuk dijaga. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk menikah apalagi punya bayi. Jessica masih banyak yang dikejar. Adrian juga sedang di puncak karirnya. Bayi akan merusak semuanya. “Ya kan?” tanya Jessica sambil menatap seorang bayi yang gendut di hadapannya. Bayi itu mengenakan topi rajutan berwarna biru muda dengan bola di ujungnya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status