LOGIN**Warning, bukan untuk yang berhati lemah** Tiba-tiba hidup Jessica yang tenang berubah menjadi riuh, semua karena Adrian, sang artis paling terkenal seantero dunia. Hanya 6 bulan, Jessica hanya harus bertahan selama film Adrian dibuat, sehingga rumah sakit tempat Jessica bekerja bisa bertahan. Tapi, 6 bulan ternyata waktu yang sangat lama, terlebih jika Jessica harus tinggal bersama dengan Adrian. Sangat lama, apa lagi ketika penggemar fanatik Adrian mulai mengganggu hidup Jessica. Awalnya hanya pacar palsu, tapi kenapa sekarang malah jadi hidup Jessica jadi terancam?
View More"Adrian, coba liat sini!" Satu fotografer berteriak padahal Adrian di sampingnya persis.
Kilatan cahaya membutakan mata Adrian walau dia sudah mengangkat tangan agar cahaya itu tidak langsung mengenai mata.
"Adrian, senyumnya mana?" bujuk fotografer yang lain. Suara kamera mengambil foto membuat Adrian semakin muak.
"Adrian … mana Miranda, katanya semalem bobo-boboan berdua?" tanya seorang fotografer yang langsung disambut tawa oleh semua fotografer lain.
Pertanyaan yang tidak sopan itu membuat emosi Adrian naik tapi, dia tak boleh melakukan apa-apa, kalau tidak, entah apa berita yang akan muncul di tabloid besok pagi.
Walau berusaha untuk melepaskan diri, Adrian akhirnya terperangkap di sudut jalan. Dia hanya ingin membeli rokok di minimarket. Sesuatu yang jadi kebiasaan karena kontrak iklan, sebenarnya tak perlu, tapi bosan melanda, dia harus keluar dan menghirup udara segar!
Adrian memandang handphone-nya dengan putus asa. Di mana Edo? Dia sudah menghubungi asistennya dari setengah jam yang lalu, sekarang dia terperangkap dengan wartawan yang makin banyak.
"Bang Adrian, gimana kabar Miranda? Kabarnya calon mertua marah tuh?" tanya wartawan yang lain.
“Jangan menjawab,” ucap pria berbola mata coklat itu dalam hati sambil mencoba menenangkan diri. Jika ada situasi seperti ini, dia harus sabar, tak boleh terpancing. Dia hanya cukup diam saja.
“Rokokku aman,” desahnya dalam hati sambil menepuk- nepuk kantong celananya. Yang penting para wartawan ini tidak boleh tahu mengetahui perihal rokok ini.
"Adrian sombong ih!" seru seorang dari wartawan itu menggoda. Adrian sengaja tertawa kecil atas ucapan itu. “Perlihatkan gigimu yang rapi Adrian, setidaknya besok saat muncul di tabloid fotomu tampak bagus!” suara Edo asistennya terngiang di benaknya.
Decit suara ban tiba-tiba terdengar dan tak lama datanglah mobil van hitam, akhirnya Edo muncul menyeruak gerombolan wartawan, membelah mereka menjadi dua bagian, beberapa dari mereka marah-marah sambil memukul van.
"Adrian, tunggu dulu, senyum dulu," panggil wartawan sambil mendorong mendekat sambil mengambil foto terlalu dekat sehingga cahaya blitz benar- benar membutakan mata Adrian.
Andrian membanting bokongnya dengan kesal dengan hembusan napas kasar.
"Kapok?" tegur Edo dengan dingin.
Adrian melirik matanya yang menatap lurus ke jalanan, melalui kaca spion dan memilih untuk diam.
"Coba sekali dalam hidup lo, klo mau ngapain, dipake otaknya! Adrian tertangkap pulang dari apartemen Miranda, coba lo pikirin deh!" dengus Edo, ketus.
Adrian sangat mengerti kalau dia telah membuat masalah baru lagi. Tapi seperti biasa agensinya pasti bisa menghilangkan berita apapun.
“Buat apa panik,” pikir Adrian sambil mencoba meraih kotak rokok di kantong celananya dan mulai menatap pemandangan di luar.
Namun seketika Adrian tak bisa bernapas. Hilang, sebungkus rokok itu hilang!
...
"Adrian tertangkap basah membeli rokok di minimarket setelah semalaman di apartemen Miranda," baca Lionel dengan geram. Pria itu lalu memandang Adrian dengan tajam.
"Adrian terlihat di minimarket membeli rokok setelah asyik berkencan dengan Miranda?" Dia mulai membaca artikel yang lain.
"Duta anti rokok tertangkap membeli rokok di minimarket, calon mertua Adrian mengeluh, takut Adrian memberikan contoh yang buruk bagi Miranda?" bacanya lagi dengan jijik.
Kepercayaan diri Adrian menguap, kini dia menunduk memandangi ujung sepatu. Lionel membanting tabloid terakhir ke mejanya dengan kasar, mengagetkan Adrian dan Edo. Hidung bos mereka kembang kempis seperti biasa jika emosinya meledak.
Tiba-tiba teleponnya berbunyi, Lionel mengangkat telepon di mejanya, suaranya berubah menjadi lembut, lirih seperti kehilangan wibawanya. Matanya menusuk Adrian saat akhirnya pria tua itu meminta maaf sambil menutup telepon.
"Kamu kehilangan status duta anti rokokmu, mereka akan memakai Mario, akan ada penalti!" Lionel mengepalkan tangannya.
Mario adalah saingan Adrian dari agensi lain, sejak berapa lama mereka selalu bersaing merebutkan peran di drama atau iklan, dan sialnya karena skandal ini Adrian yang kalah.
Telepon kembali berbunyi, Pak Lionel mengangkat teleponnya lagi sambil memandang Adrian dengan memicingkan matanya.
"Kamu kehilangan iklan permen karetmu." Suaranya yang dingin bisa membuat air membeku.
Adrian mendesah saat teringat dengan iklan permen karet itu. Dengan susah payah dia rebut dari Mario. Hampir seminggu penuh, dia berjalan keliling kota guna memperlihatkan kalau dia makan permen karet nggak enak itu, dan sekarang semua sia-sia.
"Adrian, sampai kapan kamu terus membuat skandal baru, kamu merokok aja aslinya nggak?"
Pertanyaan retoris, tak perlu dijawab.
"Jadwal dia hari ini apa Do?" Lionel bertanya tiba-tiba.
Edo langsung sigap membuka jadwal Adrian.
"Baca cerita di bangsal anak- anak di Harapan Kami, sekalian promo untuk syuting drama Dr. Ken" jawabnya dengan suara gugup. Edo mengambil sapu tangan untuk mengeringkan keringat.
"Setelah itu?" tanya Pak Lionel ketus seakan-akan Adrian tak berada di situ.
"Seharusnya dia pemotretan iklan permen karet, tapi kalau sudah dicopot,-" Edo menunduk kembali. Hati Adrian merosot ke dasar perut, sepertinya kali ini dia membuat masalah besar.
"Ya sudah kalau sudah selesai langsung bawa pulang dia ke kondo. Ikat di kasur kalau perlu!" kata Lionel dengan geram sambil mengambil koran tadi dari meja lalu menggulungnya.
"Aku benar- benar nggak ada hubungan dengan Miranda. Aku hanya bertemu karena iklan shampo waktu itu," dengus Adrian membela diri dengan kesal karena gara-gara wanita jelek itu, dia jadi tidak bisa pergi ke mana-mana.
Pak Lionel menyipitkan mata dan memandang dengan sinis.
"Itu benar Pak Lionel, Adrian tidak ada hubungan apa-apa dengan Miranda.” Edo memberanikan diri untuk membela dengan terbata-bata. Adrian memandangnya dengan rasa penuh terima kasih.
"Aku tahu, dia hanya mau dompleng ketenaran Adrian, tapi, seharusnya kamu sudah tau itu, Adrian!" Pak Lionel menghela napas panjang, kembali duduk di meja kerjanya.
Kerutan di dahinya muncul kembali ketika dia membuka laptop. Adrian tahu dia pasti sedang membaca halaman gosip di internet, pasti ada nama Adrian lagi di sana.
"Dah sana kerja, aku nggak mau lihat mukamu dulu!" Pak Lionel mengusir Adrian dan Edo dengan tangannya seakan- akan mereka lalat.
Adrian mengenakan kacamata hitam, masker dan topi dengan harapan tidak dikenali ketika di Harapan Kami. Namun begitu pintu terbuka otomatis, langsung terdengar suara yang Adrian sudah hapal.
"Itu dia, Adrian! Adrian!"
Lorong RS seketika sudah dipenuhi dengan wartawan dan fotografer.
"Bagaimana menurutmu lamaran Miranda barusan?" teriak salah satu wartawan.
Adrian terdesak dengan kamera dan kilatan blitz lagi. Pria itu mencoba mencari jalan keluar dari desakan wartawan dan berlari di lorong rumah sakit, diikuti oleh serbuan wartawan di belakang.
“Apalagi yang dilakukan oleh Miranda kali ini?” Adrian bertanya di dalam hati tanpa tahu harus ke mana, lorong rumah sakit sungguh membingungkan.
Artis terkenal itu terus berlari tanpa arah berusaha melepaskan diri dari wartawan, topi terlepas, dan maskernya juga Adrian lepas karena percuma dia toh sudah dikenali.
“Di mana tempat kumpulnya?” erang Adrian saat menyadari sudah terputar dan kembali ke daerah lift lagi.
Namun, tiba- tiba ada sebuah pintu yang terbuka di sebelah Adrian, tanpa pikir panjang Adrian segera masuk agar dapat menghindari kejaran wartawan.
Tanpa sengaja dia menabrak sesuatu.
Bibirnya terasa lembut, bola mata biru menatap sang artis dengan terkejut dan memekik saat menyadari tangan Adrian berada di bagian privat atas tubuhnya.
Wanita cantik itu segera melepaskan bibirnya dari ciuman Adrian dan mendorong pria itu ke samping sambil menjerit menutupi bagian dadanya.
Dengan panik, Adrian langsung menutup mulutnya. Jangan sampai para wartawan menemukan dia berduaan dengan wanita berjas putih ini.
Karena kasus tabrakan itu, Adrian bagaikan menjadi tahanan rumah. Dia hanya dapat izin dari Lionel keluar dari kondominiumnya saat syuting iklan permen karet. Sialnya, mereka berada di penghujung musim gugur, sedangkan sang editor kreatif tetap mau iklan permen karet itu direkam dengan latar musim panas. Adrian yang sepi kerjaan mau tak mau mengikuti apa yang diminta, karena ada denda yang harus dia bayar. Berlarian dengan gembira di air pantai yang dingin bukan hal yang baik, apalagi kalau syuting sampai berhari-hari. Sakit. Yah pada akhirnya Adrian yang kokoh seperti kerbau itu, demam tinggi. Tapi, sepertinya berendam di air laut yang dingin itu hanya sebagian kecil penyebab Adrian sakit.Sesungguhnya, dia sangat merindukan Jessica. Kemungkinan besar wanita itu pasti tak akan sempat memikirkan Adrian sama sekali. “Pasti dia sibuk dengan Joe,” desah Adrian sambil menahan pusing di kepalanya. Demamnya sud
Menyadari kalau Louise dan Jessica yang akan jaga malam berdua, Joe segera mengambil inisiatif.“Saya nggak harus pulang kok Dok saya masih kuat bisa jaga lagi,” ucap Joe cepat. “Kalau Lihat di status, kamu udah jaga tiga kali, jadi sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Ini perintah ya Joe!” Dokter Poppy lalu menatap Jessica. “Jes, gimana kabar si Adrian? Saya mendapat berita kalau proses syuting akan mundur dikarenakan masalah casting ya, kemaren mereka minta izin mundurin jadwal.” “Oh… dia baik-baik saja.” Jessica menjawab sekenanya, mengingat Adrian bisa berenang di air dingin berarti dia baik-baik saja kan? “Masa sih? Tadi di IG-nya dia bilang, dia kurang enak badan? Tapi yah kamu kan pacarnya, kamu lebih tau lah ya,” ucap Dokter Poppy tertawa lalu lanjut memeriksa pasien. Jessica menunduk malu karena asal bicara. Sesungguhnya dia tak tahu apa-apa tentang Adrian. Pria itu benar-benar menghilang dari radar. Kare
“Jes kamu denger nggak, mamanya Nico ngajak kita makan-makan!” ujar Joe datang dengan senyum lebar. Pria itu dengan santai duduk di samping Jessica lalu menopang dagunya. Wanita itu segera menutup handphone Sudah saatnya kembali ke realita, Adrian tak akan tiba-tiba muncul. Sudah cukup dia diceramahi Joe kemarin. Pria itu kini malah rutin mengirimkan artikel tentang kasus para stalker artis yang mengerikan. “Aku tadi ditanyain mamanya, restoran kesukaan kita apa. Aku bilang ke Baileys ajah.” Pria itu menepis poninya ke belakang. Hari ini Joe mengenakan sweater biru muda dengan kemeja putih di dalamnya. Celana coklat tuanya sudah beberapa kali pakai, tapi warnanya sungguh sesuai sehingga Joe bagaikan model di majalah kedokteran. Biasanya pemandangan itu membuat Jessica mengagumi ketampanan pria itu. Tapi kali ini Jessica malah kembali membaca status. “Aku sepertinya nggak bisa, kalau semua pergi, lalu siapa ya
“Kalian gila! Kalian bisa saya tuntut ya, ini adalah penganiayaan!” Adrian mendengar suara riuh saat dia masuk ke rumah sakit. Awalnya Adrian tidak yakin pada rumah sakit ini. Rumah sakitnya kecil dan lebih tidak terawat, kenapa Jessica memilih rumah sakit kelas dua begini?Awalnya dia tidak mengerti mengapa, tapi kini dia tahu kenapa. Karena. Menghindari fansnya. Hati Adrian kembali terasa sakit. Wanita ini terlalu banyak berkorban untuk dirinya. Pria itu segera mendekati kerumunan walau masih mengenakan perlengkapan penyamaran. “Dia yang minta! Tadi malam bilang jatuh cinta hingga mau menikah sekarang udah sama cowok lain! Dasar pelacur!” Adrian segera ingin menarik Jessica. Namun berhenti saat melihat Joe di sana. “Bukannya katanya Ellie yang menjemput?” Kali ini perut Joe yang terasa aneh. Jessica jelas berbohong padanya. Joe yang menjemput dan mengantarnya ke rumah sakit. Melihat Joe menjadi pahlawan bagi Jessica s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore