Mereka telah menikah selama tiga tahun, tetapi ketika wanita itu menjadi sukses, istrinya itu malah membencinya dengan alasan dia malas dan tidak berguna. Akhirnya, gugatan cerai pun diajukan. Tak sedikit pun sang istri menyadari bahwa sebenarnya semua yang dimiliki saat ini diberikan olehnya!
Lihat lebih banyakBegitu Jacob terhempas jauh ke belakang, suasana di seluruh halaman menjadi hening seolah-olah ditekan tombol jeda.Senjata-senjata di tangan para prajurit pun terjatuh ke tanah dan mata mereka membelalak karena ketakutan. Banyak yang secara refleks mundur setengah langkah dan pergelangan kaki menabrak pagar bambu sampai berderak, tetapi tak seorang pun berani menundukkan kepala untuk melihatnya.Pedang Nivan bergetar karena dia mencengkeram gagangnya dengan sekuat tenaga agar tidak terlepas dan ujung jarinya tergores bekas merah di sarung pedang yang dingin. Pukulan bocah tadi begitu cepat sampai terlihat seperti sisa bayangan. Tinju mungil bocah itu yang putih dan bulat jelas tidak membawa angin sedikit pun, tetapi kuatnya seperti meteor menghantam bumi saat menghantam dada Jacob.Nivan sendiri yang melihat zirah hitam di dada Jacob penyok dan terdengar suara tulang rusuk yang patah bercampur dengan gesekan tulang."Kapten Jacob ...." Seorang pengawal pribadi yang gemetar mencoba maj
Ekspresi Nivan terlihat muram, lalu tidak berani berlama-lama dan buru-buru memimpin orang-orangnya mundur ke tempat yang lebih aman. Setelah menjauh dari area yang aneh itu, semua orang baru bisa menghela napas lega. Hanya karena tadi ada prajurit yang menyentuh sekuntum bunga, langsung memicu reaksi berantai yang begitu dahsyat. Hal itu sungguh membuat mereka terperanjat.Saat ini, Nivan dan yang lainnya akhirnya benar-benar mengerti. Pemandangan yang terlihat indah dan penuh dengan warna itu sebenarnya dipenuhi dengan bahaya yang mengintai."Istirahatlah di tempat, selalu waspada setiap saat," kata Nivan sambil bertumpu pada pedangnya dengan napas yang terengah-engah. Luka di punggungnya yang terkena keringat terasa perih sampai pandangannya menjadi kabur. Dia memberi isyarat pada dua pengawal pribadi untuk berjaga-jaga, sedangkan dia bersandar pada batang pohon untuk beristirahat.Hanya dalam beberapa menit saja, Nivan sudah kehilangan puluhan ahli. Hal itu tentu saja membuat hatin
Nivan berdiri di tepi kapal, menatap pulau di depan yang tampak seperti mimpi. Bahkan napasnya pun menjadi hati-hati.Sinar matahari menembus celah cabang pepohonan purba yang menjulang tinggi, menorehkan bintik-bintik cahaya di atas lumut hijau yang lembut. Udara dipenuhi aroma bunga yang asing. Manis seperti madu, juga terselip kesegaran tipis yang tak bisa dijelaskan.Di belakangnya, para prajurit sudah tak sabar lagi. Mereka menurunkan senjata, mengulurkan tangan menyentuh sulur-sulur tanaman yang menjuntai.Sulur itu dipenuhi buah bening berkilauan, bagaikan untaian kristal ungu, memantulkan cahaya indah di bawah sinar matahari."Pangeran, lihat pohon itu!" Seorang pengawal berseru kaget.Batang pohon itu dipenuhi guratan spiral, seolah-olah terbentuk seperti tangga alami. Dari lubang di batangnya, tumbuh jamur bercahaya yang menerangi sekitarnya.Beberapa tupai bersayap meluncur turun dari pucuk pohon. Kepakan sayap mereka menyebarkan debu bercahaya, menempel di zirah para prajur
Pupil mata Nivan mendadak mengecil, wajahnya penuh dengan keterkejutan dan keputusasaan. Kedua tangannya secara refleks mencengkeram pagar kapal semakin erat.Kapal itu diseret pusaran laut dengan entakan dahsyat. Sekelilingnya hanya kegelapan, yang terdengar hanya suara gemuruh air laut.Nivan merasa dunia berputar hebat, tubuhnya seolah-olah akan tercabik berkeping-keping. Dia memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya terkunci, urat di pelipisnya menonjol.Entah berapa lama waktu berlalu, tiba-tiba tubuhnya terasa ringan, seakan-akan kapal jatuh ke suatu tempat. Dia perlahan membuka mata. Mula-mula pandangannya kosong, lalu seberkas kebingungan melintas di matanya. Sekelilingnya tidak lagi gelap, melainkan dipenuhi cahaya terang.Nivan terkejut, lalu berdiri dengan terhuyung. Kakinya masih terasa lemas. Dia berjalan ke tepi kapal, menoleh ke luar dan sontak terperangah.Mulutnya terbuka, matanya membelalak, ekspresinya perlahan berubah. Dari terkejut menjadi tidak percaya, hingga akhirn
Armada kapal Nivan di zona kematian bagaikan dedaunan rapuh di tengah badai samudra, dicabik-cabik dengan keganasan tanpa ampun.Ombak setinggi bukit bergulung-gulung, menghantam geladak bertubi-tubi, menimbulkan suara menggelegar yang memekakkan telinga.Kapal berguncang hebat, seolah-olah akan hancur berkeping-keping kapan saja. Suara berderit dari papan kayu terdengar silih berganti, seakan-akan sedang merintih menunggu kehancuran.Seorang prajurit terlempar ke udara oleh ombak raksasa, tangannya menggapai-gapai dengan putus asa, teriakannya langsung ditelan angin kencang. Saat berikutnya, tubuhnya menghantam laut, tak sempat menimbulkan cipratan besar sebelum disedot pusaran dan lenyap tanpa jejak.Nivan mencengkeram keras pagar kapal, buku jarinya memutih karena tekanan, kukunya sampai terbenam ke dalam kayu. Mata merahnya menatap tajam kekacauan di depan. Campuran air laut dan keringat mengalir di wajahnya, menuruni rahang yang tegas."Cepat! Ikat talinya kuat-kuat!" pekik Nivan,
"Jangan pedulikan aku! Seluruh pasukan serang! Kita harus bunuh siluman itu!" Hawi bersandar di tepi lambung kapal yang patah, luka di punggungnya masih terus mengucurkan darah.Namun, dia sama sekali tak peduli, langsung memerintahkan para prajurit di bawahnya untuk terus menggempur siluman raksasa itu, guna mencegah hal yang tak diinginkan.Akhirnya, di bawah serangan bertubi-tubi para prajurit, kepiting raksasa itu berhenti bergerak, benar-benar kehilangan tanda-tanda kehidupan.Hawi menghela napas panjang, jatuh terduduk di geladak dengan napas terengah-engah. Kepiting raksasa ini benar-benar merepotkan, untung kali ini majikannya membawa banyak ahli bela diri sehingga bisa berhasil membunuh lawan."Hawi, kudengar kamu terluka? Gimana kondisimu?" Ketika keadaan sudah tenang, Nolan bergegas datang bersama satu regu pengawal pribadinya."Tenang saja, Pangeran. Luka kecil begini bukan apa-apa, aku nggak bakal mati." Hawi menyeringai, memperlihatkan gigi yang masih berlumuran darah. "D
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen