LOGIN"Pacar Adrian?" tanya Jessica bingung sambil menatap Adrian. "Kenapa, apakah harus...?" tanya dokter itu lagi kali ini sambil menggeleng, hati Adrian sedikit kesal karena Jessica menolak.
"Sepertinya dalam kasus seperti ini, pers tidak akan melepaskan Anda sampai ada kejelasan antara hubungan anda, Miranda dan Adrian," ucap Lionel dengan tenang. Matanya terus memandangi Jessica sehingga wanita muda itu merasa risih.
Pria berkepala botak itu tertawa kecil lalu memperlihatkan berita-berita yang beredar di layar handphonenya, beberapa judulnya sudah sangat provokatif. Jessica mengerang kesal
"Tapi... siapa yang bakal percaya?" Wanita itu mengerutkan keningnya sambil memandang Adrian yang walau hanya mengenakan pakaian sederhana terlihat sangat tampan sedangkan dirinya seperti orang tunawisma.
"Sejujurnya, pers sangat mudah untuk dikendalikan. Mereka akan melahap semua cerita yang ada. Kita buat aja pertemuan pers, lalu mengumumkan hubungan palsu kalian," ucap Lionel dengan senyum lebar, seakan-akan dia sudah merencanakan hal ini sejak jauh hari.
“Ah pasti ada cara lain,” ujar Jessica sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada. “Katakan saja si Miranda itu berhalusinasi, kenapa jadi aku yang ikut repot!” omel Jessica masih bersikeras menolak.
“Miranda itu punya fans garis keras, kalau kita adu keras pasti kita yang kalah, kamu akan lebih tersiksa nanti sama fansnya,” ujar Edo sambil ikut memperhatikan sang dokter dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Apalagi sekarang Adrian ini lagi tersandung banyak skandal, pasti wartawan nggak akan lepasin kamu,” desis Edo lagi, menyindir kasus rokok Adrian.
"Maaf ya Jess, kamu jadi terseret begini," ucap Adrian meminta maaf dengan perasaan serba salah. Jessica mendesah kesal. "Tapi kalau tidak ada kejelasan pasti nanti akan sama aja, kamu akan tetap diikuti oleh wartawan ke mana kamu pergi," lanjut Adrian.
"Kita akan mengumumkan kalau kalian telah berpacaran sudah ada... sejak kapan Miranda memulai cerita khayalannya itu?" tanya Lionel kepada Edo seakan Jessica sudah setuju.
"Sudah ada dua bulan, sejak iklan shampo itu," jawab Edo setelah menimbang-nimbang.
"Oke kalian sudah berpacaran selama tiga bulan, kenal dari teman, cinta pada pandangan pertama, pasti pers akan tergila-gila dengan cinta pandangan pertama Adrian," karang Lionel lancar.
"Cinta pada pandangan pertama?" tanya Jessica merasa jijik dengan skenario yang disodorkan kepadanya.
"Kalian harus ada panggilan sayang, pers sangat suka panggilan sayang." Lionel mengerutkan keningnya, seperti berpikir keras.
"Panggilan sayang?" tanya Jessica lama-lama seperti burung beo, dia mengulangi semua ucapan Lionel dengan panik, kerutan di keningnya semakin dalam, dan dia menggeleng pelan.
Ada dorongan hebat di hati Adrian untuk merangkul pundak Jessica agar wanita itu lebih tenang tapi membatalkannya.
"Ini cuma bo’ongan, aku tau kamu pasti bingung karena emang mendadak juga, cuma ini sepertinya jalan keluar yang terbaik saat ini, buat kamu juga.” Adrian menggunakan kekuatan pesonanya agar Jessica menyerah.
Wanita itu memandang Adrian seakan menimbang-nimbang. Hati kecil Adrian semakin merasa kesal, karena biasanya wanita mengantri untuk menjadi pacarnya, walau hanya pura-pura.
"Baik... jika misalnya aku mau … emang nggak akan ketahuan? Aku ‘kan bukan aktris!" seru Jessica dengan masuk akal.
"Ah kemarin aktingmu saat di panggung keren kok, aku aja kaget kemarin," ucap Adrian membalas tanpa berpikir.
Wajah Jessica yang mungil seketika menjadi kemerahan karena malu. “Astaga masih ada jaman sekarang, wanita yang kalau malu wajahnya memerah seperti ini, lucu sekali,” pikir Adrian dalam hati.
"Ehmm!" Edo tiba-tiba sambil menyikut Adrian.
"Jadi kamu setuju panggilan sayang kamu An An, Jessica, Ica ya?" tanya Lionel menatap Adrian yang baru sadar dari lamunannya.
"Hah, An-An emang aku panda? Nggak mau ah jelek banget, pake panggilan sayang norak banget!" ucap Adrian sebal.
"Makanya jangan bengong!" bisik Edo dengan lirih.
Adrian melirik asistennya dengan kesal. Edo memang sangat mengenal Adrian, pria gempal itu selalu mengawasi lebih tajam dari elang. Dia memberi tanda silang kecil di dadanya. Adrian mendengus dengan sebal.
"Oke, untuk sementara tidak usah pakai panggilan sayang, tapi Dokter Jessica, anda setuju ya? Karena dengan ini kami jadi bisa ikut melindungi Bu Dokter?" ucap Lionel, mulai mengintimidasi.
"Anda tenang saja, kami sudah biasa mengurus ini, kalian hanya harus tampil publik beberapa kali, nanti setelah lewat enam bulan, kalian bisa putus baik-baik dikarenakan Adrian yang terlalu sibuk," ucap Lionel membayangkan skenario sambil melihat ke atas, Edo ikut menatap ke atas sambil membayangkan.
Namun dengan lucunya, Jessica malah ikut menatap ke langit- langit apartemen dengan bingung apa yang harus dipandang. Adrian menahan tawa dengan gemas. “Sebenarnya dia itu dokter asli atau nggak sih? kenapa dia polos sekali?” pikir Adrian geli
"Jadi aku harus berpacaran dengannya 6 bulan saja?" tanya Jessica sambil mendesah kalah. Pria paruh baya itu mengangguk dengan senang, karena intimidasinya berhasil.
"Hanya pura-pura saja, enam bulan saja dengan beberapa kencan bohongan," janji Lionel sambil menekankan di kata pura-puranya.
Walau terlihat ragu, akhirnya Jessica mengangguk halus, yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari Edo dan Lionel. Wanita itu memutar mata dengan sebal.
"Okeh, sekarang saya kembali ke kantor, Edo kamu ikut ada yang saya mau bicarakan, jadwal Adrian hari ini apa?" tanya Pak Lionel sambil berjalan ke arah lift.
"Sore jam tujuh nanti ada rekaman radio, acara talk show," jawab Edo sambil membuka handphonenya. "Mau saat ini pengumumannya?" tanya pria itu sambil bersiap mencatat.
"Hmm, jangan buru-buru, kasih petunjuk aja, biar penasaran, siapa tau iklan handphone Rio yang terbaru itu, bisa Adrian rebut dari Mario," jawab Lionel dengan semangat. Sepertinya sudah banyak rencana di kepalanya. Pria itu memandang Jessica lagi dengan teliti.
"Atur make-up artist, rambutnya juga, umm, wardrobe juga," ucap Lionel setelah puas menatap Jessica.
"Oke," jawab Edo mencatat.
"Jess, aku jujur meminta maaf karena kamu jadi ikutan masalahku," ucap Adrian ketika akhirnya mereka tinggal berdua.
"Yah... aneh banget kenapa aku jadi pelakor!” pekik Jessica sambil menggenggam tangannya sendiri.
"Maaf ya, wartawan emang keterlaluan, cari judul heboh, supaya artikel mereka laku. Aslinya, mereka tau Miranda bohong." Adrian mendengus jijik saat menyebutkan nama wanita itu sambil duduk di sofa.
"Tadi aku serius, emang siapa sih Miranda, aku nggak tau," tanya Jessica sambil duduk di sofa. Adrian menatap Jessica dengan tidak percaya, lalu menarik tangan wanita itu dengan lembut.
“Jelas cantikkan kamu kok, Jes.” Pria itu mengecup jemari Jessica dengan lembut membuat wanita itu merinding disko.
Sepertinya salah hanya berduaan dengan Adrian.
Jantung Jessica berdebar sangat kencang karena melihat fotonya di layar. Ada foto saat makan bersama Joe, saat Joe mengantar pulang, dan yang paling mengerikan adalah foto tadi pagi, saat Joe menanyakan keadaannya. Dari foto- foto itu, memang terlihat dia dan Joe memang pacaran. Tapi nyatanya tidak, bagaimana bisa cara mengambil foto itu seakan memang Jessica sedang berselingkuh? Bagaimana Jessica tak sadar kalau selama ini dia diikuti? Blitz membutakan matanya, jemari para wartawan bekerja dengan cepat, seakan sedang melaporkan keadaan ini ke seluruh dunia. Namun, tiba- tiba pria di sebelahnya menggenggam tangannya. Jessica seakan baru teringat kalau Adrian ada di sampingnya. Pria itu tersenyum dan hati Jessica seketika terasa takut kehilangan pria itu. “Aku nggak…” bisiknya sambil menatap Adrian. “Aku tau.” Pria itu tersenyum lalu berbicara lantang membela Jessica. Begitu saja. Dia sangat tampan dengan kemeja dan celana bahan yang senada dengan yang Jessica kenakan juga. L
Ruangan konferensi pers kali ini lebih mewah dari sebelumnya, dan juga wartawan yang ikut lebih banyak dari yang kemarin karena gosip yang baru muncul. Pangeran kesayangan negeri diselingkuhi, sang dokter beralih hati. Adrian menatap kecut berita di layar tab-nya. Pantas semua bersikeras untuk melakukan konferensi pers. Ternyata beritanya semakin tak terkendali. Namun, yang membuat perut Adrian semakin melilit adalah karena ada foto Jessica yang jelas bersama pria itu. Dari awal Adrian tahu kalau hubungan Jessica dan Joe bukan hubungan sembarangan. Mereka sahabat lama, sehingga pria itu pasti memiliki satu bagian di hati Jessica. Walau wanita itu mengatakan kalau mereka hanya sahabat, tapi foto yang ada menyatakan lain. Walaupun sudah menghabiskan bersama dengan Adrian, Joe jelas tetap ada bersama dengan Jessica. Selalu ada, sedangkan Adrian malah menghilang. Walau sebenarnya Adrian lebih tepat dikatakan didorong agar menjauh, tapi ya, Adrian jelas tak ada di sisi Jessica sekar
Dengan gusar Adrian segera mematikan telepon. Walaupun yang diberitahukan Edo bukan informasi yang baru lagi, tetapi tetap saja hati Adrian tidak siap untuk mendengarnya. Pria itu tahu jika tanpa ada kontrak itu, kemungkinan untuk dia bisa bertemu dengan Jessica lebih sulit. Karena itu, dia harus menemukannya benda kecil itu. Seharusnya Jessica akan simpan itu di sini kalau memang dia tidak mau berhubungan lagi dengannya Adrian. Walau Sebenarnya dia mencari tapi sebenarnya ada yang tidak mau menemukan benda kecil itu. Hatinya lega ketika tak menemukan cincin yang dia berikan. Jika Jessica tidak ada di rumahnya, berarti wanita itu pasti di rumah sakit dan masih mengenakan cincin itu. Yah walaupun itu hanyalah hipotesa dari Adrian tapi berbekal dengan itu Adrian dengan gembira keluar dari apartemen Jessica. Sekarang ya sudah pasti ke rumah sakit dan harus berbicara dengan Jessica. Tapi sayangnya, begitu dia turun dari lobi, Adrian segera tertangkap tangan oleh Edo dan diseret pu
Seakan masalahnya belum cukup, Jessica kini malah terperangkap di antara dua pria yang tidak tahu diri. “Nggak tau… dan nggak ikutan!” jawab Jessica sambil berdiri. Wanita itu berdiri lalu segera meninggalkan kantin dengan kesal. Jessica baru saja mau menekan lift, tapi handphonenya berbunyi. “Kamu akan ikut dalam operasi Dokter Mosley,” baca Jessica dalam hati dan wanita itu mendengus. Seharusnya tak boleh begini, tapi biasanya kalau Jessica sudah mendapatkan pesan seperti ini, maka sudah pasti akan terjadi walau Jessica mencoba mengelak. Tanpa sadar jarinya menyentuh cincin bermata biru di jari manisnya. ... Pria itu menutup wajahnya dengan selimut dan berusaha untuk tetap tidur walau Edo sudah membuka jendelanya besar-besar. “Gue heran ma lo Adrian, umur dah pala 3 loh, tapi kelakuannya kayak bocah!” omek Edo dengan kesal. “Semalam nggak bisa tidur, seka
Kalau sedang bingung rasanya waktu berjalan lama sekali. Walau baru seminggu setelah kejadian itu, rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Anehnya, Adrian tak pernah menghubunginya. Sama sekali tak pernah. Jessica memandangi inkubator bayi dan melihat bayi- bayi yang baru lahir tertidur dengan pulasnya. Tidak, tentu saja dia tidak hamil. Setelah beberapa hari pertengkarannya dengan Adrian, bulannya datang. Jessica sungguh lega. Bukannya dia tak suka bayi. Dia sangat menyukai anak kecil karena itu dia dengan jelas memilih bangsal anak-anak dibanding bangsal dewasa untuk dijaga. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk menikah apalagi punya bayi. Jessica masih banyak yang dikejar. Adrian juga sedang di puncak karirnya. Bayi akan merusak semuanya. “Ya kan?” tanya Jessica sambil menatap seorang bayi yang gendut di hadapannya. Bayi itu mengenakan topi rajutan berwarna biru muda dengan bola di ujungnya
Bola mata biru itu dipenuhi air mata. Wanita itu menahannya dengan susah payah air matanya agar tidak tumpah. “Sialan!” maki Jessica sambil menatap dengan dengan penuh amarah dan dengan tangan yang bercincin biru itu, Jessica melempar garpunya ke badan Adrian.Pria itu segera berdiri dan mencoba melindungi dirinya.“Jessie!” panggilnya panik.Dia pikir tadi adalah lamaran yang sangat romantis. Adrian pikir Jessica akan segera menerimanya. Tatapan matanya tertuju pada Jessica dan juga cincin bermata biru yang ada di jemari Jessica. Adrian pikir mereka memiliki perasaan yang sama, apalagi setelah menghabiskan malam bersama, menikah adalah hal yang paling tepat dilakukan.“Sayang…”“Aku punya nama, bukan SAYANG!” jerit Jessica lagi yang membuat Adrian sampai berhenti bernapas. Jessica biasanya selalu tenang dia tak pernah berteriak seperti orang gila seperti ini. Kenapa tiba- tiba dia jadi marah? “Jessica… tenang dulu,” ucap Adrian sambil berusaha menyentuh tangan Jessica. Tapi wani







