MasukJessica segera menarik tangannya dan Adrian tertawa.
“Latihan, kita harus ada skinship dikit,” kekeh pria itu sambil menepis poninya. Pria itu kembali mendengus geli saat Jessica mencibir.
"Dia artis pendatang baru, aku sih curiga emang semua ini agensinya yang atur, jadi dia numpang popularitasku," jelas Adrian sambil menatap Jessica.
"Dan itu berhasil, soalnya sejak berita klo dia pacarku, makin laris iklannya. Awalnya Pak Lionel mau biarin aja, tapi sekarang udah nggak bisa, makin seenaknya tuh!" Adrian mendengus kesal.
"Aku ngerti klo itu, tapi yang kutanya, Miranda itu yang mana?" tanya Jessica serius. Bola mata Adrian membulat.
"Kamu beneran nggak tau yang mana Miranda?" tanya Adrian seakan bertanya apakah Jessica tak tahu kalau dunia ini berputar. Jessica mengangguk kesal, jujur saja dia tak pernah tertarik dengan dunia artis.
Adrian segera menggeser bokongnya untuk mendekati Jessica dan menyalakan TV. Tidak lama muncul iklan sabun, Miranda muncul.
"Tuh Miranda." Adrian memutar matanya.
Jessica segera mencondongkan badannya agar bisa melihat TV lebih jelas sekaligus menjauh dari Adrian.
Miranda dengan rambut kecoklatan bergelombang, tersenyum memperlihatkan gigi putihnya berderet rapi. Hati Jessica segera mencelos ke dasar perut, bagaimana dia harus bersaing dengan wanita secantik ini? Sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan netizen maha benar.
"Kamu... bener nggak ada hubungan sama dia?" tanya Jessica dengan suara serak.
"Nggak, nggak ada minat!" jawab Adrian asal, sambil merebahkan dirinya serta melebarkan tangannya sehingga ada di belakang Jessica.
"Kenapa? Dia itu cantik sekali!" ucap Jessica dengan suara melengking. Matanya terpaku ke layar sampai iklan habis.
"Nggak selera dengan wanita seperti itu," jawab Adrian sambil merebahkan kepalanya di bantalan sofa yang empuk.
"Padahal Miranda cantik banget," desah Jessica seakan protes.
"Emang, cuma cantik doang standarku?" tanya Adrian dengan kesal karena dianggap sedangkal itu oleh Jessica.
"Yah, kamu ‘kan artis, jadi pacarmu juga harus artis yang cantik." Jessica masih menatap iklan kacamata yang juga dibintangi Miranda.
"Siapa bilang pacarku harus artis?" ucap Adrian sambil mencondongkan dirinya ke arah Jessica.
“Lagian cantik itu relatif, menurutku dia cantik jelas dia kan model, tapi tembelan semua. Cantikan kamu, nggak pakai apa-apa juga cakep.” Tatapan Adrian menuju dada Jessica dan wanita itu segera menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya.
“Coba, matanya tolong diatur ya Pak Adrian,” ujar Jessica dengan nada resmi yang membuat Adrian segera tertawa.
Adrian menepis poninya dan Jessica berusaha untuk tidak menatapnya. Pria itu terlalu tampan, Jessica menelan ludahnya agar dia tidak menoleh saat pria itu merebahkan kembali punggungnya di sofa. Jessica segera sok sibuk menatap TV.
Kali ini muncul iklan Adrian, hanya saja kali ini dia tidak mengenakan kaus, Adrian hanya handuk saja, badannya yang berotot sengaja diperlihatkan ke penonton saat ceritanya dia memakai body spray itu.
Pipi Jessica seketika terasa panas, seharusnya dia cepat pulang. Menonton bersama orang aslinya di samping persis membuat Jessica merasa gerah.
"Tau nggak, aku sampai masuk angin karena terus ngulang semprot itu, mending kalau wanginya enak!" ucap Adrian mengomentari iklan itu dengan santai.
Sedangkan tanpa sadar Jessica malah sibuk membandingkan otot perut di iklan dengan yang asli di sebelahnya.
"Emang berapa lama sih klo syuting iklan?" tanya Jessica ikut bersandar pada sofa karena Adrian tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Namun begitu dia bersandar wanita itu langsung menyesal karena kini dia menjadi terlalu dekat dengan Adrian. Terlalu dekat sehingga aroma tubuh pria itu mulai menggoda hidungnya.
“Wangi apa ya?” tanya Jessica dalam hati karena biasanya Jessica membenci aroma parfum pria. Tapi segera mengalihkan pandangan pada TV lagi saat Adrian menatapnya. Bola mata coklat Adrian sungguh berbahaya.
"Dua mingguan deh kalau nggak salah, aku lupa tepatnya, ‘kan sempet bolos syuting karena masuk angin." Pria itu terkekeh dan menunjukkan lesung pipi yang semakin membuatnya terlihat semakin tampan.
"Hah, gini doang sampe dua minggu?" tanya Jessica kaget.
"Kalau merknya lebih terkenal syuting bisa sebulanan malah, padahal iklan 30-60 detik saja," jawab Adrian sambil melirik ke arah jam dinding, sudah lewat tengah siang.
"Eh aku lapar, kamu mau makan?" tanyanya tiba-tiba karena takut Jessica meminta pulang karena lapar.
Jessica segera melihat jam tangan, betapa tak tahu malunya dia malah asyik nonton TV di rumah seorang artis.
"Eh, mending aku pulang deh." Jessica segera berdiri, Adrian yang sebenarnya tak mau Jessica pergi segera berdiri dan memutar otak untuk menahan Jessica.
"Kita lihat dulu," ucapnya sambil menuju balkon. Jessica segera mengikuti Adrian dari belakang.
"Wah… masih banyak yang nunggu," ucap Adrian sambil menunjuk hitam kecil di bawah lalu mendorong Jessica kembali ke dalam. Pria itu berharap Jessica memakan aktingnya, karena sebenarnya sudah tak ada apa-apa di bawah.
"Maaf sayang, sepertinya kamu terperangkap denganku," ucap Adrian tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Jessica masih mau mengintip ke arah balkon tapi Adrian malah seenaknya merangkul sambil mendorongnya ke arah dapur.
"Jadi mau makan apa?" tanya Adrian ketika Jessica segera melepaskan rangkulan tangannya.
"Kamu mau masak?" tanya Jessica lupa kalau mau pulang karena terkejut melihat Adrian mengenakan celemek.
"Iya dong, ini kan rumahku, jadi aku yang masak, ada lasagna, ada ravioli, ada chicken teriyaki,” ucap Adrian dengan penuh gaya.
"Waw, aku nggak tau kalau kamu bisa masak,” ujar Jessica semakin terpesona dengan sang artis.
"Bisa dong, aku kan Adrian," jawab pria itu sambil membuka freezer. Kening jessica berkerut heran saat pria itu mengeluarkan beberapa bungkusan beku. Jessica mendengus melihat makanan beku itu.
"Aish aku pikir kamu bisa masak beneran." Adrian tertawa karena berhasil menipu Jessica.
"Ooh, sepertinya aku lupa bilang kalau ini semua masih frozen," guraunya sambil mengeluarkan gunting.
"Kalau gitu aku mau teriyaki aja," dengus Jessica. Adrian menunduk ala chef secara berlebihan lalu memasukkan makanan beku itu ke microwave.
"Kalau begitu selera kita sama nona cantik," serunya sambil menekan tombol. Jessica memutar bola matanya.
"Tadaaa," ucap Adrian ceria lalu menaruh ayam teriyaki panas di hadapan Jessica. Wanginya sungguh menggoda karena wanita itu belum sarapan. Jessica segera duduk di kursi tinggi dapur Adrian.
"Cobain deh, teriaki ala Adrian!" Pria itu begitu antusias sehingga Jessica mau tak mau menyedokkan garpu dan mulai makan. Bola mata coklat Adrian mengikuti yang semua Jessica lakukan sehingga wanita itu tak bisa menahan tawa.
"Gimana, kok ketawa, enak nggak?" tanya Adrian dengan gugup. Biasanya yang memanaskan makanannya adalah Edo, pria itu takut ayamnya masih beku.
"Enak," jawab Jessica sambil menggelengkan kepala.
“Jadi sebenarnya enak atau nggak sih? Enak tapi geleng kepala?” dengus Adrian sambil duduk di samping Jessica.
“Ini makanan pabrikan Adrian, rasanya selalu sama,” dengus Jessica sambil mengambil potongan wortel.
“Nggak dong, butuh keahlian loh untuk tau waktu yang pas untuk manasinnya,” ujar Adrian tak mau kalah. Jessica tertawa mendengarnya.
“Yah, oke kalau gitu kamu ahli memanaskan makanan, ini enak.” Jessica memasukkan potongan daging ayam sambil menutup matanya, berpura- pura menikmati makanan ala restoran michelin.
Namun, jantung Jessica seakan berhenti saat Adrian membersihkan sudut bibirnya dengan ujung jarinya. Terlalu lembut sehingga napas Jessica ikut terhenti.
“Enak sih enak, tapi jangan sampe cemongan dong,” desah pria itu menatap lurus bola mata biru milik sang dokter. Jessica segera menarik wajahnya mundur, sentuhan Adrian membuatnya sadar bahaya.
“Aku nggak cemong,” ujarnya sambil membersihkan bibirnya sendiri.
Adrian tak menjawab dan mulai makan. Jessica kembali tak bisa mengalihkan pandangannya pada jakun Adrian yang bergerak.
Bagaimana bisa jakun seseorang bisa begitu sensual? Itu hanya jakun, biasanya Jessica juga tak pernah memperhatikan jakun, kenapa sekarang dia jadi terobsesi dengan jakun? Wanita itu tersedak karena kesal dengan pikirannya sendiri.
“Pelan-pelan, segitu enaknya kah?” ujar Adrian kembali mendekat sambil menyodorkan gelas. Jessica segera minum karena takut Adrian menyadari kalau dari tadi dia memperhatikan jakunnya.
Tapi karena terlalu cepat, Jessica malah jadi kembali tersedak. Adrian mengambil gelas dan mulai menepuk punggung Jessica dengan lembut.
Wanita itu semakin gugup, aroma tubuh Adrian membuat tubuh Jessica seakan melayang, dia mencoba mengelak dan mundur cepat-cepat, tapi sialnya kursi tinggi menjadi oleng dan Jessica akan terjatuh di lantai.
Tapi tangan kekar Adrian segera menangkapnya dan tanpa disadarinya, Jessica sudah dalam pelukan Adrian lagi.
“Oh…”
“Hati-hati.” Suara pria itu terdengar dalam dan serak. Begitu seksi. Jessica membuka mata dan segera menurunkan kakinya. Wajahnya terasa begitu panas. Dia berlaku sungguh bodoh. Kenapa dia jadi begitu kikuk.“Bangkunya… tinggi sekali,” ucap Jessica segera menyalahkan kursi tinggi Adrian yang tak bersalah. “Pacarku tak boleh jatuh, nanti dipikir aku KDRT lagi,” ujar Adrian pelan sambil menyentuh ujung hidung Jessica. Wanita itu segera melepaskan diri. Sentuhan kecil tadi sungguh mengirimkan sinyal aneh ke seluruh tubuhnya.“Palsu, pacar palsu,” ujar Jessica dengan penuh penekanan sambil menatap ke arah sofa yang terasa lebih aman. “Aku makan di sofa aja deh,” gumam Jessica ingin segera menjauh dari Adrian.Aktor itu menghembuskan napas panjang sambil memaki dirinya dalam hati karena tak bisa menahan tangannya untuk tidak mengelus wajah Jessica. Melihatnya menutup mata, sambil makan tadi membuat Adrian lepas kendali, Bagaimana bisa wanita itu sungguh sungguh seksi hanya dengan makan?
Jessica segera menarik tangannya dan Adrian tertawa.“Latihan, kita harus ada skinship dikit,” kekeh pria itu sambil menepis poninya. Pria itu kembali mendengus geli saat Jessica mencibir."Dia artis pendatang baru, aku sih curiga emang semua ini agensinya yang atur, jadi dia numpang popularitasku," jelas Adrian sambil menatap Jessica."Dan itu berhasil, soalnya sejak berita klo dia pacarku, makin laris iklannya. Awalnya Pak Lionel mau biarin aja, tapi sekarang udah nggak bisa, makin seenaknya tuh!" Adrian mendengus kesal."Aku ngerti klo itu, tapi yang kutanya, Miranda itu yang mana?" tanya Jessica serius. Bola mata Adrian membulat."Kamu beneran nggak tau yang mana Miranda?" tanya Adrian seakan bertanya apakah Jessica tak tahu kalau dunia ini berputar. Jessica mengangguk kesal, jujur saja dia tak pernah tertarik dengan dunia artis.Adrian segera menggeser bokongnya untuk mendekati Jessica dan menyalakan TV. Tidak lama muncul iklan sabun, Miranda muncul."Tuh Miranda." Adrian memutar
"Pacar Adrian?" tanya Jessica bingung sambil menatap Adrian. "Kenapa, apakah harus...?" tanya dokter itu lagi kali ini sambil menggeleng, hati Adrian sedikit kesal karena Jessica menolak. "Sepertinya dalam kasus seperti ini, pers tidak akan melepaskan Anda sampai ada kejelasan antara hubungan anda, Miranda dan Adrian," ucap Lionel dengan tenang. Matanya terus memandangi Jessica sehingga wanita muda itu merasa risih. Pria berkepala botak itu tertawa kecil lalu memperlihatkan berita-berita yang beredar di layar handphonenya, beberapa judulnya sudah sangat provokatif. Jessica mengerang kesal"Tapi... siapa yang bakal percaya?" Wanita itu mengerutkan keningnya sambil memandang Adrian yang walau hanya mengenakan pakaian sederhana terlihat sangat tampan sedangkan dirinya seperti orang tunawisma."Sejujurnya, pers sangat mudah untuk dikendalikan. Mereka akan melahap semua cerita yang ada. Kita buat aja pertemuan pers, lalu mengumumkan hubungan palsu kalian," ucap Lionel dengan senyum leba
Jessica mengikat rambut panjangnya menjadi satu lalu berlari keluar dari lobi apartemen. Sudah menjadi jadwalnya tiap pagi untuk berlari sekeliling halaman apartemen, namun baru pintu apartemen terbuka, rombongan wartawan langsung mengelilinginya. "Bagaimana tanggapan anda terhadap tuduhan Miranda?" tanya seorang wartawan menyodorkan alat rekamnya seenaknya ke mulut Jessica."Jessy, Jessica!" panggil para wartawan itu dengan sok akrab. Mereka saling dorong dan menutup jalan sehingga Jessica terperangkap di tengah- tengah mereka. Tubuh mereka saling bergesekan, mencoba bertanya dengan pertanyaan yang semakin kurang ajar. "Apa tanggapan kamu dengan tuduhan Miranda, Jess?" tanya seorang wartawan dengan gaya seperti mereka sudah bersahabat selama 10 tahun, kameramennya memasang lampu sorot ke arah Jessica. Mata Jessica buta, jantungnya berdebar kencang, bau keringat yang memuakkan dan mereka saling mendorong, sampai wanita itu hampir terjatuh, seketika panik melanda."Jessica, kamu kok
"Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona."Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuju kursi penumpang depan."Biar kamu nggak jadi supir," serunya sambil tersenyum lebar. “Cih, memangnya sekarang aku apa kalau bukan supir?” pikir Jessica mendongkol."Jes, kita makan steak, aku tahu yang enak, nanti depan belok kanan.” Adrian bukan meminta tapi memerintah. Jessica mendengus karena sejak kapan dia bisa bebas memanggil dengan hanya menggunakan nama?"Eh tapi kamu mau makan apa?" tanyanya dengan lembut, suaranya membuat Jessica merinding. "Steak nggak apa-apa ‘kan?" tanya Adrian lagi masih menatap ke arah Jessica walau terhalang kacamata hitam. Tanpa sadar Jessica menahan napas saat Adrian tiba- tiba membuka kacamatanya dan tatapan mereka kembali beradu. Jessica seketika me
"HAH! Kamu mau cerita apa?" tanya Jessica dengan tatapan tidak rela acaranya akan Adrian rusak. Pria itu memandang dokter mungil di hadapannya. Sebenarnya wanita itu cukup cantik, matanya besar bewarna biru laut dengan bulu mata lentik. Hidungnya tinggi tapi mungil sama seperti bibirnya. Sayang, semua itu tertutup dengan kaca mata yang tebal. Wajahnya polos tanpa make-up, dan rambutnya yang pirang dililit asal dengan pulpen."Apalah, karang-karang saja," desah Edo sambil langsung mendorong Adrian naik ke atas podium.Dengan sudut matanya, Adrian memperhatikan kalau dokter itu berjalan ke pintu seperti ingin keluar dari ruangan. Apakah dia mencoba mengambil buku? "Halo guys, aku Adrian!" ucap Adrian menyapa anak- anak sambil memutar otak dan membuat cerita dadakan. "Kakak mau baca cerita nih, tentang Putri Embun," lanjut sang artis lagi sambil memandang Jessica berharap kalau wanita itu tidak membuka pintu."Pada suatu hari ada seorang gadis cantik nan jelita, rambutnya berwarna k







